Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.Rahasia Kotak Seruni dan Pisau Terlarang
Arata melangkah masuk ke dalam restoran dengan keanggunan yang terasa asing di bangunan kayu tua itu. Ia meletakkan topi fedoranya di meja, lalu duduk dengan punggung tegak, sementara semua orang di ruangan itu—Hana, Yuki, Bu Keiko, dan Kudo—berkumpul mengelilingi meja utama. Fokus mereka tertuju pada kotak kayu bermotif bunga seruni yang kini berada di tangan Ren.
"Buka saja, Tuan Muda," ucap Arata, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah. "Kotak itu tidak dikunci dengan gembok, tapi dengan janji."
Ren menarik napas panjang. Ia merasakan tekstur kayu yang halus di bawah jemarinya. Dengan gerakan perlahan, ia mengangkat penutup kotak tersebut. Suara engsel kayu yang bergeser tipis memecah kesunyian.
Di dalamnya, beralaskan kain beludru hitam yang sudah mulai memudar warnanya, terbaring sebuah pisau dapur jenis Kiritsuke dengan bilah yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Gagangnya terbuat dari kayu hitam yang dipoles hingga mengilap, dan di pangkal bilahnya, terdapat ukiran kecil berbentuk bunga seruni—lambang keluarga Reina.
"Ini..." Yuki berbisik, matanya membelalak. Sebagai seseorang yang sangat menghargai peralatan dapur, ia tahu apa yang sedang ia lihat. "Ini bukan baja biasa. Lihat pola riak di permukaannya... ini baja Damaskus yang ditempa dengan metode kuno."
Ren mengangkat pisau itu. Beratnya terasa sangat seimbang di tangannya, seolah-olah bilah besi itu adalah perpanjangan dari tulang lengannya sendiri. Saat ia mengayunkannya sedikit di udara, terdengar suara siulan tipis yang membelah keheningan.
"Itu adalah 'Seruni Hitam'," Arata menjelaskan, matanya menatap pisau itu dengan rasa hormat. "Pisau yang digunakan Nyonya Reina untuk memenangkan turnamen nasional pertamanya. Baja itu mengandung unsur mineral dari pegunungan di utara Kota Karasu. Pisau ini tidak hanya memotong, ia 'berkomunikasi' dengan bahan makanan."
Kudo menghembuskan napas berat, ia tampak seolah baru saja melihat hantu. "Aku sudah menyuruh Reina untuk membuang pisau itu setelah kecelakaan itu terjadi. Pisau itu membawa kutukan, Arata. Siapapun yang memegangnya akan dikejar oleh ambisi yang tak berujung."
"Atau membawa keadilan, Kudo-san," balas Arata tajam.
Hana mendekat ke arah Ren, ia merasa ada aura yang berbeda terpancar dari pisau itu—sesuatu yang dingin namun penuh tekad. Ia meletakkan tangannya di lengan Ren yang memegang pisau, mencoba merasakan apa yang dirasakan pemuda itu.
"Ren, tanganmu... dingin sekali," ucap Hana cemas. Kemistri di antara mereka berdua di depan meja itu terasa sangat tegang. Hana bisa merasakan denyut nadi Ren yang meningkat melalui kulit lengannya.
Ren menatap Hana, lalu beralih ke pisau di tangannya. "Aku tidak merasa kedinginan, Hana. Aku merasa... terjaga. Seolah-olah selama ini aku memasak dengan mata tertutup, dan sekarang pisau ini membukanya."
Di bawah bilah pisau itu, di dasar kotak, terdapat selembar surat lama yang kertasnya sudah menguning. Ren mengambilnya dan membacanya dalam hati.
> Untuk putraku, Ren.
> Memasak bukanlah tentang menaklukkan bahan, tapi tentang memberikan tempat bagi bahan itu untuk bercerita. Jika kamu memegang pisau ini, artinya kamu telah memilih jalan yang sulit. Jangan biarkan api amarah membakar masakanmu, karena rasa yang lahir dari dendam hanya akan menyisakan abu di lidah.
>
Mata Ren bergetar saat membaca baris terakhir. Ia merasakan sesak di dadanya—sebuah pengingat dari ibunya yang melampaui waktu.
"Ada satu hal lagi," Arata menyela, merusak momen melankolis itu. "Kemenanganmu di Kota Karasu telah memicu protokol 'Pembersihan' dari pusat Asuka Group. Mereka tidak akan membiarkan 'anak dari Reina' menginjakkan kaki di panggung nasional. Undangan yang kamu terima besok bukan sekadar jadwal pertandingan, tapi sebuah undangan ke wilayah perang."
Bu Keiko melangkah maju, wajahnya yang biasanya kaku kini tampak penuh tekad. "Kami tidak akan membiarkan mereka menyentuh Ren. Kami timnya. Kami akan pergi ke nasional bukan sebagai pecundang yang bersembunyi, tapi sebagai penantang yang sah."
Yuki mengangguk mantap, ia berdiri di sisi lain Ren. "Aku akan menyiapkan semua riset tentang lawan-lawan di nasional. Jika mereka punya data, kita punya sejarah."
Ren memasukkan kembali pisau itu ke dalam kotaknya, namun ia menggenggam kotak itu erat-erat. Ia menatap Arata, tatapannya kini lebih tajam dari bilah Seruni Hitam tadi.
"Katakan pada mereka yang mengirimmu, Arata-san," ucap Ren, suaranya dingin dan berwibawa. "Aku tidak butuh perlindungan. Aku akan datang ke ibu kota, dan aku akan meruntuhkan setiap menara kaca yang mereka bangun dengan rasa yang mereka lupakan."
Malam itu, kemistri di dalam Ren's Cuisine berubah. Mereka bukan lagi sekadar koki sekolah yang merayakan kemenangan lokal. Mereka adalah sebuah unit tempur kuliner yang baru saja mendapatkan senjata legendaris mereka.
Hana masih menggenggam lengan Ren, ia tidak melepaskannya meskipun Arata sudah mulai menjelaskan detail teknis tentang lawan di nasional. Ia merasa, mulai malam ini, Ren yang ia kenal akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap berada di samping pemuda itu, menjadi api yang menjaga hatinya agar tidak membeku oleh dinginnya baja pisau terlarang itu.