Vera merantau ke kota dan bisa di katakan bawa dia jarang pulang ke rumah karena memiliki hubungan yang tidak baik dengan Pak Darto Ayah kandung dia sendiri, namun kali ini Dia terpaksa harus pulang ketika mendengar kabar bahwa Bu Elma telah meninggal dunia.
semula Vera menganggap bahwa kematian Bu Elma adalah kematian yang biasa, namun beberapa malam saja dia tinggal di rumah itu malah menemukan keanehan yang tidak biasa.
benarkah Bu Elma meninggal karena sesuatu yang tak kasat mata?
mampukah Vera untuk mengungkap masalah tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Seruni melihat
"Bang, dari tadi mancing tidak pulang-pulang!" suara galak mulai berteriak di belakang Udin sana.
"Aduh, susul Seruni pula aku!" Udin terperanjat kaget karena ada suara istri tercinta.
"Itu urusan dirimu sendiri dan jangan libatkan aku karena bukan aku yang mengajak kau ke pinggir sungai ini." Matteo tidak mau ikut campur dalam urusan Udin.
Seruni sudah berdiri dengan berkacak pinggang karena dia memang kesal kepada Udin kalau sudah mancing seperti ini maka tidak pernah ingat pulang, nanti sekali pulang maka akan membawa ikan kecil saja sehingga rasa emosi yang ada di dalam diri wanita cantik ini kian membeludak dan siap untuk meledak.
Udin menggaruk kepala yang tidak gatal karena takut akan kena marah oleh sang istri karena selama ini memang selalu saja seperti itu, Mateo cepat menjauh karena tidak ingin terlibat dalam pertengkaran suami istri itu dan membiarkan saja mereka debat satu sama lain agar perasaan di dalam hati seruni bisa tuntas.
Vera yang masih ada di sana juga agak merinding ketika melihat Seruni berwajah cantik dan juga kalem tapi ketika sudah emosi bisa seperti itu, padahal tadi Dia mengira ketika suruh ni datang maka dia adalah wanita yang lemah lembut dan tidak akan berbicara dengan sangat galak seperti itu.
Tidak tahu saja bahwa saat ini memang Seruni sedang dilanda emosi begitu tinggi setelah dia pusing mencari Udin kemana-mana namun tidak berhasil menemukan dan baru sekarang ketemu di pinggir sungai, karena memang Udin sangat suka sekali memancing walau selama ini belum ada hasil yang memuaskan bagi Seruni itu sendiri.
Jadi ketika ketemu di pinggir sungai ini maka emosinya langsung meledak dan akan menghajar Udin karena terus saja memancing seperti itu, padahal memang Udin sudah bekerja tapi ini hanya ingin menghibur kesenggangan diri dan pergi memancing di pinggir sungai namun menurut Seruni itu hanya membuang waktu yang sangat berharga ini.
"Siapa dia?" Seruni mendadak saja bertanya pelan karena tidak sengaja melihat Vera.
"Tidak tau." Udin menggeleng pelan karena dia memang tidak tahu.
"Aku tidak pernah melihat dia di kampung ini, tapi kenapa aura dia begitu kelam." Seruni menatap Vera yang duduk di atas batu.
"Ih kamu itu sama dengan Ayah selalu saja suka dengan setan." Udin menggerutu kecil.
"Lah Ayah dan aku berburu setan karena memang ada hasil, kamu ini memancing sekian lama tapi tidak ada hasil!" sengit Seruni.
"Dia bisa berburu setan juga?" Vera tertegun ketika mendengar ucapan Seruni tadi.
"Udah sekarang tidak usah banyak omong dan kita pulang karena aku akan menghajar dirimu itu." kesal Seruni.
Udin menarik nafas panjang namun dia tidak mengelak ketika akan di ajak pulang oleh sang istri tercinta, dari pada nanti semakin panjang maka lebih baik bila segera pulang saja dan menuruti untuk istirahat di rumah dan tidak membuang waktu dengan memasang kail di pinggir sungai ini.
"Gadis itu di kelilingi dengan aura yang tidak baik." Seruni berkata ketika sudah ada di atas motor.
"Wajar saja dia dikelilingi aura yang tidak baik karena sikap dia juga terlihat tidak baik." jawab Udin.
"Kamu tidak boleh menilai orang hanya dari sekali pandang seperti itu!" Seruni berkata kesal.
"Ya coba saja kamu lihat dari gaya dia yang tidak mau menegur orang walau sudah berhadapan secara langsung." tutur Udin.
"Tidak mau menegur bukan berarti dia sombong tapi bisa jadi karena dia malu, atau bahkan dia merasa bingung mau menegur dengan cara apa." Seruni tetap berpikir positif pada Vera.
Udin tidak menjawab karena memang benar kadang Seruni selalu saja berpikir positif terhadap orang lain, selama ini sebenarnya Seruni adalah tipe wanita yang sangat sabar dan tidak pernah marah tapi karena Udin terus saja pergi memancing maka rasa sabar itu hilang dan menjadi wanita pemarah yang siap menelan mangsa.
"Emang menurut kamu Dia memiliki aura apa sih?" Udin penasaran juga dengan pandangan Seruni.
"Ada sesuatu yang sedang mengikuti dia." jawab Seruni.
"Ih kalau seorang gadis takut itu nanti malah guna-guna dari seseorang ya." Udin malah berpikiran ke sana.
"Kalau menurut aku memang itu kiriman tapi bukan guna-guna dari seorang pria." jelas Seruni kembali.
"Tapi Kamu tidak usah menawarkan diri untuk menolong dia karena menurut yang aku lihat dia adalah gadis sombong." Udin tidak mau bila Seruni nanti sampai menawarkan diri.
"Enggak lah, kalau keluarga kami gila setan namun tidak akan sampai memohon kepada orang untuk mengambil setan itu." sahut Seruni.
"Angkuh dan juga keras aku rasa sifat dia itu, mungkin karena itu dia mendapat gangguan." tebak Udin.
"Kan sudah aku bilang jangan berprasangka buruk kepada orang lain seperti itu, kita tidak tahu kehidupan dia." Seruni kembali menasehati sang suami.
Udin melipat bibir ketika dia kena marah lagi oleh sang istri tercinta karena berbicara sembarangan tentang Vera, namun menurut Udin memang begitu karena tadi mereka sempat bertatapan secara langsung dan Udin menyimpulkan bahwa Vera memang gadis yang keras kepala dan tidak bisa menghargai orang lain sehingga dia agak enggan untuk berhubungan dengan gadis itu atau bahkan berbicara secara langsung.
"Jahat sekali yanga ada di sekeliling dia." gumam Seruni.
"Dia orang mana sih? aku seperti tidak pernah melihat dia ada di desa ini." Udin penasaran juga dengan Vera.
"Iya, aku juga tidak pernah melihat dia entah anak siapa." angguk Seruni.
"Atau dia orang pindahan dari kota kali ya?" tebak Udin.
Seruni menggeleng karena dia memang tidak tahu asal muasal Vera itu dari mana, memang bukan warga desa pandan Arum sehingga wajar saja bila mereka tidak mengenali dan selama ini walau tinggal di desa lain dia tidak pernah atau bahkan jarang tinggal di desanya akibat terlalu lama merantau di kota besar.
"Hitam dan besar, namun masih ada sosok lain lagi." gumam Seruni.
"Udah ih kamu terus saja memikirkan itu kalau sudah melihat." Udin mulai jengah.
"Ya kenapa sih, kan kamu juga tau kalau aku suka setan." Seruni tertawa kecil.
"Iya iya, cuma kadang aku ya agak merinding kalau kamu sudah mencari setan." jujur Udin.
Udin adalah pria biasa yang tidak mengerti tentang hal gaib seperti itu sehingga dia agak kurang nyaman atau bahkan kadang merasa begitu ketakutan bila Seruni dan Cakra sudah berburu setan, kamu semua itu harus dia tanggung karena sudah resiko ketika menikahi gadis yang berbau dengan hal ghaib.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komen nya ya.
ini kira-kira Siti asli atau bukan yaaa ❓🤣
misi penyelidikan sudah di mula nih 🤣