Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29:Penguasa Tanah Kematian Dan Tantangan Ketahanan
Setelah berhasil mengalahkan Malphas dan keluar dari labirin jiwa yang mengerikan itu, Kaelen dan Lira merasa bahwa mereka telah melewati ujian mental yang paling berat. Hati mereka kini terasa lebih kuat, lebih teguh, dan lebih tidak tergoyahkan oleh segala bentuk manipulasi atau godaan jahat. Namun, mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih belum berakhir. Masih ada banyak rintangan yang menanti mereka di depan, dan mereka harus tetap waspada dan terus berjalan maju menuju benteng Malakar.
Beberapa hari setelah meninggalkan Dataran Batu Kelabu, pemandangan di sekitar mereka mulai berubah lagi. Tanah yang tadinya berwarna abu-abu dan tandus kini berubah menjadi warna hitam pekat dan kering, seolah-olah telah terbakar oleh api yang sangat panas dan kemudian dibiarkan mati selama ribuan tahun. Tidak ada satu pun tanaman yang tumbuh di sana, tidak ada satu pun hewan yang berkeliaran, dan tidak ada satu pun suara kehidupan yang terdengar di sana. Udara di sana terasa sangat berat, sangat dingin, dan sangat pengap, seolah-olah dipenuhi dengan aroma kematian dan pembusukan yang sangat menyengat hidung.
Mereka kini berada di sebuah tempat yang dikenal sebagai Tanah Kematian—sebuah wilayah yang luas dan mengerikan yang terletak tepat di depan benteng Malakar. Konon, Tanah Kematian ini dulunya adalah sebuah kerajaan yang sangat makmur dan indah, namun kemudian dihancurkan dan dikutuk oleh Malakar ratusan tahun yang lalu karena raja kerajaan itu berani melawan Malakar. Sejak saat itu, tempat ini menjadi tempat tinggal bagi makhluk-makhluk mayat hidup, hantu-hantu yang menakutkan, dan berbagai macam monster gelap lainnya yang melayani Malakar. Dan di tengah Tanah Kematian ini, terdapat sebuah istana kuno yang hancur dan mengerikan yang merupakan tempat tinggal dari salah satu bawahan Malakar yang paling kuat dan paling menakutkan—Gravemaster, Penguasa Tanah Kematian.
Saat Kaelen dan Lira melangkah masuk ke dalam Tanah Kematian itu, mereka segera merasakan perubahan yang besar di dalam tubuh dan pikiran mereka. Mereka merasa sangat lelah, sangat lemah, dan sangat sedih. Seolah-olah semua energi dan semangat yang ada di dalam diri mereka telah disedot oleh tanah di bawah kaki mereka. Mereka merasa ingin berbaring di tanah dan tidur selamanya, tidak ingin bergerak dan tidak ingin melanjutkan perjalanan mereka lagi.
"Ini... ini sangat mengerikan, Yang Mulia," bisik Lira pelan dengan suara yang lemah dan gemetar, sambil memegang lengan Kaelen dengan erat untuk mencari kekuatan. "Saya merasa... sangat lelah dan sangat lemah. Seolah-olah... ada sesuatu yang sedang menyedot nyawa saya dari dalam tubuh saya."
Kaelen juga merasakan hal yang sama. Tubuhnya terasa sangat berat, dan kakinya terasa seperti terbuat dari timah yang sangat berat yang sulit untuk digerakkan. Dia juga merasa sangat sedih dan putus asa, seolah-olah tidak ada harapan lagi bagi mereka untuk mengalahkan Malakar dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini. Tapi kemudian, dia teringat kata-kata Eldric. Dia teringat bahwa dia harus kuat, dia harus berani, dan dia harus melindungi Lira. Dia teringat cinta yang dia rasakan terhadap Lira, dan keinginan yang mendalam untuk melindunginya dan untuk hidup bersamanya selamanya.
"Tahanlah, Lira," bisik Kaelen pelan dengan suara yang tegas namun lembut, sambil memeluk bahu Lira dengan erat dan memberikan kekuatan padanya. "Ini hanyalah efek dari aura gelap yang ada di tempat ini. Tempat ini dipenuhi dengan energi kematian dan keputusasaan, dan itu mencoba untuk melemahkan kita dan membuat kita menyerah. Tapi kita tidak akan membiarkan itu terjadi. Kita harus kuat. Kita harus ingat siapa kita, dan kita harus ingat mengapa kita ada di sini. Kita ada di sini untuk mengalahkan Malakar, untuk membawa kedamaian kembali ke dunia ini, dan untuk hidup bersama-sama dengan bahagia selamanya. Kita tidak akan menyerah, apa pun yang terjadi."
Lira mendengar kata-kata Kaelen, dan dia merasa sedikit lebih kuat dan lebih berani. Dia teringat cinta yang dia rasakan terhadap Kaelen, dan dia teringat janji yang telah mereka buat satu sama lain. Dia mengangguk dengan tegas, mencoba untuk mengumpulkan semua kekuatan dan semangat yang ada di dalam dirinya. "Benar, Yang Mulia. Kita tidak akan menyerah. Kita akan terus berjalan maju, meskipun rasanya sangat sulit dan sangat menyakitkan. Kita akan melakukannya bersama-sama."
Mereka pun terus berjalan maju masuk lebih dalam ke dalam Tanah Kematian itu. Setiap langkah yang mereka ambil terasa sangat berat dan sangat menyakitkan, tapi mereka tidak berhenti. Mereka terus berjalan, saling mendukung dan saling memberikan kekuatan satu sama lain, berpegang teguh pada cinta dan keyakinan yang ada di dalam hati mereka.
Setelah berjalan selama beberapa jam yang terasa seperti selamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat yang luas dan terbuka di tengah Tanah Kematian itu. Di tengah tempat itu, terdapat sebuah istana kuno yang sangat besar dan sangat hancur yang terbuat dari batu-batu hitam yang berlumut dan berkarat. Di depan pintu gerbang istana itu, terdapat sebuah patung besar yang berbentuk seperti tengkorak manusia yang sangat besar dan mengerikan, dengan mata yang kosong dan mulut yang terbuka lebar seolah-olah sedang tertawa mengejek siapa pun yang berani mendekat.
Dan di atas atap istana yang hancur itu, berdiri sebuah sosok yang membuat Kaelen dan Lira berhenti sejenak dengan terkejut dan takut.
Sosok itu adalah seorang pria yang memiliki tubuh yang sangat tinggi dan kurus, dengan kulit yang berwarna abu-abu pucat dan wajah yang penuh dengan kerutan-kerutan dalam yang menceritakan tentang usia yang sangat tua dan pengalaman yang menyakitkan. Rambutnya yang panjang dan kusam berwarna putih bersih, dan matanya yang dalam dan tajam bersinar dengan cahaya hijau yang sangat terang dan menakutkan. Dia mengenakan jubah yang panjang dan compang-camping berwarna hitam dan ungu gelap yang terbuat dari kain-kain yang sudah tua dan lusuh, dan di tangannya, dia memegang sebuah tongkat yang sangat besar dan panjang yang terbuat dari tulang paha manusia yang besar dan berkilauan dengan energi gelap yang sangat kuat. Di sekitar kakinya, terdapat ribuan kerangka-kerangka manusia yang bergerak-gerak dengan liar dan mengeluarkan suara gemeretak tulang yang sangat mengerikan.
Itu adalah Gravemaster, Penguasa Tanah Kematian—salah satu bawahan Malakar yang paling tua, paling kuat, dan paling menakutkan. Konon, Gravemaster dulunya adalah seorang penyihir kematian yang sangat hebat dan sangat berbakat, namun dia terobsesi dengan kematian dan kehidupan setelah mati, sehingga dia akhirnya menjual jiwanya kepada Malakar demi mendapatkan kekuatan yang tak terbatas untuk mengendalikan kematian dan mayat-mayat. Sejak saat itu, dia menjadi makhluk yang abadi yang hidup di antara kematian, dan dia memiliki kekuatan untuk membangkitkan orang-orang yang sudah mati menjadi mayat hidup yang patuh dan setia kepadanya.
Gravemaster menatap Kaelen dan Lira dengan pandangan yang dingin, tajam, dan penuh dengan kebencian. "Hahaha... Jadi, kalian adalah dua anak muda yang berani datang ke dalam wilayahku, Tanah Kematian?" kata Gravemaster, suaranya terdengar seperti suara gemeretak tulang yang sangat kering dan sangat dingin yang terdengar menggema di udara. "Kalian benar-benar bodoh. Kalian tidak tahu dengan siapa kalian berurusan. Aku adalah Gravemaster, Penguasa Tanah Kematian. Dan siapa pun yang berani masuk ke dalam wilayahku tidak akan pernah bisa keluar dari sini lagi. Kalian akan mati di sini, dan tubuh serta jiwa kalian akan menjadi milikku selamanya. Kalian akan menjadi mayat hidup yang melayaniku dan melayani Tuanku Malakar selamanya."
Kaelen dan Lira segera mengeluarkan pedang es mereka, siap untuk bertarung. Meskipun mereka merasa sangat lelah dan sangat lemah karena aura kematian yang pekat yang ada di sekitar mereka, mereka tidak membiarkan itu menghentikan mereka. Mereka tahu bahwa ini adalah pertarungan hidup dan mati, dan mereka harus melakukan apa saja untuk menang.
"Kami tidak takut padamu, Gravemaster!" teriak Kaelen, suaranya tegas dan penuh dengan keyakinan. "Kami datang untuk mengakhiri kejahatan Malakar dan semua bawahanmu. Dan jika kamu menghalangi jalan kami, kami tidak akan ragu untuk mengalahkanmu juga. Kamu dan kekuatan kematianmu tidak akan bisa menghentikan kami."
Gravemaster tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan yang membuat tanah di sekitarnya bergetar dan kerangka-kerangka di sekitar kakinya bergerak-gerak dengan lebih liar. "Mengalahkan saya? Kalian? Dua manusia kecil yang lemah yang bahkan hampir tidak bisa berdiri tegak karena aura kematianku? Itu adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar selama ribuan tahun ini. Kalian tidak tahu betapa kuatnya saya. Saya telah membangkitkan ribuan tentara mayat hidup, dan saya telah menghancurkan ribuan orang yang lebih kuat dan lebih berani daripada kalian. Dan hari ini, kalian akan menjadi korban berikutnya."
Tanpa peringatan apa pun, Gravemaster mengangkat tongkat tulangnya ke udara, dan dia mulai mengucapkan mantra-mantra kematian yang terdengar aneh dan menakutkan. Segera, tanah di sekitar mereka mulai bergetar dengan hebat, dan ribuan tangan-tangan kerangka yang kurus dan tulang-belulang mulai muncul dari dalam tanah di sekitar Kaelen dan Lira. Tangan-tangan itu mencoba untuk menangkap kaki Kaelen dan Lira, mencoba untuk menarik mereka ke dalam tanah dan mengubur mereka hidup-hidup.
"Cepat, Lira! Hancurkan tangan-tangan itu!" teriak Kaelen.
Kaelen dan Lira segera menggunakan kekuatan mereka untuk membekukan dan menghancurkan tangan-tangan kerangka itu. Mereka menciptakan badai es yang besar yang membekukan tangan-tangan itu dan kemudian menghancurkannya menjadi potongan-potongan kecil. Tapi secepat mereka menghancurkan tangan-tangan itu, tangan-tangan baru terus muncul dari dalam tanah, semakin banyak dan semakin ganas.
Sementara itu, Gravemaster juga mulai menyerang mereka secara langsung. Dia melemparkan bola-bola energi hijau yang sangat besar dan kuat dari tongkatnya ke arah Kaelen dan Lira. Bola-bola energi itu meledak dengan kekuatan yang besar saat menyentuh tanah, menciptakan lubang-lubang besar dan menyebarkan asap hijau yang beracun dan mematikan ke udara. Dia juga memerintahkan ribuan kerangka-kerangka yang ada di sekitarnya untuk menyerang Kaelen dan Lira, membuat mereka harus berhadapan dengan musuh yang sangat banyak dan sangat menjengkelkan.