Seharusnya Maximilian membiarkan gadis itu hancur. Logika mafianya berkata: jangan campuri urusan musuhmu. Namun, saat melihat Rebecca Sinclair yang nyaris kehilangan segalanya di sebuah gang gelap, Maximilian melanggar aturan emasnya sendiri.
Satu perkelahian brutal, beberapa tulang yang retak, dan tiga nyawa yang melayang di tangannya demi seorang gadis yang tidak ia kenal. Kini, Rebecca berhutang nyawa pada pria yang jauh lebih berbahaya daripada para penyerangnya.
Bagi Rebecca, Maximilian adalah penyelamat yang dingin dan mengerikan. Bagi Maximilian, Rebecca adalah kesalahan logika terbesar yang pernah ia buat. Namun, setelah darahnya tumpah demi gadis itu, Maximilian tidak akan pernah membiarkannya pergi.
"Aku menyelamatkanmu bukan untuk membebaskanmu, Rebecca. Kau milikku sekarang—sampai hutang nyawa ini lunas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun di Dalam Air
Siang itu, matahari pegunungan terasa menyengat meski angin dingin sesekali berhembus. Maximilian sedang berada di dalam ruang kerja kedap suara di lantai dua, melakukan rapat koordinasi rahasia melalui transmisi satelit dengan para petinggi kartel di luar negeri. Itu adalah waktu di mana tak satu pun orang boleh mengganggu, atau nyawa menjadi taruhannya.
Rebecca, yang merasa tubuhnya sangat lengket setelah latihan menembak yang melelahkan di bawah bimbingan tangan besi Erica, memutuskan untuk mencari sedikit ketenangan. Ia berjalan menuju kolam renang infinity yang terletak di sisi luar mansion. Kolam itu tampak tenang, permukaan airnya yang biru jernih seolah menyatu dengan cakrawala pegunungan.
Di sana tidak ada orang. Sebagian besar agen sedang berada di barak atau di lapangan tembak bawah tanah. Rebecca melepas kaos latihannya, menyisakan pakaian renang minimalis yang ia temukan di lemari kamar, lalu perlahan masuk ke dalam air. Dinginnya air seketika membasuh rasa penat di otot-ototnya. Ia berenang menuju tepi kolam, menatap lembah yang hijau di bawah sana.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekejap.
"Tuan Maximilian benar-benar punya selera yang unik, ya? Membawa 'peliharaan' kecil yang lemah ke tempat para pejuang."
Rebecca tersentak. Ia menoleh dan melihat seorang pria bertubuh kekar dengan tato serigala di sepanjang lengan kanannya berdiri di pinggir kolam. Namanya Vargo, salah satu agen senior yang dikenal paling temperamental. Vargo adalah orang yang paling vokal menunjukkan ketidaksukaannya sejak Maximilian membawa Rebecca. Ia merasa harga dirinya sebagai agen elit terhina karena harus berbagi markas dengan seorang gadis sipil.
"Aku ... aku hanya ingin berenang sebentar," ucap Rebecca, mencoba menjauh ke sisi lain kolam.
Vargo tertawa sinis. Ia tidak pergi, justru duduk di tepi kolam sambil memainkan sebilah pisau kecil. "Kau tahu, gadis manis? Di sini, kami semua harus berdarah-darah untuk mendapatkan tempat. Erica harus membunuh sepuluh orang untuk mendapatkan lencananya. Aku kehilangan dua jari tanganku di medan perang. Tapi kau? Kau masuk ke sini hanya karena menangis di depan Bos."
"Aku tidak meminta untuk dibawa ke sini," sahut Rebecca dengan suara yang mulai gemetar.
"Tapi kau ada di sini. Dan keberadaanmu membuat perhatian Tuan Maximilian terpecah. Karena kau, fokusnya pada bisnis mulai goyah," Vargo berdiri, matanya berkilat penuh kebencian yang tidak rasional. Ia merasa cemburu karena perhatian khusus yang diberikan Max pada Rebecca. "Dunia ini akan lebih baik jika beban sepertimu ... lenyap secara alami."
Vargo tiba-tiba melompat ke dalam kolam dengan pakaian lengkapnya. Air menyembur tinggi. Rebecca panik dan mencoba berenang menuju tangga, namun tangan kekar Vargo lebih cepat mencengkeram pergelangan kaki Rebecca di dalam air.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan?!" jerit Rebecca.
Vargo tidak menjawab. Ia menarik kaki Rebecca hingga gadis itu tenggelam ke dalam air. Rebecca meronta, memukul-mukul tangan Vargo, namun tenaga pria itu seperti beton. Di bawah air, Rebecca melihat wajah Vargo yang menyeringai kejam. Pria itu sengaja menahan kepala Rebecca di bawah permukaan air, bermaksud memberinya "pelajaran" atau mungkin sesuatu yang lebih fatal.
Rebecca merasa paru-parunya mulai terbakar. Ia menelan air kolam yang terasa perih. Dalam kegelapan air, ia teringat pistol perak di dalam tasnya yang ia tinggalkan di kursi pinggir kolam. Terlalu jauh. Ia mencoba mencakar lengan Vargo, namun pria itu justru mempererat tekanannya.
Tepat saat kesadaran Rebecca mulai menipis, sebuah bayangan besar muncul di pinggir kolam.
BRAK!
Pintu kaca balkon lantai dua bergeser dengan kasar. Maximilian, yang ternyata memantau kamera CCTV kolam melalui tabletnya di tengah rapat, telah sampai di sana dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Tanpa suara, tanpa peringatan, Maximilian melompat dari balkon lantai dua—ketinggian hampir empat meter—dan mendarat tepat di punggung Vargo yang masih berada di dalam air.
Bugh!
Maximilian mencengkeram leher Vargo dari belakang dan menariknya menjauh dari Rebecca. Rebecca muncul ke permukaan, terbatuk-batuk hebat dan menghirup oksigen seolah itu adalah emas cair.
Di dalam kolam, terjadi pergulatan singkat namun brutal. Vargo mencoba melawan, namun Maximilian tidak bertarung seperti manusia; ia bertarung seperti monster yang haus darah. Max memiting leher Vargo, memutar tubuhnya, dan menghantamkan wajah pria itu ke dinding keramik kolam berkali-kali.
Plak! Krek!
Suara tulang hidung yang patah terdengar jelas. Air kolam yang tadinya biru jernih kini mulai berubah warna menjadi merah karena darah Vargo.
"Om! Cukup! Om, berhenti!" teriak Rebecca histeris, ketakutan melihat sisi monster Maximilian yang keluar sepenuhnya.
Maximilian tidak berhenti. Ia menyeret Vargo yang sudah setengah sadar ke tangga kolam, lalu melemparkannya ke lantai pualam di pinggir kolam seperti tumpukan sampah. Max keluar dari kolam, tubuhnya basah kuyup, kemejanya menempel ketat memperlihatkan otot-ototnya yang menegang karena amarah.
Para agen lain, termasuk Erica, berdatangan karena mendengar keributan. Mereka membeku melihat pemandangan di depan mereka: Vargo yang bersimbah darah dan Maximilian yang berdiri dengan aura membunuh yang sangat pekat.
"Siapa yang memberimu izin untuk menyentuhnya?" suara Maximilian sangat tenang, namun setiap kata yang keluar seperti tetesan asam yang membakar.
Vargo mencoba berbicara, namun hanya darah yang keluar dari mulutnya. "Dia ... dia lemah, Tuan ... dia hanya akan ... menghancurkanmu ...."
Maximilian mendekat, ia menginjak dada Vargo dengan sepatu botnya yang basah, menekan paru-paru pria itu hingga ia kesulitan bernapas. "Aku adalah pemilik tempat ini. Jika aku ingin memelihara seekor semut sekalipun, tak seorang pun dari kalian boleh mengusik kehadirannya. Apalagi dia ..." Max melirik Rebecca yang masih menggigil di dalam kolam.
"Kalian semua dengar!" Maximilian berteriak ke arah para agen yang menonton. "Siapa pun yang menatapnya dengan cara yang salah, siapa pun yang berbicara kasar padanya, akan berakhir lebih buruk dari bajingan ini!"
Maximilian beralih ke Erica. "Bawa Vargo ke ruang interogasi bawah tanah. Aku akan mengurusnya sendiri nanti malam. Pastikan dia tidak mati sebelum aku selesai."
Erica hanya bisa mengangguk kaku, wajahnya pucat. Ia menyadari bahwa ia baru saja selamat dari maut karena sebelumnya ia tidak bertindak sejauh Vargo.
Maximilian berjalan menuju tepi kolam, ia mengulurkan tangannya pada Rebecca. Wajahnya yang tadi terlihat seperti iblis, kini sedikit melunak saat menatap mata Rebecca yang sembab.
"Naiklah," perintahnya.
Rebecca menyambut tangan Max, tubuhnya gemetar saat Max menariknya keluar dari air dan langsung menyelimutinya dengan handuk besar. Maximilian tidak peduli dengan rapat rahasianya yang ia tinggalkan begitu saja. Ia tidak peduli dengan kerugian jutaan dolar yang mungkin timbul karena pengabaian tugasnya.
"Maafkan aku, Om ... aku hanya ingin berenang," bisik Rebecca sambil menangis di dada Max yang basah.
Maximilian mendekap kepala Rebecca, menekannya ke bahunya. "Jangan minta maaf. Ini salahku karena membiarkan sampah seperti dia bernapas terlalu lama di sekitarmu."
Maximilian menggendong Rebecca kembali menuju mansion, melewati para agen yang kini menundukkan kepala dengan penuh rasa hormat dan takut. Mulai hari itu, seluruh markas tahu satu kebenaran mutlak: Rebecca Sinclair adalah jantung dari Maximilian. Dan menyentuh jantung sang Mafia berarti mengundang kiamat kecil bagi diri mereka sendiri.
Di dalam lift, Rebecca menatap wajah Maximilian yang masih memiliki sisa percikan darah Vargo di pipinya. "Om ... apa Om akan membunuhnya?"
Maximilian menatap Rebecca melalui pantulan cermin lift. "Dia melanggar aturan nomor satu, Rebecca."
"Apa aturan itu?"
"Milik Maximilian ... tidak boleh disentuh."
Rebecca terdiam. Di satu sisi ia merasa ngeri dengan kekejaman itu, namun di sisi lain, ia merasakan debaran aneh di jantungnya. Ia merasa dimiliki secara total. Di dunia yang penuh dengan orang-orang yang ingin menghancurkannya, pria berbahaya ini menjadikannya satu-satunya hal yang paling ia hargai.
𝐥𝐞𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩 𝐬𝐝𝐡 𝐬𝐥𝐡 𝐩𝐡𝐦 𝐢𝐧𝐢 🤣🤣🤣