Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama tapi berbeda
"Dasar cewek sialan! Lo..."
Raka terlihat sangat murka. Dia mengangkat telapak tangannya yang dipenuhi darah. Berniat untuk menampar perempuan itu kuat-kuat.
"Jangan coba-coba sakitin dia, Ka!" peringat Ibas dengan suara penuh penekanan.
Tangan Raka reflek terhenti di udara. Peringatan Ibas adalah sebuah perintah mutlak yang wajib dia patuhi.
"Sial!" geram Raka kesal karena tak bisa melampiaskan amarahnya pada Aliya.
"Minta maaf sama Aliya, sekarang!" titah Ibas.
Urat-urat di leher dan dahinya tampak menonjol. Wajahnya memerah. Bukti, bahwa dia sudah menahan amarah itu terlalu lama.
Dia hanya terlambat nol koma sekian detik dari Aliya untuk bertindak.
"Maaf, kami nggak bermaksud menghina kamu, Aliya. Kami... cuma bercanda," tutur Evan. Dia yang segera melaksanakan perintah Ibas karena cukup ngeri melihat ekspresi Ibas sekarang.
"Bercanda?" Aliya tertawa sumbang sambil berusaha mati-matian untuk menahan air matanya.
Setidaknya, jika dia ingin menangis, dia harus melakukannya ditempat lain. Bukan di sini. Didepan orang-orang yang menganggap pelecehan sebagai bentuk candaan.
"Jika hanya satu pihak yang tertawa sementara pihak lain justru merasa tersinggung, itu bukan candaan namanya. Itu perundungan," kata Aliya dengan suara yang terdengar begitu dingin.
"Apa menghina orang lain itu lucu?" lanjut Aliya bertanya. "Apa bertindak sebagai mucikari dan pria mesum adalah hal yang membanggakan?"
"Kamu lagi nyinggung siapa?" tanya Nadia. Sebisa mungkin, dia berusaha menahan emosinya.
"Tentu saja kamu," jawab Aliya dengan tatapan sengit.
"Al, aku minta maaf. Tadi, kami benar-benar cuma bercanda. Kamu... Jangan marah, ya!" ucap Nadia seraya mendekati Aliya.
Dia ingin menggenggam tangan Aliya tapi Aliya malah menghempas tangannya dengan keras.
"Jangan pegang-pegang! Kita nggak seakrab itu," kata Aliya.
Nadia menggertakkan giginya. Brengsek sekali perempuan kampung ini. Bisa-bisanya, dia bersikap seangkuh ini pada Nadia?
"Al, semua yang ada di sini adalah teman-teman Ibas. Kamu seharusnya bisa memaklumi sedikit candaan mereka, kan? Namanya juga anak-anak cowok. Wajarlah, kalau bercandanya sedikit sarkas. Orang kota memang bercandanya seperti ini."
Nadia masih berusaha mencari muka didepan Ibas. Sementara, Aliya tampak mendengkus sinis.
"Kamu... nggak mau maafin mereka?" lanjut Nadia bertanya.
"Nggak akan," jawab Aliya.
Ibas maju menghampiri Aliya. Dia berusaha membujuk perempuan itu agar tidak marah lagi. Namun, usahanya sia-sia.
"Al, tenang dulu! Kita omongin ini baik-baik, ya!" bujuk Ibas. "Aku akan paksa mereka untuk minta maaf sama kamu. Terutama... Raka."
Raka yang sedang diobati oleh teman yang lain langsung mendongak dengan ekspresi penuh protes. Tapi, mulutnya tak mengatakan sepatah katapun. Dihadapan Ibas yang sedang marah, dia hanya seekor semut yang bisa diinjak kapan saja oleh pria itu.
"Nggak perlu," tolak Aliya. "Mas, lagi-lagi kamu melanggar janji. Kamu bilang, kamu nggak akan biarin siapapun menghina aku. Tapi, kenyataannya?" Aliya tersenyum miris di akhir kalimat.
"Al, aku bisa jelasin. Tadi, aku sebenarnya..."
"Mas Ibas nggak perlu jelasin apa-apa. Aku udah dengar semuanya."
Aliya melangkah mundur. Tak lama kemudian, dia berbalik dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Kali ini, air matanya benar-benar tumpah. Dia tak sanggup lagi menahan lebih lama.
Bugh!
Karena tak bisa melihat jalan dengan benar akibat penglihatan yang kabur karena air mata, dia tak sengaja bertabrakan dengan sosok pria yang postur tubuhnya sangat mirip dengan Ibas.
Namun, keduanya tentu saja punya pesona yang berbeda. Ibas terlihat selalu bersemangat, kekanakan, dan terkadang bertindak meledak-ledak. Sementara, pria satu ini jauh lebih tenang, dewasa, dan penyabar.
"Maaf!" lirih Aliya dengan suara serak.
Tanpa menunggu jawaban pria itu, Aliya pun kembali melangkah cepat menuju ke arah lift. Dia menekan tombol lift agak terburu-buru saat melihat sosok Ibas yang ternyata berlari mengejarnya.
Ting!
Syukurnya, lift tertutup tepat waktu. Ibas berusaha menekan tombol lift berkali-kali tapi sudah terlambat. Lift itu tak lagi bisa dibuka.
"Aliya..." teriak Ibas putus asa.
Netra pria yang tadi ditabrak oleh Aliya itu sontak membulat. Dengan langkah lebar, dia menghampiri Ibas yang masih berdiri didepan lift.
"Bas, barusan Lo manggil nama siapa?" tanya pria itu.
Ibas pun menoleh. "Aufar!? Kapan Lo balik?"
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺