ACT ZERO: Di Atas Malam yang Tinggi
- - -
Pada suatu malam yang dingin, seorang gadis ditemukan tak bernyawa di atap gedung sekolah.
Bunuh diri.
Selama tiga tahun, rumor-rumor dan spekulasi liar bermunculan di mana-mana. Namun tak ada satu pun pihak yang menghentikan karena semua siswi diperbolehkan untuk saling bercerita, memberikan pendapat masing-masing tanpa terkecuali.
Misalnya seperti ... kematian gadis yang diduga merupakan aksi pembunuhan.
Tidak ada yang tahu. Karena mereka yang mengetahuinya menyembunyikannya di dalam Drama.
Drama.
Panggung berisikan lima gadis bergerak melalui cerita yang akan dipertontonkan kepada para audiens. Di balik tirai berwarna merah ... sebelum lampu sorot dinyalakan dan musik dimainkan, ada berbagai macam hal yang perlu dilewati—alasan dari terciptanya sebuah Drama.
Act Zero.
- - -
Endiya Winter
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endiya Winter, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ACT I
“Aku hampir tidak bisa berkata-kata, tapi pose monyet yang kau praktekkan mirip sekali dengan yang asli, lho. Wah, bakat terpendammu harus diberi apresiasi.” Yang di sebelahnya ikut menambahkan, tertawa dengan suara yang hampir tidak keluar dari kerongkongan. Tahu-tahu saja sudut mata mereka sudah berair.
Sementara si korban yang masih dalam posisi bergelayut, lantas menyalak galak. “Oi! Jangan sembarang bicara! Kalian mau sepatu mahalku ini terlempar ke wajah kalian, hu?!” Suaranya meledak keras, menimbulkan gema ketika gelombang suaranya terpantul pada dinding koridor. Matanya terpicing tajam, menatap kedua pelaku di hadapannya bak monyet liar yang sedang kelaparan. Kemudian salah satu tangannya bergerak melepas sepatu, mengangkatnya ke udara.
“Cih, sombongnya. Aku tidak tahu kau mengganti sepatumu lagi hari ini.” Dia berkacak pinggang, menatap lamat-lamat sepatu sebelah Karinn yang masih tercantol pada kakinya.
Setelah dilihat-lihat sepertinya tidak buruk, sih. Hanya saja, sepatu yang dipakai Karinn tidak senada dengan warna seragamnya. Pasalnya, dia memadukan sepatu sneakers berwarna lilac dengan seragam sekolahnya hari itu yang berwarna coklat.
“Hahahaa, lagi-lagi apa yang terjadi pada sepatu pantofel yang kau pamerkan kemarin? Tercebur ke dalam genangan air dan tidak kering selama lebih dari tiga hari, ya?” Yang di sebelahnya ikut memprovokasi tak mau kalah. Kemampuannya dalam mengejek sukses membuat si lawan bicara makin menekuk muka, sebal.
Sementara Karinn cuma bisa melotot sinis sembari meremat kuat sepatunya agar tidak sungguhan melakukan lemparan smash seperti niatnya di awal. Ia tahu dan sadar bahwa dirinya tak dapat melakukannya karena itu adalah sepatu baru miliknya yang mahal. Sebenarnya bukan harganya yang mahal, sih. Itu karena sepatu itu adalah pemberian dari seseorang, maka disandingkan dengan harga mahal berapapun tidak akan bisa setara. Dan bagaimanapun, segala tentangnya sudah diketahui oleh hampir semua teman sekelasnya, termasuk ancamannya yang hanya sekadar ocehan belaka. Jadi kesempatan itu digunakan mereka untuk menyerangnya lagi dengan kata-kata meledek. Sementara si korban yang mulai tersulut emosi, hanya bisa membalas dengan mengangkat jari tengah sambil mengatakan, “B*tch!”
“Wah, kau sudah pandai menggunakan bahasa isyarat, ya.”
“Hahahahaa...” Keduanya melakukan tos, meledakkan tawa bersama sambil saling memukul.
Pada hari yang sedang mereka bicarakan, ketika itu seluruh siswi SMA Putri Endley bepergian ke museum Zoologi dalam kegiatan karyawisata. Dan sebetulnya, Karinn memang sengaja tidak berniat membawa payung sejak awal. Pikirnya, cuaca akan baik-baik saja seperti yang dilihatnya dalam ramalan cuaca di internet. Namun ketika menjelang beberapa jam sebelum pulang, langit yang semula penuh dengan corak awan putih secara perlahan berubah warnanya menjadi gelap dan terus bertambah gelap sampai tak lama kemudian guyuran hujan pun tumpah sangat deras. Bahkan dalam kurun waktu lima menit saja air sudah menggenang setinggi 5 cm dari atas tanah. Kalau saja dia tidak segera lari menyusul rombongan yang lain, mungkin nasibnya akan jauh lebih menyedihkan. Sambil mengumpat-umpat, dia terus memacu kakinya yang terasa berat.
Kendati demikian, kesialannya tidak berujung di situ. Sampai di parkiran bus, dia naik dengan terburu-buru demi mendapatkan kursi favoritnya di dekat jendela. Tangga bus menjadi licin karena sepatu yang dipakainya penuh dengan air. Ditambah lagi dengan sifat cerobohnya yang tidak memperhatikan langkah, alhasil kepalanya yang berharga pun terpentuk pintu bus. Selain dia gagal meraih penyangga tangga bus, dia juga tidak dapat menahan tubuhnya yang tumbang karena dipicu oleh pakaiannya yang telah basah kuyup. Detik dia juga, dia terjungkal ke belakang tepat di mana genangan lubang air besar menyambutnya. Byurrr…!
“Cih, sok tahu. Bukan hujan yang membuatku buru-buru menaiki bus.” Sembari bermonolog, tangan Karinn bergerak menyentuh kepalanya. Berniat mengecek apakah hasil karya sifat cerobohnya yang kemarin sudah hilang. Tetapi rupanya belum. Sedih sekali rasanya, kepala berharganya selalu bernasib malang.
“Dasar kalian..” Melihat dua teman di sebelahnya masih tertawa, akhirnya dia yang masih waras pun turun tangan. Dia melayangkan satu pukulan tepat pada lengan mereka masing-masing. “Senang sekali, sih kalian meledek Karinn. Padahal kalian juga tercebur ke dalam selokan saat berlarian kemarin, kan? Ingat tidak? Bahkan kalian mendapatkan ciuman pertama oleh katak berwarna coklat. Jangan berpura-pura lupa, ya. Coba akui sekarang di depan orang yang sedang kalian ejek.”
Dalam sekejap, gelak tawa mereka tidak lagi terdengar. “Eh? K-kauuu?!”
“Tidak bisakah kau tidak mengatakannya, haahh?” Keduanya kompak protes tidak terima. Apalagi saat atensi mereka menangkap wajah Karinn yang sedang balik menertawakannya tanpa suara, tentulah mereka malu. Ciuman pertama dengan katak selokan? Cerita konyol macam apa itu? Bisa-bisa Karinn akan terus mengungkitnya hingga sepuluh tahun ke depan. Bagaimana jika suatu saat nanti mereka mengadakan reuni dan tiba-tiba anak itu menyeletuk, ‘Oi, tahu tidak? Si ini dan si itu sudah dapat ciuman pertama, lho. Dengan pangeran katak!’ Tawanya yang menyebalkan sudah terbayang jelas di kepala mereka. Ck, salah memang cari gara-gara dengannya.
“Dibayangkan saja tidak enak, kan? Yah, kalau begitu lanjutkan ejekan kalian di lain waktu. Bila perlu bergulatlah, tapi tidak sekarang. Saat ini lebih baik kita fokus pada proyek kelompok Kimia kita. Sebentar lagi akan ujian akhir, dan proyek kita jangan sampai gagal seperti sebelumnya,” lanjut si gadis waras.
“Oh, tentang rangkaian sel volta, ya?” Topik pembicaraan berubah serius. Karinn pun bergegas memperbaiki posisinya, mengeluarkan kepalanya dari celah pembatas tangga, menurunkan kaki sebelahnya yang melayang di udara, juga merapikan rambutnya yang berantakan.
“Kau tidak melupakannya, kan?”
Karinn sedang menguap, jadi dia hanya membalas dengan menggelengkan kepala dan acungan jempol.
“Baiklah, kalau begitu ayo sekarang kita pergi ke Lab Kimia. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Akan lebih baik jika kita sudah tiba di sana dan bersiap-siap lebih dulu. Siapa tahu kita bisa dapat nilai plus dari Bu Kaila.”
“Oi, tunggu sebentar. Kalian akan pergi sekarang? Aku ... meninggalkan barang-barangku.” Karinn menggaruk tengkuk kepalanya, cengir palsu terukir di sudut bibirnya. Wajahnya semakin kusut, jelas itu menandakan bahwa dia sedang malas menggerakkan tubuhnya walaupun untuk berjalan.
“Kau meletakkannya di kelas, kan? Kalau begitu ambillah sekarang. Kami akan menunggumu di Lab.”
Wajah Karinn yang sedari awal sudah kusut, lantas berubah makin kusut. Ketiga anggota kelompoknya memang tidak mempan dengan bujuk rayunya. “Kalian.. Ck, apa tak ada satu pun dari kalian yang bersedia menemaniku? Kalian sungguh tidak memikirkan nasibku harus pergi menaiki tangga ke lantai empat? Tega sekali.”
Dianna yang paling muak dengan tingkahnya pun maju sambil menyiapkan ancang-ancang kepalan tangannya, siap meninju. “Pilihlah, kau mau pergi sekarang atau merasakan pukulan cinta dariku dulu?”
Karinn menyeret ujung sepatunya, menaiki anak tangga satu per satu dengan malas. Sepanjang kakinya melangkah, dia menggerutu kesal pada semilir angin yang membuatnya selalu menguap beberapa kali. Meskipun sejak awal dia memang banyak mengeluh ini dan itu, juga nekat bernegosiasi walau tahu lawannya tidak akan mempan, usahanya tetap saja tidak mengalami perkembangan sejak setahun terakhir. Menyedihkan..
Dengan langkah gontai, ia mulai menjajaki kakinya di lantai empat, tempat di mana kelasnya berada.
Dari luar jendela, tampak siang semakin terik. Tidak ada awan putih yang berarak di langit, ditambah cahaya mataharinya semakin ganas menembus kaca jendela sekolah yang tidak terdapat gorden. “Hahh.. setelah ini Kimia, lalu Matematika..” Karinn mengetuk-ngetuk arlojinya, mengabsen sisa mata pelajaran hari itu. “lau Sejarah ... kemudian kembali ke asrama ... tapi aku ada keperluan lain yang harus aku kerjakan, lalu ... Uwaakkhhh!!”
Gbrakk..!! Gelombang bunyi dentuman itu merambat cepat pada dinding koridor, membuat orang-orang di sekitar menoleh dan memusatkan perhatian pada Karinn yang tengah terduduk di lantai. Kali ini pun, dia melakukannya lagi—kebiasaan melamun sambil berjalan. Dia berjalan dengan ritme langkah tidak beraturan, mirip seperti orang teler yang kapan saja bisa memukul orang-orang di sekitarnya yang berlalu-lalang. Dalam versi dirinya, ia bisa kapan saja terjatuh setelah menabrak benda di depannya. Kalau dia tidak beruntung, biasanya bagian tubuhnya yang paling sering terkena benturan adalah kepala. Itu sebabnya dia sangat menyayangi kepalanya, semata-mata karena rasa bersalah telah membuatnya beberapa kali mengalami kecelakaan kecil.
Tong sampah setinggi satu meter menggelinding mengenai tembok, sampah-sampah di dalamnya keluar berhamburan. Namun sang gadis bukannya memperbaiki barang tersebut, justru datang menghampiri Karinn. Dia berjongkok di dekatnya, mengamati apakah terdapat luka pada dirinya.
“Astaga, kau baik-baik saja? Aku sungguh tidak melihatmu. Maafkan aku, maafkan aku. Apakah sakit? Di mana kau terbentur?”
Dalam keadaan penglihatannya yang masih berbayang, Karinn mengangkat kepalanya, menemukan wajah seorang gadis yang ... secara kebetulan terlihat familier. Semilir angin melambaikan rambut panjangnya di ceruk leher, menyapu bulu halusnya dengan sedikit sensasi dingin. Hening. Ia terpaku. Waktu di sekelilingnya seolah berhenti berputar, memusatkan lampu sorot kepada kedua gadis seperti altar panggung yang siap menampilkan pertunjukan.
“Apa kau baik-baik saja?” Gadis itu bertanya lagi, penuh kekhawatiran kalau-kalau terjadi sesuatu padanya.
Setelah lamunannya berakhir dan fokusnya kembali, Karinn mengalihkan pandangannya dari kontak mata mereka, lalu bangkit dari lantai. “Aku tidak apa-apa,” ujarnya.
Namun sang gadis masih merasa bersalah, ia mengulurkan tangannya ke depan, memberikan sebungkus marshmallow sebagai ucapan permintaanmaaf terakhir kali. “Lain kali aku akan lebih berhati-hati. Maafkan aku.”
Karinn memindahkan barang tersebut ke tangannya. “Kau Erica, kan?”
Gadis yang dipanggil namanya itu secara refleks mengangkat kepalanya, bereaksi penuh tanda tanya karena ia merasa ini adalah pertemuan pertama mereka.
“Terima kasih.” Karinn mengangkat marshmallow tersebut ke udara, lalu menyimpannya ke dalam saku jas seragam. “Aku juga minta maaf karena berjalan tanpa memperhatikan. Bagaimanapun, ini salahku.”
Erica mengangguk sekali, lalu dengan sedikit keraguan, ia memberanikan diri bertanya, “Bagaimana kau bisa tahu namaku?”
Karinn tersenyum tipis sembari mengalihkan pandangan. “Kau siswi unggulan. Foto dan namamu tersebar di mana-mana.”
Jawaban yang masuk akal, kini Erica tidak lagi mengkhawatirkannya, justru merasa senang karena orang lain memperhatikan prestasi akademiknya. “Kau sudah tahu namaku, tapi aku sama sekali tidak tahu siapa kau. Kalau boleh kutanyakan, siapa namamu dan dari kelas mana kau berasal?”
“Aku Karinn, kelas 11-5.”
Belum sempat Erica menggenggam tangan Karinn dan mengatakan, Salam kenal! sambil tersenyum canggung, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara lantang yang menyela.
“Oi, Erica!” Suara itu bergerak mendekat bersamaan dengan bunyi langkah kaki yang dipijak sedikit kasar. “Ke mana kau membawa pergi sapu dan pengki-nya? Cepat kemari!”
Tiba di daun pintu, ia mendapati gadis yang dicarinya tengah berbincang dengan orang asing, lantas ia pun memasang respons sinis lalu memalingkan muka seolah tak mau mempedulikannya. Sebaliknya, Karinn justru menatap gadis berwajah garang itu dengan lekat semata-mata karena potongan rambut mullet-nya berhasil menarik perhatiannya. Mengingatkannya pada dirinya dulu yang tidak suka rambut panjang, namun sekarang dia melakukannya sejak memainkan Drama.
“Oh, Irene. Kau mencariku.” Erica menggaruk tengkuk kepalanya yang mendadak terasa gatal. Melalui pergerakan manik matanya, dia memberi kode pada gadis yang dipanggilnya dengan nama Irene itu tentang orang di sebelahnya. Memberitahukannya bahwa waktu bekerjanya terpaksa tersita sebentar.
“Kalian sedang piket?” Karinn melirik ke dalam kelas. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat banyaknya sampah kemasan camilan, tumpukan debu, dan pesawat kertas tercecer di lantai. Sementara kelas dalam keadaan kosong, tidak ada siapa pun yang tersisa selain kedua orang di hadapannya saat ini.
“Mungkin kau bisa menyimpulkannya begitu. Tapi, sebetulnya kami sedang menjalani masa hukuman—”
“Apa itu perlu, Erica?!” Irene menyalak galak, memotong ucapan Erica dengan kasar. “Sudah kubilang jangan bahas hal itu di dekat telingaku. Simpan saja untukmu sendiri.” Irene melipat kedua tangannya ke dada, memutar manik matanya, lalu membuang muka tak acuh dari wajah Erica yang sedang menatapnya.
“Um, ya, oke. Aku tidak akan bicara apa-apa.”
“Sebaiknya akhiri obrolan kalian sekarang. Sebentar lagi jam istirahat akan selesai. Jika kita tidak menyelesaikan pekerjaan ini sebelum jam pelajaran dimulai, kau tahu, kan apa yang akan terjadi nanti?”
“Ya, aku tahu.” Sepatah kalimat singkat dengan satu anggukan kepala Erica, sudah cukup menjadi balasan untuk Irene yang hari itu mood-nya sedang buruk. Baru kemudian dia memutar tubuhnya, beralih bicara pada Karinn. “Karinn, aku senang bertemu denganmu. Tapi sekarang aku harus kembali ke kelas untuk melanjutkan pekerjaanku. Lain kali jika ada waktu kosong, kita bisa mengobrol lebih banyak.”
“Ya, tidak apa-apa. Kau kembalilah ke kelas. Setelah ini aku juga harus pergi ke Lab Kimia.” Karinn berkacak pinggang, kedua alisnya terangkat seakan berkata; tidak masalah.
“Baiklah, sampai nanti.” Erica melambaikan tangan, lalu masuk ke dalam kelas bersama dengan gadis yang dipanggilnya dengan nama Irene.
Pintu kelas pun tertutup, menyisakan Karinn seorang diri yang masih berdiri mematung di tempatnya semula.
“Ternyata benar ... kau Erica.” Dia menyilangkan kedua tangannya ke dada, mulai membuka topik monolognya. “Aku tak pernah tahu. Tapi kuakui, kau terlihat bagai malaikat.”