NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 3

Hujan telah mereda menjadi rintik-rintik halus saat Yvone melangkah keluar dari taksi di depan bangunan apartemen sederhananya di pinggiran Jakarta. Udara sore terasa lengket, sedingin hatinya. Ia menatap bangunan lima lantai yang catnya mulai mengelupas itu dengan dada sesak. Tempat ini, dengan segala kekurangannya, adalah tempat perlindungannya. Dan hari ini, ia harus meninggalkannya.

Saat Yvone membuka pintu unitnya, aroma sup ayam menyambutnya. Adik perempuannya, Lia, yang baru berusia dua puluh tahun, sedang berdiri di dapur kecil mereka sambil mengaduk panci. Mata gadis itu bengkak, sisa tangisan berhari-hari, namun seulas senyum lega terbit di wajahnya saat melihat Yvone pulang.

"Kak Vone! Kakak sudah dengar beritanya?" Lia berlari menghampiri dan memeluk Yvone erat-erat. "Pak Darma tadi menelepon. Ayah dipindahkan ke sel yang lebih baik! Katanya ada penjaga khusus dan Ayah mendapat akses dokter! Bagaimana Kakak bisa melakukannya?"

Yvone membalas pelukan adiknya, memejamkan mata untuk menyembunyikan genangan air matanya sendiri. Ia menepuk punggung Lia perlahan. "Ya, Kakak sudah dengar. Ayah aman sekarang."

Lia melepaskan pelukannya, menatap kakaknya dengan mata berbinar. "Siapa yang menolong kita, Kak? Teman lama Ayah? Atau ada LSM yang turun tangan?"

Pertanyaan itu menusuk ulu hati Yvone. Ia menuntun adiknya untuk duduk di sofa ruang tengah yang permukaannya sudah agak pudar. Ia memegang kedua tangan Lia yang terasa dingin.

"Lia, dengarkan Kakak baik-baik," ucap Yvone, suaranya diusahakan setenang mungkin. "Orang yang menolong Ayah adalah seorang pengusaha. Namanya Dylan Alexander Hartono."

Lia mengernyit. "Alexander? Maksud Kakak, CEO dari Alexander Group yang sering masuk berita bisnis itu? Kenapa dia mau menolong Ayah?"

Yvone menarik napas panjang. Ini adalah bagian tersulitnya. Berbohong pada satu-satunya keluarga yang tersisa. "Dia... dia bersedia menanggung semua biaya hukum dan menjamin keselamatan Ayah. Tapi sebagai gantinya, dia membutuhkan citra keluarga yang stabil untuk perusahaannya. Kami... kami akan menikah, Lia."

Hening sejenak. Wajah Lia berubah pucat pasi. "Menikah? Kak, apa maksudmu? Kakak bahkan tidak mengenalnya! Ini gila! Apakah ini semacam... jual beli?"

"Bukan!" potong Yvone cepat, suaranya sedikit meninggi sebelum ia merendahkannya kembali. "Ini kesepakatan yang saling menguntungkan. Kakak akan mendapatkan perlindungan untuk Ayah, dan dia mendapatkan... stabilitas yang dia butuhkan. Ini hanya formalitas."

"Formalitas?! Kak Vone mengorbankan masa depan Kakak sendiri!" Air mata Lia kembali tumpah. "Aku tidak mau Ayah selamat kalau harus menukar hidup Kakak dengan pria asing! Ayah pasti akan marah besar!"

"Ayah tidak akan tahu yang sebenarnya. Dan kau harus berjanji untuk tutup mulut," tegaskan Yvone. Tangannya mencengkeram bahu Lia. "Ini adalah pilihanku, Lia. Aku tidak bisa membiarkan Ayah mati di sana. Setidaknya, dengan ini, kita semua selamat."

Yvone berdiri, memutus kontak mata sebelum pertahanannya runtuh. Ia berjalan menuju kamarnya dan mengeluarkan sebuah koper ukuran sedang. Sesuai instruksi pria itu: kemasi barang penting, tinggalkan sampah. Ia hanya memasukkan beberapa pakaian sehari-hari, buku sketsa desainnya, dan sebuah foto keluarga mereka yang dibingkai sederhana.

"Kakak akan tinggal di mana?" tanya Lia parau dari ambang pintu.

"Di penthouse-nya. Di Menara Alexander," jawab Yvone sambil menutup ritsleting kopernya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis. "Kakak akan sering menelepon. Kau fokus saja pada kuliahmu. Uang sewa apartemen ini sudah dibayar untuk enam bulan ke depan. Jaga dirimu baik-baik."

Dengan pelukan perpisahan yang diwarnai isak tangis Lia, Yvone melangkah keluar dari apartemen itu. Ia tahu, langkahnya menuruni tangga itu adalah jalan satu arah.

Di lobi apartemen, sebuah mobil Rolls-Royce Phantom hitam mengkilap sudah menunggu, tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya yang kumuh. Beberapa tetangga mengintip dari balik jendela mereka, penasaran.

Seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi dan postur tegap berdiri di samping pintu penumpang belakang. Wajahnya keras namun memiliki sorot mata yang teduh.

"Nona Larasati?" sapa pria itu sambil menundukkan kepala dengan hormat. "Saya Joko. Bapak Hartono mengutus saya untuk menjemput dan melayani segala kebutuhan transportasi Anda mulai hari ini."

"Panggil saya Yvone saja, Pak Joko," ucap Yvone canggung.

"Itu melanggar protokol, Nyonya," balas Pak Joko halus, tanpa nada merendahkan. Ia membukakan pintu mobil. "Silakan."

Yvone masuk ke dalam kabin mobil yang terasa seperti ruang tamu hotel bintang lima. Jok kulitnya sangat lembut, dan kabin itu kedap suara, mengisolasi Yvone dari bisingnya jalanan Jakarta. Saat mobil mulai melaju dengan halus, Yvone menatap ke luar jendela, melihat kehidupan lamanya perlahan menjauh.

"Anda terlihat tegang, Nyonya," suara Pak Joko terdengar dari kursi kemudi, memecah keheningan.

"Apakah terlihat jelas?" Yvone tersenyum getir.

"Bapak Hartono memang bukan pria yang mudah dipahami," ucap Pak Joko bijak, pandangannya tetap fokus pada jalan raya. "Saya sudah bekerja untuk keluarga Hartono sejak Bapak Dylan masih remaja. Beliau hidup di dunia di mana tidak ada ruang untuk kelemahan. Dunia itu dingin, Nyonya. Tapi saya percaya, setiap tempat yang dingin selalu memiliki ruang untuk perapian."

Yvone terdiam mendengar metafora sopir itu. Perapian? Batin Yvone. Pria itu terbuat dari es murni. Aku ragu dia bahkan memiliki hati untuk dihangatkan.

Perjalanan berakhir di basement VVIP Menara Alexander. Sebuah lift pribadi yang diakses menggunakan pemindai retina dan sidik jari Pak Joko membawa mereka melesat ke lantai teratas. Lantai 65.

Pintu lift terbuka, langsung mengantarkan Yvone ke dalam ruang tamu penthouse yang luar biasa masif.

Yvone, sebagai seorang desainer interior, tidak bisa menyembunyikan kekagumannya sekaligus kengeriannya. Tempat ini sempurna secara arsitektur, namun sama sekali tidak memiliki nyawa. Lantainya berlapis marmer hitam berurat emas. Dinding-dindingnya didominasi warna abu-abu arang dan putih pucat. Perabotan minimalis modern yang harganya fantastis tertata kaku. Jendela kaca setinggi langit-langit membentang di satu sisi ruangan, menampilkan panorama Jakarta di malam hari bak lautan cahaya.

Tempat ini indah. Tapi terasa seperti sebuah museum. Atau lebih tepatnya, sebuah makam yang sangat mewah.

"Bapak Hartono belum pulang dari kantor. Beliau biasanya kembali lewat tengah malam," jelas Pak Joko sambil meletakkan koper Yvone di dekat lorong. "Kamar Anda ada di lorong sebelah kanan, pintu kedua. Kamar utama Bapak ada di ujung lorong. Beliau berpesan agar Anda membaca dokumen yang ada di atas meja nakas di kamar Anda. Jika Anda membutuhkan sesuatu, ada tombol interkom untuk memanggil asisten rumah tangga yang berjaga di lantai bawah. Selamat istirahat, Nyonya."

"Terima kasih, Pak Joko," ucap Yvone tulus. Kehadiran pria paruh baya itu adalah satu-satunya hal yang terasa manusiawi hari ini.

Setelah Pak Joko pergi melalui lift belakang, Yvone sendirian di dalam keheningan yang mencekam. Ia menyeret kopernya menuju kamar yang ditunjukkan.

Kamarnya luasnya setara dengan seluruh ukuran apartemen lamanya. Ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra abu-abu tampak dingin dan mengintimidasi. Di atas meja nakas berbahan kaca, tergeletak sebuah map tipis.

Yvone meletakkan kopernya dan menghampiri meja tersebut. Ia membuka map itu. Di dalamnya terdapat sebuah kartu kredit berwarna hitam pekat tanpa limit, dan selembar kertas putih dengan tulisan tangan yang rapi namun tegas.

Aturan Dasar Kediaman Hartono:

Area kerjaku (ruang kerja di lantai dua dan kamar utama) adalah zona terlarang untukmu. Jangan pernah masuk tanpa izin.

Asisten rumah tangga akan menyiapkan sarapan pukul 06.30 pagi. Aku menuntut kehadiranmu di meja makan setiap pagi. Itu adalah satu-satunya waktu kita berinteraksi secara rutin sebelum acara publik.

Jadwal pakaian, perawatan kecantikan, dan kelas etiket sosialmu sudah diatur oleh asistenku. Patuhi jadwal itu. Aku butuh istri yang sempurna untuk malam amal akhir pekan ini.

Jangan pernah membawa siapa pun ke dalam penthouse ini.

Kebebasanmu di luar penthouse diawasi. Pak Joko akan mengantarmu ke mana pun, dan laporannya akan masuk ke mejaku.

Selamat datang di rumahmu, Yvone.

Yvone meremas kertas itu. Tangannya bergetar. Aturan-aturan ini... ini bukan kehidupan pernikahan. Ini adalah rutinitas seorang narapidana di sel mewah.

Ia berjalan gontai menuju jendela kaca di kamarnya, memandang gemerlap lampu kota Jakarta yang tampak begitu kecil di bawah sana. Untuk menyelamatkan ayahnya, ia telah menjual jiwanya pada iblis. Dan iblis itu baru saja mengunci sangkarnya rapat-rapat.

Malam itu, di ranjang sutra yang dingin, Yvone Larasati menangis dalam diam hingga tertidur. Ia tidak tahu bahwa dari balik kamera CCTV tersembunyi di sudut langit-langit kamarnya, sepasang mata kelam yang sedang duduk di ruang kerja di lantai bawah memperhatikannya dalam diam, menghitung setiap tetes air mata yang jatuh sebagai harga dari sebuah kekuasaan.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!