NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.7 Proposal Cinta

Happy reading

Damai, itulah yang dirasa Hawa seusai bersujud bersama Rama di bawah naungan cahaya pagi.

Rasa sakit dan sesak yang menghimpitnya teredam, luruh bersama air mata yang jatuh menyentuh sajadah.

Kini, hatinya berlabuh dalam pelukan Illahi. Tiada lagi yang ia pinta, selain hadirnya ikhlas dan rida untuk membasuh sisa-sisa luka.

Rama memutar tubuhnya, hingga berhadapan dengan Hawa. Menatap sekilas pahatan indah yang terbingkai air mata, lalu mengulas senyum teduh.

"Bagaimana, Hawa? Udah terasa ringan?" tanyanya lembut.

Hawa mengangkat wajahnya perlahan, lalu mengangguk pelan.

"Alhamdulillah. Sujud itu penawar yang paling mujarab untuk membasuh lara. Mulai sekarang, kamu nggak perlu memikul beban batin sendiri. Sandarkan pada Allah. Dan kalau hatimu masih butuh ruang untuk bercerita, Insyaallah kapan pun aku siap mendengarnya."

Hawa tercenung sejenak. Ia merasakan ketulusan yang tersirat dari sikap dan ucapan Rama. Namun, ia skeptis untuk menyambutnya.

Sungguh, Hawa tidak ingin mengulang kisahnya dengan Damar. Dari sahabat menjadi cinta, namun kemudian terluka.

"Makasih, Rama ..." ucapnya lirih, memecah hening yang sekian detik mendekap.

Di balik kata sederhana itu, ada ragu dan dilema yang mulai merayap. Ia terjepit di antara keinginan untuk menerima kebaikan Rama atau justru menolaknya demi menjaga hati agar tak kembali terluka.

"Pagi ini ada janji bertemu dosen pembimbing?" Rama kembali bertanya.

"Nanti, agak siang," jawab Hawa sambil melepas mukena yang membalut tubuhnya. Ia melipat kain itu dengan rapi, kemudian memasukkannya ke dalam laci nakas.

"Udah sarapan?"

Hawa menggeleng.

"Tadi belum sempat," gumamnya pelan.

Ia segera beranjak dari posisi duduk, menyusul Rama yang sudah lebih dulu berdiri.

"Kebetulan aku bawa roti dan susu. Kamu makan ya. Biar nggak gemetar waktu menghadapi Pak Budi," kata Rama diselipi candaan.

Ia memandu Hawa melangkah melewati serambi masjid, dengan tetap menjaga jarak.

"Buat kamu aja, Ram. Nanti aku bisa beli di kantin." Hawa menolak dengan halus.

Halaman masjid tak lagi sepi. Empat mahasiswi tampak duduk di bangku panjang. Mereka berbincang pelan dan melayangkan tatapan tidak suka ke arah Hawa yang terlihat begitu akrab dengan Rama.

"Assalamu'alaikum, Mas Rama," sapa salah satu mahasiswi itu sembari membawa tubuhnya bangkit.

Dia... Ning Syifa. Putri bungsu Kyai Maksum.

Langkah Rama dan Hawa seketika terhenti karena sapaan itu.

"Wa'alaikumsalam, Ning," balas Rama tanpa sedikit pun menoleh ke arah Syifa.

Ia menjaga pandangannya tetap jatuh ke bumi, menghindari kontak mata dengan gadis yang beberapa hari lalu mengiriminya sebuah proposal.

Bukan proposal kegiatan atau pengajuan dana, melainkan sebuah keberanian untuk menjadi kekasih halal.

Sayangnya, hati Rama telah tertambat; bukan pada sang Ning, tapi pada Hawa Salsabila Ramadhani.

"Apa hubungan Mas Rama dengan dia?" Syifa mengarahkan dagunya ke arah Hawa. Ia tak bisa lagi menahan diri. Jemarinya meremas ujung jilbab hingga kusut, sementara matanya memerah, memancarkan api amarah sekaligus cemburu.

"Untuk saat ini, hubungan saya dengan Hawa hanya sebatas teman," jawab Rama tenang, suaranya datar namun tegas.

Ia menjeda kalimatnya, lalu menoleh sekilas ke arah Hawa. "Namun, jika Allah menghendaki lebih dari itu, saya tidak punya kuasa untuk menolak ketetapan-Nya."

Remasan tangan Syifa pada jilbabnya semakin mengencang. Jawaban Rama terasa lebih menyakitkan daripada penolakan langsung.

Sementara Hawa ... terhenyak. Napasnya tertahan sejenak. Ia tidak menyangka, Rama akan mencetuskan kemungkinan tentang 'mereka berdua'.

"Maaf, Ning. Kami harus segera pergi."

Belum sempat Syifa membalas, Rama melangkah pergi dan memberi isyarat pada Hawa untuk mengikutinya.

.

.

"Sepertinya, gadis tadi naksir berat sama kamu, Ram. Dan juga... cemburu," ujar Hawa begitu ayunan kaki mereka terhenti di depan gerbang fakultas kedokteran.

Rama mengendikkan bahu dan menerbitkan seutas senyum. "Kalaupun iya, aku nggak bisa membalas perasaannya."

"Kenapa? Dia cantik, salehah, dan pasti wawasan agamanya luas. Cocok sekali jika disandingkan dengan lelaki sepertimu."

"Aku udah mengirim proposal ke langit, Hawa. Ada satu nama yang selalu ku pinta di sepertiga malam."

Hawa melipat bibirnya, menahan tawa yang ingin mengudara ketika mendengar ucapan Rama. Sweet, tapi menggelitik telinga.

"Kira-kira... gadis yang kamu langitkan namanya itu cemburu nggak, kalau melihat kita berduaan seperti ini?"

Rama mendengus geli, lalu menggeleng. "Dia nggak akan cemburu."

"Yakin? Aku takut dikira perebut dan mungkin... dilabrak."

Rama melirik sekilas sosok hawa di sampingnya. Menarik kedua sudut bibir hingga membentuk senyum tipis.

"Sangat yakin, Nona Hawa Salsabila Ramadhani," ujarnya.

Hawa terkekeh pelan. Wajah cantiknya yang tadi pagi berselimut mendung, kini terlihat ceria dan bersinar.

Seusai saling mengucap salam, Rama beranjak menuju area parkir untuk mengambil sepeda motor kesayangannya. Sementara Hawa, melangkah masuk melewati gerbang fakultasnya--menuju kantin.

Perasaan Hawa berangsur ringan. Sesak di dadanya mulai memudar, dan sakit yang semula mendera kini perlahan teredam. Semua itu karena Rama.

Rama bukan sekadar pemberi cahaya, melainkan warna baru yang menyapu hari-hari kelabu di hidup Hawa--tepat setelah dunianya runtuh saat Damar melamar Hanum.

"Hawa!" Terdengar suara bariton yang sangat familier dan mengusik tenang. Memaksa Hawa menghentikan ayunan kakinya, kemudian menoleh perlahan ke arah asal suara.

"Damar..." bisiknya, nyaris tak terdengar.

Hawa mencengkeram erat tali tasnya, mencoba menguatkan fondasi hatinya yang mendadak goyah saat harus berhadapan lagi dengan Damar--lelaki yang telah berperan sebagai penyumbang lara.

Baru saja Rama memberi warna, kini sosok yang memadamkan cahaya itu kembali datang.

"Tadi, aku menjemputmu. Tapi, kamu malah lebih dulu berangkat ke kampus. Kenapa nggak menungguku?" tanya Damar penuh selidik.

Damar bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, seakan statusnya sebagai calon suami Hanum hanya sebuah metafora yang tidak perlu dianggap nyata.

Ia ingin hubungannya dengan Hawa tetap seperti biasa--hangat dan lekat.

Sementara Hawa? Ia mati-matian memasang wajah tenang, meski dalam hati ingin sekali mengumpat tepat di depan wajah lelaki itu.

"Wa..." Damar kembali bersuara, kali ini dengan penekanan yang lebih dalam, menuntut jawaban yang tak kunjung Hawa berikan.

"Apa karena anak Fakultas Humaniora itu?" Lagi, ia bertanya.

Hawa mengejapkan mata.

"Iya," jawabnya pelan, namun tegas.

"Dia cuma pelayan Warung Merapi, Wa. Nggak pantas buat kamu."

"Lalu, siapa yang pantas buat aku?"

Hawa menarik satu sudut bibirnya, menatap lurus sepasang mata yang dulu sangat ia puja. "Dam, siapa pun dia ... apa pun pekerjaannya, aku nggak peduli. Dia baik, religius, dan yang paling penting ... dia bukan lelaki yang gemar memberi harapan palsu."

Keheningan seketika menyergap. Kalimat yang dicetuskan oleh Hawa mendarat tepat di ulu hati Damar, membuatnya membeku.

"Mulai besok, nggak usah menjemputku. Aku bisa berangkat sendiri. Dan lagi, ada hati yang harus kamu jaga."

Usai mengucap kata-kata itu, Hawa bergegas memutar tumit. Melangkah pergi--meninggalkan Damar yang masih terpaku di tempatnya berdiri.

Di sela-sela langkahnya, Hawa membisikkan kata 'maaf' di dalam benak, karena telah menyeret Rama sebagai alasan untuk menghindar sekaligus menjauh dari Damar.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Nofi Kahza
iya, rejekinya lebih dari cukup. cukup belikah Hawa gamis segedung-gedungnya🤭
Nofi Kahza
Ram, kamu sengaja ya bikin Hawa pingsan karena salting?🤣
Nofi Kahza
Pak Asep datang sedetik di saat jantung Hawa nyaris copot🤭
Nofi Kahza
mau komen, tapi salfok sama komen kak Naj di atas. itu artinya apa ya?🤭
Nofi Kahza
ciieee... salting ni yeeeee🤣
Nofi Kahza
jantungnya aman kan Rama...🤭🤭
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!