"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Janji Di Bawah Sinar Rembulan
Velin duduk mematung di depan meja rias yang penuh dengan kosmetik kelas dunia. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, bibirnya masih terasa sedikit perih dan bengkak akibat ciuman "brutal" Kieran di altar tadi. Jantungnya masih berdegup ugal-ugalan.
"Sini," suara berat Kieran memecah keheningan.
Kieran melangkah mendekat, sudah mengganti tuksedonya dengan jubah mandi sutra hitam yang memperlihatkan sedikit dada bidangnya. Ia mengambil kapas dan cairan pembersih, lalu berdiri di belakang Velin. Dengan gerakan yang sangat telaten—kontras dengan kegarangannya saat memegang pistol—Kieran mulai menghapus riasan di wajah Velin.
"Tuan Kieran, aku bisa sendiri..." bisik Velin gugup.
"Diamlah. Kau sedang cedera, ingat? Kakimu belum sembuh benar, dan kau terlihat lelah karena 'adegan' pernikahan tadi," sahut Kieran datar, namun sorot matanya sangat lembut saat menatap wajah Velin melalui cermin.
Setelah wajah Velin bersih, Kieran membimbingnya ke kamar mandi. Di sana, sebuah bathtub marmer besar sudah terisi air hangat yang penuh dengan kelopak bunga mawar merah. Uap hangat membawa aroma lavender dan mawar yang menenangkan.
"Kau suka aroma mawar, kan?" tanya Kieran pendek.
Velin tertegun. "Kamu ingat?"
"Aku mengingat semua yang perlu kuingat tentang aset seratus miliarku," jawab Kieran tsundere, padahal ia sendiri yang memastikan para pelayan menyiapkan bunga mawar terbaik hanya karena ia pernah melihat Velin tersenyum saat mandi mawar di rumah Adriano dulu.
Setelah membersihkan diri, keduanya kini berbaring di atas ranjang king size yang sangat empuk. Velin membungkus dirinya dengan selimut, namun matanya tetap terbuka lebar, menatap langit-langit kamar. Di sampingnya, Kieran berbaring miring, menopang kepalanya dengan tangan sambil menatap Velin.
"Tuan Kieran..." panggil Velin dengan wajah polos.
"Hm?"
"Bagaimana jika... aku sebenarnya bukan Aveline yang asli?" tanya Velin tiba-tiba. "Maksudku, aku bukan setan, hantu, atau alien. Tapi, aku ini cuma manusia biasa yang entah bagaimana masuk ke dunia ini. Aku ini cuma figuran di drama yang aslinya nggak penting. Dunia asliku itu membosankan, penuh revisi laporan dan bos botak. Bukan dunia penuh peluru seperti ini."
Kieran menatap Velin lama, lalu tangannya bergerak menyentil dahi Velin dengan pelan. Pluk!
"Aduh! Sakit tahu!" keluh Velin sambil memegangi dahinya.
"Berhentilah bicara aneh. Kau terlalu banyak menonton drama dengan Bibi Amora," ujar Kieran dengan suara rendah. "Siapa pun kau, dari mana pun kau berasal, yang ada di depanku sekarang adalah wanita yang jarinya terkunci oleh darah D'Arcy. Berhenti berpikiran yang tidak-tidak dan tidurlah."
Velin mengerucutkan bibirnya. "Aku serius, Tuan. Kalau suatu saat portalnya terbuka lagi dan aku harus balik ke meja kantorku, gimana?"
Kieran tidak menjawab. Ia hanya menarik selimut untuk menutupi bahu Velin. "Tidur, Aveline. Itu perintah."
Tak lama kemudian, napas Velin mulai teratur. Kelelahan emosional hari itu akhirnya membawanya ke alam mimpi. Namun, Kieran tetap terjaga. Di bawah sinar rembulan yang masuk melalui celah gorden, ia menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan posesif.
Kieran meraih tangan kanan Velin, membawa jemari yang memakai cincin hitam itu ke bibirnya. Ia mencium cincin itu dengan takzim, seolah sedang mengikat janji suci pada takdir.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi hanya karena portal dunia nyata atau naskah film?" bisik Kieran sangat pelan agar tidak membangunkan Velin. "Aku tidak peduli kau berasal dari dunia mana. Jika kau pergi, aku akan merobek dimensi itu. Aku akan menemukanmu di meja kantormu, di dunia nyatamu, atau di mana pun kau berada. Kau sudah menjadi milik D'Arcy, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
...****************...
Di Kota, Kediaman Mally...
Adriano duduk di lantai kamar Velin yang kini kosong dan dingin. Di tangannya ada sebuah syal yang pernah dirajut Velin untuknya—syal yang dulu ia lemparkan ke gudang tanpa perasaan.
Ia teringat bagaimana Velin dulu selalu mengejarnya, membawakannya bekal yang selalu ia abaikan, dan menatapnya dengan penuh pemujaan.
"Maafkan aku, Velin..." racau Adriano dengan suara parau. Air matanya jatuh. "Aku baru sadar, aku tidak butuh Mirabella. Aku hanya butuh kau yang selalu cerewet di rumah ini."
Ia memeluk syal itu erat-berusaha mencari sisa aroma Velin, namun yang tersisa hanyalah penyesalan yang membakar. Adriano tidak tahu bahwa saat ia sedang menangisi masa lalu, Velin sudah menjadi ratu di kerajaan yang jauh lebih megah, dilindungi oleh pria yang siap menghancurkan dunia demi menjaganya.
...****************...
terimakasih 🙏🙏🙏