Tian Yuofan tumbuh dalam kehidupan yang tidak pernah mudah. Sejak usia delapan tahun, ia sudah harus belajar bertahan sendiri, merawat ibunya yang kehilangan kewarasannya akibat trauma masa lalu. Ia bahkan tidak bisa menyentuhnya, takut memicu trauma ibunya.
Tanpa keluarga yang utuh, tanpa teman, Yuofan menjalani hari-harinya sendirian di dunia yang tidak memberi banyak ruang bagi orang lemah. Ia belajar memahami lingkungan, membaca keadaan, dan bertahan dengan caranya sendiri.
Namun suatu hari, sebuah kejadian yang awalnya tampak seperti kesialan justru membawanya pada sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya—sebuah pertemuan yang perlahan mengubah arah hidupnya.
Dari sana, perjalanan yang tak pernah ia pikirkan pun benar-benar dimulai…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KuntilTraanak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22—Darah Dalam Telur
Setelah memastikan kondisinya stabil, Yuofan mengangkat satu tangannya dan mengarahkan telapak tangannya ke arah Bai Luan. Ia kemudian menarik gumpalan energi yang sebelumnya telah ia tanamkan di dalam tubuh Bai Luan. Bersamaan dengan tarikan energi itu, racun yang berada di dalam tubuh Bai Luan ikut tertarik keluar sedikit demi sedikit.
Dari luar, terlihat aliran energi yang bergerak dari tubuh Bai Luan menuju tangan Yuofan, dan bersama aliran itu, racun-racun yang sebelumnya menyebar di dalam tubuhnya mulai ikut tertarik keluar.
Terlihat di dalam gumpalan energi yang sedang ditarik dan dikendalikan oleh Yuofan, terdapat cairan-cairan hitam yang berputar di dalamnya. Cairan itu tidak menyatu dengan energi, melainkan seperti terperangkap di dalam pusaran tersebut. Cairan hitam itu merupakan racun yang sebelumnya telah menyebar di dalam tubuh Bai Luan dan perlahan ditarik keluar melalui aliran energi Yuofan.
Gumpalan energi itu terus berputar secara perlahan di depan telapak tangan Yuofan. Seiring waktu, cairan-cairan hitam di dalamnya mulai melebur sedikit demi sedikit, seolah energi tersebut menetralisir racun yang ada di dalamnya. Warna hitam yang pekat perlahan memudar, berubah menjadi kabut tipis sebelum akhirnya benar-benar menghilang. Setelah ia memastikan bahwa tidak ada lagi cairan hitam yang tersisa di dalam gumpalan energi tersebut, barulah ia menghentikan penyaluran energinya secara perlahan. Bersamaan dengan itu, gumpalan energi itu pun mengecil, lalu menghilang sepenuhnya dari telapak tangannya.
“Selesai.” ucap Yuofan seraya bertolak pinggang dengan bangga.
Bai Luan menggerakkan sayap kiri bagian atasnya secara perlahan untuk memastikan kondisinya. Walaupun belum sepenuhnya sembuh, sayap itu sudah bisa merespons ototnya dengan cukup baik dan tidak lagi terasa kaku seperti sebelumnya. Sekali lagi ia pun mencoba menggerakkannya sekali lagi, kali ini sedikit lebih lebar. Gerakannya masih terbatas, tetapi sudah cukup untuk menunjukkan bahwa kondisinya mulai membaik.
Setelah itu, Bai Luan menurunkan sayapnya kembali dan menundukkan kepalanya sedikit, memberikan rasa terima kasihnya kepada bocah yang berdiri di hadapannya.
“Untuk saat ini sayapmu belum bisa digunakan, jadi lebih baik perbanyak istirahat dan jangan memaksakan sayapmu untuk bekerja beberapa hari kedepan.” ujar Yuofan yang langsung diangguki oleh Bai Luan.
Yuofan kemudian menengok kearah barang dan pakaian yang ditinggal oleh kelompok berjubah hijau tadi. Ia pun berjalan mendekati wadah berbentuk telur besar yang sangat mencolok dan menarik perhatiannya sedari awal. Begitupun dengan Di Xinyuan dan Bai Luan yang juga penasaran dengan benda tersebut.
“Bukankah ini darah?” Di Xinyuan menutup hidungnya yang terasa aneh saat mencium aroma cairan yang terdapat pada telur besar itu.
“Apakah darah ini bisa di serap?” bisik Yuofan lewat telepati yang membuat Wuxu tersenyum kecil.
”Bisa saja, tetapi tubuhku saat ini tidak mampu membantu. Karena aku hanya dapat membantu menggunakan teknik Vorak Mortekrak—Gerbang kematian satu kali setiap hari nya.” balas Wuxu seraya melayang terbang ke pundak Yuofan.
“Jadi sama saja tidak bisa, ya?” Yuofan sedikit menyayangkan darah yang begitu banyak dihadapannya.
“Bisa,” Wuxu berkata tenang. “Kau hanya perlu menelannya.”
Yuofan membulatkan matanya sesaat, tertegun dengan apa yang di ucapkan oleh iblis itu. Ia pun melirik pada Wuxu memastikan bahwa ucapannya bukanlah candaan, tetapi wajah rubah itu hanya tersenyum kecil dan tak menunjukkan kebohongan apapun. Pandangannya kini teralih pada telur besar di hadapan, ia melihat bahwa ukurannya bisa dibilang 7x lebih besar dari tubuhnya, mana mungkin ia bisa meminum darah sebanyak itu.
“Yang benar saja…” gumamnya seraya meneguk ludahnya gugup.
………
Di bawah sinar jingga sore hari, Yuofan berdiri di depan gua dan melambaikan tangannya saat Di Xinyuan perlahan menjauh dari tempat itu. Disampingnya berdiri sebuah wadah berbentuk telur besar yang merupakan penyimpanan darah sebelumnya. Pada akhirnya ia memutuskan pulang dengan membawa telur besar itu bersamanya, selain itu ia juga membawa harta benda yang ditinggalkan oleh mayat kelompok berjubah hijau—kantung penyimpanan, senjata, serta beberapa barang berharga lainnya yang masih bisa digunakan.
Tentu semua itu bukan semata-mata keinginannya sendiri. Bai Luan dan Di Xinyuan yang menyuruhnya mengambil semua barang tersebut. Menurut mereka, barang-barang itu lebih baik dimanfaatkan daripada dibiarkan begitu saja.
“Baiklah, sekarang bagaimana aku menghabiskan ini semua.” ucap Yuofan seraya bertolak pinggang menatap kearah telur besar didepannya dengan wajah heran.
Wuxu yang sedari tadi duduk diatas pundak Yuofan hanya tersenyum kecil melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh bocah itu.
Yuofan lalu berjalan mendekati telur itu, yang jika di lihat dari dekat permukaannya tidak terlihat seperti kaca biasa, melainkan sedikit bertekstur dengan garis-garis kasar dipermukaan nya. Bocah itu kemudian mengetuk permukaannya pelan untuk memeriksa ketebalan lapisan luarnya. Suara ketukan itu sangat berat, menandakan bahwa kaca luarnya sangatlah tebal.
“Bagaimana cara membukanya?” tanya Yuofan sambil menoleh ke arah Wuxu.
Wuxu melompat turun dari pundaknya, kemudian berjalan mengelilingi wadah telur itu. Matanya yang tajam memperhatikan permukaan telur itu dengan seksama, lalu ia berhenti di satu titik yang memiliki lingkaran kecil hampir tak terlihat.
“Di sini,” kata Wuxu sembari menunjuk kearah lingkaran kecil itu.
Yuofan berjongkok dan melihat bagian yang ditunjuk Wuxu. Di sana memang ada lingkaran kecil, seperti kunci atau segel.
“Lalu?” tanya Yuofan seraya mengangkat satu alisnya.
“Alirkan sedikit qi-mu ke bagian itu. Jangan terlalu banyak.” jawab Wuxu.
Yuofan menempelkan telapak tangannya pada lingkaran kecil tersebut, lalu mengalirkan sedikit energi qi ke dalamnya. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tetapi beberapa detik kemudian garis-garis tipis di permukaan telur itu mulai menyala redup, juga terdengar bunyi pelan seperti suara retakka kecil.
Di bagian atas telur itu, terbentuk celah kecil berbentuk lingkaran, cukup untuk memasukkan gelas kecil atau tangan.
“Sekarang bagaimana? Diminum begitu saja?” tanyanya.
Wuxu mengangguk, “Coba, kau ambil sedikit saja.”
Yuofan mengambil botol kecil dari dalam ruang hampa, dimana ia memang menyimpan sebagian besar perabotannya disana. Setalah nya ia mencelupkannya ke dalam wadah itu dan mengambil sedikit darah. Ia menatap cairan merah gelap di dalam botol itu cukup lama sebelum akhirnya menghela napas.
“Semoga ini bukan keputusan buruk,” gumamnya pelan.
Wuxu tersenyum kecil, melihat ekspresi aneh yang di tunjukkan oleh Yuofan. “Itu tergantung seberapa kuat tubuhmu menahannya.”
Yuofan menenggak darah itu dalam satu tegukan cepat. Diatas lidahnya ia bisa merasakan rasa besi yang kuat, membuat wajahnya mengernyit seketika itu juga. Tetapi disaat yang sama, ia juga bisa merasakan kekuatan yang muncul dengan cepat diantara dada dan perutnya.
“Sepertinya ini berfungsi?” gumamnya dengan senyuman yang mengembang jelas di wajah.
“Coba kau buka segel yang ini.” kata Wuxu kembali menunjuk kearah segel yang ada pada telur tersebut.
Yuofan melirik ke arah segel itu sejenak, sebelum kembali mengalirkan energi qi ke dalamnya. Perlahan, perubahan mulai terlihat. Jika sebelumnya hanya muncul retakan kecil, kini retakan itu melebar dan menyebar, membentuk garis melingkar yang hampir membelah setengah permukaan telur tersebut.
Ia memperhatikan dengan saksama,.yang mana retakan itu tidak berhenti, melainkan terus melebar mengikuti aliran qi yang ia kendalikan. Dengan rasa penasaran, Yuofan kemudian mendorong bagian atas retakan itu secara perlahan, mencoba membuka celah yang sudah terbentuk.
Bagian atas telur itu mulai terangkat, mengikuti jalur retakan yang telah terbentuk sebelumnya. Dalam waktu singkat, setengah bagian telur itu terbuka sepenuhnya. Celahnya cukup besar, bahkan Yuofan bisa memasukkan kedua tangannya dengan leluasa, atau mungkin seluruh tubuhnya jika ia memaksakan diri.
“Kau berendam saja didalamnya, biar cepat.” ucap Wuxu yang membuat Yuofan membulatkan matanya.
“APA?!”