Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: JEJAK YANG TERSAMAR
Pagi itu, suasana di kediaman Al-Ghifari terasa lebih mencekam dari biasanya. Sisa-sisa badai semalam memang sudah menguap, meninggalkan jejak tanah basah dan aroma tanah yang segar, namun badai di dalam hati Zayn Al-Fatih justru baru saja dimulai. Pria itu berdiri di depan jendela kaca besar di ruang kerjanya, menatap lurus ke arah taman belakang dengan kedua tangan yang bersedekap di dada. Pikirannya tidak sedang berada pada pemandangan hijau di bawah sana, melainkan pada barisan kode hijau yang ia lihat di monitornya beberapa jam yang lalu.
Siapa sebenarnya Maryam?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Pelayan itu... gadis ber-niqab yang tampak begitu rapuh dan pendiam itu, bagaimana mungkin ia berada di depan komputernya tepat saat sistem yang hampir lumpuh tiba-tiba pulih secara ajaib? Zayn bukan orang bodoh. Ia lulusan terbaik dari universitas ternama di Amerika dan ia tahu betul bahwa apa yang terjadi pada sistemnya semalam bukanlah kebetulan. Itu adalah pekerjaan seorang jenius.
"Tidak mungkin dia," gumam Zayn pelan, suaranya serak karena kurang tidur. "Dia hanya gadis desa yang kebetulan lewat. Pasti 'H_Zero' itu masuk melalui jalur lain dan dia hanya sedang membersihkan debu di meja saat aku masuk."
Zayn mencoba meyakinkan dirinya sendiri, namun logika bisnisnya menolak penjelasan yang terlalu sederhana itu. Ia melirik ke arah meja kerjanya. Amplop cokelat berisi dokumen investigasi Yayasan Al-Azhar masih tergeletak di sana, sedikit bergeser dari posisi semula. Zayn menyipitkan mata. Apakah Maryam sempat membacanya?
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang teratur memecah kesunyian.
"Masuk," ucap Zayn dingin, tanpa merubah posisinya.
Pintu terbuka, dan aroma parfum floral yang menyengat segera menyerbu ruangan. Itu bukan aroma air wudu yang menenangkan milik Maryam. Itu adalah aroma ambisi dan kemewahan. Sabrina, putri dari rekan bisnis utama Zayn sekaligus wanita yang selama ini dijodohkan dengannya, melangkah masuk dengan gaya angkuh. Sepatu hak tingginya berdentum keras di atas lantai kayu mahoni.
"Zayn, sayang! Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi semalam? Aku mencarimu ke mana-mana!" Sabrina langsung menghampiri Zayn dan mencoba menyentuh lengannya, namun Zayn menghindar dengan halus, melangkah menuju meja kerjanya.
"Ada masalah teknis di kantor semalam, Sabrina. Aku tidak sedang dalam suasana hati untuk mengobrol," jawab Zayn datar.
Sabrina mengerucutkan bibirnya, tampak tidak senang. Matanya yang tajam kemudian menangkap sesuatu di sudut ruangan—seorang wanita ber-niqab hitam sedang berdiri mematung di dekat pintu, memegang nampan berisi kopi dan camilan. Itu Maryam. Ia baru saja masuk untuk menjalankan tugas rutinnya atas perintah Bi Inah.
"Siapa ini?" tanya Sabrina dengan nada merendahkan, menunjuk Maryam dengan dagunya. "Zayn, sejak kapan kamu mempekerjakan ninja di rumahmu? Apa kamu tidak takut dia menyembunyikan bom di balik kain itu?"
Tawa Sabrina pecah, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Maryam.
Aaliyah—yang kini menjadi Maryam—hanya menundukkan kepalanya. Di balik niqabnya, ia menarik napas panjang, mencoba menekan amarah yang mulai membakar dadanya. Ia mengenali suara ini. Sabrina. Wanita ini adalah salah satu sosialita yang paling vokal menghujat ayahnya di media sosial saat fitnah itu pecah. Sabrina adalah teman dekat dari orang yang diduga Aaliyah sebagai perancang fitnah tersebut.
"Dia Maryam. Pelayan baru untuk ibuku," jawab Zayn tanpa emosi. Ia menatap Maryam sekilas. "Letakkan kopinya di meja, Maryam. Dan segera keluar."
Maryam melangkah maju dengan sangat tenang. Setiap gerakannya diatur agar tetap sopan dan tak bersuara. Saat ia meletakkan cangkir kopi di depan Zayn, tangannya tak sengaja berdekatan dengan tangan Sabrina yang sedang bersandar di meja.
"Aww! Pelan-pelan sedikit, dong! Bajumu yang kasar itu menyentuh kulitku!" bentak Sabrina tiba-tiba, meskipun sebenarnya Maryam sama sekali tidak menyentuhnya. Sabrina dengan sengaja menyenggol nampan yang dipegang Maryam, menyebabkan sedikit kopi tumpah ke atas meja, tepat di dekat amplop dokumen Al-Azhar.
"Astaghfirullah..." bisik Maryam tanpa sadar.
"Apa?! Kamu berani menyumpahiku?!" Sabrina berdiri, wajahnya memerah karena amarah yang dibuat-buat. "Zayn, lihat! Pelayan ini sangat tidak sopan! Dia menumpahkan kopi dan berani merapalkan mantra di depanku!"
Zayn menatap tumpahan kopi itu dengan tatapan tajam. Hatinya merasa terusik melihat Maryam diperlakukan seperti itu, namun egonya melarangnya untuk membela seorang pelayan di depan Sabrina.
"Bersihkan ini, Maryam. Dan jangan gunakan kata-kata itu lagi di ruangan ini. Aku sudah bilang aku benci orang sok suci," ucap Zayn, suaranya lebih dingin dari biasanya.
Maryam tidak menjawab. Ia mengambil kain lap dari sakunya dan mulai menyeka tumpahan kopi itu dengan gerakan yang sangat telaten. Saat ia menyeka bagian di dekat amplop, matanya kembali menangkap tulisan "Investigasi Yayasan Al-Azhar". Jantungnya berdegup kencang. Ia ingin sekali menyambar amplop itu, namun ia tahu itu mustahil.
"Kenapa diam? Minta maaf!" bentak Sabrina lagi, merasa menang karena Zayn tidak membela Maryam.
Maryam berdiri tegak, menatap lurus ke arah Sabrina. Meskipun matanya tersembunyi di balik cadar, ada kilatan kekuatan yang membuat Sabrina tiba-tiba merasa tidak nyaman. "Saya minta maaf jika kehadiran saya mengganggu Anda, Nyonya. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Muda."
Suara Maryam yang lembut namun penuh wibawa itu membuat Zayn tertegun sejenak. Ada sesuatu dalam frekuensi suara itu yang tidak terdengar seperti pelayan desa biasa. Itu adalah suara seseorang yang terdidik.
"Sudahlah, Sabrina. Biarkan dia pergi," potong Zayn sebelum Sabrina sempat membalas.
Setelah Maryam keluar, Sabrina segera mendekati Zayn lagi. "Zayn, kamu harus hati-hati. Orang-orang seperti dia itu berbahaya. Mereka terlihat diam, tapi hatinya penuh rencana. Ngomong-ngomong, aku dengar Yayasan Al-Azhar akan segera bangkrut karena skandal putri Kyai itu. Bukankah kamu tertarik membeli tanah mereka untuk proyek smart city barumu?"
Zayn terdiam. Ia membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan selembar foto. Foto Aaliyah Humaira saat masih di pesantren, tanpa niqab, tampak sangat anggun dan bercahaya. "Keluarga mereka sudah hancur, Sabrina. Tanah itu akan jatuh ke tanganku dalam hitungan minggu. Tapi aku ingin tahu siapa dalang di balik fitnah itu. Aku tidak suka bekerja dengan orang yang menggunakan cara kotor, meskipun itu menguntungkanku."
Di luar pintu yang sedikit terbuka, Maryam mendengar segalanya. Air mata hampir saja tumpah dari pelupuk matanya. Jadi benar, Zayn ingin mengambil alih tanah ayahnya. Zayn adalah salah satu pemangsa yang menunggu keluarganya mati untuk memakan bangkainya.
Sore harinya, Aaliyah duduk di kamar pembantunya yang remang-remang. Ia tidak menyalakan lampu, hanya membiarkan cahaya temaram dari jendela menyinari mushaf kecilnya. Hatinya hancur. Ia merasa seperti berada di dalam kandang macan yang siap menerkamnya kapan saja.
"Ya Allah, apakah aku harus pergi?" tanyanya dalam hati. "Tapi jika aku pergi, aku tidak akan pernah tahu siapa yang menjebak ayahku. Dan jika aku pergi, siapa yang akan melindungi sistem Zayn dari pengkhianatan Rian?"
Ia teringat wajah Nyonya Sarah, ibu Zayn. Tadi siang, ia kembali menemani wanita itu. Nyonya Sarah sempat membisikkan sesuatu padanya: "Jangan pergi, Cahaya. Rumah ini terlalu gelap tanpa doamu." Nyonya Sarah sepertinya bisa merasakan kehadiran Aaliyah bukan sebagai pelayan biasa.
Aaliyah menghela napas, lalu membuka laptopnya kembali. Ia masuk ke forum gelap (dark web) untuk melacak aktivitas akun Rian, kepala IT Zayn. Ia menemukan sesuatu yang mengerikan. Rian bukan hanya meretas sistem keuangan, ia juga sedang menyiapkan jebakan hukum bagi Zayn. Rian berencana mentransfer dana ilegal dari rekening rahasia yayasan yang sedang bermasalah ke rekening pribadi Zayn untuk membuat Zayn seolah-olah terlibat dalam pencucian uang skandal Al-Azhar.
"Ini gila..." gumam Aaliyah. "Mereka ingin menghancurkan Zayn dan keluargaku dalam satu pukulan."
Tiba-tiba, layar laptopnya berkedip. Sebuah pesan muncul di sudut layar. Sebuah pesan dari sistem keamanan internal Al-Ghifari Group yang baru saja ia sadap.
“Signal Trace Detected: H_Zero Location: 500m radius of Al-Ghifari Residence.”
Jantung Aaliyah seolah berhenti. Zayn tidak tinggal diam. Zayn menggunakan satelit pelacak IP untuk mencari posisi "H_Zero". Dan hasilnya sangat akurat—sinyal itu berasal dari dalam atau sekitar rumah ini.
Panik, Aaliyah segera mematikan laptopnya dan menyembunyikannya di bawah kasur. Ia harus bertindak cepat. Ia harus menghapus jejak digitalnya sebelum tim IT Zayn datang membawa polisi atau penyidik pribadi.
Namun, tepat saat ia hendak berdiri, pintu kamarnya ditendang terbuka dengan keras.
Zayn berdiri di sana. Wajahnya gelap oleh amarah yang tertahan. Di tangannya, ia memegang sebuah perangkat genggam yang menunjukkan detektor sinyal nirkabel. Lampu di perangkat itu berkedip merah terang, tepat ke arah tempat tidur Maryam.
"Aku sudah mencurigaimu sejak awal," bisik Zayn, suaranya rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang meledak. "Di mana kau menyembunyikannya?"
Zayn melangkah masuk ke kamar sempit itu, membuat ruangan terasa semakin sesak. Ia mendorong meja kecil dan lemari dengan kasar, mencari perangkat yang baru saja memancarkan sinyal kuat.
"Tuan Muda, apa yang Anda lakukan? Ini kamar saya!" Maryam berdiri dengan gemetar, berusaha menutupi kasurnya.
"Minggir!" Zayn menyentak bahu Maryam hingga wanita itu terdorong ke dinding. Zayn meraih kasur tipis itu dan mengangkatnya. Di sana, ia menemukan laptop perak yang masih terasa hangat karena baru saja dimatikan.
Zayn mengambil laptop itu dengan tangan gemetar. Ia menatap laptop itu, lalu menatap Maryam yang kini bersandar di dinding dengan napas yang memburu.
"Pelayan desa, yatim piatu, tidak punya siapa-siapa..." Zayn tertawa, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Dan sekarang aku menemukan laptop militer terenkripsi di bawah kasurnya. Siapa kau sebenarnya, Maryam? Siapa yang mengirimmu ke sini? Apakah Kyai itu yang mengirimmu untuk memata-matai bisnisku sebelum dia koma?!"
"Tuan, demi Allah, saya tidak bermaksud buruk..."
"Jangan sebut nama Tuhan di depanku!" Zayn berteriak, suaranya menggema di seluruh area belakang rumah, membuat Bi Inah berlari datang dengan wajah pucat. "Kalian semua sama! Bersembunyi di balik cadar, bersembunyi di balik ayat, tapi tangan kalian penuh dengan kode dan rencana busuk untuk menghancurkan hidup orang lain!"
Zayn meraih paksa niqab Maryam. "Sekarang, tunjukkan wajahmu! Aku ingin melihat wajah wanita yang sudah berani bermain-main di dalam rumahku!"
Tangan Zayn sudah menyentuh tali niqab itu. Aaliyah memejamkan matanya rapat-rapat. Ia merasa inilah akhirnya. Identitasnya akan terbongkar, ia akan dipenjara atas tuduhan yang tidak ia lakukan, dan ayahnya akan meninggal dalam kehinaan tanpa ada yang membersihkan namanya.
Namun, di saat kritis itu, suara lemah Nyonya Sarah terdengar dari pintu. "Zayn... berhenti..."
Zayn tertegun. Ibunya berdiri di sana, dipapah oleh Bi Inah. Nyonya Sarah tampak menangis, menatap putranya dengan tatapan memohon. "Jangan, Zayn... dia... dia yang menyelamatkanku semalam. Dia yang menyelamatkanmu..."
Zayn menoleh ke arah ibunya, lalu kembali menatap Maryam. Tangannya masih memegang niqab itu, namun cengkeramannya mengendur. Di dalam hatinya, terjadi peperangan hebat antara rasa trauma masa lalu dan kenyataan yang ia lihat di depan matanya.
"Jelaskan padaku sekarang juga, Maryam," bisik Zayn, suaranya kini terdengar sangat lelah. "Atau aku bersumpah, malam ini juga kau akan berada di balik jeruji besi."
Maryam perlahan membuka matanya. Ia menatap Zayn dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang membuat Zayn merasakan debaran aneh di jantungnya.
"Saya akan menjelaskan segalanya, Tuan Muda," ucap Maryam tenang, suaranya kini tidak lagi dibuat-buat seperti pelayan desa. "Tapi tidak di sini. Dan tidak saat ada orang lain yang mendengarkan. Karena hidup Anda, dan hidup ayah saya, bergantung pada apa yang akan saya katakan."
Zayn tertegun. Ia melepaskan niqab Maryam tanpa membukanya. Ia mengambil laptop itu dan berjalan keluar. "Ikut aku ke ruang kerjaku. Sekarang."
Di belakang mereka, Sabrina yang ternyata sejak tadi mengintip dari balik pilar, menggigit kukunya dengan geram. Rencananya mulai berantakan. Ia harus bertindak lebih cepat sebelum pelayan ber-niqab itu membongkar segalanya.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji