Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Mereka terus berjalan menyusuri jalan setapak di dalam hutan.
Langkah demi langkah dilalui tanpa banyak hambatan.
Sinar matahari yang sebelumnya miring perlahan naik semakin tinggi, hingga akhirnya tepat berada di atas kepala mereka. Udara siang mulai terasa lebih hangat, dan bayangan pepohonan memendek di tanah.
Kai yang berjalan di barisan depan tiba-tiba memperlambat langkahnya. Ia menoleh ke belakang, memastikan semua anggota rombongan masih mengikuti dengan baik.
Setelah melihat semuanya baik-baik saja, Kai berhenti.
"Baiklah..." katanya sambil menatap sekeliling.
"Bagaimana kalau kita makan siang di sini saja?"
Ia menunjuk sebuah area terbuka yang cukup luas di pinggir jalan hutan.
"Kecepatan perjalanan kita juga cukup bagus hari ini," lanjutnya santai.
"Ayo kita sedikit bersantai."
Beberapa anggota langsung mengangguk setuju. Sebagian mulai menurunkan tas mereka, sementara yang lain duduk di atas batu atau batang pohon yang tumbang.
Suasana menjadi lebih santai.
Beberapa orang mulai mengobrol, ada yang mengeluh lapar, bahkan ada yang bercanda mencairkan suasana.
Saat itulah Kai membalikkan pandangannya kembali ke depan.
"....permisi, boleh saya minta waktunya sebentar?"
Sebuah suara lembut namun jelas terdengar dari belakangnya.
Kai menoleh.
Amane berdiri beberapa langkah di belakangnya dengan ekspresi yang biasa saja seperti biasanya.
Kai tersenyum kecil lalu mengangguk.
"Tentu."
Karena anggota yang lain sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri, Kai dan Amane bisa berbicara tanpa terlalu diperhatikan.
Amane memulai pembicaraan.
"Aku terpikirkan sesuatu saat kita bertarung dengan monster di perjalanan tadi."
Kai mendengarkan dengan santai.
Amane melanjutkan dengan nada datar seperti biasanya.
"Anda... tidak tahu tentang Rein Force, ya?"
Yang Amane maksud adalah saat ia mengikuti Kai dalam perjalanan pulang sebelumnya.
Kai yang tiba-tiba ditanya soal itu memasang wajah bingung.
"Rein Force?" katanya sambil mengerutkan kening.
"Apaan tuh?"
Amane menatapnya sebentar, lalu menghela napas kecil.
"Sudah kuduga."
Ia berbicara dengan wajah datar.
"Karena anda seorang Kai, saya sempat berpikir mungkin memang begitu."
Kai hanya memiringkan kepala, masih berpura-pura tidak mengerti.
Amane kemudian menjelaskan.
"Rein Force adalah teknik untuk memperkuat tubuh atau senjata dengan menyelimutinya menggunakan mana."
Ia mengangkat tangannya sedikit, seolah memperagakan sesuatu.
"Untuk menggunakannya memang perlu sedikit trik. Tapi pada dasarnya siapa pun yang memiliki mana bisa mempelajarinya."
Kai mengangguk beberapa kali.
"Begitu ya..."
Amane melanjutkan penjelasannya.
"Jika digunakan dengan benar, Rein Force bisa meningkatkan kemampuan bertarung secara signifikan."
"Besarnya peningkatan itu tergantung pada seberapa kuat mana yang dimiliki oleh penggunanya."
Kai terus mengangguk-angguk seolah benar-benar baru mendengar hal itu.
Padahal sebenarnya...
Kemampuan yang Amane maksud sudah digunakan Kai sejak lama.
Bahkan tanpa ia sadari.
Namun tentu saja, Kai tidak mungkin mengatakannya begitu saja.
Ia hanya terus memasang ekspresi tertarik sambil mendengarkan penjelasan Amane sampai selesai.
Beberapa saat kemudian, Amane tersenyum tipis.
"Mumpung ada kesempatan..."
Ia berkata dengan nada yang sedikit lebih ringan dari biasanya.
"Bagaimana kalau saya mengajarkan Rein Force pada anda?"
Kai terdiam sejenak.
Di dalam pikirannya, berbagai pertimbangan langsung muncul.
'Aku sebenarnya sudah bisa menggunakan teknik seperti itu...'
'Tapi kalau aku menolaknya sekarang...'
'Dia pasti akan mulai mencurigai sesuatu.'
Kai menarik napas kecil dalam hati.
'Lebih baik aku mengikuti saja keinginannya.'
Ia lalu tersenyum dengan wajah yang terlihat bersemangat.
"Benarkah?"
"Kalau anda tidak keberatan, saya dengan senang hati menerimanya."
Amane mengangguk pelan.
Tangannya memegang gagang pedang di pinggangnya, seolah sedang mempersiapkan sesuatu.
"Baiklah kalau begitu."
Ia berkata dengan tenang.
"Apakah anda punya waktu setelah makan siang?"
Kai langsung menjawab tanpa ragu.
"Tentu saja."
Amane hanya mengangguk sekali lagi, lalu percakapan mereka pun selesai.
Setelah makan siang berakhir, rombongan kembali bersiap melanjutkan perjalanan.
Namun sebelum itu, Kai dan Amane menjauh sedikit dari kelompok mereka menuju sebuah tanah lapang yang tidak jauh dari tempat istirahat tadi.
Tanahnya cukup rata dan luas. Tempat yang cocok untuk latihan tanpa mengganggu orang lain.
Namun saat mereka sudah berdiri saling berhadapan di tempat itu...
Wajah Kai tiba-tiba berubah datar.
Ia menatap Amane yang berdiri di depannya dengan senyum tipis.
"...anu," kata Kai pelan.
"Sebenarnya ini maksudnya apa?"
Di tangannya sekarang terdapat sebuah pedang kayu.
Pedang latihan.
Barusan Amane memberikannya tanpa banyak penjelasan.
Kai menatap pedang kayu itu sebentar lalu kembali menatap Amane.
Apa dia benar-benar akan mempelajari Rein Force menggunakan pedang kayu?
Bukankah lebih masuk akal jika menggunakan pedang sungguhan?
Sementara Kai masih kebingungan, Amane menjawab dengan santai.
"Sebelum saya mengajarkan Rein Force..."
Ekspresinya tetap tenang.
"Saya ingin anda..."
"...bertarung dengan saya."
Kai membeku selama beberapa detik.
"Eeehhh?!"
"Kenapa tiba-tiba?!"
Amane tersenyum tipis.
Jika diperhatikan dengan lebih seksama, senyum itu bukan sekadar senyum biasa. Ada sesuatu di baliknya—seolah ia sedang mencoba menguji sesuatu.
" Saya hanya ingin mengetahui sedikit tentang kemampuan anda yang sebenarnya."
Nada suaranya tetap tenang.
Namun kata-katanya membuat Kai sedikit kaku.
Kai menggaruk pipinya dengan canggung. Tatapannya menghindar sejenak sebelum akhirnya kembali ke arah Amane.
"E-etto..."
Suaranya terdengar sedikit terbata.
"Apa hubungannya itu dengan... pertarungan tanding?"
Amane menjawab tanpa ragu.
" Mengadu pedang satu sama lain... merasakannya secara langsung."
Ia mengangkat pedang kayu di tangannya sedikit.
" Itu adalah cara terbaik untuk mengenal karakter seseorang."
" Bahkan jauh lebih jujur daripada percakapan apa pun."
Angin siang berhembus pelan melewati tanah lapang itu.
Amane melanjutkan dengan nada yang tetap datar.
" Cara seseorang memegang pedang."
" Cara ia menyerang."
" Cara ia bertahan."
" Semua itu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya."
Kemudian tatapan Amane sedikit berubah.
Matanya menatap langsung ke arah Kai.
" Apalagi anda pengguna Two Sword."
" Saya yakin kemampuan anda cukup hebat."
Mata Amane tampak sedikit berbinar saat mengatakan itu—bukan karena emosi berlebihan, melainkan ketertarikan seorang pendekar pedang terhadap lawan yang menarik.
Kai yang mendengar penjelasan itu hanya bisa berkedip beberapa kali.
Lalu dalam hatinya ia berpikir.
"Apa-apaan itu..."
"Gila keren banget."
"Emang pendekar pedang semuanya kayak gitu ya?"
Ia benar-benar tidak menyangka alasan Amane sesederhana—dan seserius—itu.
Namun sebelum Kai sempat mengatakan sesuatu lagi...
Suara langkah kaki mulai terdengar mendekat.
Beberapa anggota rombongan serta orang yang mereka kawal mulai berjalan ke arah mereka berdua.
Nia berjalan santai sambil menaruh kedua tangannya di belakang kepala.
" Ada apa nih?"
Ia melihat ke arah Kai dan Amane dengan ekspresi penasaran.
" Kayaknya lagi pada seru-seruan ya?"
Di belakangnya, Febriana juga ikut mendekat.
Begitu melihat pedang kayu di tangan mereka berdua, ia langsung mengangkat kedua tangannya hampir menutup mulutnya.
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin