Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Dan, ketika kegelapan itu datang...
Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERDEBATAN SENGIT ARYA DAN MAURA
Langkah kaki Yasmin yang tadinya seirama dengan Arya mendadak goyah tepat di depan pintu besar itu. Sisa-sisa kehangatan dari obrolan ringan di mobil tadi—tawa kecil Arya yang jarang terdengar, serta rasa aman yang sempat melingkupinya—seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Begitu pintu terbuka, sosok Maura sudah berdiri di sana. Ia tidak sedang melakukan apa pun, hanya berdiri dengan keanggunan yang mengintimidasi, namun kehadirannya cukup untuk membuat pasokan oksigen di sekitar Yasmin terasa menipis.
Suasana hati Yasmin yang semula cerah, kini mendung dalam hitungan detik. Ada pergeseran emosi yang tajam, dari rasa memiliki menjadi rasa asing yang menegang.
"Udah, beliin dia baju?!" Sahut Maura sambil menatap Yasmin dari atas kepala hingga ujung kaki. Kedua tangannya saling melipat di bawah dada. "Bagus juga," sambungnya dengan nada yang lebih mirip sebuah hinaan daripada pujian.
Sudut bibirnya terangkat tipis, menciptakan senyum asimetris yang dingin. "Tapi mau dibungkus sutra sekalipun, yang namanya barang asing tetap akan terlihat mencolok di rumah ini."
Yasmin merasa seluruh tubuhnya mendadak kaku. Tatapan Maura yang seolah sedang menguliti penampilannya membuat baju baru yang ia kenakan terasa kasar dan tidak nyaman di kulit. Kebahagiaan kecil yang tadi ia rasakan saat memilih kain bersama Arya di butik dan melihat senja bersama kini hancur lebur menjadi rasa malu yang menyesakkan.
Arya yang sejak tadi menahan diri, kini menghela napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan peringatan. Ia melangkah satu tindak, memangkas jarak hingga ia berdiri tepat di antara Yasmin dan Maura, seolah menciptakan perisai yang tak terlihat bagi gadis di belakangnya.
"Cukup, Maura." Suara Arya rendah, namun memiliki kekuatan yang sanggup membungkam keriuhan di ruang tamu itu. "Jangan mulai lagi."
"Mama hanya bicara fakta!" Tegas Maura.
"Fakta?" Ulang Arya dengan nada tak kalah tinggi. "Faktanya, Mbak Sheila pantas melakukan hal seperti tadi karena sikap Mama sendiri yang semena-mena!"
Maura tertegun sejenak, wajahnya yang tadi penuh keangkuhan mendadak pias, berganti dengan guratan amarah yang tertahan di balik rahang yang mengeras. "Kamu berani bicara begitu pada Mamamu sendiri?" suaranya merendah, namun setiap katanya bergetar karena emosi yang meluap.
Arya tidak mundur selangkah pun. Ia berdiri kokoh, sorot matanya yang tajam mengunci tatapan Maura, menunjukkan bahwa kali ini ia tidak akan membiarkan intimidasi itu menang.
"Aku hanya bicara jujur, Ma," balas Arya dengan nada yang kini lebih stabil namun mematikan. "Selama ini Mama merasa paling benar dengan mengatur hidup semua orang, termasuk menghakimi apa yang Yasmin pakai atau lakukan. Mbak Sheila hanya menunjukkan cermin pada Mama, dan sepertinya Mama tidak suka melihat bayangan Mama sendiri di sana."
Maura tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan di telinga. "Jadi sekarang kamu menyalahkan Mama? Demi perempuan ini?" Ia menunjuk Yasmin dengan jari telunjuknya yang gemetar.
Arya melirik Yasmin sekilas, memastikan gadis itu masih bernapas di tengah badai ini. "Ini bukan soal 'demi siapa', Ma. Ini soal batas. Dan sampai hari ini, Mama sudah melewati batas itu berkali-kali."
Melihat urat leher Arya yang menegang dan tatapan Maura yang makin menghunus tajam,
Tangan Yasmin yang dingin menyentuh lembut lengan kemeja Arya—sebuah sentuhan yang sangat ringan, namun cukup untuk membuat pria itu tersentak kecil dari amarahnya. "Mas, sudah... cukup."
Jari-jemari Yasmin meremas pelan lengan kemeja Arya, sebuah kode bisu yang sarat akan permohonan agar pria itu segera mengakhiri perdebatan yang kian memanas. Ia tidak sanggup lagi berdiri di sana, menjadi pusat pusaran amarah antara ibu dan anak yang seolah tak berujung.
Arya terdiam sejenak. Ia merasakan getaran halus dari tangan Yasmin yang mendingin di lengannya. Kemarahan yang tadi meluap-luap di dadanya perlahan mereda, tergantikan oleh rasa protektif yang mendalam. Tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Maura, ia membalikkan telapak tangannya, menangkap jemari Yasmin ke dalam genggamannya yang kokoh dan hangat.
"Ayo, Yasmin. Kita pergi." Ajak Arya. Refleks, ia pun menautkan jemarinya di sela-sela jari Yasmin, menarik gadis itu dengan lembut namun pasti untuk berbalik. Langkahnya mantap, menunjukkan otoritas yang tak tergoyahkan.
Yasmin pun membiarkan dirinya dituntun. Meski jantungnya masih berdegup kencang antara takut dan kehangatan tangan Arya yang melindunginya seakan memberikan rasa aman yang mendadak menyeruak di tengah sesak.
Maura berdiri mematung, tangannya masih mengepal di bawah dada, namun matanya membelalak tak percaya melihat punggung putranya yang kian menjauh. Ia merasa seolah-olah kekuasaannya baru saja diruntuhkan hanya dengan satu tarikan tangan. "Yasmin. Sama seperti Sheila!" gerutunya kesal. "Awas aja, Yasmin. Kalau kamu masih berani tetap ada di sini... akan saya buat nasib kamu sama seperti Sheila!"
****