Di Medan tahun 2026, Rania Putri pendiri startup yang membantu UMKM dengan teknologi data terpaksa bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta yang dipimpin oleh Reza Aditya, mantan kekasihnya yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun lalu.
Pada awalnya, mereka hanya fokus pada pengembangan aplikasi "UMKM Connect", namun menemukan kode aneh dalam sistem yang menyimpan jejak masa lalunya. Saat menyelidiki asal usul kode tersebut, mereka mengungkap rahasia mengejutkan, perpisahan mereka dulu adalah rencana jahat dari Doni Pratama, mantan sahabat Rania yang mengambil alih bisnis keluarga dia.
Di tengah penyelidikan yang penuh kejadian lucu dan tantangan bisnis, rasa cinta lama mereka kembali muncul. Setelah berhasil membongkar kejahatan Doni dan mendapatkan dukungan pemerintah, mereka tidak hanya menyelesaikan proyek aplikasi yang bermanfaat bagi jutaan UMKM, tapi juga menemukan kesempatan kedua untuk cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 : Bubur Pedas dan Proposal Digital
Suara gerobak bakso yang melintas di gang kecil belakang Pasar Petisah sedikit mengganggu fokus Rania Putri saat dia mengetik baris-baris kalimat terakhir pada proposal proyek yang sudah menghabiskan waktu tiga bulan lamanya. Kertas-kertas bergelimpangan menutupi sebagian besar permukaan meja kayu tua yang biasanya digunakan neneknya untuk membuat adonan kue lapis pagi-pagi buta. Di sudut meja, sebuah mangkuk bubur pedas masih mengeluarkan uap panas—sisanya dari sarapan yang belum sempat dia habiskan karena terlalu fokus dengan pekerjaan.
“Rania, sayang, jangan terlalu lama duduk di depan laptopnya ya,” suara lembut Nenek Siti Aminah terdengar dari arah dapur, diikuti dengan desisan kompor yang baru saja dinyalakan. “Kalau badan capek, bubur pedasnya bakal jadi tidak nikmat ketika kamu mau makan lagi.”
Rania menghela napas perlahan, menyimpan tangan yang sudah mulai terasa kaku dari mengetik terus-menerus. Dia menoleh ke arah dapur yang hanya dipisahkan oleh tirai kain batik merah tua yang sudah dipakai sejak dia masih kecil. Dari celah tirai, dia bisa melihat sosok neneknya yang sedang menyiapkan bahan untuk membuat kue lapis—tangan yang keriput tapi tetap lincah sedang mencampur tepung beras dengan santan yang masih hangat.
“Iya, Nenek,” jawab Rania sambil menyegarkan layar laptopnya. “Cuma tinggal sedikit lagi nih. Proposalnya harus saya kirim sebelum jam sebelas siang kalau tidak ketinggalan tenggat waktu.”
Nenek mengangguk tanpa menoleh, sambil mengocok wadah berisi campuran adonan dengan gerakan yang teratur. “Pekerjaan penting memang harus diselesaikan, tapi jangan sampai melupakan kesehatanmu ya, nak. Ayahmu dulu juga suka terlalu fokus dengan usahanya sampai lupa makan—itu yang membuat badan nya tidak kuat.”
Rania terdiam sejenak, menyentuh foto kecil yang terpampang di sudut meja—foto dirinya bersama ayah dan ibu pada hari ulang tahunnya yang ke sepuluh. Wajah ayahnya yang selalu tersenyum hangat seolah masih bisa dia rasakan hangatnya di dalam ingatan. Sudah lima belas tahun sejak ayahnya meninggal karena penyakit hati, dan sejak saat itu dia dan ibu serta neneknya harus bekerja sama mengelola warung makan kecil yang sudah berdiri sejak tahun 1987.
“Gapapa, Nenek,” ujar Rania dengan nada yang mencoba tetap ceria. “Saya sudah makan bubur pedasnya tadi, kan? Dan juga minum air putih banyak-banyak seperti yang kamu suruh.”
“Hem, kalau begitu ya baiklah,” ucap neneknya sambil mengambil mangkuk berisi adonan untuk dituang ke dalam loyang. “Tadi pagi ada pembeli dari Jakarta yang datang beli bubur pedas sebanyak lima wadah lho. Katanya mau dibawa sebagai oleh-oleh untuk rekan kerjanya. Katanya bubur pedas kita lebih enak dari yang dijual di sana.”
Rania tersenyum mendengarnya. Warung makan keluarga yang bernama “Warung Nenek Aminah” memang sudah terkenal di kawasan Pasar Petisah bahkan hingga luar daerah. Resep bubur pedas yang diwariskan dari kakek buyutnya memiliki cita rasa yang khas—tidak terlalu pedas tapi penuh dengan aroma rempah yang menggugah selera. Selain bubur pedas, mereka juga menjual kue lapis khas Medan yang selalu laris manis terutama saat hari raya atau acara khusus.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, mereka mulai menghadapi tantangan yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Persaingan dengan warung makan baru yang lebih modern dan memiliki kemudahan akses online membuat penjualan mereka sedikit menurun. Banyak pelanggan muda yang lebih memilih memesan makanan melalui aplikasi pesan antar daripada datang langsung ke warung. Bahkan beberapa pelanggan lama yang sudah tidak muda lagi juga mulai mengikuti tren tersebut karena dianggap lebih praktis.
Itulah mengapa Rania yang lulus dari Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sumatera Utara dengan nilai terbaik memutuskan untuk mendirikan startup kecil bernama “Nusantara Analytics”. Dia ingin menggunakan keahliannya dalam bidang data dan teknologi untuk membantu UMKM seperti warung keluarga nya agar tidak tergeser oleh perkembangan zaman. Setelah tiga tahun bekerja keras dan mendapatkan dukungan dari beberapa teman sekampus, akhirnya dia mendapatkan kesempatan untuk mengajukan proposal proyek aplikasi yang bisa membantu ribuan UMKM di Provinsi Sumatera Utara.
Proposal tersebut berjudul “UMKM Connect: Platform Digital untuk Meningkatkan Produktivitas dan Pemasaran Usaha Kecil dan Menengah”. Ide dasarnya adalah membuat aplikasi yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana pemesanan makanan atau produk, tapi juga menyediakan analisis data tentang tren pasar, perilaku konsumen, serta strategi pemasaran yang sesuai dengan kondisi lokal. Rania yakin bahwa dengan adanya aplikasi seperti ini, UMKM tidak hanya bisa bersaing dengan bisnis besar tapi juga bisa lebih mudah mengakses pasar yang lebih luas.
“Rania, tolong ambilkan saja mangkuk besar dari lemari atas ya,” panggil neneknya dari dapur. “Aku mau menaruh adonan kue lapis yang sudah siap dipanggang.”
Rania segera berdiri dan menuju dapur, meninggalkan laptopnya yang masih menampilkan halaman terakhir proposalnya. Di dapur yang tidak terlalu luas namun selalu terlihat rapi, dia mengambil mangkuk besar dari rak paling atas yang biasanya hanya digunakan untuk acara besar. Saat dia hendak kembali ke meja kerjanya, matanya tertuju pada rak dinding yang dipenuhi dengan foto-foto kenangan keluarga—mulai dari foto neneknya yang masih muda bersama kakeknya, foto ayah dan ibu pada hari pernikahan mereka, hingga foto dirinya yang masih kecil sedang belajar membuat kue lapis bersama neneknya.
“Nenek,” ucap Rania pelan sambil masih melihat foto-foto tersebut. “Kalau nanti ada aplikasi yang bisa bantu warung kita lebih dikenal lagi dan penjualannya meningkat, kamu akan setuju kan?”
Neneknya menoleh dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan. “Tentu saja nak. Aku selalu mendukung apa saja yang kamu lakukan untuk kebaikan keluarga dan warung kita ini. Cuma ingat ya, jangan sampai teknologi membuat kita melupakan akar kita ya. Bubur pedas yang enak bukan hanya karena resepnya yang baik, tapi juga karena dibuat dengan hati yang tulus.”
Rania mengangguk dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Dia tahu betul bahwa pesan neneknya bukan hanya tentang membuat makanan, tapi juga tentang menjalani hidup dan berbisnis dengan prinsip yang baik. Itulah mengapa dia sangat berhati-hati dalam merancang aplikasi tersebut—dia tidak ingin membuat sesuatu yang hanya mengejar keuntungan semata tanpa memperhatikan kebutuhan sebenarnya dari para pelaku UMKM.
Setelah menyerahkan mangkuk besar kepada neneknya, Rania kembali ke meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya. Dia membaca ulang setiap kalimat dalam proposal dengan seksama, memastikan tidak ada kesalahan baik dalam hal konten maupun tata bahasa. Setiap bagian proposal—mulai dari latar belakang masalah, tujuan proyek, metodologi pengembangan, hingga perkiraan anggaran dan manfaat yang akan diperoleh—sudah dia susun dengan sangat cermat berdasarkan riset yang dilakukan selama beberapa bulan.
Setelah merasa puas, Rania mulai memeriksa lampiran-lampiran yang harus disertakan bersama proposal—di antaranya adalah data riset tentang kondisi UMKM di Sumatera Utara, surat dukungan dari beberapa pelaku UMKM yang sudah bersedia menjadi uji coba awal, serta portofolio kerja dari timnya yang terdiri dari tiga orang teman sekampusnya: Siti Nurhaliza sebagai desainer grafis, Budi Santoso sebagai programmer utama, dan Rina Dewi sebagai ahli bisnis.
“Sudah siap belum, Rania?” suara Siti terdengar dari luar pintu gerbang warung. Rania segera berdiri dan membuka pintu, melihat Siti yang sedang turun dari motornya dengan tas ransel besar di pundaknya. Siti selalu datang ke warung setiap pagi untuk membantu Rania menyelesaikan pekerjaan terkait startup mereka.
“Sudah hampir selesai,” jawab Rania dengan senyum. “Cuma tinggal mengecek beberapa lampiran saja. Kamu sudah bawa draft desain aplikasi yang kita bahas kemarin?”
“Tentu saja,” ucap Siti sambil masuk ke dalam warung dan langsung duduk di kursi kayu yang sudah disiapkan khusus untuk mereka. “Aku sudah menyempurnakan desain antarmuka pengguna agar lebih mudah digunakan oleh orang-orang yang mungkin belum terlalu mahir dengan teknologi. Kamu bisa lihat nanti ya setelah proposalnya selesai.”
Rania mengangguk dan kembali duduk di depan laptopnya. Dia memasukkan semua berkas ke dalam satu folder digital dan memeriksa kembali kelengkapan nya. Jam di sudut kanan layar laptopnya menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas—dia masih punya waktu kurang dari satu jam untuk mengirim proposal tersebut sebelum tenggat waktu berakhir pukul sebelas siang.
Setelah merasa benar-benar siap, Rania mengklik tombol “Kirim” pada layar laptopnya. Sebuah pesan konfirmasi muncul dengan tulisan “Proposal berhasil dikirim ke Direktorat Jenderal Koperasi dan UMKM Kementerian Koperasi dan UKM Republik Indonesia”. Rania menghela napas lega dan bersandar ke sandaran kursinya, merasakan rasa kepuasan yang luar biasa setelah menghabiskan waktu begitu lama untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
“Alhamdulillah, sudah terkirim,” ucap Rania sambil melihat ke arah Siti yang sedang membuka laptopnya sendiri. “Sekarang kita hanya bisa menunggu kabar saja ya.”
Siti tersenyum dan mengangguk. “Semoga saja mereka menyukai proposal kita. Kalau bisa diterima, ini akan menjadi langkah besar untuk kita dan juga untuk semua UMKM di Sumatera Utara.”
Rania mengangguk dengan penuh harapan. Dia tahu bahwa persaingan akan sangat ketat karena pasti ada banyak perusahaan atau startup lain yang juga mengajukan proposal serupa. Namun, dia percaya bahwa proposal mereka memiliki nilai tambah yang berbeda karena fokus pada kebutuhan lokal dan didukung oleh data riset yang mendalam.
Saat itu, suara telepon genggam Rania mulai berdering. Nomor yang muncul di layar adalah nomor kantor Direktorat Jenderal Koperasi dan UMKM yang baru saja dia kirimi proposal. Jantung Rania berdebar kencang saat dia mengangkat panggilan tersebut.
“Assalamualaikum, bu Rania Putri?” suara pria yang terdengar cukup muda datang dari ujung telepon.
“Wa’alaikumussalam, iya betul. Siapa saya bisa bantu?” jawab Rania dengan nada yang mencoba tetap tenang.
“Perkenalkan saya Bapak Rio Pratama dari bagian evaluasi proposal Direktorat Jenderal Koperasi dan UMKM. Saya menelepon karena ingin memberikan informasi terkait proposal yang Bapak/Ibu kirimkan tadi pagi.”
Rania merasa napasnya terhenti sejenak. Dia melihat ke arah Siti yang juga sudah berhenti bekerja dan memperhatikan pembicaraannya dengan wajah penuh dengan kekhawatiran dan harapan.
“Ya, pak. Silakan saja,” jawab Rania dengan suara yang sedikit menggigil.
“Baik, bu. Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa proposal yang Bapak/Ibu kirimkan sangat menarik dan memiliki konten yang sangat baik. Tim evaluasi kami sangat menyukai ide dan metodologi yang diusulkan dalam proposal tersebut.”
Rania merasa seperti ada batu besar yang terangkat dari dadanya. Dia melihat ke arah Siti yang sudah mulai tersenyum lebar dan mengangkat tangan untuk memberikan sinyal semangat.
“Namun,” sambung Bapak Rio dengan nada yang sedikit berubah, membuat hati Rania kembali tertekan. “Kami memiliki kabar baik dan juga kabar yang mungkin perlu Bapak/Ibu pertimbangkan dengan matang.”
“Baik pak, silakan saya dengar saja,” jawab Rania dengan tetap menjaga ketenangan.
“Kabar baiknya adalah proposal Bapak/Ibu telah lolos tahap pertama evaluasi dan kami sangat tertarik untuk melanjutkan pengembangan proyek ini. Namun, untuk memastikan proyek berjalan dengan baik dan dapat memberikan manfaat yang maksimal, kami telah memutuskan untuk menggabungkan proyek ini dengan proyek serupa yang diajukan oleh perusahaan teknologi besar dari Jakarta bernama ‘Inovasi Nusantara’.”
Rania merasa sedikit terkejut mendengarnya. Dia tidak pernah menyangka bahwa proposal mereka akan digabungkan dengan perusahaan lain, apalagi perusahaan besar dari Jakarta yang mungkin memiliki sumber daya jauh lebih banyak daripada startup kecil mereka.
“Maaf pak, maksudnya bagaimana ya menggabungkan proyek ini?” tanya Rania dengan suara yang jelas menunjukkan kekhawatirannya.
“Artinya, Bapak/Ibu akan bekerja sama dengan tim dari ‘Inovasi Nusantara’ dalam mengembangkan aplikasi tersebut. Perusahaan mereka memiliki keahlian dalam pengembangan teknologi skala besar, sementara Bapak/Ibu memiliki pemahaman yang mendalam tentang kondisi UMKM di daerah. Kami yakin bahwa kolaborasi antara kedua pihak ini akan menghasilkan proyek yang jauh lebih baik dan bermanfaat.”
Rania terdiam sejenak memikirkan hal tersebut. Di satu sisi, dia merasa senang karena proposal mereka diterima dan akan mendapatkan dukungan dari perusahaan besar. Namun, di sisi lain, dia juga khawatir bahwa startup kecil mereka akan tergeser atau bahkan tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan terkait proyek tersebut.
“Tapi pak, bagaimana dengan kontrol atas proyek ini? Apakah kami masih akan memiliki peran penting dalam pengembangannya?” tanya Rania dengan jujur.
“Tentu saja bu,” jawab Bapak Rio dengan suara yang menenangkan. “Kami telah membuat kesepakatan dengan pihak ‘Inovasi Nusantara’ bahwa kedua tim akan memiliki posisi yang sama dalam pengembangan proyek ini. Anda akan menjadi pemimpin dari sisi pengembangan aplikasi untuk kebutuhan lokal, sementara pihak mereka akan menangani bagian teknologi dan skalabilitas proyek.”
Rania mengangguk perlahan meskipun Bapak Rio tidak bisa melihatnya. Dia tahu bahwa ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh dia lewatkan, meskipun harus bekerja sama dengan perusahaan besar yang mungkin memiliki cara kerja yang berbeda dengan mereka.
“Baik pak, saya setuju dengan kolaborasi ini,” jawab Rania dengan tegas. “Kapan kita bisa mulai bekerja sama dan bertemu dengan tim dari ‘Inovasi Nusantara’?”
“Kita akan mengadakan rapat koordinasi awal pada hari Rabu depan pukul sepuluh pagi di kantor Direktorat Jenderal di Jalan Merdeka Barat Jakarta. Saya akan mengirimkan undangan resmi beserta nama-nama anggota tim dari ‘Inovasi Nusantara’ melalui email dalam waktu dekat. Mohon untuk datang tepat waktu ya bu.”
“Baik pak, saya akan datang,” jawab Rania. “Terima kasih banyak atas kesempatan ini.”
“Sama-sama bu. Semoga kolaborasi ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan UMKM di Indonesia,” ucap Bapak Rio sebelum mengakhiri panggilan.
Rania menutup telepon genggamnya dan melihat ke arah Siti dengan wajah yang penuh dengan campuran emosi—senang, khawatir, tapi juga penuh semangat.
“Bagaimana? Apa kabarnya?” tanya Siti dengan penuh rasa ingin tahu.
Rania menghela napas dan mulai menjelaskan apa yang telah disampaikan oleh Bapak Rio. Siti mendengarkan dengan saksama, terkadang mengangguk atau mengeluarkan suara heran sesuai dengan apa yang dia sampaikan.
“Jadi kita harus bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta ya?” ucap Siti setelah Rania selesai menjelaskan. “Walaupun sedikit takut, tapi saya rasa ini adalah kesempatan yang baik untuk kita. Kita bisa belajar banyak dari mereka dan juga menunjukkan bahwa kita dari daerah juga bisa berkontribusi besar dalam pengembangan teknologi.”
Rania tersenyum mendengar kata-kata semangat dari Siti. Dia tahu bahwa teman sekampusnya ini selalu menjadi sumber kekuatan bagi dia. “Kamu benar Siti. Kita harus melihat sisi positifnya saja. Selain itu, dengan kolaborasi ini, aplikasi yang kita kembangkan akan bisa menjangkau lebih banyak UMKM dan memberikan manfaat yang lebih besar.”
Saat itu, Nenek Siti Aminah keluar dari dapur dengan mangkuk berisi kue lapis yang baru saja dipanggang dan masih hangat. “Kenapa kalian berdua diam-diam saja ya? Ada apa nih?” tanya neneknya dengan wajah yang penuh dengan perhatian.
Rania segera berdiri dan membantu neneknya meletakkan mangkuk di atas meja. “Tidak ada apa-apa Nenek. Cuma dapat kabar bahwa proposal aplikasi kita sudah diterima, tapi harus bekerja sama dengan perusahaan besar dari Jakarta saja.”
Neneknya mengangguk dengan senyum hangat. “Itu kabar baik dong nak. Kalau perlu bekerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuan yang baik, maka itu adalah hal yang benar. Ingat ya, kerja sama itu seperti memasak bubur pedas—butuh berbagai macam bahan yang berbeda untuk menghasilkan rasa yang lezat.”
Rania dan Siti saling melihat dan kemudian tertawa mendengar perumpamaan lucu namun penuh makna dari neneknya. Ya, mereka tahu bahwa kolaborasi ini akan menjadi tantangan besar bagi mereka, tapi mereka juga percaya bahwa dengan kerja sama yang baik dan semangat yang kuat, mereka akan bisa menghasilkan sesuatu yang luar biasa.
Setelah itu, Rania kembali duduk di depan laptopnya dan membuka email yang baru saja masuk dari Bapak Rio. Di dalamnya terdapat undangan resmi untuk rapat koordinasi serta daftar nama anggota tim dari “Inovasi Nusantara”. Dia menggulir layar perlahan, membaca satu per satu nama yang tercantum—nama-nama yang sebagian besar dia tidak kenal, hingga matanya berhenti pada satu baris teks yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
“Ketua Tim & CEO: Reza Aditya”
Keringat mulai muncul di dahinya meskipun ruangan tidak terlalu panas. Jari jemari nya tidak sengaja menyentuh tulisan nama itu seperti ingin memastikan bahwa dia tidak salah baca. Reza Aditya—nama yang sudah tidak terdengar selama sepuluh tahun lamanya, nama yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya, nama yang dia coba usir dari ingatan namun selalu muncul kembali setiap kali dia melihat sesuatu yang mengingatkannya pada masa muda.
“Sial,” bisik Rania pelan, membuat Siti yang sedang menikmati kue lapis menoleh padanya dengan wajah khawatir.
“Kenapa Rania? Ada apa dengan emailnya?” tanya Siti, mendekat untuk melihat apa yang sedang dilihat Rania di layar laptop.
Rania tidak bisa menjawab, hanya bisa menunjuk ke arah nama yang tercantum di dalam email. Siti membacanya dan kemudian menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut. “Reza Aditya? Bukankah dia—”
“Ya,” potong Rania dengan suara yang sedikit bergetar. “Mantan pacarku yang menghilang tanpa kabar sepuluh tahun yang lalu.”
Siti terdiam sejenak, tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu cerita tentang Reza—bagaimana mereka bertemu di kampus, bagaimana hubungan mereka begitu erat hingga hampir membicarakan pernikahan, hingga satu hari Reza menghilang tanpa memberikan penjelasan apapun. Rania tidak pernah banyak berbicara tentang hal itu, tapi Siti tahu bahwa perpisahan tersebut meninggalkan luka dalam hati temannya yang terbaik.
“Kamu masih kuat untuk bekerja sama dengan dia kan, Rania?” tanya Siti dengan lembut.
Rania menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Dia melihat ke arah jendela warung, di mana pelanggan mulai datang satu per satu untuk membeli bubur pedas atau kue lapis. Suara tawa dan pembicaraan mereka terdengar seperti kebisingan yang jauh, sementara pikirannya hanya terpaku pada satu nama: Reza Aditya.
Bagaimana mungkin dia harus bekerja sama dengan orang yang telah menyakitinya begitu dalam? Bagaimana mungkin dia harus melihat wajahnya lagi setelah semua yang telah terjadi? Rania merasa ingin membatalkan semua ini—membatalkan kolaborasi, membatalkan proposal, bahkan membatalkan startup nya sendiri. Tapi dia tahu dia tidak bisa melakukannya. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk neneknya, untuk warung keluarga, dan untuk semua UMKM yang menunggu bantuan dari aplikasi tersebut.
“Ya,” jawab Rania akhirnya dengan suara yang lebih tegas. “Aku bisa melakukannya. Ini bukan tentang aku atau dia—ini tentang pekerjaan yang harus kita selesaikan.”
Meskipun begitu, dia tahu bahwa tidak akan mudah. Setiap kenangan tentang Reza mulai muncul kembali seperti aliran sungai yang tidak bisa dihentikan—momen pertama mereka bertemu di halaman kampus saat dia sedang kesusahan mengangkat kotak buku yang banyak, momen mereka pertama kali berjalan bersama di tepi Sungai Deli menyaksikan matahari terbenam, momen dia memberinya cincin gelang perak yang dia buat sendiri sebagai hadiah ulang tahun. Semua kenangan itu yang dulu penuh dengan kebahagiaan kini terasa seperti duri yang menusuk hati nya.
“Kamu tahu kan, kalau kamu merasa tidak kuat, kita bisa mencari cara lain,” ucap Siti sambil menepuk bahu Rania dengan penuh perhatian. “Kita tidak harus melakukan ini kalau itu akan menyakitimu lagi.”
Rania menggelengkan kepala dengan lembut. “Tidak bisa, Siti. Ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki. Kita tidak bisa menyerah hanya karena alasan pribadi. Selain itu,” tambahnya dengan napas dalam, “mungkin ini adalah kesempatan bagiku untuk mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang selama ini belum terjawab.”
Siti mengangguk dengan pengertian. Dia tahu bahwa Rania selalu merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perpisahan mereka dulu. Reza tidak mungkin menghilang begitu saja tanpa alasan—dia adalah orang yang penuh dengan tanggung jawab dan selalu menjelaskan setiap keputusannya dengan jelas. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik perpisahan itu, dan mungkin sekarang adalah saatnya bagi Rania untuk mengetahui kebenarannya.
“Baiklah,” ucap Siti dengan senyum mendukung. “Kalau begitu kita akan siap-siap saja ya. Kita akan datang ke Jakarta pada hari Rabu dan menghadapi apa pun yang akan terjadi.”
Rania mengangguk dan kembali melihat ke arah layar laptopnya. Nama Reza Aditya masih terlihat jelas di sana, seperti tantangan yang harus dia hadapi. Dia mengambil napas dalam-dalam dan mulai mencatat jadwal rapat di agenda digital nya. Meskipun hati nya masih merasa gelisah dan takut, dia juga merasakan sedikit rasa ingin tahu—ingin tahu bagaimana kehidupan Reza selama sepuluh tahun ini, ingin tahu apa yang membuatnya menghilang begitu saja, dan ingin tahu apakah mungkin mereka bisa bekerja sama sebagai orang dewasa yang sudah tumbuh dari masa lalunya.
Saat itu, pelanggan yang baru saja masuk ke warung memanggilnya. “Bu, mau pesan dua porsi bubur pedas ya—satu tingkat pedas sedang, satu lagi tidak pedas sama sekali ya.”
Rania segera berdiri dan menghampiri pelanggan dengan senyum yang mungkin tidak terlalu meyakinkan tapi cukup untuk menunjukkan bahwa dia siap melayani. Dia mengambil mangkuk dan sendok, mulai menyiapkan bubur pedas dengan gerakan yang sudah dia lakukan ribuan kali sebelumnya. Saat mencampur bahan-bahan tersebut, dia mengingat kata-kata neneknya tadi—bahwa kerja sama seperti memasak bubur pedas, butuh berbagai bahan berbeda untuk menghasilkan rasa yang lezat.
Mungkin itu benar. Mungkin dengan bekerja sama dengan Reza, meskipun mereka adalah dua orang dengan masa lalu yang kompleks, mereka bisa menghasilkan sesuatu yang indah dan bermanfaat bagi banyak orang. Hanya saja, dia tidak tahu apakah hati nya cukup kuat untuk menghadapi semua yang akan datang.
Setelah melayani pelanggan tersebut, Rania kembali ke meja kerjanya dan melihat ke arah foto kecil ayahnya yang terpampang di sudut meja. Wajah ayahnya yang tersenyum seolah memberikan semangat padanya. “Aku akan melakukan yang terbaik, Ayah,” bisiknya pelan. “Aku tidak akan menyerah begitu saja.”
Di belakangnya, neneknya sedang memasang spanduk baru di depan warung dengan tulisan besar: “Warung Nenek Aminah – Sekarang Bisa Dipesan Lewat Aplikasi Nanti!” Rania tersenyum melihatnya. Baiklah, pikirnya. Apa pun yang akan terjadi di Jakarta pada hari Rabu depan, dia akan menghadapinya dengan kepala tegak dan hati yang siap. Karena dia tahu bahwa dia tidak sendirian—dia memiliki keluarga, teman, dan semua pelaku UMKM yang mengharapkan yang terbaik dari mereka.
Malam itu, Rania tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus terganggu oleh nama Reza Aditya dan semua kemungkinan yang akan terjadi saat mereka bertemu lagi. Dia membuka lemari bawah tempat dia menyimpan barang-barang lama, mengambil sebuah kotak kayu kecil yang sudah sedikit lapuk. Di dalamnya terdapat cincin gelang perak yang pernah diberikan Reza padanya—masih dalam kondisi baik meskipun sudah sepuluh tahun tidak dikenakan.
Dia menyentuh cincin tersebut dengan lembut, merasakan tekstur permukaannya yang sedikit kasar akibat proses pembuatan tangan. Semua kenangan tentang Reza kembali muncul dengan jelas, membuat matanya berkaca-kaca. Tapi kali ini, rasa sakit yang biasanya muncul tidak lagi dominan—digantikan oleh rasa penasaran dan sedikit harapan bahwa mungkin saja ada alasan yang sah mengapa Reza harus pergi saat itu.
“Semoga saja kita bisa menyelesaikan semua ini dengan baik,” bisiknya sebelum menutup kotak kayu dan menyimpannya kembali ke tempatnya. Dia mematikan lampu dan mencoba untuk tidur, meskipun dia tahu bahwa mimpi nya malam ini pasti akan dipenuhi dengan bayangan wajah Reza yang sudah lama tidak dia lihat.
Hari Rabu depan semakin dekat, dan dengan setiap detik yang berlalu, Rania merasa semakin siap untuk menghadapi masa lalunya yang telah lama tersembunyi di balik tirai waktu.