Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 7.BCS
Saat pulang ke rumah, Albi langsung mendapat tamparan keras dari Abdi papanya. Albi yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut, ia melihat papanya penuh dengan amarah.
Abdi mendapat laporan dari orang suruhannya, kalau Albi tidur dengan seorang perempuan dari dunia peselancar. Abdi terkejut dan sangat marah.
"Ada apa menamparku?" Albi tidak terima.
“Ada apa kamu bilang," Abdi melempar sebuah foto ke arah Albi.
Albi mengambil beberapa foto yang jatuh di lantai. Ia mengumpat kesal. “Apaan ini kenapa jadi seperti ini, apa maksud semua ini ?“
“Siapa perempuan itu, sungguh memalukan," umpat Abdi menatap tajam Albi yang memegang foto.
“Apa aku boleh bicara?" Albi bersikap tenang.
Albi merasa sekarang tidak bisa bergerak bebas. Dengan adanya foto dirinya yang sudah tersebar, harus siap menerima konsekuensinya.
Abdi mengangguk dan mengalihkan pandanganya ke arah lain karena sangat kecewa dengan anaknya. Anak yang dibesarkan dan dibanggakan dengan didikan baik juga kasih sayang justru telah menorehkan luka dan mencemarkan harga diri keluarganya.
"Aku dijebak sama teman-teman ku, mereka mengakui perbuatannya. Aku yakin tidak melakukan apapun dengan perempuan itu," jelas Albi dengan yakin.
Albi merasa ada yang aneh menyadari saat bangun tidur melihat tubuh Prasasti. Biasanya di bagian tubuh perempuan setelah melakukan hubungan intim pasti ada jejak, melihat tubuh prasasti beda tidak ada tanda di sekitar bagian tubuhnya.
Sayangnya Abdi tidak menanggapi penjelasan anaknya. Justru meminta Albi mempertanggung jawabkan atas perbuatannya.
"Kamu yakin tidak melakukannya?" tanya Abdi tatapannya menyelidik.
Albi terdiam berusaha mengingat. Ia berpikir keras kejadian malam itu tapi berhenti setelah minum dan ketika bangun sudah berada di tempat tidur.
“Beri aku waktu mencari kebenarannya," kata Albi kemudian.
“Tidak usah mengulur waktu semua sudah jelas, yang penting sekarang kamu cari tahu dimana perempuan itu tinggal," ucap Abdi duduk dengan pikiran tidak tenang.
Khasanah masuk membawa minuman lalu meletakkan diatas meja. “Ada apa kok tegang sekali?"
"Lihat anakmu, mentang-mentang sudah dewasa berani kurang ajar," jawab Abdi memijat pelipisnya.
Khasanah melihat suami dan anaknya bergantian lalu duduk. "Maksudnya apa?"
Albi menghembuskan napas panjang lalu menceritakan kejadian yang sebenarnya mulai awal hingga akhir.
Khasanah mendengar dengan seksama wajahnya nampak serius memperhatikan Albi. Ada rasa kasihan sekaligus marah. Khasanah belum pernah melihat anaknya mabuk sampai lupa diri.
"Bagaimanapun juga kamu sudah tidur bersama perempuan itu, kamu harus bertanggungjawab. Mama tidak mau kamu menjadi seorang lelaki pengecut," Khasanah memberi nasehat.
"Tapi,Ma..."
"Tidak ada tapi. Kamu tetap harus bertanggung jawab, Albi," ucap Khasanah menekan kata-katanya.
Albi berjalan masuk ke dalam kamar dengan frustasi. Abdi dan Khasanah menatap kepergiannya dengan perasaan campur aduk.
“Papa tahu perempuan itu?" tanya Khasanah.
“Dia peselancar, kamu tahu kehidupannya seperti apa dia... Bebas," jawab Abdi.
Khasanah mengerutkan alisnya melihat wajah suaminya sangat marah menyiratkan bahwa ia tidak menyukai perempuan tersebut.
“Lebih baik kita menemui keluarga perempuan itu," ucapnya.
"Itu pasti dan harus," sahut Abdi kepalanya terasa pusing.
Abdi memikirkan perbuatan anaknya merasa malu, jika sampai orang lain lain tahu maka reputasinya sudah dipastikan akan hancur. Setelah meredakan amarahnya Abdi menelpon seseorang.
Abdi beranjak dari tempat duduk keluar rumah berjalan ke mobil yang terparkir di garasi. Tidak lama Abdi keluar mengendarai mobil sendirian menuju perusahaannya.
Di kamar Albi sangat frustasi sambil mengacak barang-barang miliknya. Suasana kamar menjadi berantakan, Albi duduk penuh dengan amarah.
Albi masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya untuk menjernihkan pikirannya. Hampir setengah jam ia dikamar mandi.
Khasanah gelisah tapi tidak tahu harus bagaimana, ia tidak mengenal perempuan yang bersama anaknya apalagi tempat tinggalnya. Ingin menghubungi seseorang juga tidak tahu siapa.
Beberapa saat kemudian panggilan telepon di ponsel Khasanah berdering. Ia langsung mengangkatnya.
“Amel, ada apa?"
Diseberang Amel dengan gelisah menceritakan apa yang ia ketahui. Khasanah terkejut bukan main kemudian mematikan panggilan teleponnya dan segera pergi dari rumah dengan terburu-buru.
Albi baru saja keluar dari kamar melihat mamanya pergi merasa ada yang tidak beres, namun ia mengabaikannya.
Merasa ada yang memanggil perut Albi berbunyi, ia berjalan ke ruang makan melihat ada makanan apa untuk dimakan.
Mata Albi melebar sempurna, senyumnya mengembang melihat makanan favoritnya sudah disediakan untuknya. Ia langsung melahap seperti orang kelaparan.
________
Brakk
Abdi menggebrak mejanya sambil menatap orang-orang yang ada diruangannya.
“Apa yang ada diotak kalian ketika menjebak Albi. Apa kalian tidak memikirkan dampak dari perbuatan kalian?“ bentak Albi.
“Maafkan, kami om, kami hanya ingin Albi mempunyai pasangan karena selama ini dia menutup diri dari semua perempuan," ucap Bisma sambil menunduk.
“Apa katamu mempunyai pasangan, memangnya Albi boneka yang bisa kalian manfaatkan," Abdi merasa seperti dipermainkan oleh anak muda yang baru menginjak dewasa.
“Bukan seperti itu_"
"Kalian ini belum pernah menikah jari pemikiran kalian hanya sebatas senang-senang saja," sahut Abdi memotong pembicaraan Bisma.
Abdi menarik napas dalam, kembali duduk dengan tidak nyaman. Abdi tidak habis pikir dengan jalan pikiran teman-teman Albi.
“Kalian tahu tempat tinggal perempuan itu?" tanya Abdi kemudian.
"Tahu ,Om di sebuah perumahan kompleks elit Xx ," jawab Dasa sambil menegakkan kepalanya menatap Abdi.
Abdi merasa heran melihat sikap Dasa yang begitu semangat memberi alamat rumah Prasasti.
“Sepertinya kalian tahu banyak soal perempuan itu," tebak Abdi.
Ketiga teman Albi saling melirik sambil menyenggol satu sama lain.
"Tidak terlalu mengenal, sekedar tahu saja," jawab Abas.
“Apa kalian juga ikut menikmati malam itu?" canda Abdi tapi matanya menyiratkan kecurigaan kepada mereka satu per satu.
Ketiganya langsung menatap Abdi sambil menjawab dengan gelengan kepala secara bersamaan. “Tidak, Om,"
Abdi tertawa dalam hati melihat mereka yang ketakutan. "Kali ini aku maafkan tapi kalau kejadian seperti ini kembali terulang kalian akan menerima akibatnya,“
Abdi bukan mengancam hanya memberi peringatan saja, agar mereka tidak melakukan hal yang lebih fatal.
Ketiga teman Albi berpamitan meninggalkan ruangan. Baru saja keluar mendengar suara dari dalam dengan keras.
"Ingat, kalian harus mempertanggung jawabkan perbuatan kalian," suara abdi menggema terdengar sampai luar.
Ketiga teman Albi merasa terancam, mereka menyesal sudah membuat keadaan kacau.
"Untung saja tidak terdengar orang lain, coba saja kalau orang lain sampai tahu," ucap Dasa merasa frustasi.
"Lalu rencana kita bagaimana sekarang?" tanya Abas.
"Kita jalan dulu, takutnya ada yang mendengar pembicaraan kita," ajak Bisma berjalan keluar menuju mobil.
_________
“Kenapa kalian mengajakku ketemuan?" tanya Albi, begitu sampai di tempat pertemuan dengan ketiga temannya.