Di mata dunia, Michael Brown atau Kay adalah pewaris tunggal Brown Group yang angkuh dan bad boy penggila balap liar. Namun, di balik gelar playboy palsunya, Kay menyimpan rahasia: ia telah lama memperhatikan Paris Desmon, gadis pendiam yang menjadi satu-satunya ketenangan di tengah kepalsuan sekolah elit mereka.
Dunia Kay terguncang saat ia mengetahui bahwa sahabatnya, Luciano Russo, menjadikan Paris sebagai objek eksperimen emosional demi memuaskan rasa penasaran liar Max. Kay terpaksa menyaksikan dari bayang-bayang saat Luciano berbohong telah meniduri Paris hanya demi gengsi, sementara Paris sendiri tetap tulus mencintai Luciano tanpa tahu dirinya sedang dipermainkan.
Terjebak dalam kode etik persahabatan dan rasa sesak melihat gadis yang ia kagumi dirusak secara mental, Kay menghadapi pilihan sulit: Tetap diam sebagai penonton yang dingin, atau menghancurkan reputasi "Tiga Pilar" demi menyelamatkan Paris dari kehancuran yang direncanakan sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
Mansion keluarga Brown malam itu berubah menjadi pusat gravitasi bagi elit muda Manhattan. Musik techno dengan dentum bass yang menggetarkan lantai marmer memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma alkohol mahal dan parfum desainer.
Cahaya lampu disko yang berputar menciptakan bayangan-bayangan abstrak di dinding, seolah mencerminkan kekacauan yang tersembunyi di balik topeng kemewahan.
Di tengah keramaian itu, sang bintang utama, Kay, duduk di kursi kebesarannya di area VIP. Wajahnya yang berusia delapan belas tahun hari ini tampak lebih tua dari angka itu. Ia hanya diam, memutar-mutar gelas berisi cairan amber tanpa niat untuk meminumnya.
Matanya yang tajam mengawasi setiap sudut ruangan, namun pikirannya tertinggal di baris tengah kelas sejarah. Ia sama sekali tidak bereaksi saat beberapa gadis mencoba mengajaknya berdansa. Baginya, pesta ini hanyalah formalitas yang memuakkan.
Di sisi lain sofa, Max sudah melampaui batas kewarasannya. Gelas kelimanya baru saja kosong, dan matanya mulai sayu, namun mulutnya justru semakin tajam dan tak terkendali.
"Kalian tahu..." Max merangkul bahu Kay dengan kasar, suaranya meninggi, bersaing dengan dentuman musik. "Kay ini... dia adalah orang paling suci di sini. Dia benci melihat kemajuan Luciano, bukan begitu, Kay?"
Kay tetap diam, namun rahangnya mengeras. Ia tidak ingin melayani igauan seorang pemabuk.
Max tertawa terbahak-bahak, lalu menoleh ke arah Luciano yang duduk di depannya. "Dan Luciano! Sang jenius kita! Bagaimana rasanya, Lucian? Apa Paris masih semanis malam itu? Ah, aku tidak menyangka kau begitu mahir menaklukkan gadis perawan seperti dia!"
Mendengar nama Paris disebut dalam nada yang begitu merendahkan di tempat umum, Luciano merasakan desiran dingin di tulang belakangnya. Ia meletakkan gelasnya dengan dentingan yang tajam.
"Tutup mulutmu, Max. Kau mabuk," ucap Luciano rendah, suaranya mengandung ancaman yang jarang ia tunjukkan.
"Oh, ayolah! Jangan malu-malu!" Max mulai ngelantur, berdiri sambil sempoyongan. "Kau sudah menceritakan semuanya padaku, kan? Dua kali! Kau bilang dua kali! Apa kau sudah mengajarkannya cara 'bermain' yang benar? Dia itu hanya anak desainer, dia pasti merasa seperti mendapat lotre saat kau menyentuhnya!"
Luciano menatap Max dengan rasa muak yang bercampur dengan kepanikan yang luar biasa. Ia melirik ke sekeliling, berharap tidak ada orang lain yang mendengar ocehan Max. Di dalam benaknya, wajah Paris yang tulus dan penuh percaya muncul dengan begitu jernih.
Seiring berjalannya hari, Luciano menyadari satu hal yang tidak pernah ada dalam hipotesis awalnya: ia telah menjadi terlalu nyaman dengan Paris. Kehadiran Paris bukan lagi sekadar data eksperimen. Ketenangan gadis itu, caranya menyemangatinya untuk tetap jujur pada diri sendiri, dan penolakan lembutnya di apartemen malam itu justru membuat Luciano merasa... aman.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang diatur oleh rumus dan angka, Luciano benar-benar takut. Bukan takut pada ayahnya, bukan takut gagal dalam olimpiade, tapi takut kehilangan Paris.
Ia sadar bahwa kebohongannya—bualan tentang "dua kali pelepasan" yang ia ceritakan pada Max—adalah bom waktu yang siap meledak.
Jika Paris mendengar ini, jika Paris tahu ia dijadikan bahan taruhan maskulinitas di depan Max dan Kay, Paris akan pergi. Dan pikiran tentang Paris yang memandangnya dengan rasa jijik membuat Luciano merasa seolah oksigen di ruangan itu menghilang.
"Max, kubilang hentikan," Luciano berdiri, mencengkeram lengan Max dengan kuat hingga pria itu mengaduh. "Jangan pernah sebut namanya lagi dengan cara seperti itu."
"Kenapa?" Max menyeringai, matanya yang merah menatap Luciano menantang. "Kau mulai jatuh cinta pada subjek penelitianmu sendiri? Kau melanggar aturanmu sendiri, Sang Jenius. Kau bilang dia hanya variabel!"
Kay tetap diam di posisinya. Ia melihat pemandangan di depannya seperti sedang menonton sebuah tragedi yang sudah ia ketahui akhirnya. Mendengar Max mengoceh kembali tentang "dua kali pelepasan" membuat hatinya terasa seperti diremas, namun ia tidak bereaksi. Ia ingin melihat sejauh mana Luciano bisa mempertahankan kebohongannya di bawah tekanan kegilaan Max.
Bagi Kay, diam adalah satu-satunya cara agar ia tidak menghancurkan wajah kedua sahabatnya malam ini. Ia membayangkan Paris yang mungkin sedang di rumah, belajar dengan rajin atau memikirkan Luciano dengan senyum di wajahnya. Pikiran itu membuatnya merasa muak pada dirinya sendiri karena telah menjadi bagian dari lingkaran setan ini.
"Kau pengecut, Luciano," batin Kay. "Kau takut kehilangannya, tapi kau tidak punya keberanian untuk mengakui bahwa kau telah membohongi kami semua."
Luciano tidak membalas provokasi Max. Ia melepaskan cengkeramannya dan mengambil langkah mundur. Ia merasa mual. Ruangan yang penuh dengan orang-orang elit ini tiba-tiba terasa seperti kandang binatang buas.
Ia merogoh ponselnya, jari-jarinya bergetar saat mengetik pesan untuk Paris. Ia butuh memastikan gadis itu masih "miliknya", meskipun melalui layar digital.
Luciano: Babe, sedang apa? Aku merindukanmu. Sangat.
Ia mengirimkan pesan itu sambil berdiri di tengah hiruk pikuk pesta yang merayakan kedewasaan Kay. Ia merasa seperti seorang penipu besar. Ia menyatakan rindu di saat namanya baru saja diseret ke dalam lumpur oleh sahabatnya sendiri.
Ponselnya bergetar sesaat kemudian.
Paris: Aku juga merindukanmu, Lucian. Kenapa pesannya terasa sedih? Pesta Kay menyenangkan, bukan? Selamat bersenang-senang, sang juara.
Membaca balasan itu, Luciano memejamkan mata erat-erat. Ketulusan Paris adalah belati yang perlahan mengiris nuraninya. Ia benar-benar takut. Ia takut jika suatu saat nanti, kebenaran tentang malam di apartemen Kay dan semua bualan kotornya terungkap, ia tidak akan pernah bisa melihat binar itu lagi di mata Paris.
Max terus mengoceh, tertawa seperti orang gila sambil menceritakan kembali versi-versi kotor dari hubungan Luciano dan Paris kepada siapa pun yang lewat. Kay tetap menjadi pilar yang beku, matanya kosong menatap lantai marmer yang basah oleh tumpahan minuman.
Di malam ulang tahun Kay yang ke-18, kedewasaan datang bukan dengan kebijaksanaan, melainkan dengan ketakutan akan kehilangan satu-satunya hal yang nyata di tengah dunia yang penuh dengan kepalsuan.
Luciano menyadari bahwa ia tidak lagi mengendalikan eksperimen ini. Eksperimen ini telah mengendalikannya, dan ia sedang berdiri di ambang kehancuran yang ia buat sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
lnjut Thor yg bnyk yh 🥰😍