Semua orang menganggap aku halu. “Mana mungkin, Bima, aktor tampan yang disukai semua perempuan di Indonesia mengajakmu menikah?” kata sahabatku, sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi kemudian dia diam melihat pesan yang dikiimkn Bima kepadaku, ingin serius menikah denganku. Aku memang mencintainya, tapi apakah aku layak hidup dengan seorang aktor tampan, padahal aku hanyalah perempuan biasa yang tidak punya apa-apa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 – Naya
Bab 19 – Naya
Kafe milik Kak Bayu hari itu cukup ramai. “Kaaak!” aku membuka pintu. Semua mata mengarah kepadaku. Aku langsung manggut-manggut sambil berkata, “Maaf,” lalu bergegas naik ke lantai dua.
Risa sedang menelepon seseorang dengan suara ramah, “Nggak apa-apa, kak. Lain kali, kalau ada saudara atau teman yang mau menikah, bisa rekomendasikan WO kami ya, kak?”
Aku duduk di depan Risa sambil menunjukkan ponselku.
Risa selesai menelepon lalu bicara sambil manyun, “Kak Ajeng batal pake wo. Katanya mau diurus sama sepupu-sepupunya aja.”
“Nggak apa-apa kak, ini ada calon klien,” kataku sambil menunjukkan ponselku padanya.
Chat tentang orang yang minta WO, karena baru ditipu orang gedung.
“Ada kenalannya klien kita dulu, mau nikah, tapi ditipu orang. Udah bayar DP gedung, eh orangnya kabur. Dan gedungnya ternyata udah dibooking orang lain, jadi dia minta tolong kita cariin gedung dan sekalian urusin semuanya,” kataku menjelaskan.
Risa menatapku dan mengembalikan ponselku, “Buat hari apa?”
“Bulan depan.”
“Gila lu! Cari gedung di mana buat bulan depan?”
“Ada lah, kak. Cari yang biasa aja tapi besar.”
“Tapi terlalu mepet. Lagian kalau nikahnya bulan depan, undangan harusnya udah jadi dong.”
“Nah itu dia. Makanya orangnya bingung, penghulu udah dibooking, katering udah ada, masa gedung nggak ada?” kataku heran.
“Ya udah, coba cari gedung rekanan kita yang masih kosong ada nggak?” tanya Risa padaku.
“Siap!”
Aku dan Risa langsung browsing semua gedung yang ada. Menelepon mereka satu persatu, menanyakan ketersediaan tempat. Setelah hampir menelepon 40 gedung, ada dua gedung yang kosong, tapi jauh dan bukan gedung, lebih ke aula masjid. Ternyata klien nggak mau.
“Ya udah, tolak aja,” Risa pasrah.
“Sayang banget. Kasian juga sih, Kak sama dia,” aku termenung menatap ponselku yang lalu tiba-tiba berdering.
“Siapa? Gedung?” tanya Risa.
“Bima,” jawabku langsung mengangkat telepon dari Bima. Sekarang aku sudah semakin terbiasa menjawab telepon dari Bima, “Halo?”
“Beb,” goda Risa.
Aku melotot ke Risa, lalu jalan menjauh, “ada apa?”
“Besok jadi kan? Nonton teater?” tanya Bima.
“Iya.”
“Sama siapa aja?”
“Kak, besok mau jadi nonton teater?” tanyaku pada Risa.
Risa menggelengkan kepala, “Sori, aku nggak bisa. Week end, harus bantuin Mas Bayu. Shanaz aja tuh, kepengen banget dia.”
“Oke.” Aku lalu bicara ke telepon, “Shanaz sama Devi aja, Mas.”
“Oke. Tiga berarti ya?”
“Iya.”
“Mau aku jemput?”
“Nggak usah, nggak usah dijemput lah! Masa naek moge berempat?”
Risa terkekeh.
“Ya naik mobil lah. Pak Mardi jemput kamu. Janjian aja di kafe, nanti Pak Mardi ke kafe. Gimana?” tanya Bima.
“Ehmmm, kalau gitu, boleh sih.”
“Oke. Besok jam 1 Pak Mardi ke kafe ya?”
“Iya.”
“Dah.”
“Dah,” jawabku menutup telepon.
“Kok nggak pake beb sih?” Risa mengeluh kesal.
Aku manyun, tapi lalu tersenyum, “Maunya sih gitu, tapi malu nggak sih?”
Risa langsung ngakak.
--
Besoknya, aku, Shanaz, dan Devi sudah duduk di kafe, menunggu Pak Mardi datang menjemput. Risa tampak sedang membantu Bayu membuat pesanan untuk ojek online.
“Kenapa kamu nggak ikut?” tanya Bayu pada Risa.
“Nggak lah. Nggak suka nonton teater gitu. Ngantuk!” Risa melihat ke jendela, “Tuh, Pak Mardi dateng!”
Aku, Shanaz dan Devi bergegas keluar rumah setelah pamit pada Risa dan Bayu. Kami masuk ke mobil Alphard itu.
“Ini tutup pintunya gimana, Pak?” tanya Shanaz ke Pak Mardi.
“Nanti juga nutup sendiri, Neng!” Pak Mardi terkekeh. Dia lalu menjalankan mobilnya.
Aku, Shanaz dan Devi terkagum-kagum baru pertama kali naik Alphard. Ternyata kayak nggak lagi naik mobil. Kayak lagi naik kamar berjalan. Luas dan lega.
“Kalau mau minum atau makan, ambil aja, Neng. Ada makanan di situ,” kata Pak Mardi. Persis seperti yang dichat oleh Bima padaku.
Shanaz dan Devi heboh melihat makanan dan televisi yang ada di mobil itu. Sementara aku, masih sibuk mencari gedung buat klien dadakan.
--
Begitu sampai di gedung theater Taman Ismail Marzuki, aku, Shanaz, dan Devi langsung disambut Celsi. Celsi langsung membawa kami area yang lebih sepi. Kami melewati Bima yang berdiri bersama beberapa artis lainnya sedang diwawancari wartawan. Bima melirik ke arahku lalu mengedipkan mata sekilas.
Aku tersenyum, lalu fokus mengikuti Celsi masuk ke aera yang lebih sepi.
Tak lama kemudian, pintu masuk pertunjukkan dibuka, lalu aku, Shanaz, dan Devi duduk di bagian VIP.
“Nanti di sebelah sini Bima,” kata Celsi menunjuk ke kursi kosong di sebelahku.
“Oke. Kak Celsi di mana?”
“Aku nontonnya di atas, deket media,” katanya tersenyum. “Enjoy ya!”
“Makasih, Kak!” kata aku, Shanaz, dan Devi bersamana.
Devi berbisik padaku, “Enak ya pacaran sama artis, dapet kursi VIP.”
“Ssst!” kataku menyikut perut Devi, “Ntar ada yang denger!” kataku takut kalau masuk ke gosip.
“Biarin aja lah. Udah resiko!” bisik Devi.
Lampu meredup. Acara sebentar lagi sepertinya akan mulai. Sepuluh menit kemudian, Bima belum juga duduk di sebelahku. Tak lama kemudian, datang Mutia diantar oleh sekuriti lalu duduk di sebelahku. Devi dan Shanaz melotot ke arahku, semuanya heran. Aku menggelengkan kepala, aku juga heran.
Aku fokus ke penampilan teater musical yang sangat menghibur. Meski parfumnya Mutia amat sangat menyengat, dan Mutia sering ngomong sendiri bilang, “Keren. Anjay! Gila!”
Aku berusaha untuk tidak menganggapnya menyebalkan.
Sampai di akhir pementasan. Semua kru diminta naik ke atas panggung. Termasuk juga Bima. Bima berdiri di belakang Sutradara yang memberikan ucapan terima kasih ke Bima. Bima menganggukkan kepala, lalu menatapku dan memberikan kedipan matanya lagi.
Tapi Mutia malah teriak heboh, “Bima! Kereeen!” sambil dadah-dadah.
Rasanya aku ingin tenggelam ditelan bumi. Aku merasa malu sudah GR dan baper mengira Bima mengedipkan mata padaku.