NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3

Pagi itu, suasana di depan rumah Quinn sudah seperti adegan sinetron episode terakhir.

Kardus bertumpuk. Koper berjajar. Mobil keluarga Quinn terparkir dengan bagasi terbuka.

Dan di tengah semuanya—

Finka berdiri sambil nangis lebay.

Air matanya mengalir deras, hidungnya merah, tapi tetap dramatis maksimal.

“Quinnnnn… lo jangan lupa kalau lo punya sahabat yang cantik dan imut kayak gue ya!” tangisnya heboh sambil memeluk lengan Quinn erat-erat.

Quinn yang sedang memegang koper langsung mendengus.

“Iya. Udah ah. Jangan mewek gitu. Jelek lo!”

Finka langsung melotot sambil tetap nangis.

“Ini air mata tulus tau! Bukan air mata settingan!”

“Lebay banget sih lo,” balas Quinn sambil berusaha melepas pelukannya. “Gue cuma pindah kota, bukan pindah planet.”

Finka makin erat memeluk.

“Jakarta itu jauh! Macet! Polusi! Banyak cewek-cewek centil yang bisa jadi sahabat lo pengganti gue!”

Quinn memutar bola mata.

“Tenang aja. Nggak ada yang bisa tahan sama sifat lo selain gue.”

Finka berhenti nangis sepersekian detik.

“Itu pujian apa hinaan?”

“Dua-duanya.” jawab Quinn santai.

Selena tersenyum melihat drama itu dari teras, sementara Armand sibuk memasukkan kardus terakhir ke bagasi.

Finka tiba-tiba teringat sesuatu.

“Eh!” Ia menjauh sedikit dari Quinn. “Darren nggak lo kasih tau kalau lo mau pindah?”

Wajah Quinn langsung berubah datar.

“Nggak lah. Ngapain? Gue udah males lihat mukanya.”

Finka menyeka air matanya cepat.

“Serius lo nggak mau bilang? Biar dia tau dong kalau dia kehilangan cewek paling kece satu Bandung.”

Quinn mengangkat bahu.

“Biar aja dia tau dari story orang. Atau dari mimpi sekalian.”

Finka mendengus puas.

“Bagus. Biar dia nyesel tiap malam sambil denger lagu galau.”

Quinn tertawa kecil.

“Fin, hidup gue nggak berhenti cuma gara-gara cowok selingkuh.”

Finka langsung pasang ekspresi bangga.

“Itu dia sahabat gue! Strong, savage, dan sedikit songong.”

“Sedikit?” Quinn menyipitkan mata.

“Ya… lumayan banyak.” Finka nyengir.

Armand menutup bagasi dan mendekat.

“Ra, sudah siap?”

Quinn menoleh.

“Udah, Pa.”

Finka langsung panik lagi.

“Ini udah mau berangkat? Cepet banget!”

Selena turun dari teras, lalu berjalan menghampiri Finka.

"Finka, terima kasih ya kamu sudah mau jadi teman anak Tante selama di sini. Kamu jaga diri baik-baik ya."

Finka tersenyum sambil menyeka air matanya. "Iya, Tante. Tante juga sehat-sehat ya."

Selena memeluk Finka sebentar sebelum masuk ke mobil.

Finka kembali memeluk Quinn, kali ini lebih tenang.

“Lo harus sering video call.”

“Lo juga jangan berubah ya.” jawab Quinn pelan.

“Gue mah tetap cantik dan imut.”

Quinn terkekeh.

“PD banget.”

Finka menatapnya serius.

“Kalau ada yang nyakitin lo di Jakarta, bilang. Gue naik kereta juga gue samperin.”

Quinn tersenyum, kali ini tulus.

“Makasih ya, Fin.”

Finka langsung terharu lagi.

“Ya ampun, lo ngomongnya lembut banget bikin gue mau nangis lagi.”

“Jangan! Udah cukup kuota air mata pagi ini.”

Mereka tertawa kecil.

Akhirnya Quinn masuk ke mobil belakang. Armand di kursi pengemudi, Selena di sampingnya.

Mesin mobil menyala.

Finka berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangan dengan wajah sembab.

“QUINNN! JANGAN LUPAIN GUE!”

Quinn membuka kaca sedikit dan berteriak balik,

“SIAPA LO?”

Finka langsung manyun.

Quinn tertawa, lalu menambahkan,

“BECANDA! I LOVE YOU, DRAMA QUEEN!”

Finka langsung senyum lebar meski masih berkaca-kaca.

Mobil perlahan bergerak menjauh.

Quinn menoleh lewat kaca belakang, melihat Finka yang masih berdiri melambaikan tangan sampai mobil itu benar-benar belok dan hilang dari pandangan.

Ia bersandar di kursi.

Bandung tertinggal.

Jakarta menunggu.

Dan tanpa ia tahu—

bukan cuma kota baru yang menantinya,

tapi juga seseorang dari masa lalunya yang belum benar-benar selesai.

...----------------...

Arena boxing itu riuh oleh suara pukulan dan napas berat. Bau keringat dan kulit sarung tinju memenuhi udara.

Di tengah ring, Ryuga bergerak lincah.

Pelatih memberi aba-aba cepat.

“Jab! Cross! Hook! Jangan kasih celah!”

Ryuga melesat maju.

Pukulan kirinya menghantam samsak keras—DUK!—lalu disusul kombinasi cepat kanan-kiri-kanan. Samsak besar itu berayun liar.

Zayden bersandar di tali ring, tangannya terlipat, ekspresinya tetap cool.

“Speed-nya naik lagi.”

Elric berdiri di sampingnya, wajahnya datar.

“Timing dia makin presisi. Lawan yang kemarin pasti tumbang kalau sparring lagi.”

Keano justru heboh sendiri di bawah ring.

“Ga! Itu samsak nggak punya dosa woi! Pelan dikit, kasian!”

Naomi berdiri paling depan, matanya mengikuti setiap gerakan Ryuga.

“Gerakannya bersih banget…” gumamnya kagum.

Pelatih lalu menunjuk salah satu petinju untuk sparring.

Lonceng berbunyi.

Lawan Ryuga mencoba menyerang duluan—hook kanan cepat ke arah wajah.

Ryuga menunduk tipis, menghindar sepersekian detik sebelum pukulan itu mengenai.

Balasannya cepat.

Jab ke wajah.

Hook ke rusuk.

Uppercut ringan tapi tepat sasaran.

Lawan mundur dua langkah.

Keano melonjak.

“ANJIR! Itu combo sadis banget!”

Zayden hanya mengangguk kecil.

“Kontrol emosinya bagus. Nggak asal hajar.”

Elric menambahkan singkat,

“Dia main pakai otak.”

Naomi tersenyum tipis, bangga.

Sparring selesai. Ryuga melepas mouthguard dan menyeka keringat dengan handuk. Napasnya tetap stabil, tidak terengah.

Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering dari bangku dekat ring.

Keano menunjuk heboh.

“Ga, berhenti dulu. Itu hp lo bunyi! Jangan bilang fans lo lagi.”

Ryuga turun dari ring, mengambil ponselnya.

Melihat nama di layar, ekspresinya sedikit berubah.

Mommy is calling...

Ia mengangkat telepon.

“Ya, Mom.”

Suara Adriana—ibunya terdengar riang tapi penuh tuntutan.

“Kamu di mana sekarang? Masih latihan? Mommy sudah masak banyak banget. Ada sop kesukaan kamu, ayam panggang, sama dessert. Kamu harus pulang cepat!”

Ryuga menoleh ke arah ring sebentar.

“Masih di arena. Sebentar lagi selesai.”

“Sebentar lagi itu berapa jam?” suara Adriana terdengar dramatis. “Mommy masak bukan buat pajangan, Ryuga!”

Ryuga menghela napas tipis.

“Iya, Mom. Aku pulang sekarang.”

“Bagus! Jangan lama-lama. Daddy juga sudah nunggu kamu.”

Telepon ditutup.

Keano langsung mendekat.

“Kenapa? Dimarahin?”

“Disuruh pulang. Makan siang.”

Keano langsung angkat tangan.

“Oke, kalau udah urusan Nyokap lo, kita nggak bisa ganggu.”

Zayden tersenyum tipis.

“Family first.”

Elric mengangguk kecil.

Ryuga mengambil jaketnya.

“Gue cabut.”

Naomi langsung melangkah mendekat.

“Ryuga…”

Ia menggigit bibir sebentar sebelum lanjut bicara.

“Boleh nebeng nggak? Rumah kita kan satu komplek.”

Keano langsung melirik-lirik sambil senyum usil.

Ryuga menjawab datar tanpa ragu,

“Nggak.”

Naomi terdiam.

“Kenapa? Toh searah.”

“Gue mau langsung pulang.”

Nada suaranya tidak kasar, tapi tegas. Tanpa ruang tawar.

Ia melirik Keano sekilas, lalu kembali menatap Naomi.

"Lo bisa pulang sama Keano."

Keano langsung menepuk dadanya dramatis.

“Siiipp! Udah naik motor gue aja, Naomi! Jok motor gue lebih empuk kayak mobil BMW.”

Naomi mendengus.

“Gue nggak nanya joknya.”

Keano pura-pura tersinggung.

“Eh, ini jok premium loh. Limited edition. Bisa bikin hati adem.”

Zayden terkekeh pelan.

“Lo yakin yang empuk joknya, bukan omongan lo?”

Elric menyeringai tipis.

“Jangan sampai Naomi minta turun di tengah jalan.”

Naomi melipat tangan di dada, lalu menatap mereka satu per satu.

“Kalian kompak banget ngeledek gue ya.”

Ryuga sudah menyalakan motornya.

Naomi menatapnya sekali lagi.

“Ryuga… sebentar aja nggak bisa?”

Ryuga mengenakan helm.

“Nggak.”

Hanya satu kata.

Mesin meraung.

Tanpa menoleh lagi, ia melaju keluar arena.

Naomi berdiri diam, jelas kecewa.

Keano mendekat sambil menyerahkan helm cadangan.

“Udah, jangan pasang muka hujan. Kalau lo nunggu dia peka, bisa-bisa Jakarta pindah pulau dulu.”

Naomi mendesah pelan.

“Dia dingin banget.”

Zayden menjawab santai,

“Bukan dingin. Dia cuma belum nemu yang bikin dia hangat.”

Elric menatap pintu keluar arena yang sudah sepi.

“Dan kalau udah nemu, dia pasti bakal beda. Mungkin... dia lebih lembut.”

Naomi terdiam.

Sementara di jalan raya, Ryuga melaju kencang menembus lalu lintas.

Ekspresinya tetap datar.

Tapi pikirannya… entah kenapa kembali pada satu nama.

Vierra Quinn Maverick—gadis pujaan hatinya.

...----------------...

Lampu merah menyala terang di persimpangan besar Jakarta. Deretan kendaraan berhenti rapat, suara klakson sesekali terdengar tidak sabar.

Ryuga menghentikan motor sport hitamnya tepat di samping sebuah mobil hitam elegan. Satu kakinya menapak aspal, tangannya tetap menggenggam setang. Mesin masih menyala halus.

Entah kenapa dadanya terasa aneh.

Ia melirik sekilas ke samping.

Di balik kaca mobil itu, ia melihat siluet seorang gadis. Rambut panjangnya jatuh lembut di bahu. Gerakan tubuhnya… terlalu familiar.

Ryuga sedikit memicingkan mata.

“Itu… Vierra?”

Ia ingin memastikan. Tapi tepat saat itu, gadis di dalam mobil menunduk—menghilang dari pandangannya.

Ryuga terdiam beberapa detik.

Angin menerpa jaketnya.

Lalu ia terkekeh hambar di balik helm.

“Gue rasa gue udah gila karena kangen sama lo, Ra.” gumamnya pelan.

“Tiga tahun nggak ketemu, masa iya tiap cewek rambut panjang gue kira lo.”

Ia menggeleng kecil, mencoba menertawakan dirinya sendiri.

Sementara itu, di dalam mobil yang sama—

Quinn sedang panik kecil.

“Ya ampun… jatuh ke mana sih…” gerutunya sambil menunduk mencari sesuatu di bawah kakinya.

Tangannya meraba-raba sampai akhirnya menemukan lipstik kesayangannya yang terguling.

“Akhirnya dapet juga!” katanya puas sambil duduk tegak lagi.

Selena langsung melirik dari kursi depan.

“Kamu itu dandan mulu dari tadi. Padahal kamu udah cantik.”

Quinn langsung cengengesan lebar.

“Ma, ini bukan soal cantik. Ini soal konsistensi image.”

Selena mengangkat alis.

“Image apaan?”

“Aku tuh harus tetap cetar di setiap situasi, Ma. Termasuk pas lagi macet begini.” jawab Quinn sambil bercermin kecil dan mengoleskan lipstik dengan serius.

Armand tertawa pelan dari kursi pengemudi.

“Macet kok jadi panggung fashion show.”

Quinn menunjuk kaca depan dramatis.

“Siapa tau aja ada Jungkook lewat, terus notice aku karena anak Papa ini terlalu mempesona untuk diabaikan.”

Selena langsung mencibir.

“Jungkook itu artis internasional, bukan tukang ojek yang lewat tiap lampu merah.”

Armand ikut menimpali sambil menahan tawa,

“Kalau benar lewat, Papa minta tolong sekalian fotoin ya.”

Quinn terkikik geli.

“Tenang, Pa. Aku atur meet and greet khusus keluarga.”

Selena menggeleng pasrah.

“Anak ini, ya ampun…”

Di luar, motor di samping mobil sedikit meraung pelan.

Quinn tanpa sadar menoleh sekilas ke arah suara itu, tapi hanya melihat lengan berjaket hitam dan helm gelap. Wajahnya tak terlihat.

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Motor di samping mereka langsung melaju lebih dulu dengan cepat dan mantap.

Suara mesinnya meninggalkan gema singkat.

Quinn yang masih menatap ke samping sedikit terlambat menyadari postur pengendara itu.

Tinggi. Tegap. Cara duduknya di motor… khas.

Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Ryuga…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.

Armand sudah mulai menjalankan mobil.

Quinn masih menatap punggung pengendara motor yang semakin menjauh.

Selena menoleh ke belakang.

“Kamu bilang apa tadi?”

Quinn tersentak, lalu cepat-cepat menggeleng.

“Nggak… nggak apa-apa.”

Ia menarik napas, mencoba menenangkan diri.

“Ah, nggak mungkin. Nggak mungkin,” gumamnya lagi pelan.

Selena mengerutkan kening.

“Kamu kenapa sih dari tadi aneh?”

Quinn memaksakan tersenyum.

“Jakarta luas, Ma. Nggak mungkin itu tadi Ryuga. Pasti cuma kebetulan mirip.”

Armand melirik lewat spion.

“Ryuga? Siapa?”

“Teman SMP aku dulu,” jawab Quinn cepat. “Cuma… ya udah lama nggak ketemu.”

Selena tersenyum tipis penuh arti.

“Oh… teman.”

Quinn langsung mengalihkan pandangan ke jendela.

“Iya, cuma teman.”

Tapi tangannya tanpa sadar menggenggam ujung rok seragamnya sedikit lebih erat.

Di depan sana, motor sport hitam itu sudah berbelok dan menghilang di tikungan.

Keduanya sama-sama mengira itu hanya bayangan.

Padahal jarak mereka tadi—

hanya selebar satu pintu mobil.

...----------------...

Mobil keluarga Quinn berhenti di depan rumah baru mereka di Jakarta. Suasana masih dipenuhi kardus dan koper besar.

Quinn langsung naik ke kamarnya sambil menyeret koper warna silver kesayangannya.

“Kamar baru, kehidupan baru… semoga tetangganya nggak rese.” gumamnya sambil membuka jendela.

Ia mulai menyusun tas, sepatu, dan pajangan kecil di meja belajarnya. Wajahnya terlihat santai, tapi jelas ada campuran gugup.

Tiba-tiba pintunya diketuk.

Tok, tok, tok!

"Ra!" panggil Armand dari luar kamar.

“Masuk aja, Pa. Pintunya nggak dikunci.”

Armand masuk sambil tersenyum lembut. Ia berdiri memperhatikan putrinya yang sibuk mengatur barang.

“Ra, besok kamu sudah bisa masuk sekolah. Papa sudah daftarin kamu di SMA Lentera Cendekia.”

Quinn berhenti melipat bajunya.

“Besok? Secepat itu, Pa? Aku kira seminggu lagi.”

Armand tertawa kecil.

“Kalau ditunda-tunda, nanti kamu makin malas. Lagipula sekolahnya bagus, disiplin, fasilitas lengkap. Papa sudah urus semuanya.”

Quinn menjatuhkan diri ke kasur.

“Teman-temannya baik nggak ya… Jangan sampai isinya anak-anak sombong semua.”

Armand duduk di tepi kasur.

“Kalau ada yang sombong, kamu hadapi saja. Kamu kan nggak kalah galak dan nggak kalah percaya diri.”

Quinn tersenyum tipis.

“Iya sih. Tapi tetap aja rasanya aneh mulai dari nol lagi.”

Armand menatapnya hangat.

“Kadang pindah itu bukan kehilangan, tapi cara hidup kasih kamu cerita baru.”

Quinn terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Iya, Pa. Aku siap.”

Armand menepuk kepalanya pelan.

“Itu baru anak Papa.”

Sementara itu di sisi lain Jakarta, gerbang besar terbuka otomatis saat motor sport hitam masuk ke halaman mansion megah Renzo—keluarga Ryuga.

Ryuga turun dari motor, melepas helmnya, lalu berjalan masuk.

Begitu pintu terbuka—

Adriana sudah berdiri di ruang tengah dengan tangan berkacak pinggang.

“Kamu ini kerjanya cuma main terus! Kalau nggak ditelepon nggak pernah pulang! Mommy masak banyak, capek-capek, tapi anaknya entah ke mana!”

Ryuga meletakkan helmnya santai.

“Main? Aku latihan, Mom.”

“Latihan sampai lupa waktu itu namanya kebablasan!” Adriana makin dramatis. “Kamu pikir rumah ini hotel? Datang cuma buat mandi dan tidur?”

Ryuga menghela napas panjang.

“Daripada di rumah cuma lihat Mommy dan Daddy yang bucin setiap hari.”

Sunyi satu detik.

Kenshiro yang duduk membaca koran perlahan menurunkannya. Wajahnya tetap datar, elegan, dingin.

Adriana melotot.

“Dengar tuh, Ken! Anak kamu bilang kita bucin!”

Kenshiro hanya menjawab tenang,

“Dia tidak salah.”

Adriana langsung menghela napas panjang.

“Kalian berdua ini ya… satu dingin kayak es, satu lagi nyinyir kayak netizen.”

Ryuga menyeringai tipis.

“Fakta tetap fakta.”

Adriana langsung mengarahkan telunjuknya.

“Makanya kamu itu cari pacar! Heran deh. Muka ganteng, tinggi, badan bagus… kok betah jomblo? Mommy sampai malu kalau arisan ditanya, ‘Anaknya sudah punya pacar belum?’”

Ryuga berdecak kesal.

“Mom, hidupku bukan bahan gosip arisan.”

“Ya justru itu! Mommy pengen gosipnya naik level!” balas Adriana tanpa rasa bersalah.

Kenshiro menyela tenang,

“Biarkan dia, sayang. Kalau sudah waktunya, dia tahu harus bagaimana.”

Ryuga mengangguk setuju.

“Nah, Daddy aja ngerti.”

Adriana mencibir.

“Kalau kayak gitu, Mommy keburu ubanan nunggu kamu sadar cinta. Lagi pula cewek mana yang mau sama kamu yang kaku begitu? Ekspresi kamu itu loh, kayak lagi wawancara kerja terus-terusan.”

Ryuga mengangkat alis tipis.

“Kalau ceweknya tepat, aku nggak akan kaku.”

Adriana langsung membelalakkan mata.

“OH? Jadi ada dong yang pernah bikin kamu nggak kaku?”

Ryuga langsung menoleh.

“Aku nggak bilang gitu.”

Kenshiro tersenyum tipis melihat anaknya hampir terpancing.

Adriana makin mendekat.

“Siapa namanya? Mommy selidiki sekarang juga.”

Ryuga mendengus.

“Aku ke kamar dulu. Mau mandi. Gerah.”

“Kamu belum jawab!” teriak Adriana dari belakang.

Ryuga sudah berjalan menuju tangga.

“Mommy terlalu kepo.”

Adriana mendesah dramatis, menepuk dahinya.

“Anak ini bikin darah tinggi aku naik setiap hari!”

Kenshiro berdiri perlahan dan menatap punggung putranya yang menaiki tangga.

Sudut bibirnya terangkat tipis.

“Dia memang putraku.”

Adriana melipat tangan.

“Kenapa bangga banget sih?”

Kenshiro menjawab tenang,

“Karena dia tahu apa yang dia mau. Dan tidak mudah goyah.”

Sementara di lantai atas, Ryuga menutup pintu kamarnya.

Ia berdiri diam beberapa detik.

Entah kenapa, wajah seorang gadis dengan senyum centil kembali muncul di pikirannya.

Di sisi lain kota, Quinn juga sedang menatap langit-langit kamar barunya.

Jakarta terasa luas.

Tapi takdir diam-diam sedang mempersempit jarak mereka.

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!