NovelToon NovelToon
Kilat Di Atas Arrinra

Kilat Di Atas Arrinra

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: Anton Firmansyah

Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: PEMBERONTAKAN TERAKHIR

Malam itu, Ibukota Arrinra tidak seperti biasanya. Keheningan yang menyelimuti kota terasa mencekam, seolah-olah udara sendiri menahan napas sebelum badai besar melanda. Di dalam istana, Serena Arrinra berdiri di balkon kamarnya, matanya yang seputih perak menatap ke arah gerbang luar. Ia mengenakan pakaian hitam ninja yang sudah lama ia simpan—pakaian yang ia gunakan saat pertama kali merebut takhta dari Jenderal Karsa.

"Sesuatu yang besar akan terjadi malam ini, Anton," bisik Serena tanpa menoleh.

Anton Firmansyah mendekat, tangannya memegang bahu istrinya. Meski ia sudah hidup bertahun-tahun di istana, insting kulinya tidak pernah hilang. Ia bisa merasakan getaran tanah yang tidak wajar, seperti derap kaki ribuan kuda yang mencoba bergerak sesunyi mungkin.

"Paman Bram sudah menyiagakan pasukan elit di paviliun anak-anak," ujar Anton tenang, meski kecemasan tersirat di wajahnya. "Tapi Serena, kali ini berbeda. Mereka bukan hanya membawa senjata, tapi juga kebencian yang sudah membusuk selama satu dekade."

Serangan di Tengah Gelap

Tepat saat lonceng istana berdenting menandakan tengah malam, sebuah ledakan besar mengguncang tembok luar sisi timur. Suara teriakan perang segera menyusul, membelah kesunyian malam.

"Mereka datang!" teriak seorang pengawal dari koridor bawah.

Serena menarik pedang Raijin. Bilahnya seketika terbungkus listrik biru yang mendesis. "Anton, bawa anak-anak ke ruang bawah tanah rahasia di bawah kuil. Sekarang!"

"Tidak!" balas Anton tegas. Ia mengambil sebuah tongkat besi panjang yang sengaja ia simpan sebagai senjata pribadinya. "Aku bukan lagi kuli bangunan yang harus kau lindungi setiap saat. Aku suamimu, dan aku akan menjaga garis belakang. Pergilah, Serena. Jadilah kilat yang menghanguskan mereka."

Serena menatap mata Anton sejenak, melihat tekad yang tak tergoyahkan. Ia mengecup dahi suaminya kilat. "Jaga dirimu. Jika terjadi sesuatu padamu, kekaisaran ini tidak ada artinya bagiku."

Dalam sekejap, Serena menghilang, meninggalkan jejak listrik di udara.

Kudeta Para Bangsawan

Di gerbang utama, sisa-sisa bangsawan lama yang dipimpin oleh Adipati Kertanegara—saudara jauh Jenderal Karsa yang selama ini bersembunyi di perbatasan—berhasil menjebol pertahanan. Mereka membawa pasukan bayaran dari luar negeri dan beberapa batalyon pembelot yang merasa terancam oleh kebijakan pro-rakyat Serena.

"Hancurkan setiap lambang kilat di kota ini!" teriak Kertanegara di atas kudanya. "Malam ini, darah Arrinra akan dikembalikan kepada pemegang sahnya! Tidak ada tempat untuk ratu ninja dan suami kulinya!"

Namun, langkah mereka terhenti. Sebuah cahaya biru terang turun dari langit seperti meteor. Serena berdiri di tengah jalan masuk, dikelilingi oleh mayat-mayat pasukan garda depan yang tumbang tanpa sempat berteriak.

"Kertanegara," suara Serena menggelegar, beresonansi dengan guntur di langit. "Sepuluh tahun yang lalu aku membiarkanmu hidup karena kupikir kau hanyalah tikus yang tidak berdaya. Ternyata aku salah. Tikus tetaplah tikus, mereka hanya tahu cara merusak dari dalam."

"Serena!" Kertanegara meludah ke samping. "Kau pikir kau bisa menguasai dua juta kilometer persegi ini sendirian selamanya? Kau telah menghina tradisi! Kau mendidik anak-anakmu seperti pengemis! Rakyat butuh penguasa yang mereka takuti, bukan kaisar yang makan ikan asin di pinggir jalan!"

"Rakyat takut pada penindas, Kertanegara. Tapi mereka mencintai pelayan. Dan kau tidak akan pernah mengerti bedanya," balas Serena dingin.

Serena melesat. Gerakannya melampaui batas kecepatan mata manusia. Ia menggunakan Ilmu Petir Langit tingkat tertinggi. Di mata para pemberontak, Serena tampak seperti belasan bayangan yang muncul bersamaan.

CRAAAK! BOOOOM!

Setiap tebasan pedang Raijin melepaskan gelombang kejut listrik yang melontarkan prajurit lawan. Namun, para pemberontak telah bersiap. Mereka menggunakan perisai yang dilapisi bahan isolator khusus dan mempekerjakan beberapa dukun hitam untuk meredam energi petir Serena.

Pertarungan di Paviliun Anak

Sementara itu, di paviliun keluarga, Anton sedang berhadapan dengan sekelompok pembunuh elit yang berhasil menyelinap masuk melalui saluran air. Paman Bram sedang sibuk menahan serangan di pintu depan, meninggalkan Anton sendirian di koridor kamar anak-anak.

"Ayah! Apa yang terjadi?" Arya, putra sulungnya, keluar dengan wajah ketakutan namun tangannya sudah memercikkan listrik kecil.

"Masuk ke dalam, Arya! Jaga adik-adikmu!" perintah Anton.

Sesosok pria bertopeng melompat dari langit-langit, mengayunkan belati beracun ke arah Anton. Dengan insting yang tajam, Anton memutar tongkat besinya, menangkis serangan itu dengan kekuatan fisik murni.

"Kau hanya rakyat jelata yang beruntung," desis si pembunuh. "Tanpa istrimu, kau bukan apa-apa."

Anton tersenyum sinis, ia menubruk si pembunuh dengan bahunya, teknik yang biasa ia gunakan untuk memindahkan batu besar di proyek bangunan. "Mungkin. Tapi 'rakyat jelata' ini tahu cara menjatuhkan bangunan yang tidak punya fondasi kuat. Dan kau, kawan, tidak punya fondasi."

Bugh!

Anton menghantamkan ujung tongkatnya ke perut lawan, lalu membantingnya ke lantai hingga pingsan. Bima dan Cakra melihat dari balik pintu, mata mereka membelalak melihat ayah mereka yang biasanya lembut kini bertarung seperti singa.

"Jangan pernah sentuh keluargaku," bisik Anton dengan nada yang belum pernah mereka dengar sebelumnya.

Paman Bram dan Pengorbanan Terakhir

Di gerbang dalam, Paman Bram terdesak. Usianya yang sudah tua mulai menunjukkan keterbatasan, sementara musuh terus mengalir. Adipati Kertanegara sendiri maju menghadapi Bram.

"Minggir, orang tua! Kesetiaanmu pada ninja itu tidak akan memberimu tempat di surga!" Kertanegara mengayunkan pedang besarnya.

Bram menahan serangan itu dengan tangannya yang sudah dialiri sisa-sisa tenaga dalam. "Aku tidak butuh surga jika duniamu adalah neraka bagi rakyat, Kertanegara."

Bram terluka parah di bahunya, namun ia tidak mundur selangkah pun. Ia tahu, jika gerbang ini jebol, Serena akan terdistraksi dan kudeta ini akan berhasil.

"Serena!" teriak Bram sekuat tenaga. "Selesaikan mereka! Jangan pikirkan aku!"

Mendengar teriakan itu, Serena yang berada beberapa ratus meter di depan merasakan amarah yang murni. Langit di atas Arrinra yang tadinya hanya berawan kini berubah menjadi hitam pekat. Kilat raksasa menyambar-nyambar dengan frekuensi yang mengerikan.

"Cukup!" teriak Serena.

Ia menancapkan pedang Raijin ke tanah marmer istana. Sesuatu yang disebut sebagai Jurus Pemurnian Jagad dilepaskan. Sebuah kubah listrik raksasa mengembang dari pusat istana ke seluruh penjuru ibukota. Ledakan cahayanya begitu terang hingga membuat malam menjadi siang sesaat.

Seluruh senjata logam para pemberontak menjadi panas membara, memaksa mereka menjatuhkan senjata. Para dukun hitam yang mencoba menahan serangan itu meledak karena kelebihan beban energi.

Akhir dari Ambisi Darah Biru

Ketika cahaya memudar, ribuan pemberontak berlutut di tanah, tubuh mereka lemas terkena gelombang kejut statis. Kertanegara terlempar dari kudanya, wajahnya hangus sebagian.

Serena berjalan mendekati Kertanegara, pedangnya masih mendesis. Namun, ia tidak segera mengayunkan pedangnya. Ia menoleh ke arah Paman Bram yang sedang dibantu berdiri oleh Anton yang baru saja datang membawa anak-anak mereka.

"Paman, kau baik-baik saja?" tanya Serena, suaranya kembali melembut namun penuh kesedihan melihat luka gurunya.

"Aku... aku belum ingin mati sebelum melihat anak-anakmu menjadi pemimpin hebat, Serena," jawab Bram sambil terbatuk.

Serena kembali menatap Kertanegara. Rakyat ibukota mulai keluar dari rumah-rumah mereka, membawa obor. Mereka mengelilingi para pemberontak dengan tatapan benci.

"Kau bilang aku menghina tradisi?" tanya Serena pada Kertanegara. "Lihatlah ke sekelilingmu. Rakyatlah yang akan menghakimimu, bukan aku. Karena pengkhianatanmu bukan kepadaku, tapi kepada impian mereka untuk hidup tanpa rasa takut."

"Bunuh aku sekarang!" teriak Kertanegara frustrasi.

"Tidak. Kematian terlalu mudah untukmu," sahut Serena. "Kau akan diadili di depan pengadilan rakyat. Aku ingin dunia tahu bahwa di Arrinra, hukum tidak lagi memandang warna darah."

Dialog di Sela Reruntuhan

Setelah para pemberontak ditawan, Serena, Anton, dan kelima anak mereka duduk di tangga istana yang hancur sebagian. Bau mesiu dan sisa listrik masih tercium kuat.

"Ayah, apakah kita akan selalu diserang seperti ini?" tanya Dara, putri tertuanya, sambil memeluk lengan Anton.

Anton menghela napas, mengusap kepala putrinya. "Dara, selama ada orang yang merasa mereka lebih baik dari orang lain hanya karena gelar, serangan seperti ini akan selalu ada. Tapi lihatlah sekelilingmu."

Anton menunjuk ke arah warga kota yang kini bahu-membahu bersama pengawal istana membersihkan puing-puing, tanpa diperintah.

"Dulu, saat istana diserang, rakyat akan bersembunyi dan bersyukur jika kaisarnya mati," lanjut Anton. "Sekarang, mereka ikut menjebak para pemberontak di gang-gang sempit. Mereka melindungi kita karena kita melindungi mereka."

Serena menyandarkan kepalanya di bahu Anton. "Aku menyadari sesuatu malam ini, Anton. Kekuatan ninjaku... Ilmu Petir Langit ini... ia memiliki batas. Jika aku mati malam ini, kekaisaran ini akan kembali ke tangan orang-orang seperti Kertanegara."

"Apa maksudmu, Serena?" tanya Anton heran.

"Kekuasaan absolut adalah beban yang terlalu besar untuk satu orang, bahkan untuk satu keluarga," Serena menatap langit yang mulai fajar. "Tradisi monarki kita ini... ia adalah bom waktu. Siapa yang menjamin cucu atau cicit kita nanti tidak akan menjadi seperti Jenderal Karsa?"

Anton terdiam sejenak. "Jadi, kau ingin mengubahnya?"

"Ya. Pemberontakan terakhir ini memberiku pelajaran penting. Kita butuh sistem di mana rakyat tidak bergantung pada kebaikan satu penguasa, tapi pada kekuatan hukum dan suara mereka sendiri."

Visi Baru untuk Arrinra

Keesokan harinya, Serena mengumpulkan seluruh rakyat di alun-alun, bukan untuk merayakan kemenangan militer, tapi untuk sebuah pengumuman yang lebih mengguncang daripada pernikahannya dulu.

"Rakyat Arrinra!" suaranya menggema, dibantu oleh sihir suaranya. "Malam tadi adalah bukti bahwa tembok istana ini rapuh. Kekuasaan yang terpusat hanya melahirkan kecemburuan dan ambisi berdarah. Oleh karena itu, mulai hari ini, aku menyatakan dimulainya reformasi besar."

Bisikan-bisikan bingung terdengar di antara kerumunan.

"Aku akan merancang undang-undang baru," lanjut Serena. "Gelar bangsawan tidak lagi memberikan hak kekebalan hukum. Kekuasaan eksekutif akan mulai dibagi. Dan aku ingin anak-anakku, pangeran dan putri kalian, berkompetisi dengan anak-anak petani untuk mendapatkan posisi di pemerintahan berdasarkan kemampuan mereka, bukan karena mereka anakku."

Paman Bram tersenyum di kejauhan. Ia tahu, Serena baru saja melepaskan senjata terkuatnya: Ego.

"Anton," bisik Serena saat mereka berdiri di balkon setelah pidato itu. "Apakah kau pikir mereka siap untuk demokrasi?"

Anton menggenggam tangan istrinya. "Mungkin belum hari ini. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk mendidik mereka. Tapi setidaknya, kita tidak lagi membangun istana di atas pasir. Kita sedang membangunnya di atas hati mereka."

Pemberontakan terakhir itu memang berakhir dengan darah, namun ia melahirkan benih baru di tanah Arrinra. Benih yang akan tumbuh menjadi sistem pemerintahan yang lebih adil. Serena Arrinra, sang ratu kilat, menyadari bahwa kemenangan sejati bukan terletak pada seberapa banyak musuh yang ia tumpas dengan petirnya, melainkan seberapa banyak kekuasaan yang ia berikan kembali kepada rakyatnya.

1
anggita
like iklan👍☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!