Kirana, putri seorang menteri yang sedang naik daun, datang ke pedalaman demi meningkatkan citra politik ayahnya. Bersama reporter Carmen dan kameramen Dion, dia membuat konten kemanusiaan mengajar anak-anak desa dan memberi bantuan bersama prajurit TNI.
Kapten Damar ditugaskan mengawal kunjungan itu. sanf kapten menganggap Kirana hanyalah bagian dari panggung politik yang penuh pencitraan.
Semua berjalan lancar, hingga segerombolan pemberontak bersenjata menyerbu desa. Dalam kekacauan dan tembakan yang membabi buta, Damar harus membawa Kirana menyelamatkan diri ke dalam hutan.
Terpisah dari rombongan dan jauh dari sorotan kamera, Kirana untuk pertama kalinya menghadapi dunia tanpa privilese. Di tengah bahaya dan perjuangan bertahan hidup, tumbuh perasaan yang tak seharusnya ada antara seorang perwira yang terikat sumpah dan putri pejabat yang mulai melihat arti ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Butuh Istirahat
Seperti hari-hari sebelumnya, Kirana memulai aktivitasnya sejak pagi.
Di halaman sebuah gubuk kecil desa itu, dia duduk bersama anak-anak yang duduk rapi di atas tikar usang, Papan tulis tua berdiri di depan mereka, sementara angin desa berembus lembut membawa aroma tanah basah.
“Baik, sekarang siapa yang bisa baca kalimat ini?” tanya Kirana sambil menunjuk tulisan di papan.
Seorang anak kecil mengangkat tangan dengan semangat.
“Saya, Kak Kirana!”
“Silakan, Ello”
Anak itu berdiri dan mulai membaca dengan terbata-bata , anak-anak yang lain mulai cengengesan.
“Jangan ditertawakan,” kata Kirana lembut. “Belajar itu butuh keberanian.”
Marcello akhirnya berhasil menyelesaikan bacaannya Kirana tersenyum bangga.
“Nah, itu baru hebat.”
Dari kejauhan, Kapten Damar berdiri memperhatikan,
tangannya terlipat di dada, wajahnya tetap datar seperti biasa, namun matanya mengikuti setiap gerakan Kirana.
“Dia benar-benar sabar,” gumam salah satu prajurit di sampingnya, Damar tidak menanggapi prajurit itu.
Walau sebetulnya jauh dalam lubuk hatinya, ada sesuatu yang sempat muncul sekelebat rasa kagum namun Damar cepat menepisnya.
“Dia anak politisi,” ucap Damar pelan pada dirinya sendiri.
Tatapannya kembali ke arah Kirana yang sedang tertawa bersama anak-anak.
“Seperti ayahnya dia juga pasti pintar bersandiwara.”
Namun tanpa sengaja Kirana menoleh ke arah Damar tatapan mereka bertemu, Kirana tersenyum kecil ke arahnya.
Sebaliknya, Damar tetap memasang wajah datar dan dingin tak ada senyuman di wajahnya.
Namun hal itu tidak mengganggu Kirana, dia hanya mengangkat bahu, lalu kembali mengajar anak-anak.
Di sisi lain Carmen dan Dion sibuk merekam
“Rekam ambil anggle yang bagus,” bisik Carmen Dion mengangguk.
“Moment human interest seperti ini bagus buat liputan.”
Kamera mereka menangkap bagaimana Kirana mengajar dengan penuh kesabaran, dan bagaimana anak-anak mulai merasa nyaman dengannya.
Siang hari, kegiatan Kirana belum selesai dia mengumpulkan para perempuan desa di bawah gazebo bambu.
Di depannya terdapat tumpukan tanaman kering yang akan dijadikan bahan kerajinan.
“Kalau dianyam seperti ini,” kata Kirana sambil memperagakan, “nanti bisa jadi tas, kalau kualitasnya bagus, bisa dijual ke kota.”
Seorang ibu mengangkat tangan ragu.
“Memangnya ada yang mau beli, Kakak”
“Ada,” jawab Kirana meyakinkan. “Saya punya kenalan di kota yang bisa bantu pasarkan.”
Para wanita mulai terlihat bersemangat dari kejauhan, Damar masih memperhatikan namun kali ini wajahnya terlihat lelah.
Beberapa hari terakhir Damar bekerja tanpa henti bersama warga desa membuat sumur bor, memasang panel tenaga surya, dan memperbaiki jalur air.
Tidurnya hanya beberapa jam setiap malam.
“Kapten belum istirahat dari tadi pagi,” kata salah satu prajurit Damar hanya menggeleng.
“Masih banyak yang harus selesai.” Jawab Damar tegas.
Malam hari pun tiba semua orang berkumpul untuk makan malam sederhana namun Kirana menyadari satu hal.
Kapten Damar tidak ada dia menoleh ke salah satu prajurit.
“Kapten Damar di mana?” tanya Kirana.
“Kapten sedang di kamarnya, istirahat.”
Kirana mengernyit sedikit penasaran apa yang sebenarnya terjadi pada kapten Damar ternyata dia bisa lelah juga pikir kirana.
“Saya tidak lihat dia makan sejak pagi.” kata Kirana lagi.
“Kapten memang sering begitu,” jawab prajurit itu singkat.
Sekarang Kirana merasa khawatir dengan kapten Damar, tanpa banyak bicara dia mengambil beberapa makanan, buah-buahan, dan sebotol air mineral yang dia susun di atas baki.
“Aku akan menemui kapten,” kata Kirana singkat di ikuti senyum beberapa prajurit.
Kirana berjalan menuju kamar sederhana tempat Damar beristirahat lampu di lorong redup suasana sunyi.
Kirana berdiri di depan pintu dia mengetuk pintu ragu.
“Kapten Damar, boleh saya masuk?” kata Kirana hati-hati namun tak ada jawaban.
Kirana kembali mengetuk pintu itu, kali ini lebih keras.
“Kapten? Anda baik-baik saja?” kata Kirana lagi tetap tidak ada sahutan.
Rasa cemas membuat Kirana membuka pintu itu perlahan, di dalam kamar yang sederhana itu, Damar terlihat tertidur lelap di atas tempat tidur.
Sepatu militernya masih tergeletak di lantai, seragamnya masih setengah terbuka, seolah dia tertidur sebelum sempat berganti pakaian.
Kirana tersenyum kecil memperhatikan kondisi kamar itu.
“Dia benar-benar kelelahan,” gumamnya lalu Kirana meletakkan baki itu di atas meja, awalnya Kirana hendak langsung pergi, namun langkahnya terhenti.
Matanya memperhatikan wajah Damar yang sedang tidur, wajahnya tak sedingin seperti biasanya, wajah pria itu terlihat jauh lebih tenang.
Kirana berdiri cukup lama di sana tanpa sadar, Kirana menatap wajah kapten Damar terlalu dekat.
Tiba-tiba Damar bergerak cepat, Refleks dari seorang prajurit yang terlatih.
Tangannya langsung menarik lengan Kirana, memutar tubuhnya, dan dalam satu gerakan mengunci Kirana di tempat tidur.
“Jangan!” seru Kirana panik. “Saya cuma mengantarkan makanan!”
Damar langsung sadar sepenuhnya, dia menatap wajah Kirana yang kini berada tepat di bawahnya.
“Haah…” Damar menghela napas panjang. “Bikin kaget saja.”
“Maaf kalau membuat Kapten kaget,” kata Kirana gugup.
“Mbak Kirana, tidak perlu minta maaf.” Kata Damar santai.
“Maaf, Kapten.” Kata Kirana Lagi.
Damar menghela napas lagi lalu menatap Kiran.
“Saya sudah bilang tidak perlu minta maaf.” Ungkap Damar menegaskan.
Kirana memalingkan wajahnya, jatungnya berdebar kencang.
“Maksud saya…” Suara Kirana sedikit bergetar wajahnya memerah.
Damar baru menyadari posisi mereka, dia hendak bangkit.
Namun tiba-tiba dari ambang pintu.
“Mbak,”
Carmen langsung berhenti bicara matanya membulat, di belakangnya, Dion juga terpaku.
“Kita, mengganggu?” gumam Dion pelan Carmen melirik ke arah Dion.
"Sepertinya begitu," Sahut Carmen kemudian.
Damar langsung berdiri dengan canggung.
“Jangan salah paham!” kata Damar cepat mengingat yang melihat adegan itu adalah seorang jurnalis.
Kirana juga buru-buru bangkit sambil merapikan bajunya.
Carmen menutup mulutnya menahan tawa.
“Maaf, silakan lanjutkan,” katanya sambil menarik Dion.
“Eh! Jangan pergi!” seru Kirana panik tak sempat menjelaskan.
Namun Carmen sudah menarik Dion keluar, Kirana menatap Damar dengan wajah memerah, lalu jalan terburu-buru sebelum keluar dari kamar itu Kirana menoleh ke arah Damar sejenak.
“Jangan lupa di makan, Kapten," Sambil menatap ke arah makanan yang dia bawa.
Damar masih berdiri kikuk di tengah kamar, mengikuti arah pandang Kirana.
“Iya, terimakasih,” jawabnya pelan.
Begitu Kirana pergi, Damar menatap baki makanan itu lagi, Damar menghela napas panjang.
“Aku benar-benar butuh tidur," gumamnya sambil mengacak rambutnya sendiri