Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Gerbang Menuju Dunia Lain
Keputusan untuk pergi ke markas besar Ordo Pengawas bukanlah keputusan yang mudah. Namun, Elara dan Kael menyadari bahwa lari atau bersembunyi di balik tembok kota Lunaria tidak akan menyelesaikan masalah. Ancaman ini akan terus membayangi selama keberadaan mereka dianggap sebagai "kesalahan" oleh kekuatan yang lebih tinggi.
Malam itu, di Kedai Bintang Jatuh, suasana terasa berat namun penuh tekad. Darian, Nenek Mara, dan para tetua Dewan Sihir berkumpul untuk memberikan restu dan nasihat terakhir.
"Kalian harus ingat," kata Darian dengan nada serius sambil memegang bahu kedua anak muda itu, "Dunia tempat kalian akan pergi disebut Elysium. Konon, di sana waktu dan ruang bekerja dengan cara yang berbeda. Mereka memuja keteraturan dan kemurnian elemen. Kehadiran kalian yang merupakan campuran Cahaya dan Kegelapan akan dianggap sebagai najis atau kotoran bagi mereka."
"Jadi kita akan diperlakukan seperti penjahat?" tanya Kael.
"Lebih parah dari itu. Kalian akan dianggap sebagai penyakit yang harus disembuhkan atau dimusnahkan," jawab Nenek Mara. "Oleh karena itu, jangan mudah percaya pada siapa pun di sana. Senyuman mereka bisa jadi racun, dan kata-kata manis mereka bisa jadi jebakan."
Elara mengangguk paham. "Kami mengerti, Nek. Kami tidak akan pergi sendirian. Kami akan membawa Lunaria dan semua orang yang kami cintai di dalam hati kami. Itu akan menjadi kekuatan terbesar kami."
"Dan ingat," tambah Darian sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna hitam pekat kepada Kael, "Ini adalah Kepingan Void. Jika situasi benar-benar genting dan kalian perlu kembali dengan cepat, hancurkan benda ini. Ia akan membuka celah sementara meskipun di tengah pertahanan terkuat sekalipun."
Kael menerima benda itu dan menyimpannya dengan aman di dalam dadanya. "Terima kasih, Tuan. Kami tidak akan mengecewakan kalian."
Keesokan harinya, di sebuah dataran tinggi di luar kota, Elara dan Kael berdiri siap. Di hadapan mereka, kedua utusan Pengawas sudah menunggu. Tidak ada perpisahan yang berlebihan, hanya anggukan kepala penuh makna dari keluarga mereka yang tinggal di kejauhan.
"Kami siap," kata Kael tegas.
Pemimpin utusan itu tidak banyak bicara. Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi dan merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang tidak dimengerti oleh Elara dan Kael.
BZZZTTT...!
Udara di depan mereka bergetar hebat. Ruang dan waktu seolah terbelah, menciptakan sebuah portal raksasa yang berputar dengan cahaya putih menyilaukan. Di balik cahaya itu, terlihat pemandangan yang tidak wajar—langit yang bukan biru melainkan berwarna keemasan dengan awan yang padat seperti kapas raksasa.
"Masuklah," perintah utusan itu.
Elara menggenggam tangan Kael sangat erat. "Ayo."
Mereka melangkah maju dan menembus lapisan cahaya itu.
Sensasi melewati portal itu aneh sekali. Tubuh mereka terasa ringan, seolah melayang, dan pendengaran mereka hilang sesaat. Semua suara bumi lenyap, digantikan oleh keheningan mutlak yang diisi oleh cahaya murni.
Proses itu hanya berlangsung beberapa detik, namun terasa seperti berjam-jam. Saat kaki mereka kembali menyentuh tanah yang padat, mereka ternganga melihat pemandangan di depan mata mereka.
Mereka berada di sebuah dunia yang luar biasa indah namun juga sangat dingin dan kaku.
Semua bangunan di sana terbuat dari kristal putih dan marmer yang berkilau. Arsitekturnya simetris sempurna, tidak ada satu pun lekukan atau ornamen yang berlebihan. Jalanan bersih tanpa debu, pepohonan tumbuh lurus dan rapi seperti pasukan tentara. Tidak ada suara burung berkicau, tidak ada angin berdesir. Hanya ada suara langkah kaki mereka sendiri yang bergema.
"Ini... Elysium?" bisik Elara takjub.
"Terlalu sempurna hingga terasa tidak nyaman," gumam Kael. Matanya mengamati sekeliling dengan waspada. "Tidak ada kekacauan sama sekali. Semuanya terkontrol."
"Jangan bicara sembarangan saat berjalan," tegur salah satu utusan yang berjalan di depan mereka. "Di sini, pikiran dan kata-kata bisa memiliki bobot yang nyata."
Mereka berjalan menyusuri jalanan kristal itu. Sepanjang jalan, penduduk Elysium yang lewat menatap mereka dengan tatapan aneh. Penduduk di sini semuanya berpakaian rapi berwarna putih atau perak, dengan aura yang bersih dan terang. Namun, tatapan mereka kosong, tanpa emosi. Saat melihat Elara dan Kael, mereka menjauh seolah melihat sesuatu yang kotor atau berpenyakit.
"Lihat... itu mereka..."
"Anomali itu..."
"Campuran yang najis..."
"Bagaimana mereka bisa berdiri di tanah suci ini?"
Bisik-bisik itu terdengar menyakitkan, namun Elara dan Kael memaksakan diri untuk tidak mempedulikannya. Mereka mengangkat dagu tinggi-tinggi, berjalan dengan penuh martabat. Mereka tidak datang untuk meminta belas kasihan, mereka datang untuk membela kebenaran mereka.
Akhirnya, mereka tiba di sebuah bangunan terbesar di pusat kota. Itu adalah Bait Pengadilan Agung.
Bangunan itu berbentuk seperti lingkaran sempurna dengan atap kubah tinggi yang tembus pandang, memperlihatkan langit Elysium yang aneh dan tidak memiliki matahari atau bulan, hanya cahaya seragam yang terang benderang.
Di dalamnya, terdapat sebuah ruangan melingkar yang sangat luas. Di bagian atas, terdapat barisan kursi-kursi tinggi tempat duduk para hakim. Mereka berjumlah dua belas orang, semuanya mengenakan jubah putih panjang dan topeng yang menutupi seluruh wajah mereka.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah panggung kecil tempat Elara dan Kael dipersilakan berdiri.
Suasana hening total. Tekanan mental yang dirasakan di sini luar biasa beratnya. Seolah-olah ada ribuan ton batu yang menimpa bahu mereka, berusaha membuat mereka tunduk dan berlutut.
"Berlututlah di hadapan Dewan Keseimbangan!" seru seorang penyambut.
Elara dan Kael saling pandang, lalu sama sekali tidak bergerak. Mereka tetap berdiri tegak.
"Kami tidak berlutut pada siapa pun kecuali pada hati nurani kami sendiri," jawab Kael dengan suara lantang yang bergema di seluruh ruangan.
Geraman kecil terdengar dari para penonton. Para hakim di atas pun tampak tergerak oleh keberanian mereka.
Salah satu hakim, yang tampaknya memiliki posisi tertinggi karena duduk di tengah, mengangkat tangannya. Keheningan kembali menyelimuti ruangan.
"Kael Voss dan Elara," suara hakim itu bergema, tidak keluar dari mulutnya melainkan langsung terdengar di dalam pikiran semua orang. "Kalian telah dituduh melakukan Pelanggaran Kategori Alpha: Penyatuan Elemen yang Bertentangan. Kalian tahu hukuman untuk kejahatan ini?"
"Kematian?" tebak Elara tenang.
"Bukan kematian biasa," jawab hakim itu dingin. "Pemurnian Total. Jiwa kalian akan diceraikan, elemen kalian akan dipisahkan dan dikembalikan ke sumbernya masing-masing. Kalian akan lenyap. Tidak ada kenangan, tidak ada cinta, tidak ada apa-apa. Hanya kehampaan yang murni."
Ancaman itu mengerikan. Itu berarti penghapusan eksistensi secara total.
"Dan menurut kalian, itu adil?" tanya Kael, suaranya mulai meninggi karena emosi. "Kami mencintai satu sama lain. Kami tidak menyakiti siapa pun! Justru kami melindungi dunia kami! Kenapa itu harus dihukum?"
"Karena cinta kalian adalah ilusi," sahut hakim lain di sebelah kanan. "Cahaya adalah terang, Kegelapan adalah gelap. Mereka tidak boleh bertemu. Perpaduan kalian menciptakan ketidakstabilan yang bisa merobek kain alam semesta. Kalian adalah kanker yang harus dioperasi."
"Kami bukan kanker!" seru Elara tiba-tiba. Ia melangkah maju, menatap langsung ke arah dua belas topeng itu. "Kalian bilang kalian menjaga keseimbangan? Tapi apa yang kalian lakukan hanyalah memaksakan aturan kaku tanpa memahami maknanya! Keseimbangan bukan soal memisahkan segalanya! Keseimbangan adalah tarian antara dua lawan yang saling melengkapi!"
Elara membuka tangannya lebar-lebar. Tiba-tiba, cahaya perak dan bayangan hitam berputar lembut di sekitar tubuhnya, membentuk pola yang indah dan harmonis, tidak meledak, tidak merusak, justru memancarkan rasa damai yang luar biasa.
"Lihatlah ini," kata Elara. "Apakah ini terlihat seperti kehancuran? Atau justru terlihat seperti... kehidupan?"
Seluruh ruangan menjadi hening. Para hakim tampak terguncang. Mereka selama ini hanya tahu bahwa campuran elemen itu berbahaya dan meledak-ledak. Mereka tidak pernah melihatnya bisa seindah dan setenang ini.
"Pertunjukan sihir tidak akan mempengaruhi putusan kami!" bentak hakim yang paling keras. "Pengawal! Bawa mereka ke Ruang Pemurnian! Laksanakan hukuman sekarang juga!"
"TIDAK!" teriak Kael. Ia langsung berdiri di depan Elara, pedang hitamnya terhunus seketika. "Cobalah sentuh dia! Aku akan merobek dunia sempurna kalian ini menjadi dua jika perlu!"
Situasi memanas. Para pengawal bergerak maju dengan tombak cahaya mereka. Pertarungan tampaknya tak terhindarkan.
Namun, tepat saat pedang dan tombak akan beradu, tiba-tiba sebuah cahaya yang jauh lebih terang dan lebih hangat menyelimuti seluruh ruangan. Sebuah sosok turun dari langit-langit Bait Pengadilan, melayang di udara.
Sosok itu tidak memakai topeng. Wajahnya tampak muda namun matanya menyimpan kebijaksanaan ribuan tahun. Ia mengenakan jubah yang bukan putih, bukan juga hitam, melainkan berwarna emas yang memancarkan cahaya matahari yang sesungguhnya.
Kehadiran sosok ini membuat semua orang, termasuk para hakim dua belas itu, langsung berlutut dengan hormat.
"Y... Yang Mulia Sang Pencipta..." bisik salah satu hakim dengan gemetar.
Elara dan Kael terbelalak. Siapakah sosok ini? Dan mengapa kehadirannya terasa begitu akrab dan menenangkan bagi hati mereka?
Sosok itu tersenyum tipis, lalu menatap Elara dan Kael dengan tatapan yang sangat dalam.
"Cukup..." suaranya lembut namun berkuasa. "Pengadilan ini ditunda. Karena... mereka adalah tamu istimewaku."
(Bersambung ke Bab 16...)