NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: BATAS YANG MULAI KABUR

Mobil Sari sudah hilang di tikungan, tapi Ardi masih berdiri di teras. Tangannya di saku celana, menggenggam ponsel yang tidak berdering. Angin siang membawa panas, tapi kulitnya terasa dingin.

Seperti saudara.

Kata itu terus berputar di kepalanya. Sari tidak pernah memilih kata tanpa makna. Dia tahu itu. Setiap senyumnya, setiap sentuhannya, selalu terukur. Selalu ada tujuan.

Ardi menarik napas panjang, lalu kembali ke dalam.

Maya masih di meja dapur, posisi yang sama ketika Sari pergi. Tangannya di pangkuan, memegang kain batik yang tadi diberikan Sari. Jari-jarinya mengusap motifnya berulang-ulang, gerakan mekanis yang tidak disadari.

“Apa dia tahu?” bisik Maya lagi. Suaranya pecah, seperti kaca retak yang belum jatuh.

Ardi duduk di seberangnya. Meja dapur yang tadi hangat dengan tawa Sari, sekarang terasa seperti ruang sidang. “Aku tidak tahu.”

“Dia bilang seperti saudara.” Maya mengangkat wajah. Matanya basah. “Itu cara halus untuk bilang dia curiga.”

“Atau mungkin hanya komentar biasa.” Ardi tahu kata-katanya terdengar kosong.

Maya menatapnya. Tidak marah, tidak menuduh. Hanya lelah. “Kau tidak percaya itu.”

Ardi tidak menjawab. Karena benar, dia tidak percaya. Sari bukan wanita yang berbasa-basi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya sudah melalui filter panjang di kepalanya. Dan kata saudara—dia memilih kata itu dengan sengaja.

“Kita harus lebih hati-hati,” kata Ardi akhirnya.

Maya tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Tawa pahit yang membuat Ardi ingin menarik kembali kata-katanya.

“Lebih hati-hati?” Maya meletakkan kain batik di meja. “Ardi, kita sudah bersembunyi di rumah ini. Kita sudah menjaga jarak di depan orang. Tapi Sari datang tanpa kabar, duduk di ruang keluarga kita, dan melihat sesuatu yang bahkan kita sendiri tidak tahu apa.”

“Kita tidak melakukan apa-apa.”

“Belum.” Maya menekuk jarinya di atas meja. “Tapi dia melihat potensi. Dan wanita yang melihat potensi pengkhianatan, tidak akan diam.”

Keheningan jatuh di antara mereka. Ardi mendengar suara kulkas yang menyala, suara detak jam dinding, suara napasnya sendiri yang terasa terlalu berat.

“Apa yang kau takutkan?” tanya Ardi pelan.

Maya mengangkat wajah. Matanya bertemu dengan mata Ardi. Untuk pertama kalinya hari ini, dia tidak menghindar.

“Aku takut kehilangan,” katanya. “Kedua-duanya.”

Ardi menahan napas. Kedua-duanya. Rumah ini. Kehidupan yang diberikan Bram. Dan juga—dia. Maya takut kehilangan semuanya.

“Apa kau—”

Bel pintu berbunyi.

Mereka berdua menoleh. Wajah Maya pucat dalam sekejap. Ardi melihat tangannya yang menggenggam ujung meja, buku-buku jarinya memutih.

“Tenang,” bisik Ardi, berdiri. “Bisa jadi ART.”

Tapi ART baru datang siang. Jam menunjukkan pukul satu. Dan Yuni, ART baru yang kemarin diwawancara, tidak mungkin datang tanpa kabar.

Ardi berjalan ke pintu dengan langkah terkontrol. Di depan pintu, dia berhenti, menatap lubang intip.

Seorang pria berdiri di teras. Kemeja putih lengan panjang, tas selempang, wajah serius. Bukan siapa-siapa yang Ardi kenal.

“Ya?” Ardi membuka pintu selebar dua jari.

“Selamat siang. Saya dari keamanan kompleks.” Pria itu menunjukkan kartu identitas. “Ada laporan dari tetangga Bapak, Ibu RT 02, tentang aktivitas mencurigakan di area ini tadi pagi. Hanya pengecekan rutin.”

Ardi menghela napas pelan. Keamanan kompleks. Tentu. “Aktivitas apa?”

“Kata Ibu RT, ada mobil asing yang parkir cukup lama di depan rumah Bapak. Mobil hitam, tidak dikenal.” Pria itu mencatat di buku kecil. “Bapak tahu pemiliknya?”

Ardi memejamkan mata sebentar. Mobil hitam. Sari naik mobil hitam hari ini. Tapi Sari sudah sering ke sini, jelas bukan mobil asing.

“Itu mobil pacar saya,” kata Ardi. “Dia sering ke sini.”

Pria itu mengangguk, mencatat. “Baik, Pak. Maaf mengganggu. Hanya prosedur.”

Ardi menutup pintu, bersandar di kayu, menghela napas panjang. Laporan tetangga. Sari yang datang tanpa kabar. Kata saudara yang menggantung di udara.

Semuanya mulai terasa seperti jerat yang perlahan mengencang.

---

Maya sudah berdiri di lorong ketika Ardi kembali. Wajahnya masih pucat, tapi ada sesuatu di matanya yang berbeda. Bukan lagi ketakutan. Ada keteguhan yang tidak Ardi kenali.

“Siapa?” tanyanya.

“Keamanan kompleks. Ada laporan mobil asing.” Ardi berjalan mendekat. “Mobil Sari.”

Maya mengangguk, perlahan. Matanya menerawang ke jendela, ke jalan di luar pagar. “Tetangga mulai memperhatikan.”

“Itu hanya prosedur biasa—”

“Ardi.” Maya menatapnya. “Aku tidak bodoh. Ketika tetangga mulai lapor keamanan soal mobil pacarmu yang parkir di rumah ayahmu, itu bukan prosedur biasa. Itu pertanda orang mulai mengawasi.”

Ardi tidak bisa membantah. Rumah di Menteng ini bukan sekadar rumah. Ini nama. Ini reputasi. Ini bisnis keluarga yang dibangun Bram selama dua puluh tahun. Satu bisik-bisik tetangga bisa menjadi gosip, dan gosip di lingkungan ini cepat berubah menjadi berita.

“Aku harus ke kantor,” kata Ardi. Bukan karena ada rapat, tapi karena dia tidak tahu harus berdiri di mana. Rumah ini tiba-tiba terasa terlalu kecil untuk dua orang yang tidak ingin bertemu pandang.

Maya tidak menjawab. Dia hanya berbalik, berjalan menuju tangga. Di anak tangga pertama, dia berhenti.

“Malam ini, kau makan malam di sini?” tanyanya tanpa menoleh.

Ardi melihat punggung Maya yang tegang. Di bawah kemeja putih polos, tulang belikatnya menonjol, seperti sayap yang tidak bisa berkembang.

“Aku akan ke sini setelah kantor.”

Maya mengangguk. Lalu dia naik, langkahnya pelan, seperti membawa beban yang tidak terlihat.

Ardi berdiri di lorong, mendengarkan hingga suara langkah itu hilang di balik pintu kamar utama.

---

Di kantor, Ardi tidak bisa konsentrasi.

Dia duduk di ruang kerjanya yang besar, menghadap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan kuartal terakhir. Angka-angka berkedip di depannya, tapi matanya tidak fokus. Pikirannya di rumah Menteng. Di Maya yang berdiri di tangga dengan punggung tegang. Di Sari yang tersenyum dengan mata yang tidak tersenyum.

Seperti saudara.

Ardi membuka ponsel, membuka chat dengan Sari. Pesan terakhir dari pagi: Aku sayang kamu. Dia membalas dengan hati, tanpa kata. Sari membalas stiker ciuman.

Normal. Semuanya normal.

Tapi Ardi tahu, normal adalah topeng yang paling mudah retak.

Dia membuka jurnal di laci meja—yang sekarang selalu dibawanya ke kantor, karena rumah tidak lagi aman. Halaman terakhir masih berisi tulisan semalam:

Dia bilang dia senang tidak sendirian. Aku juga. Tapi aku tidak bisa mengatakannya. Karena jika aku mengatakannya, itu berarti aku mengakui bahwa selama ini aku sendiri. Dan jika aku sendiri, lalu untuk apa semua ini? Perusahaan, jabatan, Sari—semua hanya topeng. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, topeng itu terasa berat.

Ardi mengambil pulpen, menulis di bawahnya:

Sari datang tanpa kabar. Dia bilang kita "seperti saudara". Maya panik. Aku juga. Tapi aku tidak menunjukkan. Sejak kapan aku pandai berbohong? Sejak kapan ini semua menjadi kebohongan?

Dia menutup jurnal, menyimpannya kembali. Di luar jendela, langit Jakarta kelabu. Awan menumpuk di barat, tanda hujan sore.

Telepon di meja berdering. Sekretarisnya, Nina, mengabarkan bahwa ayahnya menelepon dari Surabaya. Ardi mengangkat gagang telepon dengan perasaan tidak enak.

“Ya, Pak?”

“Ardi.” Suara Bram berat, sedikit serak. Mungkin kelelahan. “Apa kabar?”

“Baik. Ada keperluan?”

Bram berhenti sebentar. Di balik sambungan telepon, Ardi mendengar suara mesin pesawat. Ayahnya pasti sedang di bandara.

“Aku dengar dari Pak Hadi, kamu sering ke rumah Menteng.”

Ardi diam. Pak Hadi, sopir pribadi Bram, yang seharusnya mengurus ayahnya, bukan melaporkan aktivitas Ardi.

“Iya. Ada beberapa administrasi yang perlu diurus. ART baru juga.”

“ART baru?”

“Maya minta tolong cari ART. Yang lama berhenti.”

Keheningan di ujung sambungan. Ardi bisa membayangkan ayahnya berdiri di terminal, koper di samping, tangan satu di saku celana—pose yang selalu dia lakukan ketika sedang memikirkan sesuatu.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Bram akhirnya.

“Baik.”

“Dan Maya?”

Ardi menahan napas. “Dia juga baik.”

“Jaga dia.” Suara Bram melembut, sedikit. Nada yang jarang muncul. “Dia sendiri di sana.”

Ardi ingin mengatakan banyak hal. Ingin mengatakan bahwa Maya tidak sendiri. Bahwa dia yang ada di sana. Bahwa dia yang menjaga Maya setiap malam, setiap pagi, setiap kali ayahnya pergi ke luar kota.

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, “Iya, Pak.”

Telepon ditutup. Ardi meletakkan gagang dengan hati-hati, seperti meletakkan bom yang siap meledak.

Dia melihat jam. Pukul empat sore. Langit di luar semakin gelap. Hujan akan turun dalam satu jam.

Ardi mengambil kunci mobil, keluar ruangan tanpa memberi tahu siapa pun.

---

Hujan turun ketika Ardi sampai di rumah Menteng.

Dia memarkir mobil di garasi, berjalan cepat ke pintu dapur untuk menghindari air. Pintu belakang terbuka, dan dia masuk tanpa mengetuk.

Maya sedang berdiri di depan kompor.

Dia tidak mendengar Ardi masuk. Konsentrasinya penuh pada wajan di depannya, menumis sesuatu yang beraroma bawang dan kecap. Rambutnya diikat longgar, beberapa helai basah di leher—mungkin terkena hujan. Atau keringat.

Ardi berdiri di ambang pintu, mengamati. Maya mengaduk tumisan dengan gerakan lambat, sesekali mengecek api, sesekali menambahkan garam. Gerakannya tidak lagi canggung seperti kemarin. Ada ritme yang mulai terbentuk.

“Aku pulang,” kata Ardi.

Maya menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti pagi—hangat, tapi ada jarak.

“Kau cepat.”

“Hujan. Aku tidak ingin macet.”

Maya mengangguk, kembali ke wajan. “Makan malam hampir selesai. Kamu mandi dulu.”

Ardi tidak bergerak. “Ayahku telepon tadi.”

Maya berhenti mengaduk. Punggungnya menegang.

“Dia tanya kabar kamu. Dia minta aku jaga kamu.”

Maya mematikan api kompor, meletakkan spatula. Dia berbalik perlahan, menatap Ardi dengan mata yang sulit dibaca.

“Kamu cerita soal ART baru?”

“Iya.”

“Dia percaya?”

Ardi mengangkat bahu. Entahlah. Bram tidak pernah mudah ditebak. Terlalu lama berbisnis, terlalu mahir membaca orang. Tapi untuk membaca anaknya sendiri, Bram selalu buta.

“Aku tidak tahu.”

Maya mendekat. Di bawah lampu dapur yang redup, bayangannya jatuh di wajah Ardi. Hujan di luar menderas, suaranya seperti gorden yang menutup mereka dari dunia.

“Kita harus berhenti,” bisik Maya.

Ardi menatapnya. Jantungnya berdetak tidak karuan. “Apa?”

“Kita harus berhenti sebelum terlambat.” Mata Maya basah, tapi suaranya tegas. “Sari curiga. Tetangga mulai mengawasi. Ayahmu telepon dari Surabaya untuk memastikan. Ini tidak akan berakhir baik.”

“Lalu?” Ardi mendekat satu langkah. “Kau mau kembali pura-pura menjadi ibu tiriku? Sarapan bersama, bicara sopan, menjaga jarak?”

“Itu yang seharusnya terjadi dari awal.”

“Tapi itu bukan yang kita inginkan.”

Maya mendongak. “Apa yang kita inginkan, Ardi? Kita tidak bisa bersama. Kau punya Sari. Aku menikah dengan ayahmu. Tidak ada jalan keluar.”

“Maka kita buat jalan.”

Maya tertawa pahit. “Kau terdengar seperti ayahmu. Selalu berpikir semua masalah bisa diselesaikan dengan strategi dan kekuasaan.”

Ardi tersentak. Kata itu menusuk, bukan karena kejam, tapi karena benar. Dia memang anak Bram. Darah yang sama, logika yang sama, kecenderungan untuk mengontrol yang sama.

“Aku tidak seperti ayahku,” katanya, tapi suaranya ragu.

Maya mengangkat tangan, menyentuh pipi Ardi. Tangannya dingin, sedikit basah. Sentuhan yang membuat Ardi lupa semua alasan.

“Kau lebih baik dari dia,” bisik Maya. “Tapi jika kau terus begini, kau akan menjadi seperti dia. Atau lebih buruk.”

Ardi menangkap tangannya, menahan di pipinya. Dia menutup mata, merasakan jari Maya yang dingin, gemetar.

“Apa kau benar-benar ingin berhenti?” tanyanya.

Keheningan. Hanya hujan dan detak jantung.

“Tidak,” bisik Maya akhirnya. “Tapi aku harus.”

Ardi membuka mata. Maya berdiri sangat dekat, wajahnya basah—entah air mata atau percikan hujan dari jendela yang terbuka. Matanya tidak berbohong. Ada rasa takut, ada rasa bersalah, tapi di bawah semua itu, ada hal yang sama yang Ardi rasakan di dadanya setiap kali melihat wanita ini.

“Kita tidak akan berhenti,” kata Ardi.

Bukan perintah. Bukan keputusan. Hanya fakta yang sudah mereka berdua tahu.

Maya tidak menjawab. Dia hanya menatap Ardi, lalu perlahan, tangannya turun dari pipi Ardi, meraih kerah kemejanya, menariknya mendekat.

Di dapur yang hangat dengan bau tumisan, di tengah hujan yang mengurung mereka dari dunia, Maya mencium Ardi.

Bukan ciuman panas seperti tadi malam. Bukan ciuman yang penuh hasrat dan nafsu. Ciuman ini pelan, ragu, seperti orang yang mencicipi racun yang sudah tahu akan membunuhnya.

Ardi membalasnya dengan lembut. Tangannya di pinggang Maya, menariknya lebih dekat, merasakan tubuhnya yang gemetar. Bibir mereka bertemu, berpisah, bertemu lagi, seperti mencari pola yang tidak pernah ditemukan.

“Aku takut,” bisik Maya di sela ciuman.

“Aku juga.”

“Tapi aku tidak bisa berhenti.”

“Aku juga tidak bisa.”

Maya menyandarkan kepalanya di dada Ardi. Hujan di luar mulai reda, berubah menjadi gerimis yang pelan. Di ruang keluarga, jam dinding menunjukkan pukul setengah enam.

“Kita harus makan malam,” kata Maya, suaranya teredam.

Ardi tertawa kecil. “Kau bisa masak lagi?”

“Tumisannya keburu dingin.”

“Tidak masalah.”

Maya melepaskan pelukan, berbalik ke kompor. Ardi berdiri di belakangnya, tidak membantu, hanya mengamati. Maya memanaskan kembali tumisan, mengaduk perlahan, sesekali mengecap kuahnya.

Mereka makan malam seperti biasa. Di meja dapur yang sama, dengan piring yang sama, dalam diam yang sudah menjadi bahasa mereka sendiri. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menggantung di udara, seperti janji yang tidak diucapkan.

Setelah selesai, Maya mengumpulkan piring. Ardi membantu membawanya ke wastafel. Saat tangan mereka bersentuhan di keran, Maya berbisik, “Kita harus lebih pintar.”

“Bagaimana maksudmu?”

“Sari tidak boleh curiga. Ayahmu juga. Kita harus membuat mereka percaya bahwa kita hanya... anak dan ibu tiri yang akrab.”

Ardi mengerutkan kening. “Kau yakin?”

“Itu satu-satunya cara.” Maya menatapnya. “Kau harus kembali ke Sari. Bawa dia ke sini. Biarkan dia melihat kita seperti keluarga normal.”

Rasanya seperti pisau menekan dadanya. “Kau minta aku berbohong padanya?”

“Kita sudah berbohong, Ardi.” Suara Maya pelan, tidak menuduh. “Setiap hari, setiap kali kita bertemu, setiap kali kau memikirkan aku padahal Sari di sampingmu. Kita sudah melewati batas kejujuran sejak lama.”

Ardi tidak bisa membantah.

“Kau tidak perlu melakukannya selamanya,” lanjut Maya. “Tapi sampai kita tahu apa yang sebenarnya Sari tahu, kita harus berhati-hati.”

“Dan setelah itu?”

Maya tidak menjawab. Dia hanya mengeringkan tangan, berjalan ke ruang keluarga, mengambil kain batik yang tadi diberikan Sari. Kain itu masih tergeletak di sofa, motifnya merah marun dengan pola bunga yang rumit.

“Kain ini indah,” kata Maya, mengusap permukaannya. “Sari punya selera yang baik.”

Ardi berdiri di ambang ruang keluarga, menatap Maya yang berdiri di tengah ruangan dengan kain batik di tangan. Di bawah lampu ruang keluarga yang terang, Maya terlihat berbeda. Bukan rapuh, bukan takut. Ada sesuatu di matanya yang membuat Ardi merasa bahwa wanita ini lebih kuat dari yang dia kira.

“Kau benar,” kata Ardi akhirnya. “Kita harus lebih pintar.”

Maya menatapnya, tersenyum. Senyum yang tidak lagi penuh waspada, tapi juga tidak sepenuhnya tulus. Senyum yang membuat Ardi sadar bahwa mereka berdua sekarang berada di panggung yang sama, memainkan peran yang tidak pernah mereka inginkan.

“Mulai besok,” kata Maya. “Kita jadi keluarga yang baik.”

Ardi mengangguk.

Di luar, hujan berhenti. Langit malam di Menteng bersih dari awan, memperlihatkan bulan setengah lingkaran yang menggantung rendah.

---

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!