Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Sore itu, suasana kantor mulai lengang. Satu per satu pegawai beranjak dari meja kerja mereka, merapikan berkas, mematikan komputer, dan bersiap pulang. Cahaya matahari yang masuk dari jendela besar perlahan meredup, memberi tanda bahwa hari kerja telah berakhir.
Aira menghela napas pelan sambil menutup laptopnya. Hari pertamanya di kantor baru terasa cukup melelahkan, bukan karena pekerjaannya semata, tetapi juga karena banyak hal yang masih harus ia cerna. Ia merapikan beberapa dokumen di mejanya, memastikan semuanya tersusun rapi sebelum pergi.
“Sudah selesai?” suara ceria Ayunda tiba-tiba terdengar dari sampingnya.
Aira menoleh dan tersenyum kecil. “Sudah. Tinggal pulang saja.”
Ayunda tampak bersemangat, matanya berbinar seperti anak kecil yang ingin menunjukkan sesuatu yang ia banggakan. “Bagus! Ayo kita langsung turun. Aku sudah tidak sabar memperlihatkan kostku. Aku jamin kamu pasti suka.”
Aira mengangkat alisnya sedikit, tertarik. “Sebagus itu?”
“Tentu saja,” jawab Ayunda cepat. “Dan tenang saja, tarifnya standar kok. Tidak akan membuat dompetmu menangis.”
Aira tertawa ringan. “Selama ada bonus fasilitas yang bagus, aku pasti betah.”
“Wah, kamu akan puas,” kata Ayunda penuh percaya diri. Ia kemudian mulai berjalan sambil mengajak Aira keluar dari ruangan. “Kipas ada, kasur besar, kamar cukup luas. Bahkan kalau kamu mau berbagi, masih muat untuk dua orang.”
Aira mengangguk pelan. “Menarik juga.”
Mereka berjalan menyusuri koridor kantor yang kini mulai sepi. Suara langkah kaki mereka menggema pelan di lantai keramik yang mengilap.
Tiba-tiba Aira menghentikan langkahnya.
“Ayunda,” katanya, “bagaimana kalau kita ajak Desi sekalian? Siapa tahu dia juga tertarik kost di tempatmu.”
Ayunda langsung berhenti dan menoleh cepat. “Serius?”
“Iya. Lumayan kan kalau kamu dapat dua penghuni sekaligus.”
Wajah Ayunda langsung berbinar lebih cerah. “Itu ide bagus! Ayo kita ke bagian pemasaran.”
Tanpa menunggu lama, mereka berdua berbelok menuju divisi pemasaran. Namun langkah mereka tiba-tiba terhenti.
Di ujung koridor, berdiri seorang pria dengan postur tegap dan penampilan yang terlalu rapi untuk ukuran jam pulang kerja. Senyum tipisnya tampak percaya diri, hampir seperti seseorang yang selalu tahu dirinya menjadi pusat perhatian.
Pandu.
Ayunda langsung menegang. Ia sedikit menarik lengan Aira dengan pelan.
“Kita putar balik saja,” bisiknya cepat.
Aira mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Itu Pandu,” jawab Ayunda dengan nada hati-hati. “Manajer produksi. Lebih baik kita tidak berurusan dengannya.”
Aira belum sempat bertanya lebih jauh, ketika Pandu sudah lebih dulu melihat mereka. Senyum di wajahnya melebar, seolah menemukan sesuatu yang menarik.
Dan seperti pemburu yang melihat mangsa, ia berjalan mendekat.
“Aira, ya?” sapanya ramah, suaranya halus dan penuh percaya diri.
Aira sedikit terkejut, tetapi tetap mencoba bersikap sopan. “Iya, Pak.”
Pandu berdiri cukup dekat, terlalu dekat untuk ukuran percakapan formal. “Mau pulang?”
“Iya,” jawab Aira singkat.
Pandu melirik Ayunda sekilas, lalu kembali fokus pada Aira. “Saya bisa mengantarmu.”
Aira menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak. Saya mau melihat kost milik Ayunda.”
Pandu mengangkat alisnya, seolah mendengar sesuatu yang kurang menarik. “Kost?”
“Iya,” jawab Aira.
Pandu tertawa kecil. “Kenapa harus kost? Saya punya apartemen. Fasilitasnya jelas jauh lebih baik.”
Aira menatapnya dengan tenang. “Saya tidak punya cukup uang untuk menyewa apartemen, Pak.”
Pandu tersenyum miring. “Siapa bilang kamu harus membayar?”
Aira terdiam sesaat.
“Cukup ada di samping saya,” lanjut Pandu santai, “kamu bisa tinggal di sana gratis.”
Suasana mendadak berubah canggung.
Aira langsung menggeleng tegas. “Maaf, Pak. Saya tidak tertarik dengan hal seperti itu.”
Ayunda yang sejak tadi diam, akhirnya memberanikan diri berbicara. “Pak, kami permisi dulu ya. Sudah cukup sore.”
Namun Pandu seolah tidak mendengar. Ia tetap menatap Aira, senyumnya tidak berubah.
“Jangan terburu-buru,” katanya. “Saya hanya ingin membantu.”
Aira mulai merasa tidak nyaman. “Saya sudah bilang tidak perlu, Pak.”
Pandu tetap tersenyum. “Setidaknya biarkan saya mengantar kalian. Tidak sopan kalau saya membiarkan pegawai saya pulang sendiri.”
Ayunda buru-buru menjawab, “Tidak usah, Pak. Saya bawa motor.”
Pandu meliriknya sebentar, lalu kembali pada Aira. “Tapi dia tidak.”
Aira merasakan tekanan yang tidak ia sukai. “Saya bisa naik ojek online, Pak.”
Pandu tertawa pelan. “Kenapa repot? Kita bisa sekalian saling mengenal.”
Ayunda menggigit bibirnya, bingung harus berkata apa. Posisi mereka jelas tidak menguntungkan. Pandu adalah atasan, dan menolaknya secara kasar bukan pilihan.
Aira menarik napas dalam. “Pak, saya benar-benar ada urusan.”
Namun Pandu tetap tidak bergeming. “Saya tidak akan lama.”
Situasi semakin menekan.
Dari kejauhan, seseorang memperhatikan mereka.
Bima berdiri dengan tangan di saku, memperhatikan interaksi itu dengan ekspresi datar. Matanya tertuju pada Aira, lalu pada Pandu. Ia tidak bergerak, hanya mengamati dengan rasa penasaran yang tidak ia sembunyikan.
Kembali ke Aira.
Ia melirik Ayunda yang tampak semakin tidak nyaman. Ia tahu temannya itu sudah berusaha, tetapi tetap tidak bisa berbuat banyak.
Aira akhirnya menunduk sedikit. “Baik, Pak.”
Ayunda langsung menoleh, kaget. “Aira...”
“Tidak apa-apa,” jawab Aira pelan.
Pandu tersenyum puas. “Keputusan yang tepat.”
Ayunda hanya bisa diam. Ia tidak punya kekuatan untuk menahan situasi itu lebih jauh.
“Aku duluan ya,” kata Ayunda pelan pada Aira.
Aira mengangguk. “Hati-hati.”
Ayunda kemudian pergi, langkahnya terasa lebih berat dari biasanya. Rencana mengajak Desi melihat kost pun batal.
Sementara itu, Aira mengikuti Pandu menuju area parkiran.
Di sana, sebuah mobil sport mewah terparkir mencolok di antara kendaraan lain. Kilap bodinya memantulkan cahaya sore, terlihat mahal dan mencuri perhatian.
Pandu membuka pintu penumpang. “Silakan.”
Aira masuk tanpa banyak bicara.
Mobil itu melaju keluar dari area kantor dengan mulus.
Di dalam mobil, suasana terasa hening beberapa saat.
“Kamu tidak terkesan?” tanya Pandu tiba-tiba.
Aira menoleh sedikit. “Dengan apa, Pak?”
“Mobil ini. Biasanya wanita langsung terpikat.”
Aira kembali menatap ke depan. “Mobil hanya alat transportasi, Pak.”
Pandu tersenyum tipis. “Menarik.”
Beberapa saat kemudian, Aira membuka ponselnya dan menunjukkan lokasi. “Kita ke sini, Pak.”
Pandu melirik sekilas. “Masih mau ke kost itu?”
“Iya.”
“Padahal apartemen saya jauh lebih nyaman.”
Aira menghela napas pelan. “Saya sudah memutuskan.”
Pandu tertawa kecil. “Kamu keras kepala juga.”
Aira tidak menjawab.
Mobil terus melaju, mengikuti arah yang ditunjukkan Aira.
Sepanjang perjalanan, Pandu beberapa kali mencoba membuka percakapan ringan, tetapi Aira hanya menjawab seperlunya. Ia tidak ingin memberi celah lebih dari yang diperlukan.
“Jujur saja,” kata Pandu akhirnya, “kamu berbeda.”
Aira menoleh sedikit. “Maksudnya?”
“Biasanya, wanita tidak akan menolak tawaran saya.”
Aira menatap lurus ke depan. “Mungkin karena saya tidak mencari hal seperti itu.”
Pandu tersenyum. “Atau mungkin kamu hanya belum terbiasa.”
Aira diam.
Mobil mulai memasuki area yang lebih padat, mendekati lokasi kost Ayunda.
“Belok kanan, Pak,” kata Aira.
Pandu mengikuti arah itu tanpa komentar.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan sebuah bangunan kost sederhana namun terlihat bersih dan terawat.
“Di sini,” kata Aira.
Pandu menghentikan mobilnya.
Ia menatap bangunan itu beberapa detik, lalu kembali menoleh pada Aira. “Kamu yakin?”
“Iya.”
Pandu tersenyum tipis. “Baiklah.”
Aira membuka pintu dan turun dari mobil. “Terima kasih sudah mengantar, Pak.”
Pandu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Aira dengan ekspresi yang sulit ditebak.
“Kita lihat saja,” katanya akhirnya. “Besok kamu mungkin berubah pikiran.”
Aira tidak menanggapi. Ia hanya menutup pintu mobil dengan pelan.
Mobil sport itu kemudian pergi, meninggalkan Aira di depan kost.
Aira berdiri sejenak, menarik napas panjang.
Pertemuan pertama dengan Pandu ternyata lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Namun satu hal yang pasti, ia tidak akan membiarkan dirinya terseret ke dalam sesuatu yang tidak ia inginkan.