"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.
Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.
Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Tak Pernah Pudar
POV Zhira
Pagi itu, matahari seakan ikut bersinar lebih cerah menyambut hariku. Udara terasa segar, bunga-bunga di taman rumah keluarga Arfan terlihat lebih berwarna, dan semuanya terasa begitu indah.
Aku bangun dengan perasaan yang sangat tenang dan bahagia. Tidak ada lagi rasa cemas, tidak ada lagi beban berat yang harus dipikul sendirian. Karena aku tahu, di dunia ini ada seseorang yang berjanji akan membagi semua beban itu bersamaku.
"Selamat pagi, Cantik..."
Suara berat dan hangat itu terdengar tepat di sebelah telingaku. Arfan sudah bangun dan sedang menopang kepalanya dengan tangan, menatapku dengan senyum yang sangat manis dan menggoda.
"Pagi juga, Mas..." jawabku malu, buru-buru menarik selimut sampai ke dagu karena baru sadar kami berdua di atas ranjang meski masih sopan.
Arfan tertawa renyah, lalu menarikku ke dalam pelukannya. "Ah jangan malu-malu dong Sayang. Kan sebentar lagi jadi halal kok. Nikmatin dulu masa-masa pacaran yang indah ini."
"Kan dosa kalau kelamaan..." gumamku sambil tersenyum.
"Iya makanya kita buruan nikah. Biar bisa peluk, cium, dan sayang-sayangan sepuasnya tanpa dosa," bisiknya nakal di leherku membuat bulu kudukku merinding campur senang.
Arfan memang begitu. Dia bisa jadi sangat serius dan wibawa, tapi di depan aku dia bisa jadi sangat manja dan lucu. Dialah obat terbaik untuk segala lelah dan luka di hatiku.
Hari ini jadwalnya sangat padat. Kami harus pergi ke tempat resepsi untuk cek dekorasi, gladi bersih, dan meeting dengan panitia.
Sepanjang perjalanan, tanganku tidak pernah lepas dari genggaman tangan Arfan. Dia sering menoleh dan tersenyum padaku. Setiap kali dia tersenyum, rasanya dunia ini jadi tempat yang sangat baik untuk ditinggali.
"Fan..."
"Hmm?"
"Kamu kenapa sih senyumnya terus? Nggak capek apa?" tanyaku penasaran.
Arfan menggeleng, lalu mencium punggung tanganku.
"Gimana nggak senyum, Sayang? Di samping aku ada wanita tercantik, terpintar, dan tersabar di dunia. Aku merasa jadi laki-laki paling beruntung sedunia. Senyum ini bakal terus ada sampai kapanpun. Nggak bakal pernah pudar, janji deh."
Aku menunduk menyembunyikan senyum lebar yang tak bisa kubendung lagi. Ya Allah... terima kasih sudah kirimkan dia. Terima kasih sudah buat hari-hariku penuh warna seperti ini.
Sesampainya di gedung pernikahan, aku benar-benar takjub. Dekorasinya sudah hampir selesai. Nuansa warna soft gold dan putih dipadukan dengan bunga-bunga segar yang wangi semerbak membuat tempat itu terlihat seperti istana di dalam dongeng.
"Wow... ini beneran tempat kita nikah, Fan? Indah banget kayak di mimpi," ucapku takjub berkeliling.
"Iya dong. Semua khusus buat kamu, Sayang. Kamu kan putri, jadi harus menikah di istana," jawabnya santai tapi penuh bangga.
Saat gladi bersih, saat aku berjalan menyusuri karpet merah menuju pelaminan sambil digandeng Arfan, semua orang yang ada di sana—panitia, keluarga, dan teman-teman—semua menatap kami dengan tatapan kagum dan iri secara baik.
"Cocok banget ya mereka... Masya Allah," bisik salah satu tante panitia.
"Iya tuh, lihat cara Mas Arfan lihat Zhira tuh... matanya beneran cinta banget. Nggak lepas sedikit pun."
Mendengar itu, pipiku makin memanas. Tapi Arfan justru semakin mempererat genggaman tangannya, seolah berkata "Iya, dia milikku".
Siang harinya, saat istirahat makan siang, Arfan melayanku seperti seorang ratu. Dia menyuapiku nasi goreng, dia mengelap bibirku dengan tisu, dan dia terus memastikan aku tidak kelelahan.
"Fan... orang-orang pada lihat lho. Aku kan udah besar, bisa makan sendiri," bisikku malu.
"Biarin aja dong. Biar mereka tahu kalau istri aku itu harus diperlakukan spesial. Lagian, melayani kamu itu bukan beban buat aku, itu kebahagiaan buat aku," jawabnya tulus tanpa rasa gengsi sedikit pun.
Di sudut ruangan, Bu Ratna dan Ibu Zainal melihat pemandangan itu dengan senyum lebar.
"Lihat tuh Bu Zainal," kata Bu Ratna sambil terkekeh. "Anak laki-laki Ibu itu kalau lagi sayang sama orang emang gitu buasnya. Nggak mau lepas. Alhamdulillah ya, mereka cocok banget."
"Iya Bu Ratna. Ibu bersyukur banget. Dulu Ibu khawatir banget Zhira dapat suami yang gimana, ternyata Tuhan ganti semua kesedihan dia dengan kebahagiaan seindah ini. Arfan anak baik, bertanggung jawab," jawab Ibu Zainal tersenyum sangat hangat.
Malam harinya, saat kami pulang ke rumah dan sedang bersantai di ruang tengah menonton TV, tiba-tiba listrik padam.
Cret... Gelap gulita.
"Eh mati lampu," seruku kaget.
Tapi sebelum sempat aku mencari senter, sebuah tangan menarikku ke dalam pelukan hangat. Arfan memelukku erat di tengah kegelapan.
"Gapapa Sayang, ada aku. Gelap juga nggak apa-apa, yang penting kan kita berdua," bisiknya lembut.
Aku bisa merasakan napasnya yang hangat di leherku, bisa mendengar detak jantungnya yang berirama sama dengan jantungku.
"Fan..."
"Hmm?"
"Aku seneng banget... Rasanya kayak mimpi. Dulu aku sering banget tidur di kamar gelap sendirian, nangis sendirian, merasa kesepian banget. Tapi sekarang... gelap pun jadi nggak menakutkan karena ada kamu."
Arfan mengecup keningku lama sekali, penuh cinta dan janji.
"Mulai sekarang, nggak akan ada lagi kamar gelap buat kamu, Ra. Aku bakal jadi cahaya buat hidup kamu. Aku bakal jadi alasan kamu senyum setiap hari. Janji ya, kita bakal terus begini? Senang terus, bahagia terus, sampai tua nanti?"
"Iya Fan... Aku janji. Bersamamu, setiap hari adalah hari yang indah."
Di tengah kegelapan itu, kami berpelukan hangat. Tidak ada lampu yang menyala, tapi hati kami bersinar terang benderang oleh cinta yang tak terhingga.
POV End
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Waduh, manis dan bikin senyum-senyum sendiri kan Bestie! 🥰😍 Arfan tuh suami idaman banget ya! Bahasanya enak dibaca kan?
Gimana Bab 28-nya? Lanjut Bab 29 lagi gas! Kita mau ada kejutan Honeymoon dan persiapan terakhir!