Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal-hal yang tidak pernah diceritakan
Aku mulai menyadari sesuatu tentang suamiku.
Ashar adalah pria yang penuh rahasia.
Bukan rahasia besar seperti kejahatan atau pengkhianatan.
Lebih seperti… ruang-ruang kosong dalam hidupnya yang tidak pernah ia ceritakan.
Dan entah kenapa, semakin aku mengenalnya, semakin banyak ruang kosong itu terasa.
Pagi itu aku bangun lebih dulu.
Jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah enam.
Cahaya matahari masih tipis, masuk melalui sela tirai kamar.
Aku menoleh ke samping.
Ashar masih tidur.
Posisinya miring ke arahku, wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan ketika ia sadar.
Kadang aku berpikir, Ashar adalah tipe orang yang terlalu banyak berpikir.
Sampai bahkan dalam tidur pun dia terlihat seperti seseorang yang sedang memikirkan sesuatu.
Aku memperhatikannya cukup lama.
Sampai akhirnya aku tersenyum sendiri.
Ini suamiku.
Pria yang menikah denganku.
Pria yang sampai hari ini bahkan masih terlihat gugup setiap kali kami berdua berada terlalu dekat.
Aku turun dari tempat tidur perlahan agar tidak membangunkannya.
Setelah mandi dan menyiapkan sarapan sederhana, aku kembali ke kamar.
Ashar sudah bangun.
Dia duduk di tepi tempat tidur sambil memegang ponselnya.
Ketika melihatku masuk, dia langsung menaruh ponselnya di samping.
Gerakan itu terlalu cepat.
Seolah-olah dia tidak ingin aku melihat sesuatu.
Dan entah kenapa…
Hatiku langsung merasa tidak nyaman.
"Kamu sudah bangun?" tanyaku.
Dia mengangguk.
"Iya."
Aku mencoba tersenyum santai.
"Aku sudah buat sarapan."
"Terima kasih."
Dia berdiri dan berjalan ke arah lemari.
Saat dia membelakangiku, aku melihat ponselnya di atas kasur.
Layar masih menyala.
Dan tanpa sengaja…
Namanya terlihat lagi.
Raka.
Pesan terakhir muncul di layar.
"Lo harus cerita ke dia cepat atau lambat."
Aku langsung menoleh ke arah Ashar.
Dia masih memilih kemeja di lemari.
Dadaku terasa seperti ditarik sesuatu.
Cerita apa?
Tentang apa?
Aku menelan ludah.
Berusaha terlihat biasa saja.
"Ashar."
"Iya?"
"Raka sering menghubungimu?"
Dia berhenti memilih kemeja.
Lalu menoleh.
"Iya."
"Teman lama ya?"
Dia mengangguk.
"Kami dekat."
Kata itu lagi.
Dekat.
Aku memaksakan senyum kecil.
"Seberapa dekat?"
Dia terlihat berpikir.
"Lumayan."
Jawaban yang tidak membantu sama sekali.
Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan pertanyaan.
Tapi pikiranku tidak berhenti dan justru semakin liar.
Siang itu aku membereskan lemari kerja Ashar.
Sebenarnya dia tidak memintaku melakukan itu.
Tapi aku butuh sesuatu untuk mengalihkan pikiranku.
Ketika aku membuka salah satu laci…
Aku menemukan sebuah kotak kecil.
Kotak kayu sederhana.
Sepertinya sudah cukup lama disimpan.
Aku ragu beberapa detik.
Tapi akhirnya aku membukanya.
Isinya tidak banyak.
Hanya beberapa benda kecil.
Sebuah jam tangan lama.
Beberapa tiket bioskop.
Dan sebuah foto.
Aku mengambil foto itu.
Di dalamnya ada dua orang pria yang berdiri berdampingan.
Salah satunya Ashar.
Masih terlihat lebih muda.
Yang satunya lagi…
Aku langsung mengenalinya.
Raka.
Mereka berdiri sangat dekat.
Bahu mereka saling bersentuhan.
Senyum mereka terlihat sangat lepas.
Senyum yang jarang kulihat di wajah Ashar sekarang.
Aku membalik foto itu.
Di belakangnya ada tulisan tangan.
"Untuk hari-hari paling gila dalam hidup kita."
Tidak ada tanggal.
Tidak ada penjelasan.
Tapi entah kenapa perasaanku langsung jatuh ke tempat yang paling tidak ingin kupikirkan.
Apakah mereka pernah…
Tidak.
Aku menutup mata sebentar.
Aku tidak boleh menuduh tanpa alasan.
Tapi semakin aku mencoba menolak pikiran itu…
Semakin terasa sulit mengusirnya.