Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: BISIKAN DI BALIK MIMPI
Malam itu, awan hitam bergulung tebal menutupi cahaya bulan dan bintang-bintang. Hujan turun dengan rintik yang pelan namun terus-menerus, menciptakan irama yang seharnya menenangkan, namun malam ini justru terasa mencekam dan berat.
Di dalam kamarnya yang sederhana, Lira terbaring di atas kasur empuknya. Matanya terpejam, namun tidurnya tidak nyenyak. Alisnya yang halus terus mengerut, dan keningnya berkerut seolah ia sedang berjuang melawan sesuatu di dalam alam bawah sadarnya.
Pertemuan dengan sosok misterius di tepi hutan siang tadi telah mengguncang dunia kecilnya. Kata-kata itu, nama asing itu, dan tatapan tajam itu terus berputar di kepalanya, menjadi benang kusut yang tak bisa diurai.
Dan kini, benang kusut itu menjelma menjadi mimpi.
Mimpi yang aneh dan sangat nyata.
Lira merasa dirinya melayang. Bukan melayang di udara biasa, tapi melayang di dalam sebuah lautan cahaya yang berwarna ungu dan biru tua. Di sekelilingnya, ada benda-benda besar yang berkilauan, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi hingga menembus awan, terbuat dari kristal dan cahaya murni.
“Ini… di mana?” bisik Lira dalam mimpinya. Suaranya bergema tak bertepi.
Ia mengenali tempat ini. Atau lebih tepatnya, jiwanya mengenalinya. Rasanya begitu akrab, namun juga begitu asing. Rasanya seperti pulang ke rumah yang sudah lama ditinggalkan, namun menemukan segalanya berubah.
Tiba-tiba, pemandangan di depannya berubah.
Warna-warna indah itu perlahan memudar, digantikan oleh abu-abu dan hitam. Suara gemuruh yang mengerikan mulai terdengar, semakin lama semakin keras, mengguncang seluruh alam semesta mimpi itu.
Lira mendongak ke atas.
Dan apa yang ia lihat membuat darahnya seolah membeku.
Langit di atasnya—langit yang indah itu—retak. Garis hitam panjang menganga lebar, seperti luka yang mengerikan. Dan dari celah itu, kegelapan murni mulai merembes keluar, menelan segala hal yang disentuhnya. Awan lenyap, bangunan kristal lenyap, bahkan cahaya pun lenyap.
Dan di tengah kegelapan itu, ada sebuah mata raksasa yang terbuka. Mata yang tidak memiliki bola mata, hanya kehitaman pekat yang menatap lurus ke arahnya.
“KEMBALI…”
Suara itu bergema, bukan di telinga, tapi langsung di dalam kepalanya. Suara yang berat, dingin, dan penuh dengan kerinduan yang aneh.
Lira ingin lari. Kakinya bergerak, namun ia tidak bisa pergi. Ia terperangkap di sana, di tengah kehancuran yang dahsyat itu.
Namun di saat yang sama, ia tidak merasa takut sepenuhnya. Ada perasaan lain yang bercampur aduk. Rasa sakit yang luar biasa, rasa rindu yang mendalam, dan sebuah kesadaran yang perlahan muncul: Ini adalah kenanganku.
Di tengah mimpi itu, sosok-sosok bayangan mulai muncul.
Sembilan sosok yang berdiri megah dengan sayap-sayap yang terbentang luas. Mereka berteriak, mereka bertarung, mereka menangis. Lira bisa melihat wajah-wajah mereka dengan samar. Wajah seorang wanita dengan rambut keemasan yang menangis histeris. Wajah seorang pria tangguh yang memegang tombak dengan amarah. Dan wajah sosok lain yang berpakaian gelap, yang menatapnya dengan tatapan penuh arti.
Dan kemudian, Lira melihat dirinya sendiri.
Bukan dirinya yang sekarang, gadis kecil berambut merah muda.
Melainkan sosok wanita dewasa yang bersinar terang benderang, dengan sayap-sayap emas yang megah dan indah. Wanita itu tersenyum, sebuah senyuman yang penuh kedamaian namun juga perpisahan. Wanita itu membentangkan tangannya, bukan untuk menyerang, tapi untuk memeluk kegelapan yang mengerikan itu.
“Jangan!” teriak Lira dalam mimpinya, air mata mengalir di sudut matanya yang terpejam. “Jangan lakukan itu! Kau akan hilang!”
Wanita dalam mimpi itu menoleh padanya. Matanya sama persis dengan mata Lira.
“Aku tidak hilang,” terdengar suara itu jelas sekali, lembut dan menenangkan. “Aku hanya tidur sebentar. Dan sekarang… waktunya bangun.”
Krak!
Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam kepala Lira.
Gambaran itu meledak, dan Lira tersentak bangun dengan napas yang memburu hebat.
“Hah… Hah…!”
Ia duduk tegak di atas ranjang, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya dan rambutnya yang berantakan. Jantungnya berdegup kencang bagaikan genderang perang.
Ruangan itu gelap dan sunyi. Hanya ada suara hujan yang masih turun di luar jendela. Tidak ada langit yang retak. Tidak ada monster kegelapan. Hanya ada dinding kayu kamarnya yang hangat dan familiar.
Namun… sesuatu telah berubah.
Lira mengangkat tangannya sendiri, menatap telapak tangannya dengan mata yang membelalak.
Ia bisa merasakannya. Energi yang selama ini ada di dalam dirinya, yang biasa ia gunakan untuk membuat bunga mekar atau menyembuhkan burung yang terluka, kini terasa berbeda. Kini terasa jauh lebih besar, jauh lebih panas, dan jauh lebih… kuat.
Seolah-olah pintu air yang selama ini tertutup rapat kini telah terbuka sedikit celah saja, dan air mulai memancur deras tak terbendung.
“Myrrha…” bisiknya pelan, mencoba mengucapkan nama itu lagi.
Kali ini, kepalanya tidak sakit. Tidak ada rasa pusing yang menyerang. Justru saat nama itu terucap dari bibirnya, ada perasaan hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya, seolah-olah sebuah kunci telah memutar gembok di dalam hatinya.
Ia ingat.
Bukan semuanya. Bukan detail pertempuran atau nama-nama hukum alam itu. Tapi ia ingat perasaannya. Ia ingat rasa tanggung jawab. Ia ingat wajah-wajah orang yang ia cintai di mimpi itu. Dan yang paling penting, ia ingat bahwa ia bukanlah anak biasa yang kebetulan ditemukan di padang rumput.
Ia adalah sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih kuat.
“Jadi… itu aku…” gumam Lira, air mata mulai mengalir lagi, tapi kali ini bukan karena takut. Ini adalah air mata karena sebuah kebenaran yang akhirnya menemukan bentuknya. “Aku adalah cahaya itu.”
Di luar jendela, kilat menyambar, menerangi ruangan sekejap. Dan di pantulan kaca jendela itu, Lira melihat sesuatu yang aneh.
Untuk sepersekian detik, ia melihat bayangan sayap-sayap emas yang megah terbentang di belakang punggungnya, sebelum akhirnya menghilang kembali saat cahaya kilat itu padam.
Mimpi itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah pesan. Itu adalah panggilan.
Masa lalu yang ia coba lupakan, yang ia pikir telah terkubur dalam-dalam, kini mulai bangkit kembali. Bisikan-bisikan itu kini menjadi suara yang jelas.
Dan Lira tahu, ia tidak bisa lagi bersembunyi di balik kedamaian desa ini selamanya. Petualangan besar, atau mungkin bahaya besar, sedang menantinya di depan mata.
Ia harus mencari tahu. Ia harus mengingat segalanya.
Karena langit yang pernah retak itu… mungkin sedang menunggu cahayanya untuk kembali.