Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Erangan kesakitan itu perlahan mereda, digantikan oleh tarikan napas berat yang tersengal-sengal.
Tubuh besar yang berlutut di tepi kolam renang itu berhenti gemetar. Otot-ototnya yang tadinya menegang kaku kini berangsur rileks, meski dadanya masih naik-turun dengan cepat.
Anya tidak melepaskan pelukannya. Ia mendekap erat kepala pria itu ke ceruk lehernya, membiarkan aroma maskulin yang bercampur dengan wangi lotion manis milik Milo memenuhi indra penciumannya. Jantung gadis tomboy itu berdebar kencang, menanti dengan cemas.
"Kaelan...?" bisik Anya ragu-ragu, tangannya mengusap punggung lebar yang terbalut kaus v-neck kuning itu.
Perlahan, pria itu mengangkat kepalanya dari bahu Anya. Kelopak matanya terbuka.
Tidak ada lagi binar jenaka yang polos. Tidak ada lagi kepolosan yang manja. Mata hitam legam yang menatap Anya kini sangat dalam, tajam, dan memancarkan aura dominasi serta kelelahan luar biasa yang membekukan udara di sekitarnya.
Sang Ketua Klan Obsidian telah kembali.
Kaelan menatap wajah Anya dengan pandangan linglung selama beberapa detik. Tatapannya turun ke lengan gadis itu yang melingkari lehernya, lalu kembali menatap mata cokelat Anya yang kini berkaca-kaca menahan haru.
"Preman pasar..." suara Kaelan keluar sangat serak dan parau, seperti orang yang sudah berbulan-bulan tidak berbicara.
Mendengar nama panggilan menyebalkan itu, pertahanan Anya runtuh. Alih-alih marah, gadis tomboy itu justru mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di bahu Kaelan. Sebuah senyum kelegaan yang luar biasa terukir di bibirnya.
"Dasar kulkas dua pintu sialan," umpat Anya dengan suara bergetar, meski nada suaranya penuh kasih sayang. "Kau membuatku hampir gila menunggumu, tahu tidak?"
Kaelan terdiam. Tubuhnya yang terbiasa kaku saat dipeluk kini merespons secara refleks. Tangan besarnya membalas pelukan Anya, merengkuh pinggang gadis itu dengan posesif. Ia memejamkan mata, menghirup aroma stroberi dari rambut Anya yang terasa seperti udara segar setelah ia tenggelam dalam lautan darah dan kegelapan di alam bawah sadarnya.
"Aku kembali, Anya. Arthur sudah kuurus," gumam Kaelan pelan di telinga gadis itu.
Mereka berpelukan dalam keheningan selama beberapa saat, menikmati kehadiran satu sama lain yang terasa begitu nyata.
Namun, momen haru dan romantis itu tidak bertahan lama.
Kesadaran Kaelan mulai kembali sepenuhnya. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Bahan pakaian yang ia kenakan terasa terlalu tipis dan ketat di bagian dada. Angin sore meniup bagian dadanya yang terbuka karena potongan kerah v-neck yang terlalu rendah.
Kaelan sedikit melonggarkan pelukannya pada Anya, menunduk untuk memeriksa dirinya sendiri.
Matanya langsung membelalak horor.
"Apa... apa-apaan ini?" Kaelan menarik kain bajunya dengan jari yang gemetar karena syok. "Kuning?! Dia memakaikanku warna kuning terang seperti anak ayam yang baru menetas?!"
Anya, yang air matanya belum sepenuhnya kering, langsung menyemburkan tawa. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha menahan kekehannya melihat wajah bos mafia itu yang berubah pucat pasi bercampur murka.
"Hei, Milo bilang warna kuning itu melambangkan keceriaan musim panas," goda Anya, menyeka sudut matanya.
"Persetan dengan musim panas!" geram Kaelan, wajahnya memerah menahan malu. Ia berusaha bangkit berdiri, menyapu pandangannya ke arah celana pendek putih yang ia kenakan, yang menurut standar mafianya, terlalu pendek dan tidak berwibawa sama sekali.
Dengan kesal, Kaelan mengangkat kedua tangannya untuk memijat pelipisnya yang mendadak pening melihat kelakuan alter ego-nya.
Namun, gerakannya terhenti di udara.
Kaelan menatap kesepuluh jari tangannya yang besar dan kapalan. Di atas kuku-kukunya yang biasanya bersih dan dipotong rapi, kini bertengger lapisan kuteks berwarna maroon gelap yang mengkilap sempurna.
Hening. Suasana di teras belakang vila itu mendadak senyap bagai kuburan.
"Anya," panggil Kaelan. Suaranya tidak lagi menggelegar, melainkan sangat rendah, pelan, dan sangat, sangat berbahaya.
"Ya, Suamiku?" sahut Anya dengan nada riang yang dibuat-buat, mundur selangkah bersiap untuk lari jika keadaan memburuk.
Kaelan menodongkan sepuluh jari berkuteks maroon itu ke arah wajah Anya. Urat-urat di dahi pria itu menonjol keluar.
"Jelaskan padaku. Sekarang," desis Kaelan. "Kenapa tanganku—tangan yang kugunakan untuk memegang senjata dan menghancurkan musuh-musuhku—kini terlihat seperti tangan nyonya-nyonya sosialita yang mau arisan?!"
Tawa Anya meledak tak tertahankan. Ia memegangi perutnya yang kram karena tertawa terlalu keras. Pemandangan Kaelan sang bos mafia kejam, berdiri dengan kaus v-neck kuning anak ayam, marah-marah sambil memamerkan kuku maroon yang glowing, adalah pemandangan paling absurd sekaligus paling lucu yang pernah Anya lihat seumur hidupnya.
"I-itu maroon elegan, Kaelan! B-bukan merah biasa!" Anya membela diri di sela-sela tawanya yang terbahak-bahak. "Tadi Milo sedang memakaikannya padaku, l-lalu dia bilang kuku jarimu terlihat pucat dan butuh sedikit color blocking!"
Kaelan mengerang frustrasi, menengadahkan wajahnya ke langit seolah memohon kesabaran dari Tuhan. Harga dirinya sebagai Ketua Klan Obsidian kembali hancur berkeping-keping untuk kesekian kalinya di pulau ini.
"Di mana Ragas? Di mana aseton?!" raung Kaelan, berbalik dan melangkah lebar-lebar menuju pintu kaca vila, berusaha menyembunyikan tangannya di balik punggung.
"Ragas sedang belanja ke dermaga seberang bersama Rico!" seru Anya, masih terkekeh, mengekor di belakang Kaelan.
Langkah Kaelan terhenti. Ia berbalik menatap Anya dengan kening berkerut tajam. "Tunggu. Rico ada di sini? Sejak kapan?"
"Sejak kau tertidur di malam setelah kau membantai Paman Arthur," jawab Anya santai, menyender di kusen pintu.
Kaelan terdiam. Ia menghitung cepat di dalam kepalanya. Jika Rico yang mengurus evakuasinya pasca-perang, lalu ia tertidur, dan sekarang Ragas sedang belanja...
"Anya," Kaelan menelan ludah, firasat buruk menyergapnya. "Berapa lama berbekasaku 'hilang'?"
Anya berhenti tersenyum. Ia menatap Kaelan lekat-lekat, menyadari bahwa pria itu benar-benar tidak tahu berapa banyak waktu yang telah ia lewati dalam kegelapan alam bawah sadarnya.
"Tujuh hari, Kaelan," jawab Anya lembut. "Kau tertidur selama seminggu penuh."
Mata Kaelan melebar. Rahangnya jatuh. Tujuh hari? Selama dua puluh tahun hidup berdampingan dengan Milo, alter ego-nya tidak pernah mengambil kendali lebih dari dua puluh empat jam. Fakta bahwa tubuhnya hancur sedemikian rupa hingga butuh waktu seminggu untuk pulih, membuat Kaelan menyadari seberapa dekat ia dengan ambang kematian pada malam peperangan itu.
Kaelan menatap Anya. Gadis tomboy itu masih berdiri di sana, menunggunya dengan setia selama tujuh hari penuh ketidakpastian bersama kepribadian gandanya yang merepotkan.
Rasa marah karena baju kuning dan kuteks maroon itu menguap tak . Kaelan melangkah maju dengan cepat, menarik lengan Anya, dan kembali merengkuh gadis itu ke dalam pelukan yang jauh lebih erat dari sebelumnya.
Ia membenamkan wajahnya di leher Anya, menghirup dalam-dalam aroma kehidupan yang membumi dari gadis itu.
"Maafkan aku," bisik Kaelan serak. "Maaf membuatmu menunggu selama itu."
Anya tersenyum tipis. Ia mengusap punggung Kaelan, lalu dengan nakal, ia menepuk pelan bahu pria itu menggunakan jarinya.
"Tidak masalah, Bos Es," balas Anya santai. "Lagi pula, Milo teman belanja yang jauh lebih asyik daripadamu. Ngomong-ngomong, kau mau kuhapus kuteks itu sekarang, atau mau kau pamerkan dulu pada Rico saat dia pulang nanti?"
"Anya... demi Tuhan, tutup mulutmu dan peluk saja aku," gerutu Kaelan dari ceruk leher Anya, membuat gadis tomboy itu kembali terkekeh geli di pelukan sang mafia.