menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
BAB 28: Retakan di Dinding Es
Berlin kembali dibalut kabut tipis musim gugur yang lembap. Di dalam sayap pribadi Kastil Hohenzollern, suasana yang biasanya sunyi dan kaku kini berubah menjadi lebih dinamis—atau lebih tepatnya, melelahkan bagi penghuninya. Pernikahan megah itu telah berlalu beberapa bulan, meninggalkan sisa-sisa kemegahan yang kini berganti dengan realitas domestik yang penuh intrik.
Sophia, yang kini memasuki trimester akhir kehamilannya, telah bertransformasi sepenuhnya. Jika dulu ia adalah wanita bisnis yang tajam dan tak tersentuh, kini ia adalah permaisuri yang manja dan sangat bergantung pada kehadiran Aurelius. Perutnya yang membesar menjadi simbol kekuasaan barunya di keluarga itu.
Sore itu, Aurelius sedang duduk di ruang kerja pribadinya, mencoba membedah laporan pasar Asia. Namun, konsentrasinya buyar setiap kali suara langkah kaki pelayan terdengar di koridor.
"Aurelius..." suara lembut Sophia memanggil dari arah pintu yang terbuka sedikit.
Aurelius menghela napas, menutup laptopnya, dan menoleh. Sophia masuk dengan gaun tidur sutra berwarna krem, wajahnya tampak lebih pucat namun matanya bersinar dengan binar yang aneh.
"Ada apa, Sophia? Aku sedang meninjau laporan tahunan," ucap Aurelius, suaranya berusaha tetap datar meski rasa lelah menggelayuti bahunya.
Sophia mendekat, tidak mempedulikan nada dingin suaminya. Ia duduk di lengan kursi Aurelius dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Aurelius, menghirup aroma maskulin yang selalu ia damba.
"Anakmu terus menendang sejak tadi pagi. Dia sepertinya merindukan ayahnya," bisik Sophia pelan. Ia mengambil tangan Aurelius dan meletakkannya di atas perutnya yang membuncit.
Aurelius membeku. Di bawah telapak tangannya, ia merasakan sebuah gerakan kecil—sebuah kehidupan yang nyata. Untuk sesaat, dinding es di hati Aurelius retak. Ini adalah darah dagingnya. Seorang manusia kecil yang tidak berdosa yang terjebak di tengah peperangan ego orang tuanya. Rasa haru yang asing menyelinap masuk, menusuk relung hatinya yang terdalam.
"Dia... dia sangat aktif," gumam Aurelius, suaranya sedikit melunak tanpa ia sadari.
Sophia tersenyum kemenangan. Ia mencium pipi Aurelius. "Aku ingin sesuatu, Aurelius. Sesuatu yang sangat spesifik."
Aurelius menarik napas panjang. "Apa lagi kali ini? Semalam kau meminta stroberi dari lereng pegunungan Alpen di jam dua pagi."
"Aku ingin kau membawakanku air laut dari pantai di Okinawa. Tapi aku ingin airnya masih terasa hangat saat sampai di sini," ucap Sophia dengan nada manja yang tidak menerima bantahan.
Aurelius mengerutkan kening. "Sophia, itu tidak masuk akal. Okinawa berjarak ribuan mil. Air itu akan dingin saat sampai, dan itu hanyalah air laut."
"Tapi bayi ini menginginkannya! Aku merasa haus akan aroma laut Jepang, Aurelius. Apakah kau tidak bisa melakukannya untukku?" Sophia mulai terisak kecil—sebuah taktik yang ia pelajari sangat efektif untuk menundukkan Aurelius belakangan ini.
Aurelius menatap langit-langit, menyerah. "Baiklah. Aku akan menyuruh Yoto mengirim jet pribadi ke Jepang hanya untuk mengambil sebotol air laut. Puas?"
Sophia bersorak kecil dan memeluk Aurelius lebih erat. Kemanjaan Sophia yang tanpa henti ini perlahan-lahan mulai "menembus" pertahanan Aurelius. Bukan karena ia mencintai Sophia, tapi karena ia mulai merasa bertanggung jawab atas beban yang dibawa wanita itu.
Ketegangan di kastil semakin meningkat dengan kedatangan tamu agung yang sudah lama tidak menginjakkan kaki di Berlin. Viktoria von Hohenzollern, ibu tiri Aurelius yang dikenal dengan kecantikan dingin dan kelicikannya, tiba bersama Elara.
Viktoria masuk ke aula utama dengan jubah bulu cerpelai putih, matanya yang berwarna abu-abu tajam langsung memindai setiap sudut ruangan. Di sampingnya, Elara tampak lebih dewasa namun matanya menyimpan kegelisahan.
"Berlin masih tetap membosankan seperti biasanya," suara Viktoria bergema, tajam seperti belati perak.
Maximilian menyambut istrinya dengan ciuman formal di tangan. "Selamat datang kembali, Viktoria. Kau tepat waktu untuk melihat calon pewaris kita."
Aurelius dan Sophia turun dari tangga besar untuk menyambut mereka. Begitu melihat Sophia, Viktoria memberikan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
"Ah, Sophia. Kau tampak... subur. Hati-hati dengan berat badanmu, keluarga Hohenzollern tidak menyukai sesuatu yang tidak proporsional," ucap Viktoria tanpa basa-basi.
Sophia menegang, namun ia segera memasang senyum aristokratnya. "Terima kasih atas sarannya, Ibu. Aurelius menjagaku dengan sangat baik. Dia bahkan mengirim jet ke Jepang hanya untuk memenuhi keinginanku."
Viktoria melirik Aurelius dengan tatapan menyelidik. Ia tahu betul siapa anak tirinya ini. Ia tahu Aurelius tidak mungkin berubah menjadi suami yang penyayang dalam semalam tanpa ada alasan di baliknya.
"Begitukah? Cinta memang bisa mengubah monster menjadi pelayan, ya?" sindir Viktoria.
Elara segera memotong sebelum suasana semakin keruh. "Kak Aurelius, kau terlihat... berbeda. Apakah kehidupan pernikahan benar-benar mengubahmu?"
Aurelius hanya memberikan anggukan kaku pada adiknya. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan, Elara."
Malam harinya, di meja makan panjang yang diterangi ribuan lilin, intrik keluarga dimulai. Viktoria duduk di seberang Aurelius, mengamati setiap gerakan anak tirinya itu.
"Aku mendengar kabar dari Tokyo," ucap Viktoria tiba-tiba, sambil memotong daging venison-nya dengan presisi. "Hana Asuka sepertinya sedang menikmati kehidupan pengantin barunya dengan sangat... berisik. Berita tentang kehamilan Sophia sepertinya tidak mengganggunya sama sekali."
Suasana di meja makan mendadak membeku. Aurelius meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras.
"Aku tidak tahu kau sangat tertarik pada gosip Timur Jauh, Ibu," sahut Aurelius, suaranya sedingin es.
"Oh, aku hanya tertarik pada aset kita di sana. Dan Hana Asuka adalah salah satu pemain kunci yang harus kita perhatikan," Viktoria tersenyum licik. "Tapi aku dengar suaminya, Kaito Tanaka, sedang mencari investor baru. Mungkin kita harus menawarkan bantuan?"
Sophia, yang merasa namanya terancam oleh penyebutan Hana, langsung menyela. "Kita tidak butuh berurusan dengan keluarga kelas dua seperti Asuka lagi, Viktoria. Kita sudah memiliki segalanya di sini."
Namun, perhatian Aurelius sudah teralih. Ia bisa merasakan dadanya berdenyut mendengar nama Hana disebut. Kehidupan Hana di Jepang—meskipun ia mencoba untuk tidak memikirkannya—tetap menjadi hantu di dalam pikirannya.
Ngidam Sophia menjadi semakin aneh malam itu. Di tengah jamuan makan malam, ia tiba-tiba berhenti makan dan menatap Aurelius dengan mata berkaca-kaca.
"Aurelius... aku ingin kau memotong rambutmu. Sekarang," pinta Sophia tiba-tiba.
Seluruh meja makan terdiam. Maximilian mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Sophia?"
"Aku tidak suka melihat rambut wolf cut ini lagi. Ini mengingatkanku pada masa-masa kau di Tokyo. Aku ingin kau terlihat seperti pria Jerman sejati. Potong pendek, rapi. Aku merasa mual setiap kali melihat helaian rambut ini menutupi matamu," ucap Sophia dengan nada menuntut yang histeris.
Aurelius mengepalkan tangannya di bawah meja. Rambut ini adalah satu-satunya identitas "Ren" yang tersisa. Ini adalah gaya rambut yang selalu dielus oleh Hana di bengkel dulu. Sophia sedang mencoba menghapus sisa-sisa terakhir dari Ren.
"Sophia, jangan konyol. Ini hanya rambut," ucap Aurelius rendah.
"TAPI AKU INGIN KAU MEMOTONGNYA! BAYI INI INGIN KAU MEMOTONGNYA!" teriak Sophia, mulai menangis tak terkendali.
Maximilian menatap Aurelius dengan tatapan memerintah. "Lakukan saja, Aurelius. Jangan biarkan istrimu stres di kondisi seperti ini. Itu hanya rambut."
Viktoria tersenyum tipis, menikmati drama yang terjadi di depannya. Elara menatap kakaknya dengan iba, tahu betul apa arti rambut itu bagi Aurelius.
Aurelius berdiri. Ia menatap Sophia yang menangis, lalu menatap ayahnya, dan terakhir ia melirik Viktoria yang tampak puas. Ia merasa terjepit di antara kewajiban, rasa bersalah atas janin itu, dan kebencian pada dirinya sendiri.
"Yoto," panggil Aurelius. "Bawa gunting ke kamarku."
Malam itu, di depan cermin besar, Aurelius membiarkan Yoto memotong helai demi helai rambutnya. Setiap bunyi gunting yang memotong rambutnya terasa seperti bunyi gergaji yang memotong benang memorinya dengan Hana.
Sophia berdiri di belakangnya, tersenyum puas saat melihat rambut Aurelius menjadi pendek dan rapi—gaya rambut militer yang kaku. Ia memeluk Aurelius dari belakang, mencium pundaknya yang tegang.
"Sekarang kau terlihat sempurna, Sayang. Sekarang kau benar-benar milikku," bisik Sophia.
Aurelius menatap pantulannya di cermin. Pria yang ada di cermin itu bukan lagi Ren. Ia adalah Aurelius Renzo von Hohenzollern sepenuhnya. Sosok mekanik yang penuh tawa di Tokyo telah terkubur di bawah potongan rambut di lantai marmer Berlin.
Di belahan bumi lain, di sebuah rumah mewah di Tokyo, Hana Asuka terbangun dari tidurnya dengan perasaan sesak di dada. Ia menyentuh dadanya, merasakan sebuah ikatan batin yang seolah terputus dengan paksa. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia cintai baru saja kehilangan bagian terakhir dari identitas lamanya demi memenuhi keinginan aneh seorang wanita yang sedang mengandung anaknya.