Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Ternyata Dia Pria Dingin
Rido mendorong kursi rodanya kearah kamar mandi, namun dia tidak bisa melepaskan seluruh pakaiannya dengan hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Tiba tiba dia teringat dengan gadis yang diminta oleh ibunya, yang membantu keperluannya lalu kenapa dia tidak datang membantu.
“Sial! Ternyata aku gak bisa mandi sendiri” rutuk Rido dengan kesal.
Kemudian dia berjalan kearah meja, dia langsung menekan tombol panggilan telepon, karena didalam setiap kamar, sudah tersedia telepon genggam untuk memanggil pertolongan kepada orang orang rumahnya jika dalam keadaan mendesak, sama halnya seperti sekarang ini.
“Tolong panggilkan pelayan kesini! Saya butuh dia” ucap Rido dengan singkat dan tegas.
“Baik Tuan Muda” Jawab dari seberang telepon.
Tidak menunggu waktu yang lama, pintu di ketuk dengan pelan dari luar “Tok Tok Tok”.
“iya masuk” sahut Rido singkat, tanpa menoleh kearah sumber suara.
“Maaf Tuan Muda, anda memanggil saya, apa yang bisa saya bantu?” Tanya embun dengan hormat, dia sedikit gugup karena melihat Rido yang sudah tidak dalam balutan jas mahalnya. Rido sekarang hanya mengenakan kaos oblong saja, sehingga memperlihatkan otot ototnya yang begitu membuat para kaum hawa ileran.
“Bantu saya untuk melepaskan Celana, dan bantu saya untuk mandi” sambut Rido dengan mode tenangnya tanpa dia melirik lawan bicaranya.
Mendengar perkataan dari sang tuan, sontak saja embun membulatkan matanya tidak percaya, pikirannya traveling kearah benua eropa, bagaimana dia akan membuka celana pria itu, sementara mereka hanya sebagai status majikan dan pembantu, tentu hal ini merupakan hal yang tidak sangat wajar dilakukan oleh yang bukan muhrim.
“Mohon maaf tuan, bukannya saya lancang! Tapi, ini, ini kayaknya gak pantas deh? Gak mungkin saya membukakan celana tuan muda, ini kan tidak termasuk pekerjaan bersih bersih rumah” Ungkap Embun dengan entengnya tanpa dia melihat raut wajah sang tuan.
Mendengar celotehan dari Embun, mata Rido sedikit berkerut dia memandangi wanita itu yang sedang berdiri dihadapannya dengan pose menundukan kepala.
“bisakah kamu melihatku?” Ucap Rido menatap serius kearah Embun.
Sementara Embun hanya bisa menuruti perintah sang tuan muda, dia mengangkat wajahnya pelan menatap Rido yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam.
Nyali Embun semakin ciut ketika dia melihat mata Rido yang menatap tajam kearahya, dengan cepat Embun menurunkan pandangan kembali seperti semula.
“Apakah kau ingat! Apa yang ibu saya katakan kepadamu, bahwa kau yang membantu seluruh keperluan saya selagi saya masih dirawat, termasuk kau harus merawat saya, itu artinya mulai dari mandi, ganti pakaian, makan minum, bahkan sampai tidur” Sergah Rido dengan kata kata penuh intimidasi.
Mendengar aturan undang undang yang dilontarkan oleh yang membuat undang undang, embun hanya bisa membuang nafasnya kasar dan langsung berjalan kearah Rido, dia langsung melepaskan satu persatu pakaian tuan muda itu.
Embun langsung mendorong Rido kedalam kamar mandi, dia langsung memandikan sang tuan muda dengan perasaan campur aduk, dia tidak berpikir dia akan mendapatkan pekerjaan seperti ini.
Melihat kaki Rido yang masih diperban, Embun hanya bisa mengelap kaki itu dengan pelan, sehingga ritual mandi selesai sampai Rido mendapatkan bajunya kembali terpasang dibadan, tanpa ada satu ucapan kata yang keluar dari antara mereka berdua.
“Sudah tuan! Apakah masih ada lagi yang bisa lakukan?” Tanya Embun setelah dia selesai memakai pakaian kepada Rido.
“emm” jawab Rido dengan hanya menggelengkan kepalanya pertanda dia tidak memerlukan apa apa lagi.
Mendengar jawaban dingin sang tuan, embun langsung berbalik menuju pintu sambil memonyongkan bibirnya dengan kesal “Dasar Pria Kulkas, menjawab saja hanya, emm, bagaimana kalau itu punya istri? Kan bisa bisa perang dunia ketiga, Hah! Untung sajalah hanya iran dan Israel yang masih terus perang, semoga saja tidak terjadi di Negara ini”.
“Kau jangan berani berani mengutuk ya! Matamu yang satu nanti aka saya museumkan” ucap Rido yang melihat Embun sedang berkomat kamit sambil berjalan.
“hah! Apakah dia tau kalau aku sekarang mengutuknya dalam hati?” gumam Embun sambil memelankan jalannya, sembari dia melirik kearah samping. “Bodh amat!” ucapnya sambil terus berjalan.
“Eh Nak Embu” sergah Tiaras tiba tiba muncul didepannya.
Sontak saja embun sangat terkejut, dia tidak menyangka kalau Nyonya rumah muncul dihadapannya dengan tiba tiba, apalagi dia sedang mengutuk sang tuan muda, bagaimana kalau dia empat mendengarnya.
“Eh Nyonya? Ternyata Nyonya besar, saya kira tadi Bu Wina, untung saja saya masih belum melemparkan satu jurus pamungkas saya, kalau tidak kan bisa berabeh! Ehehehe” Jawab Embun dengan sedikit luwe bercanda dengan sang Nyonya besar.
“aah, Nak Embun bisa aja, kalau jurusnya sempat menyerang, yah gak apa apa, saya juga bisa menangkisnya dengan memakai jurus Jaka Tingkir, Hehehe” Sahut Tiaras dengan senyuman dan canda tawa.
“Oh ya, kamu habis dari kamar tuan muda ya?” Tanya Tiaras kepada embun dengan mode penasaran.
“iya nya, tapi saya sangat gugup loh” sambut Embun.
Mendengar perkataan Embun, Tiaras langsung memasang wajah serius, dia menunggu lanjutan perkataan dari embun solai. Namun dia tidak mendapatkan lanjutan kata kata yang dilontarkan embun barusan. Sehingga dia langsung berinisiatif untuk bertanya “Gugup bagaimana nak?”.
“Heemm.. itu loh nyonya, si Tuan muda itu” ucap Embun.
“terus terus” pinta tiaras ingin mendengarkan lebih lanjuta lagi.
“Alamaah, dia itu dingin banget loh nyonya, masa dia hanya bisa menjawab pertanyaanku dengan emm, saja! Kan itu kaku banget, lagian ya nyonya, dia menyuruh saya untuk melepaskan seluruh pakaiannya, kan saya jadi gugup nyonya” cerita Embun dengan entengnya, tanpa dia memikirkan siapa yang sedang berada di hadapannya kini.
“ohoo, ceritanya seperti itu, seru juga ya nak! Tapi kamu harus maklum dengan sikapnya, karena memang dia seperti dari dulu, tapi kamu sudah mengurusnya dengan benar kan?” Sahut Tiaras dengan semangat cerita.
“Sip Nyonya! Kalau saya yang tangani, semunya pasti rebes nyonya” jawab Embun dengan santainya sambil dia berbangga diri.
Tiaras hanya mengangguk ketika mendengar perkataan Embun, kemudian dia berkata “Ya Sudah ya nak, biar saya masuk melihatnya dulu”.
“iya Nyonya silahkan, tapi nyonya harus hati hati ya, soalnya dia itu sangat galak” ingatkan embun kepada Tiaras yang membuat tiaras tersenyum manis.
Embun langsung kembali kedapur, setelah sampai di dapur dia langsung meraih piring makanan, karena dia sudah mulai merasakan lapar yang sangat membara.
Bu wina datang menghampiri embun yang sedang melaksanakan upacara makannya.
“nak! Kamu harus hati hati ya, kalau beres beres dikamarnya tuan muda, kamu jangan banyak mengganggu barang barang yang ada disitu, takutnya nanti bisa rusak, kita gak bisa ganti rugi karena barang barang itu semuanya sangat mahal” nasehat bu wina kepada embun.
Embun hanya bisa mengangguk anggukkan kepalanya mendengar wejangan dari bu wina, dia tidak bisa menjawab karena mulutnya sedang ditopang oleh nasi putih dan ayam goring.
Jangan Lupa Untuk Komen Ya💌