"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUMAH DIDALAM DADA
Keesokan paginya, sebelum matahari benar-benar naik, Dina sudah terbangun. Ia tidak membawa banyak barang—hanya satu koper besar berisi pakaian, dokumen penting, dan laptopnya. Ia meninggalkan semua perabotan yang ia beli dengan uang lemburannya di kantor sebagai "sedekah" terakhir untuk rumah yang tidak pernah mencintainya itu.
Di meja ruang tamu, ia meletakkan sebuah amplop. Bukan berisi uang, melainkan kunci rumah dan secarik kertas bertuliskan: Jangan pernah cari aku lagi.
Saat ia melangkah keluar pagar, sebuah mobil kantor sudah menunggu di ujung gang. Pak Baskoro benar-benar menepati janjinya. Tim logistik sudah siap membantunya menuju stasiun untuk keberangkatan ke kota barunya.
Di dalam mobil, Dina melihat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Rama masuk: Din, tolong angkat. Aku tahu aku salah, tapi aku melakukan itu karena aku satu-satunya orang yang peduli padamu.
Dina menatap pesan itu tanpa emosi. Ia menyadari bahwa Rama dan orang-orang di rumahnya memiliki kesamaan: mereka semua ingin memiliki Dina dengan cara menghancurkan kepercayaan dirinya.
Dina menekan tombol block pada kontak Rama. Kemudian, ia melakukan hal yang sama pada nomor ayahnya dan ibu tirinya.
"Sudah siap, Mbak Dina?" tanya sopir kantor dengan ramah.
Dina menatap ke arah jendela, melihat rumah lamanya yang semakin mengecil di kejauhan. "Sangat siap. Mari kita berangkat."
Perjalanan ke stasiun terasa sangat damai. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh enam tahun hidupnya, Dina tidak merasa dikejar oleh rasa bersalah atau rasa takut. Ia bukan lagi anak pelacur yang gagal, bukan lagi korban obsesi seorang manajer, dan bukan lagi beban bagi ayahnya.
Ia adalah Dina. Seorang wanita yang berani memilih jalannya sendiri.
Tiba di kota tujuannya, sebuah kota yang lebih tenang dan hijau, Dina disambut oleh udara yang bersih. Pak Baskoro sudah menyiapkan sebuah kamar kos yang nyaman di dekat kantor cabang baru. Kamar itu sederhana, namun memiliki jendela besar yang menghadap ke taman.
Dina meletakkan kopernya di lantai kayu yang bersih. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menikmati kesunyian yang selama ini ia impikan. Tidak ada suara TV yang keras, tidak ada makian tentang ibunya, dan tidak ada bisikan posesif dari pria yang mengaku mencintainya.
Malam itu, Dina membuka laptopnya. Ia mulai mengetik sebuah draf baru. Bukan laporan logistik, melainkan sebuah cerita tentang seorang gadis yang belajar bahwa "rumah" bukanlah sebuah tempat dengan alamat tetap, melainkan perasaan damai yang ia bangun di dalam dadanya sendiri.
Ia mengambil sapu tangan biru tua dari tasnya—benda yang pernah diberikan Rama. Ia menatapnya sebentar, lalu berjalan menuju tempat sampah di pojok kamar dan menjatuhkannya di sana. Ia tidak butuh jimat pelindung lagi. Ia adalah pelindung bagi dirinya sendiri.
Dina menarik napas panjang, tersenyum pada bayangannya di cermin. Hari ini, kaset rusak itu benar-benar sudah berhenti berputar, dan ia siap menulis lagu baru untuk hidupnya sendiri.
Dina duduk di tepi ranjang kos barunya yang masih beraroma kayu dan sprei bersih. Di tangannya, ia memegang amplop cokelat pemberian staf Pak Baskoro saat di stasiun tadi. Perlahan, ia membukanya. Di dalamnya bukan sekadar dokumen mutasi, melainkan sebuah kartu ATM baru dengan catatan kecil di atas kertas memo resmi perusahaan.
Tulisan tangannya rapi dan tegas:
"Untuk hidup yang lebih tenang. Ini adalah kompensasi atas ketidaknyamanan yang kamu alami di kantor pusat dan bantuan awal untuk menata tempat tinggal barumu. Fokuslah pada masa depanmu, Dina." — B.
Dina tertegun. Ia tahu persis ini adalah cara Pak Baskoro memberikan dukungan tanpa membuat Dina merasa rendah diri. Kartu itu bukan sekadar uang; itu adalah simbol kemerdekaan finansial yang benar-benar bersih dari campur tangan ayahnya atau kontrol manipulatif Rama.
Dengan kartu itu di tangannya, Dina menyadari bahwa "rantai" terakhirnya telah putus.
Minggu-minggu pertama di kota baru terasa seperti mimpi yang tenang. Kantor cabang di sini jauh lebih kecil, namun suasananya sangat hangat. Rekan-rekan kerjanya tidak tahu apa-apa tentang "Dina yang malang" atau "Dina yang dikhianati sepuluh kali". Bagi mereka, Dina adalah staf General Affair pindahan dari pusat yang cerdas, cekatan, dan memiliki selera humor yang tenang.
Setiap pagi, Dina bangun tanpa rasa sesak di dada. Tidak ada teriakan ibu tiri yang memburu langkahnya, tidak ada kewajiban menyisihkan hampir seluruh gaji untuk orang-orang yang mengutuk keberadaannya. Ia kini bisa menikmati hasil jerih payahnya sendiri—membeli buku yang ia sukai, memasak makanan sehat di dapur kos, dan menulis di malam hari tanpa gangguan.
Suatu sore, Manda menelepon lewat panggilan video.
"Din! Kamu kelihatan seger banget!" teriak Manda dari layar ponsel. "Gimana di sana? Si Rama masih berusaha cari tahu, tapi Pak Baskoro bener-bener tutup mulut. Dia malah kena teguran keras lagi karena kinerjanya turun drastis sejak kamu pergi."
Dina tersenyum tulus. "Di sini tenang, Man. Aku merasa... bernapas lagi. Terima kasih ya, sudah bantu aku waktu itu."
"Ah, itu mah tugas sahabat. Oh iya, Maulana titip salam. Dia sudah sembuh total, dan dia bilang dia bangga kamu berani ambil langkah ini," tambah Manda.
Setelah menutup telepon, Dina menatap jendela kamarnya. Matahari terbenam dengan warna jingga yang lembut di ufuk kota baru ini. Ia membuka laptopnya, melanjutkan draf novel yang dulu sempat tertunda karena tekanan batin.
Rumah di Dalam Dada
Dina mulai menuliskan bab terakhir ceritanya. Ia menyadari satu hal besar: Masa lalu ibunya yang kabur atau ayahnya yang kejam bukanlah kutukan genetik. Itu adalah sejarah, bukan takdir. Ia telah membuktikan bahwa ia bisa memutus siklus itu dengan cara menjadi orang yang paling mencintai dirinya sendiri.
Ia tidak lagi mencari "pahlawan" untuk menyelamatkannya, karena ia telah menemukan pahlawan itu di dalam cermin setiap pagi.
Malam itu, Dina tidur dengan sangat nyenyak. Tidak ada lagi mimpi buruk tentang kaset rusak atau tangan-tangan yang mencoba mengontrolnya. Ia telah membangun rumah yang sesungguhnya—bukan bangunan fisik di Jakarta, melainkan sebuah ruang kedamaian di dalam dadanya sendiri yang tidak akan pernah bisa dihancurkan oleh siapa pun lagi.
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyentuh teras kos ketika ketukan pintu yang tegas membuyarkan konsentrasi Dina yang sedang menyeduh teh. Ia sedikit terkejut, karena di kota baru ini, ia belum mengenal siapa pun selain rekan kantornya.
Saat pintu dibuka, Dina mendapati seorang pria tegap berdiri di sana. Seragam loreng tentaranya tampak rapi, dengan baret yang terselip di pundak. Wajahnya tegas namun sorot matanya memberikan kesan tenang, tidak menghakimi seperti tatapan orang-orang di masa lalunya.
"Pagi, Mbak. Maaf mengganggu waktunya," ucap pria itu sambil mengangguk sopan. "Saya diperintah Pak Babin (Babinsa) ke sini untuk cek warga baru. Prosedur standar keamanan lingkungan di sini, apalagi untuk pendatang."
Dina tertegun sejenak. Ada rasa waspada yang sempat muncul—trauma akan pria yang mencoba "mengawasi" hidupnya—namun cara bicara pria ini sangat profesional dan formal, jauh dari kesan ingin tahu yang berlebihan atau niat mengontrol.
"Oh, iya. Pagi, Mas. Saya Dina, staf pindahan dari kantor cabang pusat," jawab Dina sambil mencoba tersenyum ramah. Ia mengambil identitas diri dan surat keterangan dari Pak Baskoro yang memang sudah ia siapkan.
Pria tentara itu menerima dokumen tersebut, membacanya sekilas dengan teliti, lalu mencatat sesuatu di buku saku kecilnya.
"Nama saya Letda (Letnan Dua) Adrian, Mbak Dina. Saya yang bertugas memantau wilayah ini," ucapnya sambil mengembalikan dokumen tersebut. "Selamat datang di kota kami. Di sini lingkungannya cukup tenang, tapi kalau ada apa-apa, atau ada orang asing yang mencurigakan mencari Mbak, jangan ragu lapor ke pos depan atau langsung ke saya."
Kalimat "kalau ada orang asing yang mencari" membuat jantung Dina berdesir. Ia teringat Rama. Apakah pria itu akan mencarinya sampai ke sini? Namun, melihat kehadiran Adrian yang tampak solid dan sigap, Dina merasa ada benteng perlindungan baru yang tidak bersifat menjerat.
"Terima kasih, Mas Adrian. Saya memang mencari ketenangan di sini," jawab Dina jujur.
Adrian mengangguk, lalu tersenyum tipis—sebuah senyum yang sangat sopan dan menghargai jarak. "Bagus kalau begitu. Kami di sini memastikan warga bisa istirahat dengan nyaman. Silakan dilanjutkan aktivitasnya, Mbak. Saya permisi dulu."
Dina memperhatikan punggung tegap itu menjauh menuju motor dinasnya. Ada perbedaan besar yang ia rasakan. Rama dulu hadir dengan janji manis untuk "menyelamatkan", tapi Adrian hadir sebagai representasi dari ketertiban dan keamanan yang netral.
Dina menutup pintu kembali dengan perasaan yang jauh lebih aman. Ternyata, hidup di tempat baru memang memberinya banyak kejutan. Ia merasa semesta sedang mengirimkan sinyal bahwa ia tidak perlu takut lagi, karena kali ini, ia berada di lingkungan yang benar-benar menjaganya tanpa ingin memilikinya.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib