NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Percintaan Konglomerat / Romansa / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di mata dunia, aku adalah Nyonya Kalandra yang terhormat. Di mata suamiku, aku hanyalah penipu yang menjijikkan."

​Dua tahun Isvara bertahan dalam pernikahan dingin karena sebuah Perjanjian Pra-Nikah yang membelenggunya. Andra, suaminya yang dulu memujanya, kini hanya menyisakan kebencian sedalam samudra setelah rahasia identitas Isvara terbongkar.

​Andra tidak tahu, di balik aura tegas Isvara yang disegani banyak orang, jantung wanita itu sedang menghitung mundur sisa detaknya. Isvara tidak butuh dimaafkan, dia hanya ingin bertahan sampai napas terakhirnya habis tanpa ada yang perlu merasa kehilangan.

​Saat Isvara akhirnya menyerah dan berhenti membujuk, mampukah Andra tetap membencinya ketika menyadari bahwa "penipuan" terakhir Isvara adalah menyembunyikan kematiannya sendiri?

​"Kebencianmu adalah alasan jantungku masih berdetak, Andra. Tapi sekarang, aku sudah lelah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Dibalik Nafas Terakhir Isvara

​Keheningan di lorong lantai dua itu terasa sangat mencekik. Isvara masih bersandar di dinding dengan tangan yang tak lepas meremas dadanya. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, melunturkan polesan make-up yang susah payah ia aplikasikan pagi tadi. Pertanyaan retoris Isvara tentang "harus mati dulu agar dipercaya" seolah bergema berulang kali di telinga Andra, menghantam dinding egonya yang biasanya kokoh.

​Andra menatap tangan Isvara yang gemetar hebat. Sesuatu di dalam dirinya mendadak patah mungkin itu rasa angkuhnya. Tanpa memedulikan wibawanya sebagai pewaris Prayudha, Andra perlahan menekuk lututnya. Ia berlutut di depan Isvara, menyamakan tingginya dengan wanita yang kini tampak begitu mungil dan rapuh itu.

​Kedua tangan Andra yang besar meraih bahu Isvara, mencengkeramnya dengan lembut namun tegas. Ia bisa merasakan tubuh Isvara yang bergetar seperti daun kering yang siap ditiup angin.

​"Isvara, lihat kearah saya," suara Andra kini bukan lagi suara dingin yang menghujam, melainkan suara yang penuh dengan keraguan dan ketakutan yang ia sendiri tidak pahami. "Jika rasa sakitnya memang tidak tertahan... kita ke rumah sakit sekarang. Lupakan soal rapat, lupakan soal Mama. Kita pergi sekarang."

​Untuk sesaat, Isvara tertegun. Ia menatap wajah Andra yang berada tepat di depan wajahnya. Ia melihat gurat kecemasan di sana sebuah ekspresi yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat. Ada gejolak aneh di dalam hati Isvara; rasa hangat yang samar namun segera ia tepis dengan kenyataan pahit bahwa pria ini baru saja menuduhnya berakting beberapa menit yang lalu.

​Isvara menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah gerakan kecil yang terasa sangat berat. Ia menarik tangan kanannya dari dadanya dan mengangkat pergelangan tangannya, menunjukkan jam tangan kecil yang melingkar di sana.

Waktu terus berputar. Jarum jam menunjukkan bahwa dalam tiga puluh menit ke depan, mereka harus sudah berada di ruang rapat untuk membahas detail teknis proyek yang sedang berjalan, sebelum besok mereka harus terbang ke Bali untuk penentuan proyek besar lainnya.

​"Kita... harus ke kantor, Andra," bisik Isvara, suaranya nyaris hilang. Ia menarik napas panjang yang terdengar sangat menyakitkan. "Aku tidak mau... Arini dan Mama kamu punya alasan lagi untuk menyebutku beban."

​Andra terdiam, tangannya masih memegang bahu Isvara. Ia merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dirinya. Melihat Isvara yang kesakitan seperti ini memberikan rasa perih yang nyata di dadanya sendiri. "Tapi kondisimu—"

​"Aku kuat," potong Isvara, mencoba berdiri lebih tegak meski dunianya terasa bergoyang. "Aku harus kuat. Jika aku tumbang sekarang, mereka menang. Dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi di depan matamu."

​Isvara melepaskan tangan Andra dari bahunya dengan gerakan yang pelan namun bermakna penolakan. Ia memaksakan langkahnya menuju kamar untuk mengambil tas kerjanya. Di dalam kepalanya, Isvara sudah menyusun strategi mental. Ia tahu hari ini akan menjadi sangat panjang. Arini dan Ibu Mertuanya pasti akan terus menjadi "kompor" yang siap meledakkan emosinya di kantor nanti, apalagi Arini juga memegang posisi strategis di perusahaan keluarga itu.

​Andra berdiri perlahan, menatap punggung Isvara yang berjalan menjauh. Ia mengepalkan tangannya. Rasa bersalah itu kini bukan lagi sekadar bayangan, melainkan beban nyata yang menghimpitnya. Ia segera menyusul Isvara, mengambil tas kerja istrinya dari atas meja sebelum Isvara sempat meraihnya.

​"Saya yang bawa," ucap Andra singkat, kembali ke mode kakunya namun tanpa nada ketajaman yang biasa.

​Mereka turun ke lantai bawah dengan suasana yang masih sangat tegang. Tuan Prayudha sudah berangkat lebih dulu, sementara Nyonya Sofia masih duduk di ruang tengah, memberikan tatapan tajam saat melihat menantunya berjalan keluar dengan langkah yang dipaksakan normal.

​Andra tidak berhenti menyapa Mama nya sama sekali karena entah kenapa ucapan Mamanya dan Adik nya tadi sukses membuat Andra kesal. Ia menuntun Isvara langsung menuju mobil yang sudah menunggu di lobi. Di dalam mobil, Andra kembali melakukan hal yang membuat Isvara tertegun. Ia meminta sopir untuk menyalakan penghangat kabin dan tidak menyalakan musik sama sekali.

​Perjalanan menuju kantor pusat Prayudha Group terasa seperti perjalanan menuju medan perang bagi Isvara. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Setiap guncangan mobil terasa seperti serangan fisik baginya.

​Sesampainya di lobi gedung perkantoran mewah itu, suasana langsung berubah formal. Isvara mencoba memperbaiki postur tubuhnya, mengangkat dagunya tinggi-hijnggi, mengenakan topeng sebagai "Arsitek Isvara" yang tak tergoyahkan.

​Begitu pintu lift terbuka di lantai eksekutif, dua sosok yang sangat dikenal Isvara sudah berdiri menunggu di sana. Mereka adalah dua asisten setia Isvara yang selama ini menjadi satu-satunya orang selain Bunda Neli yang mengetahui rahasia kelam tentang kesehatannya.

​Tatapan kedua asisten itu langsung tertuju pada wajah Isvara yang masih terlihat pucat meski sudah ditutupi make-up. Mereka melihat bagaimana Isvara berjalan sedikit terlalu lambat, dan bagaimana tangan wanita itu sesekali masih menyentuh dadanya secara refleks.

​Andra merasakan perubahan atmosfer itu. Ia melihat tatapan penuh kekhawatiran dari kedua asisten Isvara tatapan yang seolah-olah mengatakan bahwa mereka siap untuk mengambil alih posisi Andra jika Isvara jatuh. Andra mempererat rangkulannya di pinggang Isvara saat mereka berjalan melewati para asisten tersebut menuju ruang rapat.

​"Rapat akan dimulai sepuluh menit lagi, Bu," ucap Sinta asisten Isvara dengan nada suara yang bergetar karena menahan cemas. Rima yang juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Sinta juga ikut cemas.

​Isvara hanya mengangguk tanpa kata. Di sampingnya, Andra merasa harga dirinya terusik melihat betapa asisten istrinya lebih tahu tentang kondisi Isvara daripada dirinya sendiri. Namun, kali ini, ia memilih untuk menekan ego itu. Ia tahu, di dalam ruang rapat nanti, ia harus menjadi tameng bagi Isvara, karena ia sadar bahwa Arini sudah siap di dalam sana dengan segala serangan verbalnya yang lebih mematikan daripada sarapan pagi tadi.

​Hari ini, Isvara tidak hanya harus bertarung dengan rancangan bangunan di Bali, tapi ia harus bertarung dengan sisa napasnya sendiri di bawah pengawasan ketat pria yang mencintainya dengan cara yang salah.

1
rika mutalib
Adrian atau Andra
Nadira ST
judul agendanya bikin darting dan tegang belom apa2 udah mikir berat banget konsepnya💪💪💪
"C"
bagusss
Ma Em
Season 2 jgn buat hdp Isvara celaka dan menderita lagi buat Isvara jadi wanita kuat dan hebat .
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 2 replies
Arieee
bagus 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
ren_iren
wajib baca ya gaes, gk usah nanya kenapa pokoknya wajib baca... rekomend dech 🤗🤗
blcak areng: mksh KAK 😍😍😍
total 1 replies
ren_iren
tak tunggu pokoknya 🤗
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Oma Gavin
ngga sabar nunggu sessions 2
blcak areng: udah up ya kak di season 2
total 1 replies
Ma Em
Semoga Isvara bisa sembuh dari penyakitnya dan sehat kembali .
"C"
akhirnya alurnya ga stuck
yumi chan
good jod thor dn bt klusga andra hncur jg gmbl thor..
Siska Amelia
harusnya kan Andra bukan Gavin ya yang ngomong begitu
Ma Em
Duh sdh tdk sabar menunggu kehancuran Andra dan keluarganya .
Siska Amelia
keren lanjut thor
lin sya
bner apa kata davin, jdilah suami dan pria yg tau diri dan peka jgn mikirin ego sendiri, mna ada istri yg lapang dada klo suaminya perhatian kan isvara gk ada hubungan darah mskipun lo anggap adik angkat, jgn serakah dewa, klo misalnya clara jdi jahat itu krn lo, mau jdi duda🤭, isvara aj rumah tangganya ngegantung, tp mnding sm gavin dripd sm dewa dan andra mkin sekarat isvara nya/Smile/
Ma Em
Jangan sampai Andra bisa menemukan Isvara biarkan Andra dan keluarga Prayuda sadar dan merasakan hdp nya susah setelah ditinggal Isvara .
lin sya
syukurlah isvara berada ditmpt yg sehat brsama org yg tepat sprti gavin , seengaknya kondisinya gak menurun, klo berada dilingkungan toxic , jantungnya mkin memburuk krn tekanan , emg enak andra , ada orgnya diskitin gk ada orgnya menyesal berasa kehilangan , cinta tp nyakitin
Ma Em
Makanya keluarga Prayuda Jgn sombong sok jadi penguasa orang kaya tdk menghargai kerja keras Isvara malah selalu dihina dan direndahkan dan dianggap parasit yg numpang tenar hdp enak , sekarang rasakan sama kalian setelah Isvara pergi pasti perusahaan yg kalian bangga2 kan akan gulung tikar setelah Isvara pergi .
Wd Helena
karya yang bagus, nice
Brown choco
Keren banget emang ceritanya, meskioun alir nya lambat buast isvara kelaur dari kelurga toxic itu, tapi ceritanya emang layak buat ditunggu
Crazy up nya ditunggu thor, pengennya isvara bisa balik keadaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!