Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan Menusuk
Halaman belakang kampus Universitas Nusantara sore itu diselimuti cahaya keemasan yang hangat. Angin bertiup pelan, membawa aroma rumput basah dan suara riuh mahasiswa yang sedang mempersiapkan pameran seni tahunan. Di tengah keramaian itu, Denzel Shaquille berdiri seperti menara pengawas yang sunyi di dekat gerbang taman. Matanya tidak pernah lepas dari Leah yang sedang membantu beberapa teman sekelasnya mengatur stan pameran.
Namun, ketenangan Denzel terusik saat sebuah bayangan kecil mendekat dari arah samping.
"Tuan Denzel, Anda tidak lelah berdiri di sana terus?"
Denzel menoleh singkat. Seraphina berdiri di sana dengan gaun musim panas berwarna kuning pucat yang senada dengan suasana sore itu. Ia membawa dua gelas limun dingin di tangannya, tersenyum dengan binar mata yang murni—binar yang hanya dimiliki oleh seseorang yang belum pernah dihancurkan oleh kenyataan hidup yang pahit.
"Ini tugas saya, Nona Seraphina," jawab Denzel dengan nada formalitas yang sudah menjadi kulit keduanya.
Seraphina terkekeh, ia melangkah lebih dekat, menyodorkan salah satu gelas limun itu kepada Denzel. "Minumlah. Aku tahu Leah melarangmu minum saat bertugas, tapi dia sedang sibuk di sana. Anggap saja ini rahasia kecil antara kita."
Denzel menatap gelas itu, lalu menatap Seraphina. Ada kehangatan yang tulus dari gadis itu, sesuatu yang sangat kontras dengan kedinginan yang sering ia terima dari Jeff atau kemarahan yang ia terima dari Leah. Dengan ragu, Denzel menerima gelas itu. "Terima kasih, Nona."
"Panggil saja Sera, Tuan Denzel. Kita kan sudah sering bertemu," ucap Seraphina, ia menyandarkan punggungnya di pagar besi yang sama dengan tempat Denzel berdiri. Ia menatap ke arah Leah, lalu kembali menatap Denzel dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Tuan Denzel, boleh aku bertanya sesuatu? Sesuatu yang mungkin sedikit pribadi?"
Denzel menyesap limunnya, rasa asam yang segar membasahi tenggorokannya yang kering. "Silakan, Nona."
"Kenapa pria sehebat Anda... maksudku, Anda sangat pintar, sangat tenang, dan Anda memiliki aura yang kuat... kenapa Anda memilih untuk tetap menjadi asisten selamanya? Apakah tidak ada hal lain yang ingin Anda capai?"
Denzel terdiam. Pertanyaan itu bukan yang pertama kali ia dengar, namun entah mengapa, keluar dari mulut Seraphina yang tidak tahu apa-apa, pertanyaan itu terasa lebih tajam.
"Loyalitas bukanlah sesuatu yang bisa diukur dengan ambisi pribadi, Nona," jawab Denzel pelan. "Keluarga Ramiro telah memberikan saya tempat saat saya tidak memiliki siapa pun. Menjaga mereka adalah cara saya membayar utang budi itu."
Seraphina mengangguk paham, namun ia tidak berhenti di situ. Ia memutar gelas limun di tangannya, jari-jarinya yang lentik tampak gelisah. "Lalu, bagaimana dengan hati Anda?"
Denzel menghentikan gerakan minumnya. "Maksud Anda?"
"Maksudku..." Seraphina memberanikan diri menatap langsung ke dalam mata gelap Denzel, "seorang pria yang begitu berdedikasi menjaga orang lain pasti memiliki kapasitas cinta yang sangat besar. Tapi aku melihat Anda selalu sendirian. Tidak pernah ada wanita yang Anda hubungi, tidak pernah ada waktu untuk diri sendiri. Apakah... apakah hati Anda sudah dimiliki seseorang?"
Pertanyaan itu menusuk tepat ke pusat rahasia yang paling dijaga Denzel. Ia merasa dunianya sejenak berhenti berputar. Di kejauhan, ia melihat Leah tertawa bersama teman-temannya, dan rasa sakit yang familiar kembali mencubit dadanya.
"Hati saya tidak relevan dalam pekerjaan ini, Nona," suara Denzel kini sedikit lebih kaku.
"Tapi Anda manusia, bukan mesin," Seraphina melangkah satu tahap lebih dekat, aroma parfum bunganya yang lembut mulai tercium oleh Denzel. "Aku melihat cara Anda bekerja. Anda tidak menjaga Leah hanya karena perintah Tuan Zefan. Ada sesuatu yang lebih... sebuah perlindungan yang sangat tulus. Apakah itu karena Anda menganggapnya seperti adik sendiri? Ataukah... Anda merasa kesepian?"
Denzel menelan ludah. Seraphina benar-benar tidak tahu. Dia tidak tahu bahwa pria yang dia kagumi ini sedang sekarat karena mencintai sahabatnya sendiri. Ketidaktahuan Seraphina adalah berkah bagi Denzel, namun pertanyaannya adalah kutukan.
"Saya hanya melakukan apa yang benar, Nona," Denzel berusaha mengalihkan pembicaraan.
Namun Seraphina, dengan keberanian yang dipicu oleh kekagumannya, memutuskan untuk menjatuhkan bom yang sesungguhnya. "Tuan Denzel... jika memang hati Anda masih kosong... apakah ada ruang bagi orang lain untuk mencoba masuk? Misalnya... aku?"
Keheningan yang mencekam jatuh di antara mereka. Suara riuh mahasiswa di latar belakang seolah meredup. Denzel menatap Seraphina dengan tatapan yang campur aduk antara rasa kasihan dan keterkejutan. Di hadapannya adalah seorang gadis yang cantik, baik, dan tulus. Seseorang yang bisa memberinya kehidupan "normal" seperti yang Leah sarankan kemarin. Kehidupan tanpa Jeff Chevalier, tanpa beban utang keluarga Ramiro, dan tanpa rasa sakit mencintai dalam bayangan.
Namun, Denzel tahu jawabannya bahkan sebelum otaknya memproses pertanyaan itu.
"Nona Seraphina," suara Denzel kini sangat lembut, namun dingin seperti es pagi hari. "Anda adalah gadis yang luar biasa. Siapa pun pria yang mendapatkan perhatian Anda akan menjadi pria yang sangat beruntung. Namun, hidup saya sudah ditetapkan jalurnya. Saya tidak memiliki ruang untuk siapa pun saat ini. Bukan karena saya tidak ingin, tapi karena saya tidak bisa."
Mata Seraphina mulai berkaca-kaca. Senyumnya goyah, namun ia berusaha tetap tegar. "Karena tugas Anda?"
"Karena jiwa saya sudah terikat pada tanggung jawab yang tidak bisa saya bagi dengan siapa pun," jawab Denzel, sebuah pengakuan terselubung yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Seraphina menarik napas panjang, mencoba menahan air mata yang ingin jatuh. "Aku mengerti. Setidaknya aku sudah mencoba, bukan? Maafkan aku jika aku membuat Anda tidak nyaman."
"Tidak perlu meminta maaf, Nona. Kejujuran Anda adalah sebuah kehormatan bagi saya," Denzel sedikit membungkuk, mengembalikan gelas limun yang sudah kosong kepada Seraphina.
Di sudut lain taman, di balik stan pameran yang belum selesai, Leah berdiri mematung. Ia telah memperhatikan mereka sejak tadi. Ia melihat betapa dekatnya Seraphina berdiri di samping Denzel. Ia melihat Denzel bicara dengan nada yang sangat lembut—nada yang jarang ia berikan pada Leah.
Ada rasa panas yang aneh menjalar di dada Leah. Bukan rasa senang karena rencananya untuk menjodohkan mereka mungkin berhasil, melainkan rasa sesak yang tidak masuk akal. Kenapa aku merasa kesal melihat mereka bicara seperti itu? pikir Leah. Bukankah ini yang kuinginkan? Bukankah aku ingin Denzel pergi dan menemukan kebahagiaannya sendiri?
Namun saat melihat Seraphina yang tampak sedih dan Denzel yang kembali ke posisinya yang kaku, Leah menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak sanggup membayangkan Denzel menatap wanita lain dengan cara yang sama seperti pria itu menatapnya, bahkan jika tatapan itu hanya berisi "tugas".
Leah segera berbalik, berlari menuju toilet kampus. Ia merasa mual. Ia merasa seperti pengkhianat. Ia telah mendorong sahabatnya ke arah pria yang ternyata... entah mengapa... ia tidak rela dilepaskan.
Sementara itu, di gerbang taman, Denzel kembali memindai kerumunan. Ia melihat Leah yang berlari pergi, dan rahangnya mengeras. Ia tahu Leah melihatnya bicara dengan Seraphina. Ia tahu Leah mungkin salah paham. Tapi ia tidak bergerak untuk menjelaskan.
Satu lagi pertanyaan menusuk telah dijawab. Satu lagi pintu kebahagiaan telah ia tutup rapat-rapat. Denzel Shaquille tetap berdiri di sana, seorang pria dengan hati yang terkunci rapat di balik tembok tugas, menjaga sebuah cinta yang tidak akan pernah tahu namanya sendiri.