Erik Meijer adalah pemimpin mafia paling ditakuti yang dikenal tak memiliki belas kasih. Namun, dunianya yang penuh kekerasan berubah drastis saat ia menemukan seorang bayi perempuan bernama emia di kursi belakang mobilnya setelah sebuah baku tembak. Sebuah pesan misterius mengklaim bahwa bayi itu adalah darah dagingnya.
Demi melindungi emia , Erik Meijer memutuskan untuk meninggalkan takhta kekuasaannya dan bersembunyi di sebuah desa terpencil di pegunungan. Ia mencoba belajar menjadi ayah yang normal, mengganti senjata dengan botol susu, dan strategi perang dengan lagu pengantar tidur.
Namun, masa lalu tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ketika musuh-musuhnya menemukan tempat persembunyian mereka dan mengancam nyawa emia, Erik Meijer menyadari bahwa ia tidak bisa terus berlari. Ia harus kembali menjadi sosok yang mematikan untuk terakhir kalinya demi memastikan putrinya memiliki masa depan yang damai. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, penebusan dosa, dan sisi lembut mafia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto emia.
Di sebuah bar remang-remang yang menjadi markas baru klan musuh, musik berhenti seketika saat pintu depan terlempar dari engselnya. Erik berdiri di sana. Tanpa topeng, tanpa keraguan. Ia hanya mengenakan kemeja hitam dengan lengan digulung, memperlihatkan tato ular yang melilit hingga ke urat nadinya.
"Di mana fotonya?" suara Erik rendah, tapi sanggup membekukan darah siapa pun yang mendengar.
Pemimpin klan baru, seorang pria muda yang sombong bernama Victor, tertawa sambil mengangkat selembar foto Luna. "Jadi ini kelemahan sang legenda? Seorang bayi mungil yang bahkan belum bisa bicara?"
Erik tidak membalas dengan kata-kata.
Gerakannya begitu cepat hingga mata manusia sulit mengikuti. Dalam hitungan menit, ruangan itu kacau balau. Erik bukan lagi sekadar petarung; ia adalah badai yang menghancurkan segala sesuatu yang menghalangi jalannya.
Ia memojokkan Victor di sudut ruangan, merebut foto itu, dan membakarnya dengan pemantik gas milik musuhnya sendiri.
"Dengarkan baik-baik," bisik Erik sambil menekan ujung pisau ke leher Victor.
"Kau bisa mengambil wilayahku, uangku, bahkan nyawaku. Tapi jika kau bernapas di dekat putriku, aku akan memastikan namamu dihapus dari sejarah."
Erik tidak membunuh Victor. Ia membiarkannya hidup sebagai saksi hidup bagi siapa saja yang berani mencoba mengusik ketenangannya. Ia menghancurkan server data mereka, membakar semua dokumen penelitian tentang dirinya, dan menghilang kembali ke kegelapan malam.
Saat Erik sampai kembali ke rumah kecilnya di pegunungan, fajar mulai menyingsing. Ia masuk dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara. Di ruang tamu, Marco tampak tertidur di kursi sambil memegang botol susu kosong, sementara emia.tertidur lelap di keranjangnya, sama sekali tidak tahu bahwa ayahnya baru saja meruntuhkan sebuah kerajaan dalam semalam.
Erik membersihkan sisa debu dan darah di tangannya, lalu mendekati emia. Ia mencium kening bayinya dengan lembut.
"Dunia sudah aman sekarang, emia," bisiknya.
Tiba-tiba, ponsel tua milik Marco yang tergeletak di meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: "Terima kasih sudah menjaganya, Erik. Tapi ingat, dia bukan hanya milikmu. Waktunya hampir tiba."
Erik menegang. Rahasia tentang asal-usul emia. ternyata jauh lebih besar dari sekadar urusan mafia.
****
Erik menatap layar ponsel itu dengan rahang mengeras. Pesan itu bukan sekadar gertakan; itu adalah pengingat bahwa emia adalah kunci dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar perang wilayah.
Ia segera membangunkan Marco dengan kasar. "Siapa yang mengirim ini?!"
Marco yang masih mengantuk terlonjak kaget melihat kemarahan di mata Erik.
Ia membaca pesan itu dan wajahnya mendadak pucat. "Bos... aku tidak tahu. Tapi inisial di bawah pesan ini... itu lambang Keluarga Medici."
Erik terdiam. Jika klan mafia lokal adalah serigala, maka Medici adalah naga.
Mereka bukan sekadar organisasi kriminal, mereka adalah dinasti kuno yang mengendalikan ekonomi dari balik bayangan.
Jika emia ada hubungannya dengan mereka, artinya bayi ini bukan sekadar "darah daging" Erik yang tak sengaja lahir, melainkan pewaris sah dari kekaisaran yang paling dicari di dunia.
"Siapa ibu bayi ini, Erik?" tanya Marco pelan.
Erik memejamkan mata, memori setahun lalu terlintas. Seorang wanita misterius bernama Claudia yang ia temui di Mexico.
Mereka hanya menghabiskan satu malam bersama untuk melarikan diri dari kejaran musuh masing-masing.
Claudia menghilang keesokan harinya, meninggalkan hanya sebuah cincin perak yang kini Erik sadari memiliki lambang keluarga yang sama.
"Claudia Medici," gumam Erik. "Dia tidak membuang emia.
Dia menyembunyikannya padaku karena hanya 'aku' yang bisa melindunginya dari keluarganya sendiri."
Tiba-tiba, suara helikopter menderu di atas rumah kayu mereka. Cahaya lampu sorot raksasa menembus jendela, menyapu ruangan dengan warna putih menyilaukan.
Erik segera menyambar emia dan mengikat gendongannya kuat-kuat di punggungnya. Ia mengambil dua senapan laras pendek dan memberikan satu pada Marco.
"Marco, lewat terowongan bawah tanah sekarang! Pergi ke dermaga tua!" perintah Erik.
"Lalu kau?"
Erik mengokang senjatanya. Tatapannya kembali menjadi dingin, namun kali ini ada api perlindungan di dalamnya.
"Aku akan memberi mereka sambutan yang tidak akan mereka lupakan. Tidak ada yang membawa putriku pergi, bahkan kakeknya sendiri."
Saat pintu depan meledak terkena granat kejut, Erik melompat melalui jendela samping, meluncur di atas salju sambil melepaskan tembakan presisi ke arah mesin helikopter. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya bukan lagi tentang melarikan diri. Ini adalah tentang melindungi sang pewaris dari dunia yang ingin menjadikannya boneka kekuasaan.
Erik meluncur menuruni lereng salju dengan kecepatan tinggi, sementara peluru-peluru dari helikopter Medici menghujani tanah di sekitarnya. Di punggungnya, emia mulai menangis kencang—suara yang memicu insting purba Erik untuk menghancurkan apa pun yang mengancam bayinya.
Ia sampai di dermaga tua lebih cepat dari perkiraan. Namun, alih-alih menemukan Marco, Erik justru melihat sebuah kapal pesiar hitam yang elegan sudah berlabuh di sana. Di atas geladak, seorang wanita berdiri dengan anggun di bawah sorot lampu. Gaun merahnya berkibar tertiup angin laut yang beku.
Ia , melihat seorang wanita yang memiliki mata indah , dia Adalah ibu dari putriku emia. Claudia medici
Erik berhenti sepuluh langkah di depan kapal. Senjatanya masih terarah pada para pengawal berseragam elit yang mengepungnya. "Kau menjadikanku umpan, Sofia?" geram Erik.
Claudia melangkah turun dari tangga kapal. Matanya yang indah tampak berkaca-kaca saat melihat bungkusan di punggung Erik
. "Aku tidak punya pilihan, Erik. Ayahku menganggap emia sebagai aib, sementara saudaraku menganggapnya sebagai tiket untuk menjadi kepala dinasti.
Hanya kau pria di dunia ini yang cukup gila untuk melawan mereka."
"Dan sekarang kau datang untuk mengambilnya kembali?"
"Aku datang untuk membawamu ikut bersama kami," bisik Claudia.
"Medici sedang runtuh dari dalam. Jika kita kembali sekarang, dengan kekuatanmu dan namaku, kita bisa mengambil alih semuanya. Demi masa depan emia."
Erik tertawa getir. "Aku baru saja mulai menikmati hidup sebagai pengangguran, Claudia. Aku tidak tertarik pada takhta berdarahmu."
Tiba-tiba, ledakan hebat terdengar dari arah hutan. Pasukan bayaran suruhan saudara Claudia telah tiba. Mereka tidak datang untuk menjemput Luna, mereka datang untuk melenyapkan siapa pun yang memiliki hak atas takhta Medici.
"Tunduk!" teriak Erik.
Ia menarik Claudia ke balik peti kayu tepat saat rentetan peluru menghancurkan kaca-kaca kapal. Erik tidak kini terjepit di antara dua pilihan sulit: menyerahkan emia pada ibunya dan
membiarkannya masuk ke dunia politik mafia yang licin, atau membawa mereka berdua bertarung menembus kepungan demi kebebasan yang belum pasti.
Erik menatap emia yang kini terdiam karena ketakutan, lalu menatap Claudia. "Pegang senjatamu, Claudia. Jika kita selamat dari malam ini, jangan harap kau bisa mengatur hidupku lagi."
Claudia tersenyum tipis, mengeluarkan pistol dari balik gaunnya. "Itulah alasan aku memilihmu, Erik Meijer."