Bagaimana rasanya bila sedang berduka karena kehilangan laki-laki yang sangat kita cintai secara tiba-tiba, datang wanita asing dan anak kecil yang yang tidak kita kenal sama sekali mengaku sebagai istri dan anak suami kita yang telah meninggal dunia.
Dunia seakan runtuh saat itu juga.
Hancur. Pedih. Perih...
Rasa itulah yang kini bersemayam di palung hati Mikhaela Andisti. Kepergian Dion Sadewa, memberikan luka begitu dalam bagi Mikha. Ternyata laki-laki yang selalu menunjukkan rasa cinta padanya itu telah mengkhianatinya.
Bagaimana kelanjutan kisah ini ikuti terus ya. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian di setiap bab🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UNGKAPAN PERASAAN
Satu minggu kemudian...
Mikha bersiap hendak pulang ke rumah. Hampir lima jam ia berada di tempat laundry, ketika ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Bahkan membuka langsung handle pintu meski Mikha belum menjawab ketukan di pintu beberapa saat yang lalu.
"Bilang Nando tunggu sebentar, Wati. Ada beberapa berkas yang akan aku bawa pulang kerumah–".
"Aku justru berharap kamu belum pulang Mikhaela dan makan siang bersama ku..."
Mendengar suara familiar itu, spontan Mikha mengangkat wajahnya. Netra bening wanita itu membulat sempurna karena kaget melihat siapa yang berdiri di depan pintu ruang kerjanya.
"Dante...?", gumamnya.
"Kenapa kaget begitu seperti melihat hantu saja", ujar Dante melangkah masuk dan duduk dengan kaki bersilang di sofa.
Ini pertama kalinya laki-laki itu berkunjung kekantor Mikha. Waktu itu ia hanya berada di ruang tunggu saja.
"Kapan kamu datang ke Jakarta?". Wajar saja Mikha kaget melihat Dante ada di hadapannya karena semalam mereka berkomunikasi melalui sambungan seluler Hingga larut malam. Hal yang intens mereka lakukan ketika malam hari di Jakarta sejak satu minggu belakangan ini. Keduanya menjadi lebih akrab, saling mengenal satu dan lainnya melalui media komunikasi.
Ketukan di pintu menginterupsi pembicaraan antara Mikha dan Dante. Dante tahu itu sopirnya Rahmat yang datang membawa makan siang untuk ia dan Mikhaela.
Dante membuka pintu dan kembali duduk ditempatnya.
"Kamu belum makan siang kan? Aku sengaja membeli makan siang kita", ucap Dante mengeluarkan box dari dalam tote bag.
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, Dante. Kapan kamu tiba?", tanya Mikha duduk di hadapan laki-laki yang selalu tampil stylish dengan ketampanan itu.
"Aku sedang di pesawat ketika menelepon mu semalam. Dari bandara aku langsung kemari", jawab Dante menjelaskan.
"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini. Bagaimana kalau aku tidak ada?". Kedua alis Mikha saling bertautan.
Dante mengusap tengkuknya. "Aku datangi saja rumah mu", jawabnya singkat.
"Bagaimana kalau aku tidak ada di rumah juga?", Mikha balik bertanya lagi.
Dante menatap intens wajah cantik Mikhaela. "Aku pasti menemukan mu di manapun kamu berada. Dan selama aku di Jakarta aku akan menyewa mu menjadi tour guide ku. Aku harap kamu tidak berkeberatan", seloroh Dante sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
Terdengar tawa renyah dari mulut Mikhaela. "Ck...Aku yang memutuskan, menerima pekerjaan yang kau berikan atau tidak tuan Dante". Mikhaela mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan. "Bahkan kita belum bernegosiasi soal biayanya. Dan aku pastikan bayaran ku mahal", seloroh Mikhaela mengigit roti lapis yang Dante bawa.
"Aku akan membayar mu berapapun yang kamu inginkan".
"Really?". Kedua mata Mikha membulat. "Kalau begitu aku terima menjadi tour guide mu tuan Dante", selorohnya.
"Hm...enak. Kebetulan sekali aku sudah lapar kau membawa roti lapis ini", ujar Mikha ketika mengigit roti yang Dante bawa membuat laki-laki dihadapan tertawa.
"Panini. Itu roti khas Italia. Bisa membuat kenyang karena banyak protein dan karbohidrat juga. Hm...tapi kamu benar juga di sini di sebut roti lapis", ujar Dante.
Tiba-tiba Mikhaela tertawa melihat Dante. "Ada saus di atas bibir mu", ujar Mikha sambil memberi tahu Dante dengan menunjuk bibirnya sendiri agar Dante tahu di mana sausnya menempel. Namun tangan Dante tidak bisa menemukannya.
Merasa geregetan Mikha berdiri dan duduk di samping Dante, menempelkan jarinya membersihkan saus itu.
Keduanya terdiam ketika saling bertukar pandang.
"Ehem.." Mikha hendak menarik tangannya, namun Dante menahannya. Membawa jemari Mikha menempel pada dadanya.
"Ada yang ingin aku sampaikan pada mu Mikhaela", ucap Dante dengan tatapan pasat menyelami netra coklat terang Mikha yang membuat jantung Mikha berdegup kencang.
Tawa yang sejak tadi menghiasi bibir wanita itu mendadak lenyap, berganti dengan debaran jantungnya yang kian cepat berdetak.
"Sejak kita sering berkomunikasi, membuat ku selalu memikirkan mu. Aku datang ke Jakarta tentu saja bukan tanpa tujuan".
Dante menggenggam jemari tangan Mikhaela. Tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah cantik wanita itu sedetik pun.
"Karena aku ingin bertemu dengan mu. Aku ingin mengutarakan perasaan yang aku rasakan akhir-akhir ini pada mu.."
"Aku mencintaimu Mikhaela Andisti", ucap Dante penuh perasaan.
"Maukah kau membuka hati mu untuk ku Mikha? Menerima cinta ku. Menjalin hubungan sebagai kekasih", ujar Dante bersungguh-sungguh.
Mikhaela tak bergeming. Bahkan sesaat pikirannya blank. "A-ku.."
Wanita itu tidak melanjutkan perkataannya. Wajahnya tertunduk. "Suami ku belum lama meninggal. Dion meninggalkan banyak persoalan yang harus aku selesaikan, aku tidak mau melibatkan mu dalam masalah yang tengah aku hadapi Dante. Karena kamu sangat baik. Aku tidak mau merusak nama mu jika harus terlibat dengan ku dan keluarga mendiang suamiku", ujar Mikhaela dengan suara lirih.
Dante mengangkat dagu Mikha agar menatapnya. Perlahan wajah putih Mikha menghadap laki-laki tampan beraroma maskulin itu.
"Aku tidak keberatan dilibatkan menghadapi keluarga suamimu Mikha". Terdengar helaan nafas Dante yang menjeda ucapannya. "Maafkan aku, aku sudah menyelidiki semuanya. Aku tahu tuntutan keluarga suamimu. Aku juga tahu tentang anak itu Mikhaela. Aku ingin menjadi sandaran mu. Aku ingin membantu mu menyelesaikan semua masalah yang kau hadapi", ujar Dante bersungguh-sungguh perlahan jemari tangannya mengusap lembut wajah pucat pasi Mikhaela. Jemari itu menghapus bulir-bulir bening yang jatuh menyentuh wajah Mikhaela.
Pada akhirnya wanita itu ambruk juga dengan isak tangis yang membuat tubuhnya terguncang hebat.
Dante menarik Mikha ke dalam pelukannya. "Jika kamu belum memiliki jawaban, aku akan menunggumu menjawabnya. Kali ini aku akan lama berada di Jakarta. Aku akan sabar menanti jawaban mu". Dante mengurai pelukannya, menatap lekat netra Mikhaela yang memerah.
"Aku akan menerima apapun jawaban mu, Mikhaela. Kita sudah sama-sama dewasa, dan pernah menikah. Tentu saja aku akan menghargai keputusan mu", ujar Dante bijaksana.
Mendengar perkataan laki-laki itu justru membuat perasaan Mikhaela menghangat. Tiba-tiba kembali memeluk Dante, menyandarkan wajahnya pada dada bidang laki-laki itu.
Mikha menganggukkan kepalanya pelan. "Aku sudah memiliki jawabannya".
Perlahan Mikha mendongakkan wajahnya, menatap laki-laki yang berada tanpa jarak dengannya itu.
"A-ku menerima mu dan bersedia menjalani hubungan dengan mu Dante".
Mendengar kata-kata itu keluar dari bibir Mikha, dunia seolah berhenti berputar sejenak bagi Dante. Ritme jantung keduanya begitu teratur sempurna.
"Kau serius?", suara Dante nyaris berbisik, seolah takut jika ia berbicara terlalu keras di momen istimewa ini.
Mikhaela mengangguk pelan, sebuah senyum tipis namun tulus menghiasi wajahnya. "Aku serius, Dante. Aku ingin mencobanya".
Spontan Dante meraih jemari Mikha menggenggamnya erat. Terasa hangat. "Terima kasih," ucapnya bersungguh-sungguh dengan senyuman berbinar menghiasi sudut bibir keduanya.
...***...
To be continue
Thor jgn ada drama tiba-tiba dion msh hidup y. Asli dah biasa bgt kayak gitu 😂 btw visualnya selalu pas👍 Nania tuh sesuai dg karakter yg di gambarkan. Sadis😂