NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 Di Antara Kejujuran dan Keajaiban"

Siman hanya tersenyum samar. Akik itu terasa semakin hangat, seolah memberinya validasi. Rasa malu memang selalu menemaninya di mana pun dia berada, karena bagaimanapun juga, Siman bukan siapa-siapa.

“Semangat terus ya, Mas Siman! Jangan dengerin kata Si Rido. Emang Mas Siman kan suka gitu,” Intan berkata dengan nada bersemangat, melayangkan senyum penuh arti pada Siman.

Belakangan, suasana kursus memang sering diramaikan dengan kekaguman pada Siman. Instruktur Harun seringkali menyebutnya sebagai ‘jenius tak terduga’. Tugas-tugas yang awalnya terasa mustahil kini Siman tuntaskan dengan mudah, bahkan kadang dengan ide yang lebih segar daripada para peserta lain. Dia menjadi motor utama di dalam kelas, seorang anak baru yang penuh motivasi. Bahkan setiap orang terinspirasi dengan apa yang Siman kerjakan. Tidak pernah berhenti.

Pada suatu siang, seusai kelas desain, Siman menerima telepon. Pak Hartoko. Pria itu menanyakan apakah Siman bisa membantunya di usaha fotokopian malam itu. Tentu saja Siman menyanggupi. Siman harus menyeimbangkan tiga dunia ini: bengkel, kursus, dan toko fotokopian Pak Hartoko. Rasa lelah terkadang menyerang, namun kilatan inspirasi yang kerap muncul dari akiknya seolah memulihkan tenaganya.

Di toko fotokopian Pak Hartoko, yang ramai seperti biasa, Siman sibuk menyortir kertas dan melayani pelanggan. Tangannya bergerak cekatan, matanya terbiasa memindai cepat. Dinding toko dipenuhi oleh contoh desain spanduk, kartu nama, dan poster. Siman memperhatikan semuanya, sesekali berpikir, "Aku bisa lebih baik dari ini."

Pak Hartoko muncul dari ruangan kantornya di bagian belakang, membawa setumpuk dokumen. "Siman, kamu sibuk sekali ini?"

"Nggak apa-apa, Pak. Ini kebetulan pelanggan banyak," jawab Siman ramah. Dia lantas mengambil dokumen yang baru saja ingin diletakkan oleh Pak Hartoko. Dia bantu memindai semua dokumen itu dengan cepat dan gesit. Pelayanannya tidak perlu diragukan lagi. "Butuh bantu apa, Pak? Saya lagi tidak banyak pekerjaan di sana. Kursus hari ini juga sedang santai."

Pak Hartoko tersenyum puas, mengamati Siman dengan saksama. "Tidak banyak pekerjaan ya? Harusnya ada di otaknya yang lagi banyak kerja itu." Pak Hartoko mengedikkan dagunya ke layar monitor Siman yang menampilkan sebuah rancangan poster untuk kampanye kelurahan. Poster Siman itu sudah terlihat jelas akan memenangkannya. “Omong-omong, kamu bagaimana di kursus desainmu itu? Pak Harun sering telepon saya, lho.”

Siman mengangkat sebelah alisnya. “Pak Harun? Menghubungi Bapak?” Dia bingung. Sejak kapan Pak Harun kenal dengan Pak Hartoko? Itu kebetulan lagi.

Pak Hartoko terkekeh. "Dia teman lama saya, Siman. Memang dia minta saya untuk kasih anak-anak yang niat itu pekerjaan di tempat saya. Kebetulan kamu yang saya rekomendasiin."

“Jadi selama ini...?” Siman terbengong, rasa hangat akiknya tiba-tiba terasa begitu kentara. Jadi 'kebetulan' ia mendapat pekerjaan ini juga campur tangan dari Pak Harun? Siman menduga bahwa ia tak sendirian di dunia ini. Siman percaya. Ini adalah jejaring sosialnya.

"Kamu menonjol di kelas, itu kata Pak Harun. Bahkan katanya kamu jauh lebih baik daripada beberapa asistennya yang sudah lulus S-1," lanjut Pak Hartoko, sorot matanya kini penuh pujian. "Dia bahkan merekomendasikanmu untuk ikut beberapa kompetisi desain lokal. Katanya kamu itu seperti... permata yang belum digosok. Aku bangga mendengarnya, Siman."

Pujian itu bagaikan siraman air dingin di padang gurun. Jauh lebih berharga daripada uang. Membuat rasa percaya diri Siman merangkak naik, memenuhi relung hatinya. Akiknya berdenyut hangat, memancarkan rasa bangga. Akik itu terasa senang.

"Pak Harun bilang kamu cepat banget tangkap pelajaran, bahkan idenya juga unik. Banyak orang senior terinspirasi darimu," kata Pak Hartoko. Dia berdecak kagum. "Ini tidak main-main, Siman. Dia tahu kamu punya potensi yang besar. Kata Pak Harun, dia juga akan merekomendasikan kamu ke rekan kerjanya. Barangkali saja ada pekerjaan."

Jantung Siman berdetak kencang. Ia hanya anak pinggiran yang bau. Bagaimana mungkin Pak Harun bisa percaya padanya? Siman tak berani mengatakannya. Ia merasa malu bila berbicara tentang hal-hal seputar desain.

"Pak, sebenarnya saya… saya tidak sehandal itu. Kadang saya masih bingung dan buntu,” Siman berterus terang, nada suaranya sedikit rendah, “Bakat saya... masih harus diasah."

Pak Hartoko mengangguk, meletakkan tumpukan dokumennya di meja Siman. “Itu wajar, Nak. Setiap seniman pasti punya ‘buntu’. Tapi katanya Pak Harun, kamu ini istimewa. Sering tiba-tiba menemukan ide brilian dari mana, tanpa melihat referensi yang rumit. Pak Harun bahkan ingin menyertakan nama kamu di buku kumpulan ide desain dia.”

Siman membelalak. Akik di jarinya terasa sangat panas. Semakin Siman menepis peran akiknya, semakin akik itu bereaksi, seolah ingin mengatakan: "Jangan sombong. Ingat darimana kekuatan ini berasal." Pertarungan internal dimulai: apakah ini murni bakat Siman, atau memang 'campur tangan' akik? Ia ingin jujur, tetapi dia tak mau Murni mencemooh dirinya bila Murni tahu akiknya memberikan ilham yang aneh ini. Tidak, dia tidak akan mampu. Akan banyak sekali tatapan mencemooh. Siman hanya butuh seseorang. Itu adalah Murni.

"Man, ingat apa yang kamu katakan semalam? Aku akan membuat dia... tahu siapa aku sekarang." Murni, entah dari mana datangnya, tiba-tiba berdiri di samping meja kasir, menyerahkan dua gelas es teh manis. Matanya yang selalu tulus kini memancarkan api, tatapan seolah menyuarakan semangat dan keberanian Siman.

"Murni!" Siman terkejut. "Dari kapan kamu di sini?"

Murni tertawa renyah, "Dari tadi dong! Lagian kok serius banget sih obrolan orang tua? Ini diminum es tehnya! Kan sudah kubilang, kita kan harus sama-sama membuat dia kaget!"

Siman memandang Murni, kemudian melirik Pak Hartoko yang hanya tersenyum samar, tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka. "Kamu denger semua, Mur?"

"Iya, dong! Bahkan yang bagian 'jenius tak terduga' juga aku dengar! Kan itu bagus untuk Siman. Itu artinya kamu bisa berhasil." Murni menghela napas, kemudian melayangkan pandangan ke arah Pak Hartoko yang tersenyum padanya. Ada hal yang ingin Siman berikan padanya. Ada yang Siman janjikan padanya. Itu adalah kebangkitan dirinya. Bahkan tidak hanya Siman, dirinya juga ingin Siman bisa memberikan hadiah terbaik padanya.

"Ini kebaikan orang banyak, Mur." Siman mencoba bersikap bijaksana. Dia sudah tidak perlu banyak berpikir bahwa itu adalah akik. Dia akan menahan perkataannya lagi. Tidak akan ada lagi kebohongan untuk Murni. Karena Siman sangat tahu persis apa yang Murni katakan pada Siman kemarin. Kebahagiaan akan tetap diraih dengan kejujuran, tidak peduli dia adalah pembohong di hadapan orang banyak.

"Kebaikan orang banyak apaan sih! Kan memang kamu punya bakat, Man! Kamu terlalu merendah!" Murni mengerutkan bibir, mengambil napas panjang. “Besok kita berburu laptop dan kamera, mau? Aku juga ingin punya blog foto baru. Supaya nanti bisa ku-upload banyak foto hasil kerjamu, kalau nanti kamu mau jadi desainer yang keren. Biar nanti mereka tahu kalau ini kerjaan anak pinggir rel yang dibilang orang ‘buang-buang kursi saja’!”

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!