Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Sang Nakhoda
Pesawat komersial yang membawa Sora dan Hael membelah awan khatulistiwa yang tebal, menyongsong cakrawala Jakarta yang mulai menyala oleh lampu-lampu kota. Di dalam kabin kelas bisnis yang tenang, Sora tidak lagi merasa seperti pelarian. Ia duduk tegak, jemarinya mengusap permukaan jam saku keramik milik ibunya yang kini bersanding dengan The Chronos Weaver di dalam kotak pelindung khusus.
Hael duduk di sampingnya, perban di bahunya sudah diganti dengan yang lebih tipis, namun raut lelah di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Ia menatap Sora, lalu beralih ke jendela. "Jakarta terlihat berbeda dari atas sini, bukan? Seolah-olah semua kekacauan yang kita tinggalkan hanyalah titik-titik cahaya yang tidak berarti."
Sora tersenyum tipis. "Karena kita tidak lagi melihatnya dari bawah bayang-bayang Vance, Hael. Kita melihatnya sebagai pemilik waktu kita sendiri."
Begitu mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, mereka tidak disambut oleh pengawal berpakaian hitam, melainkan oleh Detektif Januar dan iring-iringan mobil kepolisian resmi. Berita tentang runtuhnya jaringan komunikasi Vance di Eropa telah melumpuhkan sisa-sisa kekuatan Alistair di Jakarta. Pengacara-pengacara mahalnya mulai mengundurkan diri, dan aset-asetnya dibekukan oleh otoritas pencucian uang.
"Nona Kalani, Tuan Arlo," sapa Januar dengan hormat saat mereka keluar dari gerbang kedatangan. "Alistair Vance mencoba melarikan diri dengan jet pribadi dua jam lalu, tapi tim kami berhasil mencegatnya di landasan pacu. Dia sekarang berada di sel yang sama dengan putranya."
Sora menarik napas panjang. "Terima kasih, Detektif. Tapi saya punya satu permohonan terakhir sebelum sidang final dimulai."
"Apa itu?"
"Saya ingin kembali ke Sektor Tujuh. Hari ini adalah sepuluh tahun tepat sejak kebakaran itu. Saya ingin meletakkan batu pertama di sana."
Sektor Tujuh tidak lagi tampak mengerikan. Garis polisi telah dilepas, dan alat-alat berat milik perusahaan konstruksi independen yang disewa Hael sudah mulai meratakan gundukan abu yang tersisa. Tanah yang dulunya menghitam kini mulai ditumbuhi rumput hijau, seolah alam pun ingin ikut menyembuhkan luka sejarah.
Sora melangkah ke tengah lahan, tepat di titik di mana ia menemukan The Chronos Weaver. Di sana, sebuah prasasti marmer hitam telah disiapkan. Hael berdiri di sampingnya, memegang sekop perak.
"Ayahku selalu bilang bahwa jam terbaik bukanlah yang paling mahal, tapi yang paling jujur," ucap Sora kepada kerumunan kecil yang terdiri dari para jurnalis, mantan asisten ayahnya, dan Vanya Elara yang datang membawa karangan bunga putih. "Di sini, di atas puing-puing pengkhianatan, kita akan membangun Akademi Horologi Kalani. Sebuah tempat di mana waktu tidak akan pernah lagi dipalsukan atau dicuri."
Sora meletakkan kotak perunggu The Chronos Weaver ke dalam sebuah lubang di bawah prasasti—bukan untuk dikubur, melainkan untuk menjadi jantung mekanis yang menggerakkan jam menara utama akademi tersebut nantinya. Begitu kotak itu terpasang, sebuah denyut frekuensi rendah yang menenangkan merambat melalui tanah, membuat semua orang yang hadir terdiam dalam kekaguman.
Vanya mendekat, matanya sembab namun ia tersenyum tulus. "Sora... terima kasih. Kamu melakukan apa yang seharusnya dilakukan keluargaku sejak dulu. Aku sudah mendonasikan seluruh sisa warisan pribadiku untuk beasiswa di akademi ini. Aku ingin nama Vance diingat sebagai penyokong kebenaran, bukan pencuri."
Sora memeluk Vanya erat. "Kamu bukan kakakmu, Vanya. Kamu adalah bagian dari waktu yang baru."
Sore itu, saat matahari terbenam dengan warna jingga yang megah, Sora dan Hael berdiri berdua di tepi lahan. Hael mengeluarkan sebuah kunci kecil dari sakunya—kunci bengkel lama yang ia simpan selama bertahun-tahun.
"Ada satu hal yang belum sempat aku katakan, Sora," ucap Hael, suaranya sedikit bergetar. "Ayahmu memberikan kunci ini kepada ayahku bukan hanya untuk melindungimu. Dia memberikannya karena dia tahu, suatu hari nanti, kita akan berdiri di sini bersama. Dia melihat masa depan ini di dalam roda gigi jamnya."
Sora menatap Hael, pria yang telah bertaruh nyawa, identitas, dan waktunya demi dirinya. "Dan apakah ayahmu melihat apa yang akan terjadi setelah ini, Hael?"
Hael tersenyum, menarik Sora ke dalam pelukannya yang hangat. "Dia bilang, setelah badai berlalu, sang nakhoda tidak lagi butuh kompas. Dia hanya butuh seseorang untuk berbagi pemandangan di dermaga."
Sora tertawa kecil, menyandarkan kepalanya di bahu Hael. "Kalau begitu, aku rasa nakhoda ini sudah menemukan dermaganya."
Di tengah kesunyian Sektor Tujuh yang kini damai, sebuah jam tangan di pergelangan mereka berdetak serempak. Tik. Tok. Tik. Tok. Suaranya tidak lagi terdengar seperti hitung mundur menuju bencana, melainkan seperti langkah kaki menuju hari esok yang cerah.
Kepulangan sang nakhoda telah lengkap. Bukan hanya pulang ke rumah, tapi pulang ke dalam dirinya sendiri.