NovelToon NovelToon
Pendekar Racun Nirwana

Pendekar Racun Nirwana

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Reinkarnasi
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Arka Wijaya pernah diburu seluruh pendekar di Benua Arcapura demi Permata Racun Nirwana. Terpojok di Tebing Langit Senja, ia menelan artefak itu dan melompat ke jurang kematian.

Semua orang mengira ia telah mati.

Namun Arka bangkit kembali—di tubuh seorang pemuda lumpuh dari Klan Wijaya, yang bahkan tak mampu mengolah tenaga batin.

Dihina, diremehkan, dan dianggap sampah oleh dunia pendekar, tak seorang pun menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh rapuh itu adalah legenda yang pernah mengguncang Arcapura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Arka Wijaya menarik napas dalam-dalam.

Setelah sedikit ragu, ia kembali meletakkan tangannya di bahu gadis itu dan perlahan membalikkan tubuhnya yang kaku tak bergerak.

Di bawah sinar bulan, wajah gadis itu pun terlihat jelas.

Arka membeku di tempat.

Seolah jiwanya tercabut dan tak mampu kembali ke kenyataan.

“Bagaimana mungkin ada… gadis secantik ini…”

Jiwa Arka bergetar hebat tanpa terkendali.

Gadis ini terlalu cantik.

Kecantikannya nyaris tak masuk akal—begitu indah hingga seolah mampu mencuri jiwa siapa pun yang memandangnya.

Jika ia tidak melihatnya dengan mata kepala sendiri, ia takkan pernah percaya bahwa seorang gadis semuda ini dapat memancarkan pesona yang begitu mengguncang.

Rambut merah seperti api iblis.

Wajahnya seputih giok.

Setiap bagian wajahnya indah sempurna. Ketika semuanya berpadu, terciptalah kesempurnaan yang sulit dipercaya.

Arka tidak mampu menemukan kata-kata untuk menggambarkan kecantikan wajah gadis ini.

Ia jelas menatapnya dari jarak dekat, namun di dalam hatinya ia merasa seolah sedang memandang ilusi.

Karena bahkan alam bawah sadarnya sendiri tidak berani membayangkan bahwa ada seseorang di dunia ini yang memiliki wajah sesempurna itu.

Ratna Pradana dikenal sebagai kecantikan nomor satu di Kota Tirta Awan. Bahkan di seluruh Kerajaan Surya Kencana, mungkin tak ada yang mampu menandinginya.

Namun saat Arka melihat wajah gadis ini, ia benar-benar terpukul—seakan jiwanya dihantam keras.

Ia tak pernah menyangka bahwa hanya dengan melihat wajah seseorang, ia bisa terguncang sedalam ini.

Saat ini gadis itu baru berusia sekitar dua belas atau tiga belas tahun.

Jika suatu hari nanti ia tumbuh dewasa hingga seusia Ratna Pradana…

Itu benar-benar tak terbayangkan.

Mungkin pada saat itu, hanya dengan satu senyuman saja sudah cukup untuk menimbulkan kekacauan di dunia.

Namun gadis secantik ini justru mati oleh racun yang bahkan seorang ahli racun seperti Arka belum pernah lihat sebelumnya.

Dan ia meninggal di wilayah Hutan Keluarga Wijaya.

Arka tidak tahu racun apa itu.

Ia juga tidak mengerti mengapa racun tersebut ada di sini.

Yang ia rasakan hanyalah penyesalan mendalam.

Sungguh disayangkan bahwa gadis secantik ini dihancurkan secara kejam.

Orang seperti apa yang tega membunuh gadis seindah ini?

Arka memandang vegetasi dan tanah hitam yang tercemar di sekitarnya.

Ia ragu sejenak.

Namun akhirnya tetap mengulurkan tangan kirinya dan menempelkan telapak tangannya ke dada gadis itu yang dingin.

Permata Racun Nirwana segera mulai menetralkan racun di dalam tubuhnya.

Ini adalah gunung belakang milik Keluarga Wijaya. Dilihat dari kekuatan racun di tubuh gadis itu, jika racun ini terus menyebar, seluruh gunung bisa berubah menjadi tanah mati.

Walau kekuatan Permata Racun Nirwana hampir lenyap, artefak itu masih memiliki kemampuan memurnikan racun.

Permata di telapak tangan Arka memancarkan cahaya redup, perlahan memurnikan racun dalam tubuh gadis itu.

Tak lama kemudian…

Arka merasakan getaran samar di dada gadis itu.

Dan melihatnya perlahan membuka mata.

Sepasang mata hitam pekat.

Dalam.

Misterius.

Saat pandangan Arka bertemu dengan matanya, ia merasakan kengerian seolah terjatuh ke dalam jurang tak berdasar.

Ketakutan itu menghantam jantungnya seketika.

Gadis yang penuh racun.

Tanpa napas.

Bertubuh sedingin mayat.

Kini membuka matanya.

Gadis itu perlahan mengulurkan tangan kanannya dan mencengkeram kuat pergelangan tangan kiri Arka.

Bibirnya bergerak.

Lalu terdengar suara lirih yang jelas mengucapkan—

“Permata… Racun… Nirwana…”

Tubuh Arka bergetar hebat.

Ia hampir tidak percaya pada pendengarannya.

Permata Racun Nirwana adalah benda yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya—sebuah artefak yang seharusnya tidak pernah dikenal oleh siapa pun di Benua Arcapura.

Namun gadis ini barusan menyebut namanya!

Apakah ia salah dengar?

Ataukah ini hanya kebetulan?

“Gadis kecil, kamu—ah!!”

Disertai erangan kesakitan yang tajam, gadis itu tiba-tiba membuka mulutnya dan menggigit kuat jari tangan kiri Arka.

Darah segera mengalir dari jari tengah dan telunjuknya.

Seluruhnya masuk ke mulut gadis itu tanpa setetes pun jatuh ke tanah.

Terkejut, Arka berusaha menarik tangannya kembali.

Namun meskipun tangan kecil gadis itu tampak lembut dan rapuh, cengkeramannya sekeras besi.

Arka telah mengerahkan seluruh kekuatannya.

Tetap saja ia tidak mampu melepaskan diri.

Matanya perlahan membelalak ketika ia merasakan seolah seluruh darah di tubuhnya ditarik menuju tangan kirinya oleh kekuatan yang tak tertahankan…

Lalu disedot masuk ke mulut gadis itu.

Dia…

mengisap…

darahku!?

Gadis itu memejamkan mata hitamnya dan mengisap jarinya dengan rakus, seperti bayi yang sedang menyusu.

Siapa sebenarnya gadis ini…

Jelas-jelas ia telah diracuni hingga tingkat mematikan.

Namun ia membuat Arka sama sekali tak mampu melepaskan diri.

Setelah berkali-kali berjuang dengan putus asa, akhirnya Arka menyerah.

Ia hanya bisa menatap tanpa daya saat gadis itu terus mengisap darahnya.

Tubuh Arka sejak lahir memang lemah.

Setelah kehilangan darah dalam jumlah besar, kepalanya mulai terasa pusing.

Saat ia mulai bertanya-tanya apakah seluruh darahnya akan diisap habis oleh gadis misterius ini…

rasa sakit di jari tangan kirinya tiba-tiba menghilang.

Tangan yang mencengkeram pergelangan tangannya pun perlahan mengendur.

Arka melangkah mundur.

Menatap gadis sempurna yang baru saja mengisap darahnya dengan ekspresi muram.

Namun setelah beberapa saat…

gadis itu tidak melakukan apa pun.

Sama seperti saat pertama kali ia melihatnya.

Ia hanya terbaring diam dengan mata terpejam.

Tanpa suara.

Tanpa napas.

Huuuu…

Angin malam yang dingin berhembus melewati punggung Arka dan tubuh gadis itu.

Lalu.., tubuh gadis itu tiba-tiba terurai seperti kabut.

Lenyap sepenuhnya tanpa jejak.

Yang tersisa hanyalah:

sehelai rok putih robek,

sepatu hitam,

dan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu merah.

Arka: “!!!!”

Menghilang!?

Sensasi aneh muncul dari telapak tangan kirinya.

Jantung Arka bergetar hebat.

Ia segera menutup mata dan mengarahkan kesadarannya ke dalam Permata Racun Nirwana.

Ruang penyimpanan hijau di dalam artefak itu seharusnya kosong.

Namun kali ini…

saat kesadarannya masuk ke dalamnya…

Arka melihat sosok tubuh putih sehalus salju melayang diam di hadapannya.

Arka membelalakkan mata.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…

ia refleks menutup hidungnya dengan tangan.

Gadis itu adalah gadis kecil yang telah mengisap darahnya.

Satu-satunya perbedaan adalah—

ia tidak mengenakan sehelai benang pun.

Tubuhnya yang sepenuhnya telanjang terpampang jelas di hadapan mata Arka.

Matanya terpejam rapat.

Wajah seputih saljunya tampak tenang.

Rambut panjang merahnya terurai ke bawah, menari perlahan tanpa hembusan angin.

Kulitnya lembut dan halus seperti bayi.

Pinggangnya ramping.

Kakinya lurus dan indah seperti pahatan giok.

Meski usianya masih muda, tubuh bagian atasnya telah mulai berkembang.

Payudaranya yang seputih salju tampak seperti sepasang mutiara giok di tubuhnya yang sempurna.

Pemandangan yang sungguh memesona.

Ini adalah tubuh yang belum sepenuhnya matang.

Namun dari ketidakdewasaan itu justru terpancar pesona yang mampu mencuri jiwa.

Seolah seluruh keindahan dunia dihimpun dalam tubuh sempurna ini.

1
Uswatun Hasanah
lanjutkan
Uswatun Hasanah
lanjut
Uswatun Hasanah
bagus... up
Jojo Shua
gasss
Sastra Aksara: Gasss terus 😄😄
total 1 replies
Oktafianto Gendut
alurnya kerennn
Sastra Aksara: Terimakasih kak. Terus Support yaa 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!