NovelToon NovelToon
Gadis Milik Tuan Dingin

Gadis Milik Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Aliora Amerta gadis cantik 19 tahun. Hidupnya berubah ketika pamannya berhutang besar pada Saga. Untuk melunasi hutang itu, Liora dipaksa menikah dengan Saga, pria yang sangat ditakutinya.

Sagara Verhakc berusia 27 tahun. Di dunia bisnis ia dikenal sebagai CEO jenius dan juga kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 16

Langit mulai meredup saat mobil hitam itu melaju meninggalkan markas.

Di dalam—

suasana hening. Liora duduk di kursi belakang.

Dekat.

Terlalu dekat dengan Saga.

Ia tidak banyak bicara. Tatapannya sesekali keluar jendela.

Namun tanpa sadar—

tangannya menggenggam ujung bajunya sendiri.

Masih ada sisa tegang. Masih ada rasa takut.

Sementara di sampingnya—

Saga duduk tenang. Seolah dunia luar tidak pernah menjadi ancaman baginya.

Di kursi depan, Ben menyetir.

Matanya fokus ke jalan.

Namun instingnya—

tidak pernah lengah.

Dan benar saja. Beberapa meter di depan mobil mereka.

BRRAAK!

Sebuah mobil hitam lain tiba-tiba memotong jalur mereka.

Rem diinjak keras. Mobil sedikit oleng.

“Serangan!” bentak Ben.

DEG!

Jantung Liora langsung berdegup kencang.

Matanya membesar.Belum sempat ia bereaksi—

DOR! DOR! DOR!

Suara tembakan pecah. Kaca samping retak.

Peluru musuh menghantam bodi mobil tanpa ampun.

“Merunduk!” perintah Saga tegas.

Tangannya langsung menarik Liora. Menekan tubuh gadis itu ke bawah.

Melindunginya.

Napas Liora tercekat. Tangannya refleks mencengkeram baju Saga.

Tubuhnya gemetar.

“Jangan keluar dari bawah,” suara Saga rendah.

Tenang.

Namun berbahaya. Ben langsung membalas.

Tangannya satu tetap di setir, satu lagi mengangkat senjata.

DOR!

Tembakan dibalas.

Mobil kembali melaju. Kejar-kejaran dimulai.

Ban berdecit.

Jalanan menjadi kacau. Mobil musuh terus menempel.

Tembakan demi tembakan tak berhenti.

Liora hanya bisa menahan napas.

Menutup telinganya. Air matanya mulai jatuh tanpa sadar.

Namun—

tiba-tiba—

DOR!

Satu tembakan lebih dekat.

Lebih keras.

Dan—

“Uh Shit!…”

Suara tertahan itu terdengar. Tubuh Saga sedikit tersentak.

DEG!

Liora menoleh cepat.

Matanya membesar.

“Sa… Saga?!”

Darah.

Mengalir dari bahu pria itu. Mengenai kemeja hitamnya.

Merembes pelan.

Ia tertembak. Saat melindunginya.

“Diam,” ucap Saga singkat.

Seolah itu bukan apa-apa. Padahal darahnya terus mengalir.

Liora langsung panik.

Tangannya gemetar menyentuh bahu Saga.

“A-aku… ini… darah—”

“Tidak apa.”

Nada suaranya tetap dingin. Namun napasnya sedikit lebih berat.

Di depan—

Ben melihat dari kaca spion. Dan saat ia menyadari—

wajahnya berubah.

Gelap.

Penuh amarah. “Berani… menyentuh Tuan…”

Suaranya rendah.

Namun penuh tekanan. Tangannya menggenggam setir lebih kuat. Matanya tajam menatap mobil musuh.

“Pegangan.”

Mobil tiba-tiba melaju lebih cepat.

Lebih agresif. Ben memutar setir tajam.

Mendekat ke mobil musuh.

Lalu.

BRAAK!

Ia menabrakkan sisi mobil mereka.

Mobil musuh oleng. Namun belum berhenti.

Ben tidak memberi waktu. Ia membuka jendela.

Mengangkat senjata. Matanya dingin. Lebih dingin dari biasanya.

DOR! DOR! DOR!

Tembakan dilepaskan tanpa ragu.

Tepat.

Cepat.

Mematikan. Mobil musuh mulai kehilangan kendali.

Ban mereka pecah. Mobil itu tergelincir—

dan akhirnya—

BRRAAAK!

Menabrak pembatas jalan.

DUAARRRR!

Api mulai membakar mobil itu.

Hening.

Hanya suara napas berat yang tersisa. Mobil Saga melambat. Namun tidak berhenti.

“Area belum aman,” ucap Ben.

Matanya masih waspada.

Sedangkan Di kursi belakang—

Liora masih gemetar. Tangannya kini menekan luka di bahu Saga.

Tanpa sadar. Berusaha menghentikan darah itu keluar.

“Aku… aku harus—”

“Tidak perlu.”

Saga menahan tangannya.

Namun kali ini—

tidak sekeras biasanya. Liora menatapnya. Matanya berkaca-kaca.

“Kamu… kena tembak gara-gara aku…”

Suaranya bergetar.

Saga diam. Menatapnya.

Dalam.

Lalu—

“Karena kamu milikku.”

Jawabannya singkat. Namun membuat napas Liora terhenti.

DEG.

Jantungnya berdegup tidak karuan.

Entah karena takut. Atau karena sesuatu yang lain.

Yang mulai sulit ia pahami.

Di luar—

langit semakin gelap. Dan di dalam mobil itu—

sesuatu semakin dalam terikat.

Di antara luka.

Darah. Dan rasa yang semakin rumit.

***

Mobil berhenti tepat di depan mansion.

Pintu terbuka.

Belum sempat siapa pun bergerak, Liora sudah lebih dulu turun.

Napasnya masih tidak teratur. Matanya langsung tertuju pada Saga.

Darah di bahu pria itu membuat jantungnya kembali berdegup kencang.

“Ayo masuk…” gumamnya panik.

Saga turun dengan tenang. Seolah luka itu tidak berarti. Karna dia memang sudah terbiasa dengan dunianya.

Namun sebelum melangkah lebih jauh—

ia menoleh sedikit.

“Ben.”

Suaranya rendah.

Dingin.

Ben langsung tegak.

“Bereskan.”

Satu kata. Namun cukup jelas.

“Tidak ada yang tersisa.”

“Baik, Tuan.”

Jawaban Ben tanpa ragu.

Matanya masih menyimpan amarah dari kejadian tadi.

Dan tanpa menunggu—

ia langsung pergi.

***

Di dalam mansion—

para pelayan yang melihat keadaan Saga langsung panik. Namun tidak ada yang berani terlalu dekat.

Aura pria itu…

terlalu menekan.

Sementara Liora—

sudah berlari ke sana kemari.

Mencari sesuatu. Kotak obat. Tangannya gemetar.

Pikirannya kacau.

“Di mana… di mana…”

Langkahnya cepat menuju salah satu lemari.

Namun—

“Berhenti.”

Suara itu membuatnya langsung diam di tempat.

DEG.

Ia menoleh. Saga berdiri di tengah ruangan.

Menatapnya.

Meski bahunya berdarah, tatapannya tetap sama.

Menguasai.

“Kemari.”

Perintahnya pelan.Namun tidak bisa ditolak.

Liora ragu.

Namun kakinya tetap melangkah mendekat. Saga mengalihkan pandangan ke salah satu pelayan.

“Hubungi dokter.”

“Sekarang.”

“Baik, Tuan!”

Pelayan itu langsung pergi dengan tergesa.

Liora menggigit bibirnya.

“Ta-tapi lukanya—”

“Diam.”

Satu kata.

Membuatnya langsung menutup mulut. Namun matanya masih penuh khawatir.

***

Tidak lama—

pintu terbuka.

Seorang pria masuk dengan langkah cepat. Dokter Albert, dokter pribadi saga.

Berpakaian rapi. Membawa tas medis.

“Saga, kau—”

Kalimatnya terhenti. Matanya langsung tertuju pada Liora.

Lalu kembali ke Saga. Lalu ke Liora lagi.

Bingung.

“Ini…?”

Saga tidak menjawab langsung. Ia hanya menarik Liora sedikit mendekat.

Tangannya menahan pinggang gadis itu.

“Liora.”

Singkat.

Namun cukup.

“Istriku.”

DEG!

Liora membeku. Wajahnya langsung memerah.

Sementara—

dokter itu… melongo.

“Sejak kapan kau—”

“Obati dulu.”

Potong Saga dingin. Tidak tertarik menjelaskan.

Dokter itu menghela napas.

“Baik, baik…”

Ia mendekat. Mulai membuka kancing kemeja Saga di bagian bahu.

Melihat lukanya.

“Lumayan dalam,” gumamnya.

“Tapi masih aman.”

Tangannya mulai bekerja. Membersihkan luka.

Menghentikan darah. Menyiapkan alat.

Selama itu—

Liora hanya berdiri.

Diam. Matanya tidak lepas dari Saga. Setiap kali pria itu sedikit meringis—

dadanya ikut terasa sesak.

Namun ia tidak berani mendekat. Tidak berani menyentuh.

Takut.

Dan ragu.

***

“Tahan sedikit.”

Kata dokter itu. Lalu mulai menangani lukanya lebih dalam.

Saga tetap diam. Tidak banyak bereaksi. Namun rahangnya sedikit mengeras.

Dan saat itulah—

tangannya bergerak.

Menarik.

Liora.

DEG!

Ia tersentak.

Tubuhnya hampir jatuh, namun langsung tertahan.

Kini ia berdiri sangat dekat.

Terlalu dekat.

“Di sini.”

Ucap Saga. Pelan.

Namun jelas. Liora menatapnya.

Bingung.

“Kenapa…?”

“Diam.”

Jawaban singkat.

Namun kali ini—

tidak terasa sekeras biasanya. Lebih… seperti menahan sesuatu.

Liora menelan ludah. Namun ia tidak menjauh.

Tidak kali ini. Tangannya perlahan mengepal di sisi tubuhnya.

Menahan gugup.

Sementara dokter itu—

melirik sekilas. Lalu tersenyum tipis.

“Menarik,” gumamnya pelan.

Namun tidak berkomentar lebih jauh.

***

Beberapa menit berlalu. Perban sudah terpasang.

Luka sudah ditangani.

“Jangan banyak bergerak dulu,” ujar dokter itu.

Saga tidak menjawab. Matanya tetap pada Liora.

Seolah sejak tadi—

tidak pernah benar-benar lepas darinya.

Dan Liora—

untuk pertama kalinya—

tidak menunduk. Ia masih takut.

Masih gugup. Namun ia tetap berdiri di sana.

Dekat.

Tidak pergi.

Dan itu—

cukup untuk membuat sesuatu di dalam diri Saga semakin kuat.

Sesuatu yang tidak terlihat. Namun semakin… mengikat

Albert mendengus" Cih.. kau memang selalu seperti itu!"

" Kamu bisa pergi"

Albert melirik liora sebentar " Dia sangat cantik"

Saga langsung menatap tajam albert, Albert hanya tersenyum mengejek lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Malam mulai turun di mansion itu. Suasana perlahan tenang.

Dokter Albert sudah pergi sejak satu jam lalu, meninggalkan pesan agar Saga tidak banyak bergerak.

Namun—

itu tidak benar-benar berlaku untuk pria seperti Saga.

Ia sudah duduk santai di sofa ruang tamu. Seolah luka di bahunya… tidak berarti apa-apa.

Sementara di sisi lain—

Liora berdiri canggung. Matanya sesekali melirik perban di bahu Saga.

Rasa khawatirnya masih jelas terlihat.

“Duduk.”

Suara Saga memanggil. Liora langsung menoleh.

“I-iya…”

Ia mendekat pelan. Namun baru saja ingin duduk di sofa sebelah—

tangan Saga sudah lebih dulu menariknya.

DEG!

Tubuh Liora langsung jatuh—

tepat di pangkuannya.

“Sa—Saga!”

Ia kaget. Refleks ingin bangkit. Namun tangan di pinggangnya menahan kuat.

“Jangan banyak gerak.”

Nada suara Saga tenang. Seolah… ini hal biasa.

“Tapi… lukamu—”

“Makanya.”

Potong Saga singkat. Matanya menatap Liora.

Dalam.

“Bantu aku.”

Deg.

Liora langsung diam.

Bingung.

“Maksudnya…?”

Saga tidak menjawab langsung. Tangannya mengangkat tangan Liora. Menaruhnya di atas bahunya yang tidak terluka.

“Di sini.”

Perintahnya pelan.

“Jangan jauh.”

Liora menelan ludah. Jantungnya berdegup cepat.

Posisi mereka—

terlalu dekat.

Dan ini… terlalu aneh.

Namun saat matanya kembali melihat perban di bahu Saga—

ia ragu untuk menolak.

Akhirnya—

perlahan ia mengangguk. “Iya…”

.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung............................

1
park jongseong
cerita yang menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!