NovelToon NovelToon
Ixevons

Ixevons

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Penyelamat / Action
Popularitas:336
Nilai: 5
Nama Author: Riahe

"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERTARUHAN DARAH DAN KILAT

Hening yang mencekam menyelimuti arena selama beberapa detik. Debu pasir yang tadinya berterbangan kini mulai mengendap, namun atmosfer di Aula Redhenvous justru terasa semakin berat. Penonton menahan napas, menyadari bahwa kedua petarung ini sedang berada di puncak konsentrasi mereka, saling membaca celah dalam senyap.

Secara mengejutkan, Seith yang biasanya pasif kini mengambil inisiatif. Untuk pertama kalinya, ia melangkah maju dengan cepat sembari mengibaskan tangannya, melemparkan serpihan-serpihan berliannya dengan pola yang lebih agresif.

Riezky merespons dengan sigap. Ia memutar kedua Fist Blade-nya, menangkis setiap lesatan kristal itu. Suara ting! ting! ting! bergema nyaring saat kaca dan berlian beradu. Namun, Seith ternyata menyiapkan jebakan. Satu serpihan berlian yang lebih besar menghantam dari sudut buta dengan hentakan yang sangat keras.

DUAK!

Hantaman itu membuat pertahanan Riezky goyah, dan sebelum ia sempat menyeimbangkan diri, Seith sudah berada di depannya. Sebuah tendangan keras mendarat tepat di dada Riezky, mengirim pemuda Aethelgard itu terpental jauh hingga menghantam dinding pojok arena dengan dentuman keras.

"Uhukk!" Riezky tersentak, paru-parunya terasa seakan berhenti berfungsi sesaat.

Belum sempat ia jatuh ke tanah, serpihan berlian Seith mengejarnya seperti anak panah. Riezky berguling ke samping di detik-detik terakhir. JLEB! JLEB! JLEB! Tiga buah berlian menancap sangat dalam ke dinding batu arena yang kokoh. Saking kuatnya lemparan itu, berlian-berlian tersebut tampak tersangkut dan sulit untuk ditarik kembali secara instan oleh kendali magnetis Seith.

Melihat Seith kini hanya memiliki tiga berlian yang melayang di sekitarnya, Riezky segera bangkit. Ia tidak membiarkan lawannya bernapas.

"Sekarang giliranku!" seru Riezky.

Ia mulai menghujani Seith dengan bola api dan petir secara membabi buta. Ledakan-ledakan merah dan biru terjadi beruntun—di depan, di samping, bahkan di atas kepala Seith. Aula Redhenvous yang megah kini terlihat semakin fantastis; pendaran cahaya elemen yang meledak-ledak memantul di pilar-pilar marmer, menciptakan pemandangan mewah sekaligus mengerikan.

Seith terpaksa menggunakan sisa tiga berliannya untuk melindungi tubuhnya dari sisa-sisa ledakan. Namun, di balik kabut asap ledakan itu, Seith menyeringai tipis. Ia menghentakkan kakinya ke pasir.

Tiba-tiba, ketiga berlian yang tadi menancap di dinding belakang Riezky berhasil terlepas. Mereka melesat kembali ke arah tuannya dengan kecepatan tinggi, melewati bahu-bahu Riezky dengan jarak yang sangat tipis, nyaris menggores kulitnya dari belakang.

Riezky terkesiap, ia terjepit di antara gempuran Seith di depan dan kembalinya berlian-berlian itu dari belakang.

Situasi di arena sudah tidak terkendali. Riezky berdiri di tengah kepungan enam berlian yang kembali ke tuannya, membelah udara hanya beberapa sentimeter dari kulitnya. Ia sadar, jika ia terus bermain cantik, Seith akan perlahan-lahan menguliti staminanya sampai habis. Sebuah ide gila terlintas di benaknya—ide yang mungkin bisa mengakhiri hidupnya, atau justru memberinya kemenangan.

"Satu serangan... cuma ini caranya," desis Riezky.

Seith berdiri dengan angkuh di balik barisan berliannya yang kini kembali membentuk formasi perisai absolut. Namun, Riezky tidak lagi mencari celah. Ia memutuskan untuk menjadi peluru itu sendiri.

Dengan raungan yang menggetarkan aula, Riezky melesat. Kali ini, kecepatannya bukan lagi sekadar lari, melainkan sebuah terjangan paksa yang meluapkan seluruh sisa energi petirnya. Ia tidak menghindar, tidak berkelit. Ia menerjang lurus ke arah Seith.

SRET! JLEB!

Berlian-berlian tajam milik Seith melayang menghadang, menyayat lengan dan bahu Riezky saat ia memaksakan diri menembus barisan kristal itu. Kulitnya terkoyak, bajunya hancur berkeping-keping, namun matanya tetap terkunci pada satu titik: Leher Seith.

Seith terbelalak. Ia tak menyangka lawannya akan senekat itu membiarkan tubuhnya hancur demi satu serangan. Sebelum Seith sempat menggerakkan jarinya untuk menyerang balik, telapak tangan Riezky yang bersimbah darah sudah mencengkeram kuat lehernya.

"Dapatkan... kau!"

Seketika, Riezky melepaskan seluruh cadangan energi listriknya. Arus listrik biru yang masif merambat dari tangan Riezky, langsung menghantam saraf-saraf Seith. Seith berdiri kaku, matanya memutih saat rasa sakit yang dahsyat menyerang seluruh tubuhnya. Keheningan sesaat menyelimuti arena saat pendaran listrik itu membungkus tubuh mereka berdua.

Di kesempatan yang sangat sempit itu, sebelum kesadaran Riezky sendiri hilang karena rasa sakit, ia memicu sedikit—hanya sedikit—energi apinya di telapak tangan yang masih mencengkeram Seith.

BOOOOMMM!

Ledakan jarak dekat terjadi. Gelombang kejutnya melemparkan Seith jauh ke belakang hingga menabrak dinding arena dengan keras dan jatuh tak sadarkan diri. Berlian-berliannya kehilangan cahaya dan jatuh berserakan di pasir seperti batu biasa.

Riezky masih berdiri di tempatnya untuk beberapa detik. Tangannya memerah parah, bercampur antara luka bakar, darah, dan sisa-sisa energi petir. Ia gemetar hebat, napasnya tersengal-sengal di tengah asap yang mengepul dari tubuhnya sendiri.

Prajurit kerajaan segera berlari ke tengah arena. Setelah memeriksa kondisi Seith yang sudah tidak berdaya, salah satu prajurit mengangkat terompetnya dan meniupkan nada panjang yang memekakkan telinga.

"Pemenangnya... Riezky dari Aethelgard!"

Seluruh Aula Redhenvous meledak dalam kegemparan. Tidak ada yang percaya seorang nelayan bisa menumbangkan "Keajaiban" Klan Hidstone. Namun, kemenangan itu dibayar mahal. Riezky ambruk ke atas pasir, kesadarannya mulai memudar. Luka ledakan dua kali berturut-turut—kemarin dari Tariq dan sekarang dari serangannya sendiri—telah merusak kondisi fisiknya secara ekstrem.

Bau menyengat ramuan herbal dan kain kasa yang direndam cairan antiseptik memenuhi hidung Riezky. Ia terbaring kaku di sebuah ranjang kayu ruang medis, sementara seorang tabib istana sibuk membalut tangannya yang membengkak keunguan. Karena aturan ruang medis yang tertutup, Riezky sama sekali tidak bisa menyaksikan siapa yang akan menjadi lawan terakhirnya. Ia hanya mendengar gemuruh sorakan dari arah arena yang sesekali menggetarkan dinding batu ruang medis tersebut.

Beberapa jam kemudian, kabar itu sampai melalui Stewart yang masuk dengan wajah pucat. Pemenang blok sebelah telah diputuskan. Namanya adalah Hylos.

Di kalangan petarung Astranova, Hylos dijuluki sebagai "Hercules Modern". Berbeda dengan Seith yang mengandalkan senjata melayang atau Tariq yang bermain sihir pasir, Hylos adalah definisi kekuatan fisik murni yang tidak masuk akal. Konon, ia mampu meremukkan baja hanya dengan tekanan telapak tangannya. Satu-satunya orang yang pernah menghentikan rekor kemenangannya hanyalah Seith—itu pun karena Seith menggunakan jarak menengah yang sangat aman.

Kini, pertanyaannya menghantui semua orang: Jika Seith yang "tak tersentuh" saja bisa ditumbangkan Riezky, apakah Riezky yang kini babak belur bisa menahan hantaman fisik dari monster seperti Hylos?

Melihat kondisi fisik Riezky yang mengenaskan—lengan yang mati rasa dan luka bakar akibat ledakan ganda—panitia turnamen mengambil keputusan langka. Babak final akan diundur dua hari lagi. Keputusan ini diambil demi menjaga martabat turnamen agar pertarungan tetap adil, bukan sekadar pembantaian terhadap orang yang sedang terluka.

Meskipun diberikan waktu istirahat, Riezky bukanlah tipe orang yang bisa diam. Di dalam ruang medis, ia mulai meronta.

"Minggir! Aku harus latihan! Tanganku masih bisa gerak sedikit!" seru Riezky sambil mencoba turun dari ranjang, meski keringat dingin mengucur dari dahinya saat ia mencoba mengepalkan tangan.

"Duduk, Riezky! Kau mau tanganmu hancur permanen?" bentak Stewart sambil menahan bahu Riezky. Stewart yang biasanya santai kini terlihat sangat tegas. "Dua hari. Gunakan waktu ini buat mikir. Aku sudah lihat Hylos tadi, Riz. Dia bukan Seith yang tipis. Hylos itu seperti tembok berjalan. Kalau kau nekat menerjangnya seperti tadi, dia tidak akan tersengat... dia akan menangkapmu dan mematahkan tulangmu sebelum kau sempat meledakkan apa pun."

Riezky terdiam, kembali jatuh terduduk di pinggir ranjang. Ia menatap telapak tangannya yang terbungkus perban tebal. Ia baru saja menciptakan Fist Blade, tapi melawan Hylos yang memiliki ketahanan fisik luar biasa, apakah kaca petirnya bisa menembus kulit otot sang raksasa?

Riezky menghela napas panjang, teringat rumah. "Andai Sabrina ada di sini, dia pasti sudah memukul kepalaku karena nekat begini. Aku harap Ibu di rumah tidak tahu kalau anaknya sudah hampir jadi kerupuk bakar di sini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!