Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.
Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.
Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".
Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Lia tertegun, matanya beralih dari tatapan tajam Regas ke arah Ghea yang masih memeluk erat kakinya. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Regas bisa melacaknya sampai ke pelosok Bali Utara ini? Padahal ia sudah merasa cukup teliti menghapus jejaknya, meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta yang menyesakkan, dan menanggalkan identitasnya sebagai sarjana berprestasi demi kedamaian di gubuk bambu.
"Bagaimana... bagaimana bisa kamu tahu aku di sini?" bisik Lia, suaranya nyaris hilang ditelan deburan ombak.
Regas maju satu langkah, memperpendek jarak di antara mereka hingga Lia bisa mencium aroma kayu manis yang familiar dari tubuh pria itu. "Aku mengenal setiap baris kalimatmu, Lia. Foto di media sosial turis itu mungkin hanya gambar biasa bagi orang lain, tapi bagiku, caramu menuliskan huruf 'S' pada sajak anak-anak itu adalah kompas yang menuntunku kemari."
Lia memalingkan wajah, berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar. Kenangan tentang Elena dan Ibu Regas kembali menghantamnya seperti ombak besar—kata-kata rendah tentang status sosialnya, beasiswa yang dianggap sebagai 'belas kasihan', dan ancaman bahwa ia hanya akan merusak masa depan Regas dan Ghea.
"Pulanglah, Regas," kata Lia dengan nada dingin yang dipaksakan. "Bawa Ghea kembali ke Jakarta. Di sini bukan tempat untuk kalian. Ghea butuh kenyamanan, bukan pasir pantai dan gubuk bambu."
"Aku tidak datang untuk kenyamanan, Lia. Aku datang untuk penjelasan!" suara Regas naik satu oktav, membuat Ghea sedikit terperanjat. Regas segera mengatur napasnya, ia berlutut di samping Ghea, lalu kembali menatap Lia dengan sorot mata yang penuh luka. "Ibu dan Elena sudah menceritakan semuanya. Mereka pikir dengan mengusirmu, aku akan menjadi anak penurut lagi. Mereka salah."
Lia menggeleng pelan, hatinya berdenyut nyeri. "Ini bukan hanya soal mereka, Regas. Ini soal dunia kita yang memang tidak pernah sejajar. Aku hanya guru sastra, mahasiswi beasiswa yang dulu pernah kamu kasihani. Lihat Ghea... dia butuh sosok yang bisa diterima keluargamu. Bukan aku."
"Ibu Lia... jangan suruh Papa pergi," potong Ghea dengan suara serak, seolah mengerti ketegangan di antara kedua orang dewasa itu. Tangan kecilnya menggenggam jemari Lia yang dingin. "Ghea rindu diajar menulis sajak lagi."
Lia memejamkan mata rapat-rapat. Permintaan polos Ghea adalah senjata paling ampuh yang bisa meluluhlantakkan tembok pertahanan yang ia bangun berbulan-bulan di Bali.
"Pulanglah sebelum malam, Pak Regas," Lia menegaskan kembali panggilannya, mencoba menjaga jarak. "Pak Wayan akan membantu kalian mencari transportasi ke bandara. Jangan biarkan Ghea kelelahan."
Lia berbalik, berniat masuk ke dalam gubuknya sebelum pertahanannya benar-benar runtuh. Namun, kata-kata Regas selanjutnya membuat langkahnya terpaku di pasir.
"Aku sudah melepaskan posisi direktur itu, Lia. Aku tidak membawa fasilitas Adhitama kemari. Aku datang hanya sebagai Regas, pria yang dulu kamu anggap 'laki-laki biasa' di perpustakaan teknik. Apakah itu masih belum cukup?"
" belum,di jakarta ada istri serta anakmu yang mungkin baru lahir Regas,pulanglah anak itu butuh kamu sebagai ayahnya,lupakan semuanya ,biarkan aku hidup tenang disini ,aku tidak ingin ibu serta istrimu datang kesini dan membuat impianku hancur " ucap azzalia parau
"impianmu tidak akan hancur azzalia ,menikahlah denganku kita bangun impian itu bersama "
" bagaimana dengan elena Regas ,kamu gila "
" elena setuju ,itu syarat yang aku ajukan saat mereka tidak ingin aku berpisah dan meninggalkan semua itu "
Lia tertawa getir, sebuah tawa yang lebih terdengar seperti isakan yang tertahan. Ia membalikkan badan, menatap Regas dengan mata yang kini memerah dan basah.
"Setuju?" ulang Lia dengan suara bergetar. "Kamu pikir pernikahan itu sebuah transaksi sastra yang bisa dinegosiasikan di atas kertas, Regas? Elena setuju karena dia tahu aku tidak akan pernah punya keberanian untuk masuk ke dalam lingkaran neraka itu lagi!"
Lia melangkah mendekat, jarinya menunjuk ke arah gubuk bambu dan anak-anak nelayan yang mulai memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Lihat mereka, Regas! Mereka tidak peduli siapa kakekku, berapa saldo bankku, atau apa gelarku. Di sini, aku dihargai karena diriku. Jika aku kembali bersamamu, aku hanya akan menjadi 'Azzalia, duri dalam daging keluarga Adhitama'. Aku tidak ingin Ghea tumbuh besar melihat ibunya—atau guru favoritnya—dihina setiap hari di meja makan mewah kalian."
Regas terdiam, namun tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. "Itu sebabnya aku melepaskan semuanya, Lia! Aku tidak mengajakmu kembali ke rumah besar itu. Aku datang untuk tinggal di sini, bersamamu. Jika kamu ingin mengajar di pesisir, aku akan membangun sekolah yang lebih besar untukmu. Jika kamu ingin menulis, aku akan menjadi pembaca pertamamu. Aku tidak butuh restu mereka jika itu artinya aku harus kehilangan jiwaku lagi."
"Papa menangis?" suara kecil Ghea memecah ketegangan. Anak itu menyentuh pipi ayahnya yang ternyata sudah basah oleh air mata yang jatuh tanpa suara.
Hati Lia mencelos. Pria tegas, kaku, dan idola teknik yang dulu selalu tampak tak tergoyahkan itu, kini hancur di depan matanya.
"Lia..." Regas berbisik, suaranya pecah. "London adalah kesalahan terbesarku karena membiarkanmu pergi sendiri. Dan membiarkanmu pergi dari Jakarta bulan lalu adalah kebodohan yang hampir membunuhku. Elena punya jalannya sendiri, dia punya kebahagiaannya sendiri yang tidak melibatkan aku. Tolong, jangan hukum aku atas dosa yang tidak aku pilih."
Lia tertegun. Kalimat "Elena punya kebahagiaannya sendiri" membuat Lia bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di Jakarta selama ia menghilang.
Tiba-tiba, Pak Wayan berjalan mendekat dengan wajah sungkan. "Ibu Lia, maaf memotong. Tapi mendung di ufuk sana sepertinya akan membawa badai besar malam ini. Tidak aman untuk tamu ini mencari transportasi ke kota sekarang. Jalanan pesisir akan licin dan gelap."
Lia menatap langit yang mulai menghitam, lalu menatap Ghea yang mulai kedinginan karena angin laut yang kencang. Ego dan logikanya berteriak untuk tetap mengusir mereka, namun nalurinya sebagai guru—dan wanita yang masih mencintai pria di hadapannya—berkata lain.
"Hanya untuk malam ini," ucap Lia lirih, nyaris menyerah. "Bawa Ghea masuk. Aku akan siapkan teh hangat."
Regas mengangguk lemah, ada secercah harapan di matanya. Namun, saat Lia berjalan mendahului mereka, ia menyadari bahwa badai yang dikatakan Pak Wayan bukan hanya soal cuaca, tapi soal rahasia besar yang dibawa Regas tentang perjanjian sebenarnya dengan Elena yang belum terungkap.