Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!
Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Valerie menarik napas panjang saat taksi meninggalkan pelataran hotel bintang tiga yang nampak sederhana itu. Dengan tenaga yang tersisa, ia memapah tubuh pria asing yang terasa semakin berat dan panas menuju meja resepsionis.
Setelah proses administrasi yang singkat, mereka akhirnya sampai di depan kamar bernomor 120.
Begitu pintu terbuka, Valerie menuntun pria itu masuk dan merebahkannya di atas single bed yang untungnya berukuran cukup besar.
Namun, saat Valerie hendak berdiri untuk menjauh, sebuah tarikan kuat di lengannya membuat ia kehilangan keseimbangan.
"A-akh!"
Tubuh ramping Valerie terhuyung dan jatuh tepat di atas dada bidang pria itu. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Valerie bisa merasakan detak jantung pria itu yang berpacu liar, seirama dengan miliknya yang kini sudah tidak karuan.
Mata cokelat pria itu menatapnya dengan lapar, sebuah tatapan predator yang sudah kehilangan akal sehat akibat pengaruh obat.
Di bawah sana, Valerie merasakan sesuatu yang mengeras—sebuah tanda bahwa pria ini sudah berada di ambang batas pertahanannya.
Valerie menelan ludah, mencoba menguasai kegugupan yang luar biasa. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya ia berada dalam posisi seintim ini dengan seorang pria.
Namun, otaknya yang encer segera mengambil alih. Ia tidak boleh kalah.
"Tunggu dulu..." bisik Valerie dengan suara yang dibuat sedayu dan menggoda mungkin tepat di depan wajah pria itu. "Aku haus sekali. Biarkan aku minum sebentar, setelah itu aku akan kembali padamu."
Ia memberikan senyum tipis yang memikat. "Sambil menungguku, kenapa kau tidak buka dulu bajumu? Hmm?"
Pria yang kesadarannya sudah hampir habis itu hanya bisa mengangguk pasrah. "Cepatlah kembali... aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi," gumamnya dengan suara serak.
Valerie bangkit dengan perlahan, merasakan hembusan napas lega saat cengkeraman pria itu terlepas. Ia melangkah menuju nakas di pojok ruangan, tempat dua botol air mineral disediakan oleh pihak hotel.
Di belakangnya, terdengar suara gesekan kain saat pria itu mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang kokoh di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.
Sementara itu, tangan Valerie bergerak cepat membuka bungkusan obat tidur dari apotek tadi, siap untuk mencampurkannya ke dalam botol air mineral.
Pemandangan di atas kasur itu sungguh menguji pertahanan Valerie. Cahaya lampu kamar yang remang menyoroti lekuk otot perut pria itu yang sempurna, berpadu dengan kulit yang sedikit berkeringat.
Valerie tertegun, pandangannya sempat terkunci pada bagian bawah yang tampak begitu menonjol di balik boxer ketat pria itu.
"Sial, pria ini sangat menggoda," gumam Valerie dalam hati. Ia menggigit bibir bawahnya, merasakan desiran aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, Valerie adalah gadis yang logis. Ia segera menggeleng pelan, mengusir pikiran kotor yang mulai merayap, dan kembali fokus pada misinya.
Ia meletakkan tas selempang mahalnya di atas nakas dengan anggun, lalu duduk di tepi ranjang, tepat di samping pria yang kini menatapnya dengan pandangan yang semakin menggelap.
"Nampaknya kau juga kehausan, kan? Minumlah dulu," ucap Valerie dengan nada lembut yang menenangkan, sambil menyodorkan botol air mineral yang sudah "diracik" tadi.
Pria itu berusaha bangkit untuk duduk, meski gerakannya tampak agak berat. Ia menatap Valerie sejenak, ada binar terima kasih di matanya yang sayu. "Terima kasih... aku memang sangat haus," suaranya terdengar sangat parau.
Tanpa curiga sedikit pun, pria itu menerima botol tersebut. Ia meneguknya dengan rakus, seolah air itu adalah satu-satunya hal yang bisa mendinginkan suhu tubuhnya yang membara. Valerie memperhatikan jakun pria itu yang naik turun saat menelan air sampai tetes terakhir.
Tandas.
Valerie menghela napas panjang dalam hati. Umpannya sudah dimakan. Sekarang, ia hanya perlu menunggu beberapa saat sampai obat tidur dosis tinggi itu bekerja dan menumbangkan sang predator yang ada di depannya.
"Sekarang... kemarilah," gumam pria itu pelan setelah meletakkan botol kosong ke lantai, sambil kembali merentangkan tangannya ke arah Valerie.
Valerie menahan napas, menghitung detik demi detik di dalam kepalanya. Ia berharap obat tidur dosis tinggi itu segera menyerang sistem saraf sang pria sebelum situasi ini melangkah terlalu jauh.
Namun, untuk sekarang, ia harus benar-benar totalitas dalam perannya. Jika ia menolak terlalu keras, pria ini mungkin akan curiga.
Valerie merangkak naik ke atas kasur, memposisikan dirinya lebih rapat. Tanpa menunggu aba-aba, pria itu seolah mendapatkan tambahan energi terakhirnya. Ia mendorong tubuh Valerie hingga gadis itu jatuh terlentang di atas sprei putih yang dingin.
"Akh—"
Pria itu langsung menindihnya, mengunci kedua pergelangan tangan Valerie di atas kepala dengan satu tangan yang terasa seperti borgol besi.
Detik berikutnya, ia langsung melumat bibir Valerie dengan penuh gairah yang tak tertahankan. Valerie memejamkan mata rapat-rapat, mencoba tetap tenang dan bersabar di tengah badai ciuman yang menghantamnya.
Dari bibir, pria itu mulai turun, membenamkan wajahnya di ceruk leher jenjang Valerie. Deru napas panasnya membakar kulit Valerie, sementara kecupan-kecupan basah itu membuat jantung Valerie seakan sedang berdisko dengan irama yang kacau.
Valerie tercekat. Rasa asing yang menggelitik sekaligus mengintimidasi ini hampir membuatnya kehilangan kendali. Kedua tangannya meremas sprei hotel dengan kuat, mencoba mencari pegangan agar kewarasannya tidak ikut tenggelam dalam permainan yang ia buat sendiri.
"Sebentar lagi... sebentar lagi dia akan tumbang," batin Valerie menyemangati dirinya sendiri, meski tubuhnya gemetar hebat di bawah kuasa pria misterius itu.
Tiba-tiba, gerakan pria itu mulai melambat. Ciumannya di leher Valerie tidak lagi seintens tadi.
Kepalanya terasa semakin berat di bahu Valerie, dan deru napasnya yang semula memburu perlahan berubah menjadi hembusan napas yang panjang dan dalam.
Rencana Valerie berhasil! Pria itu mulai kehilangan kesadarannya tepat di atas tubuh Valerie.
Suasana kamar yang tadinya panas dan penuh gejolak seketika berubah sunyi, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan deru napas teratur dari pria yang kini sudah terlelap total.
Kepala pria itu terkulai lemas di atas kasur, tepat di posisi Valerie berbaring tadi. Obat tidur dosis tinggi itu rupanya bekerja tepat pada waktunya.
Valerie menahan napas sejenak, memastikan pria di sampingnya tidak akan terbangun dalam waktu dekat.
Tubuhnya terasa pegal karena harus menahan bobot tubuh pria yang jauh lebih besar darinya. Dengan sekuat tenaga, ia menyikut dan menggeser tubuh pria itu hingga benar-benar telentang di atas sprei.
Bruk.
Begitu berhasil membebaskan diri, Valerie segera bangkit dan duduk di tepi ranjang. Ia menghembuskan napas dengan kasar, mencoba membuang sisa-sisa ketegangan yang masih menyangkut di dadanya.
"Gila... benar-benar gila," gumam Valerie sambil merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.
Ia menyeka lehernya yang masih terasa basah dan panas akibat ciuman pria tadi. Jantungnya masih berdegup lebih kencang dari biasanya.
Valerie menoleh, menatap sosok yang kini nampak tak berdaya itu. Jika tidak ingat betapa berbahayanya situasi tadi, mungkin Valerie akan mengagumi betapa damainya wajah pria tampan itu saat sedang tidur.
Namun, naluri kewaspadaannya kini mengalahkan rasa terpesonanya.
Ia tidak mungkin membiarkan pria misterius ini tanpa tahu dia siapa dengan mudah merenggut kesuciannya—
Dia juga bahkan tidak tahu kenapa pria ini sedang dikejar-kejar segrombolan orang asing dan saat ini berakhir dengan obat perangsang.