NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aduan Berbisa di Taman Mawar

Belle melangkah dengan terburu-buru, gaun kuning gadingnya berkibar kasar seiring dengan langkahnya yang penuh amarah. Wajahnya yang biasanya dipoles cantik kini memerah karena penghinaan yang ia terima di paviliun. Begitu sampai di teras istana utama, ia mendapati Madame Valois sedang menyesap kopi hitamnya dengan keanggunan yang mengintimidasi.

"Nenek!" Belle berseru, mengabaikan tata krama bangsawan yang biasanya ia agungkan.

Madame Valois meletakkan cangkirnya perlahan, matanya yang tajam menatap Belle dari atas sampai bawah. "Belle, di mana sopan santunmu? Kau tampak seperti wanita yang baru saja kehilangan akal sehat."

"Aku memang hampir kehilangan akal sehat, Nenek! Eisérre... dia benar-benar sudah keterlaluan!" Belle duduk di depan Madame Valois dengan napas memburu. "Di paviliun belakang milik Eisérre, ada seorang gadis. Eisérre menyembunyikan seorang wanita di sana!"

Gerakan tangan Madame Valois terhenti di udara. Suasana di teras itu seketika menjadi dingin. "Seorang wanita? Siapa dia? Pelayan?"

"Bukan! Dia tidak tampak seperti pelayan," Belle mencibir, suaranya naik satu oktav karena cemburu. "Eisérre memanggilnya 'Lady Ève'. Wajahnya... dia tampak sangat muda, seperti anak kecil, tapi Eisérre menatapnya dengan cara yang tidak pernah ia gunakan saat menatapku. Dia melindunginya, Nenek! Dia bahkan mengancamku agar tidak mendekati gadis itu!"

Madame Valois menyandarkan punggungnya ke kursi kayu ek yang kokoh. Matanya menyipit, otaknya yang penuh strategi mulai bekerja. Selama dua puluh delapan tahun, ia telah membentuk Eisérre menjadi mesin perang yang tanpa emosi. Mendengar cucunya menyembunyikan seorang wanita—apalagi melindunginya dari Belle—adalah sebuah barang langka yang berbahaya.

"Seorang gadis berwajah muda... dipanggil Lady..." gumam Madame Valois rendah. "Eisérre tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Jika dia menyembunyikannya, berarti gadis itu memiliki nilai yang sangat tinggi bagi cucuku."

"Nenek harus melakukan sesuatu! Gadis itu mengenakan gaun sutra Valois dan bertingkah seolah dia adalah nyonya di paviliun itu. Jika ini dibiarkan, pertunanganku dengan Eisérre akan menjadi bahan tertawaan seluruh bangsawan!" Belle mulai terisak palsu, mencoba memancing simpati.

Madame Valois berdiri, auranya begitu kuat hingga pelayan di sekitarnya menunduk ketakutan. "Tenanglah, Belle. Tidak ada yang bisa memiliki Eisérre selain orang yang aku restui. Jika ada tikus kecil yang menyelinap ke paviliun cucuku, aku sendiri yang akan menyeretnya keluar."

Sang Nenek menoleh ke arah kepala pelayannya. "Siapkan jamuan makan malam di paviliun pribadi Eisérre besok malam. Katakan padanya, aku ingin merayakan kepulangannya secara privat."

"Tapi Nyonya besar, Jenderal melarang siapa pun masuk ke paviliun tanpa seizinnya," jawab si pelayan gemetar.

Madame Valois tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Aku adalah neneknya. Tidak ada pintu di wilayah Valois yang tertutup untukku. Kita akan lihat, siapa 'Lady Ève' yang berani mengusik ketenangan cucuku."

Sementara itu, di paviliun, Eisérre baru saja masuk ke ruang kerjanya. Ia melepaskan kemejanya, memperlihatkan tubuhnya yang penuh luka bekas perang. Ia mendekati jendela dan melihat Geneviève dari jauh yang sedang asyik memperhatikan tanaman.

Eisérre tahu Belle akan mengadu. Ia tahu neneknya akan bertindak. Namun, bukannya merasa khawatir, ia justru merasakan dorongan protektif yang semakin liar. Ia akan melindungi "harta karun"-nya, meskipun ia harus berbohong pada seluruh dunia.

"Kau tidak akan ke mana-mana, Ève," bisiknya pada bayangan Geneviève di kejauhan. "Bahkan dari nenekku sekalipun."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!