"Mantan kabur, adiknya malah melamar? Dunia ini sudah gila!"
Bagi Cantik (26 tahun), hidupnya berakhir tragis saat rencana pernikahannya hancur karena Satria, sang calon suami, ketahuan selingkuh tepat sebulan sebelum hari H. Di tengah rasa sakit hati dan niatnya untuk menutup diri dari laki-laki, sebuah kekacauan muncul di depan pagarnya.
Bukan Satria yang datang meminta maaf, melainkan Juna (18 tahun), adik kandung Satria yang baru saja pamer foto ijazah SMA. Tidak tanggung-tanggung, bocah ugal-ugalan itu datang membawa rombongan motor sport, spanduk lamaran, hingga surat izin menikah dari ibunya sendiri!
Bagi Cantik, Juna hanyalah "bocil" bau matahari yang tidak tahu diri. Namun bagi Juna, Cantik adalah bidadari yang sudah ia incar sejak ia masih memakai seragam putih-abu.
"Lu itu berlian, Kak! Nggak pantes nangisin kerikil kayak Bang Satria. Daripada jadi mantan kakak, mending jadi istri adek. Gaskeun?!"
Sanggupkah Cantik mempertahankan tembok gengsinya mengahadapi pesona Juna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9. Brondong Pantang Surut
Satu bulan telah berlalu sejak gema "Stroller Keramat" meruntuhkan martabat Satria di depan keluarga besar. Bagi Cantik, masa-masa itu adalah fase pembersihan jiwa. Ia merasa telah menang telak.
Namun, kemenangan itu membawa konsekuensi baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya: serangan gerilya dari seorang Juna.
Juna tidak lagi bermain halus. Si brondong ugal-ugalan itu kini terang-terangan melancarkan operasi "Taklukkan Hati Mantan Calon Kakak Ipar".
Setiap pagi, sebelum alarm ponsel Cantik berbunyi, di pagar rumahnya selalu sudah tergantung satu cup caramel macchiato kesukaannya dan setangkai bunga matahari yang masih segar.
Tidak ada surat cinta puitis nan mendayu, hanya coretan tangan di atas tisu atau kertas nota: "Biar harimu nggak sepet kayak muka Bang Satria.
Semangat kerjanya, Kak Sayang. – Juna, Calon Pelabuhan Terakhirmu."
Cantik selalu mendengus setiap kali membaca pesan itu.
Ia mencopot kopi itu dengan gerakan kasar, meski diam-diam aroma kafeinnya selalu berhasil memperbaiki suasana hatinya sebelum berangkat ke kantor.
Cantik tidak naif. Ia sadar betul apa yang sedang terjadi. Ia tahu Juna punya perasaan yang lebih dari sekadar simpati adik kepada kakak kelasnya.
Namun, logika Cantik adalah sebuah benteng yang terbuat dari beton bertulang.
"Gila kali ya gue kalau sampai luluh sama dia," gumam Cantik suatu pagi sambil memandangi pantulan dirinya di cermin kamar.
"Dia itu adiknya Satria. ADIK KANDUNG. Hellooo... mau ditaruh di mana muka gue di depan netizen?"
Cantik membayangkan skenario terburuk jika ia benar-benar jatuh cinta pada Juna. Gosip di kantor pasti akan meledak: "Eh, si Cantik gagal nikah sama kakaknya, malah nyangkut sama adiknya yang masih bau matahari."
Bagi Cantik yang selalu menjaga reputasi dan sangat perfeksionis, itu adalah bencana sosial tingkat nasional.
Dunia seolah-olah hanya selebar daun kelor jika ia harus kembali masuk ke lingkaran keluarga yang sama melalui jalur "adik".
Harus diakui, secara visual, Juna adalah sebuah godaan iman yang sangat nyata. Jika Satria adalah "limbah pabrik" yang kusam dan membosankan, Juna adalah unit limited edition yang baru keluar dari showroom mewah.
Tubuhnya yang atletis hasil latihan basket yang disiplin, bahunya yang lebar dan kokoh, serta cara dia menatap dengan binar nakal namun tajam—semuanya berada seribu level di atas Satria.
Juna jauh lebih ganteng, jauh lebih gagah, dan yang paling menyebalkan, jauh lebih tahu cara memperlakukan wanita.
Tapi bagi Cantik, itu semua salah. Status Juna tetaplah seorang "bocah ingusan" yang baru saja mengenal dunia.
Cantik merasa jarak umur dan status keluarga mereka adalah tembok besar yang tidak boleh dilintasi. Maka, Cantik memasang strategi pertahanan yang paling mematikan: The Brotherzone.
Sore itu, Juna menjemput Cantik di lobi kantor dengan motor sport hitamnya yang menggelegar. Dia bersandar di jok motor, melepas helm dengan gerakan slow motion yang membuat beberapa rekan kerja wanita Cantik di lobi menahan napas serentak.
"Ayo balik, Kak. Gue udah reservasi tempat makan yang katanya lagi viral di TikTok. Biar lu nggak burnout kerja mulu," ajak Juna sambil menyodorkan helm cadangan berwarna hitam doff yang tampak sangat mahal.
Cantik keluar dengan langkah anggun, memasang wajah sedatar mungkin.
"Aduh, Juna... makasih ya. Emang adik gue yang satu ini paling pengertian sedunia. Beruntung banget gue punya adik kayak lu," jawab Cantik dengan penekanan luar biasa pada kata 'ADIK'.
Juna hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak menunjukkan kekalahan sedikit pun.
"Adik ya? Oke. Tapi ada nggak adik yang rela nungguin kakaknya lembur dua jam di parkiran sambil digigit nyamuk cuma buat mastiin kakaknya nggak digoda cowok lain di jalan?"
"Itu namanya adik yang protektif dan berbakti pada yang lebih tua, Juna," balas Cantik cepat sambil naik ke boncengan.
Dia sengaja menaruh tas kerjanya di antara punggung Juna dan tubuhnya, menciptakan pembatas yang tak terlihat.
Di tengah perjalanan, Juna sengaja melakukan manuver pengereman yang sedikit mendadak. Ciiittt!
"JUNA! Lu bisa bawa motor nggak sih?!" teriak Cantik refleks memeluk pinggang Juna erat-erat karena kaget.
"Sori, Kak. Tadi ada semut nyebrang, kasihan kalau kelindes," jawab Juna berbohong dengan nada santai, padahal jalanan aspal itu kosong melompong.
Dia bisa merasakan kehangatan tangan Cantik di pinggangnya, dan bagi Juna, itu adalah kemenangan taktis.
"Lagian lu pegangan kenceng banget. Takut ya kehilangan adik seganteng gue?"
"Diem lu! Buruan jalan atau gue loncat dari motor ini!"
Cantik memukul bahu Juna dengan kesal, meskipun di balik kaca helm, pipinya sudah merona merah karena malu dan sensasi aneh yang menjalar di hatinya.
Sesampainya di tempat makan, Cantik kembali menarik garis batas yang tegas. Di hadapan seporsi pasta dan es teh, Cantik menatap mata Juna dengan serius.
"Jun, denger ya. Gue hargai semua kebaikan lu. Lu udah bantu gue keluar dari lubang jarum pas kejadian Satria. Tapi tolong, jangan berharap lebih. Lu itu adiknya Satria. Lu itu masih bocah buat gue. Kita ini beda frekuensi, beda fase hidup. Lu harusnya fokus kuliah, cari cewek yang seumuran, yang masih suka bikin konten joget-joget, bukan sama tante-tante kantoran yang udah pusing mikirin deadline kayak gue."
Juna meletakkan garpunya, menyandarkan punggung ke kursi, lalu menatap Cantik dengan tatapan yang sangat dewasa—tatapan yang sama sekali tidak mencerminkan anak muda ingusan.
"Kak Cantik yang pinter tapi mendadak lemot kalau soal perasaan," Juna memajukan posisi duduknya, suaranya berubah rendah dan berat.
"Gue nggak peduli soal netizen, soal Bang Satria, atau soal jarak umur yang cuma beberapa tahun itu. Lu boleh panggil gue adik sekarang, besok, atau sampai tahun depan. Gue bakal tetep sabar."
Juna menyeringai, memperlihatkan lesung pipitnya yang sering membuat Cantik hampir lupa daratan.
"Gue yakin pesona brondong gue ini sangat kuat dan nggak terkalahkan. Lu cuma butuh waktu buat sadar kalau yang lu butuhin itu bukan laki-laki yang lebih tua tapi pengkhianat, melainkan laki-laki yang mungkin lebih muda tapi tahu cara ngejagain lu sampe mati. Gue bakal nunggu sampe 'segel' hati lu kebuka sendiri buat gue tanpa paksaan."
Cantik terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu. Serangan balik Juna terlalu tenang, namun menghujam tepat ke ulu hati.
Logika Cantik terus berteriak "Salah!", tapi nuraninya mulai berbisik "Bagaimana kalau dia benar?".
"Udah, jangan bengong. Makan tuh pastanya, keburu dingin kayak sikap lu ke gue," canda Juna kembali ke mode tengilnya, seolah pembicaraan serius tadi hanyalah angin lalu.
Cantik hanya bisa mendengus sambil menyembunyikan senyumnya di balik gelas minumnya. Dalam hati ia membatin dengan gusar, "Sialan, brondong ini emang ugal-ugalan banget cara pendekatannya. Gue harus bener-bener pasang pagar kawat berduri di hati gue."
Namun di sisi lain, Juna terus bersabar. Baginya, Cantik adalah tantangan terbesar sekaligus anugerah terindah. Dia tahu tembok itu tinggi, tapi Juna tidak berencana memanjatnya; dia berencana merobohkannya pelan-pelan dengan perhatian yang tak kunjung padam.