Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.
Claire mendapatkan sebuah notifikasi..
[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]
Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.
Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mall
Dugaannya tak meleset sedikit pun. Pagi itu, Claire tampak tenang dalam balutan jubah sutranya, duduk menyesap teh jahe hangat yang uapnya menari-nari di udara. Namun, ketenangan itu hanyalah kulit luar--- jari-jemarinya bergerak dengan ketepatan yang mematikan, menyapu layar ponsel dengan gerakan lincah yang hanya dimiliki oleh seorang ahli. Dalam hitungan detik, ia telah menyelinap melalui celah keamanan digital, membobol sistem protokol CCTV perusahaan Lergan seolah itu hanyalah mainan anak-anak.
Layar di hadapannya segera memuntahkan visual kekacauan yang nyata. Benar saja, amarah Maxime Winston bukanlah sekadar gertakan kosong. Akibat skandal panas yang meledak semalam, sang taipan tanpa ampun telah menarik seluruh sokongan investasinya, meninggalkan lubang menganga pada fondasi keuangan Lergan.
Di sudut layar yang buram, Claire bisa melihat figur Julian yang tampak pucat, ditemani asisten setianya yang sibuk mondar-mandir mencoba menambal kapal yang hampir tenggelam tersebut. Claire tersenyum tipis--- ia tahu betul seberapa kuat pengaruh kekuasaan bisnis Winston Group, upaya Julian hanyalah sebuah perlawanan sia-sia melawan badai yang di ciptakan keluarganya sendiri.
Sementara itu, beban untuk menyelamatkan perusahaan Lergan di serahkan sepenuh nya kepada Julian-- membuat pria itu merasa tertekan.
Claire menyandarkan punggungnya, menyesap teh jahe itu perlahan. "Aku bahkan tidak perlu mengotori tanganku lebih jauh untuk menjatuhkan keluarga sombong itu. Cukup satu pemicu, dan dalam kedipan mata, kesombongan yang mereka bangun bertahun-tahun runtuh begitu saja. Dunia bisnis memang kejam... seperti aku."
Claire bangkit dari sofa nya, jubah sutranya terseret halus di lantai marmer saat ia melangkah. Ia mencari keberadaan dua malaikat kecilnya, Michel dan Mikael. Namun, bukannya ketenangan pagi yang ia temukan, telinganya justru menangkap pekikan melengking dari arah depan rumah.
Di sana, Michel sedang berdiri berkacak pinggang, wajahnya memerah menghadapi Frida, teman sebayanya yang tak kalah keras kepala.
"KAU ITU NDAK PUNA OTAK KOK! INI NAMANYA BUKAN IKAN EMAS, TAPI IKAN KOI!" bentak Michel, suaranya naik satu oktav hingga membuat siapapun yang mendengar nya terkejut.
Frida tidak mundur selangkah pun. Dengan wajah mungil yang mendongak menantang, ia berteriak balik, "NDAK YA! INI BENEL LOH IKAN EMAS! LIHAT TUH, KULIT NA CAJA WALNA EMAS KOK. MATAMU PITAK APA?"
Michel mengacak rambutnya frustrasi, gaya bicaranya sudah seperti orang dewasa yang menghadapi birokrasi rumit. "HEH PLIDA! Ndak ada ikan emas kecil model begini. Kau coba cali di pasal, bilang cama abang na 'Bang, mau beli ikan emas tapi yang ukulan na kecil'. Kalo olang yang ndak tau, itu nama na jebakan Spidelman! Ngelti kau? Kau ditipu abang-abang pasal itu!"
Frida melotot, matanya bulat sempurna. "Kenapa jadi kau yang cewot? Cuka-cuka hati Plida lah mau namakan apa ini ikan! Mau ikan emas, ikan melah muda, telcelah Plida! Ini kan ikan na Plida."
"Memang otak mu itu agak laen dali yang laen! Cudah lah, Micel capek beldebat cama olang yang ndak mau dibilangi!" Michel mengibaskan tangannya, berbalik badan hendak pergi.
"Yang culuh kau beldebat dengan ku ciapa? Kau yang dateng-dateng langcung galak!" sahut Frida ketus.
Michel berbalik lagi, urat lehernya terlihat menegang lucu. "ITU KALNA KAU BIKIN EMOCI KU NAIK, PLIDA OTAK DENGKUL! CAPEK KALI LACA NYA MICEL INI MENGHADAPI MU! CETIAP HALI BELAJAL HITUNG UANG CAJA NDAK CECAPEK INI!"
"CEMBALANGAN NGATAIN OTAK PLIDA OTAK DENGKUL! LAH CITU... OTAK-OTAKAN! LEMBEK KAYAK MAKANAN!" balas Frida tak mau kalah.
Di depan pagar, Claire hanya bisa menutup mulutnya, menahan tawa yang nyaris meledak. Ironi hidupnya terasa begitu kental-- di dalam rumah ia baru saja menyaksikan kehancuran sebuah dinasti bisnis, sementara di halaman depan, anaknya sedang berjuang mati-matian mempertahankan "kebenaran" jenis ikan.
"Sudah, cukup perdebatan 'ilmiah' kalian," Claire datang mendekat. "Michel, ayo masuk dan ganti baju. Mommy ingin mengajakmu dan Abangmu ke Mall. Kita bersenang-senang hari ini."
Seketika wajah Michel berubah cerah. "Ke Mall?! Mau beli mainan yang ada otak na ya Mom, bial Micel bica kacih pinjam ke Plida!"
"HEH! CEMBALANGAN!"
HAHAHAHAHAHA... Michel tertawa sebelum dia berlari ke dalam rumah. Claire hanya geleng - geleng kepala saja. " Lagian sejak kapan ikan koi kecil... bukan ukuran nya lebih besar dari ikan emas ya.. ikan cupang baru kecil." gumam Claire terkekeh. Anak nya itu meskipun salah tidak mau di salahkan, selalu benar meskipun memang salah.
•
•
Sinar matahari Jakarta yang terik memantul pada permukaan mobil merah mewah milik Claire, yang melaju stabil membelah kemacetan kota dengan keanggunan yang kontras terhadap kekalutan di benaknya.
Di kursi belakang, Mikael dan Michel duduk dengan riang, sama sekali tidak menyadari badai konflik yang tengah menghancurkan fondasi keluarga besar ayah mereka. Claire melirik kedua buah hatinya melalui spion tengah, lalu membuang napas pelan, membiarkan segala drama dan kekacauan domestik itu tertinggal jauh di belakang aspal yang ia lalui.
Baginya, kehancuran yang kini menimpa keluarga suaminya hanyalah sebuah manifestasi karma yang puitis--- sebuah balasan setimpal bagi mereka yang bertahun-tahun memelihara tabiat merendahkan orang lain dengan penuh keangkuhan.
Claire memutar kemudi dengan mantap memasuki area pusat perbelanjaan, memilih untuk menenggelamkan hari itu dalam kesenangan bersama anak-anaknya daripada memedulikan nasib orang-orang yang kini tergilas oleh kesombongan mereka sendiri.
Hembusan angin dingin dari AC pusat perbelanjaan menyambut mereka saat pintu otomatis terbuka. Claire melepas kacamata hitamnya, menatap megahnya bangunan itu dengan senyum kemenangan.
"Nah, sekarang waktunya kita bersenang-senang! Katakan pada Mommy, apa yang kalian inginkan hari ini? Anggap saja ini perayaan kecil untuk kebebasan kita."
Michel melompat kecil dengan mata berbinar. "Beli mecin kalaoke Mommy! Bial kita bica buat konsel di lumah tiap hali!"
Mikael melotot tajam ke arah kembarannya. "Jangan buat kupingku rusak setiap pagi, Michel! Suara kamu itu seperti ban mobil bocor, tahu tidak? Aku tidak mau bangun tidur langsung dengar konser tidak jelas!"
Michel berkacak pinggang, tidak mau kalah. "Ndak ucah cilik, Kael! Kalo cuala mu yang jelek, jangan calahkan Micel! Micel ini panyanyi plopecional!" Mikael mendengus sinis ke arah saudari kembar nya. Profesional apaan? Profesional membuat telinga rusak baru iya.
Claire hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah si kembar yang tidak pernah akur namun selalu menggemaskan. Ia merangkul bahu keduanya, menuntun mereka masuk lebih dalam ke keramaian brand-brand mewah yang berjejer.
"Sudah, sudah. Mikael, nanti kita beli noise cancelling headphone supaya kau tidak terganggu. Dan Michel, Mommy akan belikan mikrofon paling mahal supaya suaramu terdengar sampai ke rumah tetangga."
Michel menjulurkan lidah nya. "Wlee! Mommy cayang Micel! Ayo kita beli es klim dulu cebelum beli mecin!"
"Mommy sekarang terlalu memanjakannya..." gumam Mikael sambil tetap melangkah masuk. Namun tidak bisa di pungkiri jika Mikael sangat bahagia melihat perubahan sang Mommy. Jika dulu sang Mommy yang selalu bersikap kasar dan bahkan rela mengangkat tangan nya kepada mereka-- sekarang semua terasa seperti mimpi indah. Mommy mereka berubah, bukan hanya menjadi lemah lembut tapi juga perhatian.
Awalnya Mikael masih waspada-- takut jika sang Mommy hanya bersandiwara demi mendapatkan perhatian sang Daddy. Namun sekarang, hatinya melemah. Dia berharap sang Mommy akan tetap sama-- tidak ada lagi sang Mommy yang kasar dan memukul mereka. Hanya ada sang Mommy yang selalu memeluk mereka-- itu harapan dari seorang Mikael-- dan mungkin juga Michel.
•
•
•
BERSAMBUNG