Di Benua Awan Sembilan, kekuatan ditentukan oleh Qi dan garis keturunan. Li Chen hanyalah seorang pelayan di Sekte Pedang Azure yang menderita cacat pada meridiannya, membuatnya mustahil untuk berkultivasi melampaui tingkat dasar. Namun, saat ia jatuh ke Jurang Keputusasaan setelah dikhianati oleh saudara seperguruannya, ia menemukan makam kuno milik Kaisar Pedang yang Menantang Surga.
Li Chen mewarisi sebuah teknik terlarang: Seni Penelan Bintang, yang memungkinkannya menyerap energi dari artefak yang rusak dan emosi negatif musuhnya. Dengan pedang patah yang memiliki jiwa haus darah, Li Chen memulai perjalanannya. Ia tidak mencari keabadian untuk menjadi dewa, melainkan untuk menghancurkan sistem "Langit" yang menentukan nasib manusia sejak lahir. Dari seorang sampah sekte menjadi penguasa semesta, Li Chen harus memilih: menjadi penyelamat dunia atau iblis yang akan meruntuhkan gerbang surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcel ( rxel ), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10: Kota Perbatasan dan Pelelangan Berdarah
Garis batas antara wilayah pinggiran dan pusat peradaban Benua Tengah ditandai oleh sebuah kota raksasa yang dibangun di atas punggung kura-kura purba yang telah membatu: Kota Kura-Kura Hitam (Xuanwu City). Kota ini adalah titik pertemuan bagi para pedagang, tentara bayaran, dan pelarian sekte. Di sini, hukum hanya berlaku bagi mereka yang tidak punya cukup batu energi untuk menyuap penjaga.
Li Chen melangkah melewati gerbang kota yang tingginya mencapai seratus meter. Jubah abu-abunya yang compang-camping telah digantikan dengan jubah hitam sutra gagak yang ia ambil dari mayat seorang murid inti di perjalanan. Wajahnya terlihat lebih dewasa; guratan kelelahan di matanya tertutup oleh ketenangan yang mematikan dari seorang kultivator ranah Pembentukan Pondasi.
"Jangan tertipu oleh keramaian ini, Nak," suara Kaisar Pedang bergema pelan. "Di kota ini, setiap senyum adalah belati, dan setiap tawaran adalah jerat. Kau membawa harta dari perbendaharaan Azure; itu seperti membawa daging segar di tengah kawanan serigala lapar."
Li Chen menyentuh cincin ruang di jarinya. Di dalamnya terdapat Pedang Giok Hijau, puluhan botol pil alkimia tingkat menengah, dan yang paling berharga: Inti Binatang Buas Tingkat Empat yang ia dapatkan dari seekor ular raksasa di perbatasan.
"Aku butuh batu energi tingkat tinggi untuk menstabilkan pondasiku," gumam Li Chen. "Dan tempat terbaik untuk mendapatkannya adalah Rumah Lelang Awan Merah."
Rumah Lelang Awan Merah
Bangunan itu menjulang di tengah kota dengan arsitektur berbentuk pagoda sembilan lantai. Di depannya, kereta-kereta kuda yang ditarik oleh Kuda Napas Api berderet rapi, membawa bangsawan dan ahli kultivasi dari berbagai klan besar.
Li Chen masuk ke lobi. Seorang pelayan dengan pakaian minim mendekatinya dengan senyum profesional. "Selamat datang, Tuan. Apakah Anda ingin menawar atau menitipkan barang?"
Li Chen tidak bicara banyak. Ia mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dan meletakkannya di meja. Begitu tutupnya dibuka, aroma obat yang sangat pekat menyeruak, membuat beberapa orang di lobi menoleh dengan kaget.
"Ini... Pil Pemurni Jiwa tingkat lima?!" mata pelayan itu membelalak. Pil setingkat itu jarang muncul di kota perbatasan.
"Panggil manajermu," kata Li Chen dingin.
Beberapa menit kemudian, Li Chen duduk di ruang rahasia bersama seorang pria paruh baya bertubuh tambun bernama Manajer Jin. Setelah memeriksa barang-barang Li Chen, Manajer Jin mengusap keringat di dahinya.
"Tuan, barang-barang Anda luar biasa. Terutama Inti Binatang Tingkat Empat itu. Kami bisa memasukkannya ke daftar lelang utama malam ini. Namun, ada satu masalah..." Manajer Jin merendahkan suaranya. "Keluarga Kerajaan Wu sedang mencari Inti Binatang tersebut untuk menyembuhkan pangeran mereka. Jika mereka tahu Anda memilikinya, mereka mungkin akan mencoba membelinya dengan harga rendah sebelum lelang dimulai."
"Jika mereka ingin membelinya, biarkan mereka bersaing di meja lelang," jawab Li Chen datar. "Aku tidak menerima kesepakatan di bawah meja."
Manajer Jin mengangguk kagum sekaligus khawatir. "Keberanian Anda patut dipuji, tapi waspadalah. Pangeran Ketiga Wu, Wu Jian, terkenal karena sifatnya yang picik."
Pelelangan Berdarah Dimulai
Malam tiba. Aula lelang dipenuhi oleh ratusan orang. Li Chen duduk di bilik VIP nomor sembilan, yang diselimuti formasi kedap suara dan pelindung identitas.
Lelang berjalan dengan cepat. Pedang-pedang berharga dan teknik-teknik kuno terjual dengan harga ribuan batu energi. Hingga akhirnya, Manajer Jin naik ke panggung dengan sebuah kotak perak.
"Hadirin sekalian, item utama kita malam ini: Inti Naga Tanah Tingkat Empat! Inti ini mengandung energi tanah yang murni, sempurna bagi mereka yang ingin menembus ranah Inti Emas!"
Harga dimulai dari 10.000 batu energi tingkat menengah.
"15.000!" teriak seorang pria di lantai bawah.
"20.000!" sahut yang lain.
Tiba-tiba, suara malas terdengar dari bilik VIP nomor satu, yang dihiasi lambang naga emas Kerajaan Wu. "50.000 batu energi. Dan aku menyarankan agar tidak ada lagi yang menawar. Inti ini milik Kerajaan Wu."
Seluruh aula menjadi sunyi. Wu Jian telah mengeluarkan ancamannya. Menawar lebih tinggi berarti menghina Kerajaan Wu.
Manajer Jin tampak ragu. "50.000 batu energi dari Bilik Satu... Ada yang lebih tinggi?"
Li Chen menyipitkan matanya. Ia butuh setidaknya 80.000 batu energi untuk membeli Rumput Pemakan Bintang yang ia lihat di daftar katalog lelang untuk memperkuat tekniknya.
"80.000," suara Li Chen bergema melalui pengeras suara formasi, berat dan tenang.
Seluruh hadirin menahan napas. Seseorang berani menantang Pangeran Ketiga di wilayahnya sendiri?
Di Bilik Satu, Wu Jian yang tampan namun berwajah pucat membanting cangkir tehnya. "Siapa bajingan di Bilik Sembilan itu?! Berani-beraninya dia!"
"100.000!" teriak Wu Jian penuh amarah.
"150.000," balas Li Chen tanpa ragu.
"200.000!" Wu Jian berdiri di balkon biliknya, membiarkan auranya sebagai ahli Pembentukan Pondasi tahap akhir meledak. "Keluar kau, tikus! Tunjukkan wajahmu!"
Li Chen tidak menanggapi gertakan itu. "Manajer Jin, apakah ancaman diizinkan di rumah lelang ini? Jika tidak, tolong ketuk palunya."
Manajer Jin gemetar, tapi ia tahu reputasi Rumah Lelang Awan Merah dipertaruhkan. "200.000 batu energi... satu... dua... tiga! Terjual kepada Bilik Satu!"
Meskipun Wu Jian menang, wajahnya merah padam. Ia harus membayar empat kali lipat dari harga pasar karena "tikus" di Bilik Sembilan.
Lelang berlanjut. Saat Rumput Pemakan Bintang muncul, Li Chen membelinya dengan harga 70.000 batu energi—uang yang baru saja ia dapatkan dari dompet Wu Jian secara tidak langsung.
Penyergapan di Lorong Hitam
Setelah lelang usai, Li Chen tidak segera keluar. Ia merasakan beberapa niat membunuh yang terkunci pada auranya.
"Ada tiga ahli Pembentukan Pondasi tahap akhir dan satu orang di puncak ranah tersebut menunggumu di gerbang selatan," lapor Kaisar Pedang.
"Hanya itu? Aku kecewa pangeran itu tidak membawa ahli Inti Emas," Li Chen tersenyum tipis.
Ia sengaja berjalan menuju lorong-lorong sempit di bagian tua kota, di mana lampu jalan tidak lagi menyala. Di sana, udara berbau amis dan lembap.
Tiba-tiba, seberkas cahaya keemasan membelah kegelapan. Sebuah tombak meluncur secepat kilat, menancap di dinding tepat di samping kepala Li Chen.
"Berhenti di sana, pencuri!" Wu Jian muncul dari balik bayang-bayang, dikelilingi oleh empat pengawal berbaju zirah emas. "Berikan tas ruangmu dan berlututlah, maka aku akan membiarkan mayatmu utuh."
Li Chen berbalik perlahan. Pedang Penelan Surga sudah ada di tangannya, masih terbungkus kain hitam. "Kau membayar 200.000 batu energi untuk sesuatu yang tidak akan pernah kau gunakan, Pangeran. Itu adalah investasi yang sangat buruk."
"Mati kau!" Wu Jian memberi perintah.
Empat pengawal itu maju serentak. Mereka menggunakan Formasi Empat Penjuru Naga, menciptakan jaring energi yang mengunci pergerakan Li Chen.
Li Chen menarik napas dalam. Inti Hitam di dalam dirinya berputar liar, menyerap energi dari formasi naga yang mengurungnya.
"Seni Penelan Bintang: Pemecah Formasi!"
Li Chen tidak menghindar; ia justru menabrakkan dirinya ke arah salah satu pengawal. Dengan tangan kosong, ia menangkap bilah pedang pengawal itu. Kabut hitam meledak, menelan pedang dan tangan pengawal itu dalam sekejap.
KRAK!
Pengawal itu berteriak saat seluruh Qi-nya disedot habis. Tubuhnya layu seperti bunga yang mati kekeringan dalam hitungan detik.
"Satu," gumam Li Chen.
Tiga pengawal lainnya gemetar. Mereka belum pernah melihat teknik yang begitu haus darah. Namun, sebagai prajurit elit, mereka kembali menyerang dengan niat bunuh yang lebih besar.
Li Chen menghunuskan Penelan Surga. Cahaya merah gelap terpancar dari bilah patahnya.
"Gerbang Ketiga: Tarian Bintang Berdarah!"
Li Chen bergerak seperti pusaran angin hitam. Setiap gerakannya meninggalkan jejak darah di udara. Dalam tiga tarikan napas, lorong itu sunyi. Tiga pengawal lainnya tergeletak dengan dada berlubang, seluruh energi mereka telah diserap oleh pedang Li Chen.
Wu Jian mundur selangkah, wajahnya yang tadi pucat kini menjadi seputih kertas. "Kau... kau adalah iblis! Kau bukan kultivator manusia!"
"Dunia ini adalah tempat bagi mereka yang memangsa," kata Li Chen, berjalan mendekat. "Kau pikir dengan status pangeranmu, kau adalah pemangsa? Tidak, Wu Jian. Kau hanyalah ternak yang digemukkan oleh batu energi."
"Jangan bunuh aku! Ayahku adalah Raja Wu! Jika aku mati, seluruh pasukan kerajaan akan mengejarmu!" Wu Jian jatuh terduduk, air mata ketakutan mengalir di pipinya.
Li Chen mengangkat pedangnya. "Aku sudah menghancurkan satu sekte besar. Apa bedanya satu kerajaan kecil bagiku?"
SRAK!
Kepala Wu Jian jatuh ke tanah. Li Chen mengambil Inti Naga Tanah dari saku baju pangeran itu—barang yang tadi ia lelang. Kini ia memiliki Inti Naga itu kembali, ditambah 200.000 batu energi milik Kerajaan Wu.
"Cepatlah pergi, Nak. Seorang ahli Inti Emas sedang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sepertinya pelindung kerajaan merasakan kematian pangeran ini," peringat Kaisar Pedang.
Li Chen mengangguk. Ia tidak bodoh. Melawan ahli Inti Emas dalam kondisinya yang sekarang adalah bunuh diri. Ia melemparkan sebuah jimat peledak ke mayat-mayat itu untuk menghilangkan jejak, lalu menggunakan teknik gerakannya untuk menghilang ke dalam hutan di luar tembok kota.
Malam itu, Kota Kura-Kura Hitam gempar. Pangeran dari Kerajaan Wu tewas di gang sempit, dan pembunuhnya menghilang seperti asap.
Di tengah kegelapan hutan, Li Chen duduk bersila. Di depannya terdapat Rumput Pemakan Bintang dan Inti Naga Tanah.
"Malam ini, aku akan menembus ke tahap akhir Pembentukan Pondasi," tekad Li Chen. "Benua Tengah memang tempat yang berbahaya, tapi juga tempat yang paling manis bagi mereka yang berani melahap takdir."
Li Chen mulai bermeditasi. Di kejauhan, raungan kemarahan dari arah kota terdengar, tapi ia hanya tersenyum. Perburuan yang sebenarnya baru saja dimulai.