"Jangan dekat-dekat cowok lain, Cebol. Kau itu tanggung jawabku!"
Bagi Anvaya Dinakara, Narev Elvaro adalah tetangga raksasa setinggi 192 cm yang paling menyebalkan. Narev selalu mengawasi Vaya, melarangnya berteman dengan pria lain dengan alasan "menjaga titipan orang tua".
Namun, satu insiden di malam kelulusan melempar mereka sepuluh tahun ke masa depan. Vaya terbangun bukan di kamarnya, melainkan di pelukan Narev dewasa yang sangat memujanya. Lebih gila lagi, ada seorang bayi cantik bernama Miciella Aracelli yang memanggil mereka "Mama" dan "Papa".
Terjebak dalam pernikahan masa depan yang manis, mampukah mereka kembali ke masa lalu saat status mereka masih "musuh bebuyutan"? Atau justru Narev akan melakukan segala cara agar masa depan itu menjadi nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Labirin Abu-Abu
[POV: Vaya]
Pagi itu, cahaya matahari menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra. Aku terbangun dengan rasa sesak yang aneh, namun hangat. Narev mendekapku sangat erat, seakan tangannya adalah borgol tak kasat mata yang mengunci tubuhku hingga hampir tidak ada jarak di antara kami.
Aku menatap wajahnya yang tertidur. Dalam diam, dia tidak terlihat seperti pria dingin yang membentak Rian semalam. Dia terlihat... rapuh.
Tanganku terangkat tanpa sadar. Ujung jariku menyentuh hidung mancungnya, lalu turun ke rahang tegasnya yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus. Bagaimana bisa raksasa menyebalkan ini tumbuh setampan ini? Dan kenapa dia harus seobsesif ini padaku?
Tiba-tiba, tangan besar Narev menangkap pergelangan tanganku. Dia membuka matanya, menatapku dengan sorot yang sangat gelap dan dalam.
"Sudah puas meneliti wajah suamimu, Cebol?" suaranya serak, khas orang baru bangun tidur, namun terdengar sangat mengintimidasi.
"N-narev... kamu sudah bangun?" aku mencoba menarik tanganku, tapi dia justru menarikku semakin mendekat hingga hidung kami bersentuhan.
"Bagaimana aku bisa tidur tenang kalau aku tahu di luar sana ada pria yang mencoba mencuri apa yang sudah susah payah aku jaga selama sepuluh tahun?" Narev menatapku, dan aku melihat matanya berkaca-kaca. Ada ketakutan luar biasa di sana. "Katakan padaku, Vaya. Apa kau juga memikirkan dia saat aku memelukmu seperti ini?"
"Narev, aku bahkan tidak ingat apa-apa tentang dia—"
"Berbohong!" potongnya cepat. Dia langsung menyambar bibirku dengan ciuman yang kasar, penuh keputusasaan dan rasa haus akan kepemilikan.
Ciuman itu berakhir dengan napas kami yang saling memburu. Narev menyandarkan dahinya di dahiku. "Jangan pernah sebut namanya lagi. Jangan pernah menatapnya lagi. Kau milikku, Vaya. Hanya milikku."
"Narev, kamu menakutkan kalau begini..." bisikku, namun entah kenapa tanganku justru bergerak mengelus tengkuknya.
"Aku memang menakutkan," gumamnya parau. "Aku bisa menjadi monster paling mengerikan hanya untuk memastikan kau tidak melangkah keluar dari pintu itu."
Narev tidak memberiku celah untuk memprotes. Dia kembali menyerangku, kali ini lebih liar. Dia seolah ingin meluapkan segala kecemburuan, kekecewaan, dan luka dari "masa lalu yang hilang" itu ke dalam tubuhku.
"N-narev... sakit..." rintihku saat dia memulainya dengan sangat kasar dan dalam. Rasanya seolah dia sedang menghujamkan seluruh emosinya padaku.
"Rasakan ini, Vaya," bisik Narev di telingaku, suaranya berat dan penuh gairah yang menyakitkan. "Ingat rasa ini. Ingat bahwa hanya aku yang boleh menyentuhmu seperti ini. Bukan dia, bukan siapa pun."
Rintihanku yang awalnya karena rasa sakit, perlahan berubah menjadi tuntutan. Ada sesuatu yang meledak di dadaku melihat betapa hancurnya pria ini karena mencintaiku. Gairah liar yang dia tularkan membuatku kehilangan akal sehat. Aku mencengkeram bahunya yang bidang, membiarkan kuku-kukuku meninggalkan bekas di sana.
"Lagi, Narev... Jangan berhenti," bisikku tanpa sadar, suaraku nyaris hilang karena nikmat yang terasa asam dan manis di saat bersamaan.
"Katakan namaku!" perintah Narev, gerakannya semakin cepat dan posesif. "Katakan siapa suamimu!"
"Narev... Mas Narev... kamu suamiku," aku mendesah, menyerah pada dominasinya.
Narev mengerang, dia seolah meluapkan segalanya—kebenciannya pada kenyataan bahwa aku pernah mencintai Rian, dan ketakutannya bahwa aku akan pergi lagi. Di dalam kamar yang kedap suara itu, kami berdua tersesat.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Cebol," bisiknya setelah semuanya berakhir, sambil memelukku sangat erat seolah ingin menyatukan tubuh kami menjadi satu. "Bahkan jika kau membenciku selamanya, kau akan tetap membenciku di pelukanku."
Aku hanya bisa terdiam, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur keringat. Pagi itu, aku menyadari satu hal: Aku terjebak dalam labirin abu-abu. Aku tidak tahu apakah ini cinta atau penjara, tapi untuk saat ini, aku terlalu lemas untuk mencari jalan keluar.
G konsisten sma omongannya si vaya
ko pendek kali babnya panjangin dikit dong kaaaa