NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tidur Bareng~

Malam hari.

Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Mungkin karena hujan tidak turun. Mungkin karena Cumi sedang tidur di kamar. Atau mungkin karena Adea tidak bersuara.

Gadis itu duduk di kursi teras.

Satu kursi kayu kecil yang biasa ia gunakan untuk bersantai sambil minum teh di sore hari. Tapi sekarang malam sudah larut. Lampu teras hanya satu, menyala remang-remang, cukup untuk menerangi wajah Adea yang termenung.

Ia memeluk kedua kakinya.

Dagu bertumpu di atas lutut. Mata menatap kosong ke arah pagar rumah, ke arah bunga-bunga yang mulai menguncup karena malam. Pikiran tidak kemana-mana, tapi juga kemana-mana sekaligus.

Thalia.

Gadis cantik dari Jakarta. Rambut panjang. Kulit putih. Mobil Ferrari pink. Duduk di sebelah Angga di kelas ekonomi.

Adea menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak iri. Bukan iri.

Tapi ada perasaan aneh di dadanya. Seperti ada yang menggelitik dari dalam. Seperti ada yang berkata "lu harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat."

Tapi apa yang harus ia lakukan?

Angga hanya temannya. Sahabatnya. Sejak kecil. Tidak lebih.

Kan?

"Dea."

Suara Angga dari balik pintu.

Adea tidak menoleh. Ia hanya bergumam pelan, "Hmm."

Angga keluar dari rumah. Di tangannya ada selimut tebal berwarna abu-abu. Selimut yang sama yang ia gunakan untuk menyelimuti Adea saat menonton film horor kemarin.

Tanpa bertanya, ia membentangkan selimut itu dan menyelimuti tubuh mungil Adea. Dari bahu hingga ujung kaki yang telanjang. Selimut itu terlalu besar untuk gadis itu, membuatnya terlihat seperti kepompong.

"Dingin," ucap Angga singkat. Sebagai alasan.

"Gue masih mau di luar," kata Adea. Tapi kepalanya sudah bersandar di bahu Angga. Dengan sendirinya. Tanpa izin.

Angga diam sejenak. Ia merasakan berat kepala Adea di bahunya. Rambut gadis itu yang lepas dari ikatan kepang menggelitik lehernya.

"Dingin," ulang Angga. Kali lebih tegas. "Mending lu minum susu trus tidur."

Adea tidak menjawab.

Ia hanya bersandar lebih dalam. Matanya masih terbuka, menatap ke arah yang sama. Tapi sekarang pandangannya kabur. Bukan karena ngantuk. Tapi karena ada sesuatu yang menggenang di sudut matanya.

"Angga."

"Hmm."

"Angga gak akan pernah pergi dari Adea kan?"

Pertanyaan itu keluar pelan. Hampir berbisik. Seperti angin malam yang lewat tanpa diminta.

Angga tidak langsung menjawab.

Ia berdiri dari kursinya. Lalu dengan hati-hati, satu tangan di punggung, satu tangan di bawah lutut, ia menggendong Adea, lengkap dengan selimut yang membungkus tubuhnya.

"Gua masih mau di luar," protes Adea lemah.

Tapi kepalanya sudah bersandar di bahu Angga. Matanya terpejam setengah. Tangannya secara refleks memegang kerah baju Angga.

Angga berjalan ke dalam rumah. Melewati ruang tamu yang gelap. Melewati lorong sempit. Menuju kamar Adea.

"Angga gak akan pernah pergi dari Adea kan?" ulang gadis itu. Suaranya lebih pelan sekarang.

Angga meletakkan tubuh Adea di kasur dengan lembut, seperti meletakkan barang pecah belah. Selimut tebal masih membungkusnya. Ia merapikan ujung-ujung selimut itu, memastikan tidak ada yang terbuka.

Lalu ia menunduk.

Jari-jarinya yang besar dan kasar mencubit pelan hidung Adea yang mungil.

"Nggak akan-"

Ia berhenti.

Sayang.

Kata itu hampir keluar. Sudah di ujung lidah. Sudah siap meluncur. Tapi Angga menahannya. Ia menelannya kembali ke dalam tenggorokan, ke dalam dada, ke dalam tempat paling dalam di mana ia menyembunyikan semua perasaan yang tidak berani ia ucapkan.

"-pergi," lanjutnya akhirnya. Tanpa kata sayang.

Tapi matanya berkata lain.

Adea membuka matanya. Menatap Angga yang masih menunduk di samping kasurnya.

"Angga."

"Hmm."

"Peluk."

Adea merentangkan kedua tangannya. Selimut tebal membuat gerakannya kikuk, seperti beruang kecil yang baru bangun dari hibernasi. Tangannya yang mungil terbuka lebar, menunggu.

Angga tersenyum.

Senyum yang hanya muncul untuk Adea. Lembut. Hangat. Dan sedikit sakit karena tidak pernah cukup.

Ia menarik gadis itu ke dalam gendongannya.

Bukan peluk biasa. Tapi peluk yang dalam. Adea ia dekap erat, satu tangan di punggung, tangan lainnya mengelus rambut panjang yang terurai. Selimut tebal di antara mereka menjadi penghalang tipis yang tidak berarti.

Adea mengubur wajahnya di leher Angga. Menghirup aromanya. Sabun. Keringat. Cat minyak. Sesuatu yang hangat dan aman.

"Janji ya," bisik Adea di leher Angga.

"Janji," jawab Angga.

---

Angga tidak melepaskan pelukannya.

Sebaliknya, ia berdiri masih menggendong Adea yang terbungkus selimut dan berjalan perlahan menuju dapur. Langkahnya pelan, hati-hati, seperti membawa barang paling berharga yang tidak boleh jatuh.

Adea tidak protes lagi. Ia hanya diam di pelukan Angga, matanya setengah terpejam, telinga menempel di dada pria itu mendengar detak jantungnya.

Dum. Dum. Dum.

Jantung Angga berdetak cepat.

Adea tersenyum kecil.

Di dapur, Angga meletakkan Adea di atas meja makan. Bukan kursi, tapi meja. Biar lebih mudah. Gadis itu duduk di tepi meja dengan selimut melingkar, kakinya yang telanjang menggantung tidak menyentuh lantai.

Angga mengambil panci kecil, menuangkan susu, menyalakan kompor dengan api sedang. Ia bekerja dengan gerakan efisien. Tidak lama, tidak cepat. Hanya tepat.

Adea menonton dari atas meja.

"Angga."

"Hmm."

"Kamu bakal jadi suami yang baik."

Angga yang sedang mengaduk susu berhenti sejenak. Punggungnya terlihat kaku.

"Ngomong apa lu?"

"Beneran. Kamu tuh perhatian. Rajin masak. Sayang kucing. Rumah rapi. Badan kekar. Wajah juga lumayan." Adea menghitung dengan jarinya. "Cuma satu kekurangan."

Angga menoleh. "Apa?"

"Kamu gak bisa baca ekspresi cewek."

"Maksudnya?"

Adea tersenyum misterius. "Ya sudahlah. Nanti juga kamu paham."

Angga menggeleng. Ia menuangkan susu hangat ke dalam cangkir keramik favorit Adea. Cangkir bergambar panda yang hampir pecah dua kali karena jatuh. Ia menyodorkannya pada Adea.

"Minum. Habisin."

Adea menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Susu masih mengepul tipis. Ia meniupnya sebentar, lalu menyesap pelan.

"Enak," ucapnya.

Angga bersandar di meja di samping Adea. Tangannya bersilang di dada. Matanya menatap ke depan, ke arah jendela dapur yang gelap.

"Angga."

"Hmm."

"Boleh tidur sama Angga?"

Angga menoleh. Matanya menyipit.

"Nggak usah ngadi-ngadi."

"Hehe."

Adea tertawa kecil. Ia menyesap susunya lagi, lalu melanjutkan, "Bukan ngadi-ngadi. Cumi kan lagi tidur di kasur lo. Gue jadi gak punya teman tidur."

"Panda lo di kamar."

"Panda gak bisa ngelus kepala gue kalo gue mimpi buruk."

Angga terdiam.

"Nggak," katanya akhirnya. "Gue gak bisa tidur kalo ada orang di samping."

"Bohong. Lo tidur nyenyak pas gue tidur di sofa."

"Itu karena gue kecapean."

"Ya udah, lo kecapean aja terus biar gue bisa tidur di samping lo."

Angga menghela napas panjang. "Lu gila."

"Gila karena elu," balas Adea sambil tersenyum manis.

Angga tidak bisa menjawab.

Ia hanya mengambil cangkir kosong dari tangan Adea, mencucinya sebentar di wastafel, lalu kembali ke ruang tamu. Adea turun dari meja dan mengikutinya seperti anak itik. Selimut masih melingkar di tubuhnya, kakinya telanjang menapaki lantai dingin.

"Masuk kamar. Tidur," perintah Angga tanpa menoleh.

"Angga."

"Apa lagi."

"Makasih buat hari ini."

Angga berhenti di depan pintu kamarnya. Ia menoleh sedikit. Cukup untuk melihat Adea berdiri di lorong dengan selimut tebal, rambut berantakan, mata sayu, dan senyum kecil yang membuat jantungnya berhenti sejenak.

"Sama-sama, Dea."

Ia masuk ke kamarnya. Menutup pintu.

Tidak rapat. Sedikit terbuka.

Seperti biasa.

---

Di kamarnya, Angga merebahkan diri di kasur. Cumi yang sedang tidur di ujung kasur bergerak sedikit, lalu merangkak naik ke dada Angga. Kucing itu meringkuk di sana, mendengkur keras.

"Cumi," bisik Angga sambil mengelus bulu abu-abu gelap itu. "Gue kenapa ya?"

Cumi mengeong pelan. Tidak menjawab.

"Dia minta tidur sama gue."

Meong.

"Terus gue bilang nggak."

Meong lagi. Kali ini nadanya seperti "dasar goblok."

Angga tertawa kecil. Ia memejamkan mata.

Di kamar sebelah, Adea sudah berbaring di kasurnya. Boneka panda di pelukan. Selimut tebal dari Angga masih membungkus tubuhnya. Ia tidak melepasnya.

Ia mencium bau selimut itu.

Bau Angga.

"Angga..." bisiknya ke dalam gelap.

Tidak ada jawaban. Hanya detak jantungnya sendiri yang berdebar tidak karuan.

Dan di balik dinding tipis itu, Angga seolah mendengar bisikan Adea.

Ia tersenyum.

Lalu tidur.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!