REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4
Rendy dan Linda
Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.
tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----
#mohon maaf masih pemula 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejujuran I
"Lanjutkan." perintah Linda yang sudah kembali ke mode normalnya.
"Linda. Di masa depan itu, aku menikah dengan Diana. Kamu menikah dengan... Darren William. Kalian hidup bahagia, punya dua anak yang tampan dan cantik." kata Rendy kembali mengambil jeda, menahan nafas, rasanya sedikit sesak di dadanya.
Linda tersenyum lembut, ia menganggukkan kepalanya, memberi tanda agar Rendy melanjutkan ceritanya.
"Aku merasa patah hati melihat kebahagiaan kalian. Aku merasa sesak melihat kamu berada di pelukan pria lain, bahkan kamu mengandung dan melahirkan anaknya. Aku merasa jadi orang yang gagal mempertahankan kamu di sisiku. Aku merasa sangat bodoh, aku begitu cuek dan tidak peduli sama kamu saat kita bertunangan padahal kamu selalu berusaha agar kita tetap bisa bersama. Aku sangat bodoh lebih percaya orang lain daripada kamu Linda. Tapi saat kamu pergi, saat kamu sudah menyerah, penyesalan datang kepadaku. Tapi aku terlambat, kamu sudah bahagia dengan Darren William." kata Rendy menatap nanar penuh luka penyesalan kearah Linda yang masih terdiam.
"Sayang?"
Rendy hendak menyentuh pipi Linda tapi wanitanya menghindarinya.
Sakit. Takut. Itu adalah perasaan yang muncul saat Linda menghindari uluran tangan Rendy. Apa Linda mulai membencinya?
Rendy tersenyum kecut. Dia menarik kembali tangannya. "Apa kamu mulai benci aku Linda?" tanya Rendy dengan nada sedikit bergetar.
"Rendy. Kenapa kamu tidak memilih Diana lagi?" tanya Linda yang masih menatap datar kearah Rendy.
"Aku tidak menyukainya. Aku tidak mencintainya. Aku suka kamu Linda bukan Diana. Aku mencintai kamu bukan Diana. Aku-"
"Lalu kenapa kamu menikah dengan Diana?"
Rendy kembali menahan nafas. Suara Linda terdengar dingin di telinganya. Bagaimana pun kesalnya Linda dengan Rendy, belum pernah nada bicara Linda sedingin ini.
Putra kedua Chandra itu kembali mengambil sebatang rokok dan menyalakannya, matanya menerawang jauh ingatan saat itu. "Akan aku ceritakan yang sebenarnya, Linda."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
_Masa Depan Diana dan Rendy_
Seorang gadis berparas cantik, berambut pirang berjalan dengan anggun menuju ruangan sebuah organisasi yang ada di sekolah ini.
Ia membuka cermin kecil di sakunya, menatap riasannya agar tidak terlihat jelek di mata pemuda yang sedang dekat dengannya. Seorang pemuda yang berhasil masuk ke dalam hatinya dan enggan pergi.
Cklek !
Pintu ruangan itu terbuka, membuat kegiatan beberapa orang yang berada di dalam berhenti. Sedetik kemudian mereka melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan kedatangan si gadis. Hal ini sudah biasa untuk mereka.
Tak jauh dari sana, di sudut meja panjang itu terlihat rupa Rendy yang tersenyum hangat akan kedatangan Diana. "Ada apa Diana?" tanya Rendy tersenyum ramah.
"Ibukku memasak lebih lagi hari ini. Jadi aku membawakan beberapa untukmu Rendy." jawab Diana lembut sembari menyerahkan kotak bekal yang sudah ia siapkan untuk pemuda ini.
"Apa setiap hari selalu kelebihan masak ya? Niat sekali." sindir Silvi tanpa berpaling dari laptopnya.
Damian menatap Silvi dengan pandangan mata yang seakan berbicara, mulai lagi deh.
"Bukan begitu Silvi. Tapi memang Ibukku memasak kadang agak banyak. Tapi lain kali aku bawakan buat kamu dan yang lain-"
"Gak usah !" sahut Silvi dengan wajah galak.
"Ah.. Maaf Silvi.." jawab Diana sedikit menunduk ketakutan.
Damian memperhatikan sepupunya, dia tidak percaya gadis itu sangat pandai berkamuflase, dia yakin saat ini Diana pasti sudah ingin menghajar Silvi tapi ada Rendy disini. Mana mungkin Diana yang terkenal lembut itu bisa menjadi gadis yang bar - bar. Lihat saja tangan mungil Diana yang mulai mengepal.
"Ren ! Lo itu udah tunangan sama Linda ! Tapi elu masih aja dekat begini sama Diana? Lo juga Diana, lo gak malu apa cari perhatian tunangan sepupu lo sendiri !!" ucap Silvi tanpa menyembunyikan nada amarah di setiap kata yang ia lontarkan.
Damian membenarkan itu di dalam hatinya, sejak awal dijodohkan, Diana menolak Rendy tapi kenapa saat perjodohan sudah terjadi, Diana mengubah pikirannya? Apakah dia jatuh cinta sama Rendy saat sudah menjadi tunangan Linda? Kalau saja mereka bukan sepupu Damian, mungkin dia tidak akan terlalu ikut campur memikirkan ini. Tapi Damian memikirkan perasaan Linda Angkasa.
"Silvi. Jangan begitu sama Diana." ucap Rendy.
Raut wajah Silvi menjadi sangat kesal, "Lo buta Ren ! Padahal kedua mata lo itu sehat !" ujarnya menutup laptop dan berlalu pergi meninggalkan ketegangan di ruangan itu.
"Rendy aku minta maaf gara - gara aku datang semua jadi gaduh. Semua terjadi karena aku datang, aku hanya ingin memberikan ini tanpa bermaksud membuat Silvi marah. Maafkan aku Rendy." ucap Diana yang mulai terisak kecil, nadanya terdengar sangat merasa bersalah.
Rendy bangun dari tempat duduknya, dia menenangkan Linda, "Mungkin mood Silvi sedang tidak bagus. Maaf ya. Jangan menangis lagi, duduklah disini dan temani aku makan." jawab Rendy.
Kini giliran Damian yang kesal, dia sangat setuju saat Silvi mengatakan kalau Rendy itu buta.
"Gue mau nyusul Silvi ke kantin." ucap Damian berlalu pergi meninggalkan Rendy dan Diana di dalam ruangan tersebut.
Dalam hati Diana bersorak gembira karena Damian dan Silvi akhirnya memberikan ruang kepada dia untuk menemani Rendy dan mereka hanya berdua saja.
"Rendy. Apa semua baik - baik saja?" tanya Diana dengan jejak air mata yang masih menempel di pipinya.
"Tidak apa." jawab Rendy tersenyum.
Sebenarnya saat ini Rendy sedikit gelisah, pasalnya Linda yang sebelumnya selalu berusaha menarik perhatiannya tiba - tiba gadis itu berhenti mendekatinya. Jika setiap hari dia akan menatap wajah Linda yang merajuk tapi sudah dua bulan Linda tidak pernah mencarinya. Ada apa dengan Linda? Tanya Rendy di dalam hatinya.
"Kamu kenapa Ren? Apa makanannya gak enak?" tanya Diana yang melihat wajah Rendy penuh dengan kegelisahan.
"Huh? Oh. Enak seperti biasanya kok. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." jawab Rendy.
"Mikirin apa?"
"Kamu lihat Linda gak? Kenapa ya dia seperti menghindari ku?" tanya Rendy.
"Huh? Apa Linda marah lagi? Maaf Ren, apa karena aku?" tanya Diana dengan wajah paniknya.
"Bukan. Lagi pula apa alasan dia marah sama kamu?" jawab Rendy menenangkan Diana.
"Mungkin karena kita jadi dekat, Linda cemburu dan marah. Aku hanya ingin berteman akrab sama kamu Rendy aku gak bermaksud mencuri tunangan sepupuku." ujar Diana yang suaranya semakin pelan.
"Bukan salahmu. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu dan terimakasih atas makanannya." jawab Rendy tersenyum hangat yang membuat Diana bersemu merah.
_Masa Kini Rendy dan Linda yang duduk di gedung terbengkalai_
"Sebentar.. Kamu berdua saja sama Diana? Setelah makan apa yang terjadi?" tanya Linda penasaran.
Rendy menghembuskan nafasnya, padahal Linda janji tidak akan menyela tapi akhirnya dia mendapati wanita ini menatapnya penuh dengan kecurigaan.
"Tidak ada yang terjadi. Aku hanya memakan bekal yang dia berikan. Setelah makan kami hanya mengobrol biasa Linda." jawab Rendy.
"Pasti ada hal yang aku tidak tahu atau hal yang aku tidak boleh tahu." ucap Linda.
Rendy kembali menarik nafas dan membuangnya pelan, "Sayang. Tidak ada hal yang terjadi saat itu. Aku tidak pernah menyentuh Diana." kata Rendy dengan nada serius.
Linda mengernyitkan alisnya tidak percaya dengan yang dikatakan Rendy, "Tapi saat kamu berdua sama aku, kamu itu selalu-"
"Karena itu kamu. Bukan Diana." jawab Rendy dengan cepat.
"Huh?"
Rendy menarik Linda mendekat kearahnya, menatap dalam iris caramel yang dia sukai. "Sekali lagi. Karena itu kamu, Linda." jawab Rendy penuh penekanan.
Linda memalingkan wajahnya. Rendy yang sudah sangat kesal karena kekasihnya ini mau menghindar darinya, mengangkat tubuh Linda dan mendudukkan tubuh Linda di pangkuannya.
"Tuh kan, kamu mulai lagi !" keluh Linda kesal begitu gampangnya Rendy mengangkat dia.
Rendy mendekatkan wajahnya namun di tahan oleh dua tangan Linda.
"Tidak ! Aku lagi marah sama kamu !" tolak Linda menahan wajah tampan yang hendak mencuri bibirnya.
Rendy menurunkan kedua tangan itu dengan sebelah tangannya. "Tadi siapa yang minta aku cerita?" tanya Rendy.
"Aku." jawab Linda singkat menatap netra elang yang jaraknya sudah sangat dekat dengan wajahnya bahkan ia bisa merasakan deru nafas pemuda itu.
"Jadi kenapa kamu marah? Linda. Aku tidak pernah menyentuh Diana seperti yang aku lakukan sama kamu. Aku tidak bisa melakukannya jika itu bukan kamu. Jadi jangan menolakku, aku tidak suka kamu menolak seperti ini. Kamu itu milikku Linda Angkasa." ujar Rendy menyambar rasa manis ciumannya bersama Linda.