Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Sang Penguasa dan Putri Kecil
10 tahun yang lalu
Langit Jakarta sore itu seolah kehilangan warnanya, berganti menjadi kanvas abu-abu pekat yang menyesakkan dada. Rintik gerimis turun satu-satu, membawa aroma tanah basah dan duka yang menusuk hingga ke tulang.
Di tengah hamparan nisan yang bisu, Aluna berdiri kaku. Usianya baru sepuluh tahun, namun beban di pundaknya terasa seberat gunung.
Gaun hitam berbahan katun yang ia kenakan tampak terlalu besar, melambai ditiup angin dingin yang tak bersahabat.
Matanya yang bulat dan biasanya bersinar, kini meredup, menatap kosong ke arah gundukan tanah merah yang masih basah.
Di sana, ayahnya—satu-satunya orang tua yang ia miliki setelah ibunya berpulang bertahun-tahun silam—kini beristirahat untuk selamanya.
Dunia Aluna runtuh dalam satu malam. Kecelakaan rem blong yang tragis itu merenggut segalanya.
Di sekelilingnya, kerabat jauh dan kolega bisnis ayahnya berdiri dengan payung hitam mereka, berbisik-bisik seperti desis ular.
"Kasihan sekali bocah itu. Siapa yang akan mengurus aset-aset ayahnya?"
"Katanya utangnya banyak, apa ada sisa untuk biaya hidupnya?"
Bisikan-bisikan itu menyayat hati Aluna. Ia merasa seperti barang rongsokan yang sedang ditawar di pasar loak.
Tidak ada yang benar-benar menatapnya sebagai seorang anak yang baru saja kehilangan dunianya.
Hingga sebuah langkah kaki yang mantap terdengar mendekat. Suara sepatu pantofel mahal yang menginjak rumput basah itu menciptakan irama yang dominan, seolah sang pemilik langkah adalah penguasa atas tempat itu.
"Aluna..."
Suara itu berat, dalam, dan membawa wibawa yang tak terbantahkan. Aluna mendongak pelan.
Di sana, berdiri seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang sangat rapi tanpa cela. Bramantyo. Di usianya yang baru dua puluh lima tahun saat itu, Bram sudah dikenal sebagai hiu di dunia properti.
Ia adalah sahabat kepercayaan, tangan kanan, sekaligus adik angkat bagi ayah Aluna.
Bram tidak membawa payung. Rambut hitamnya sedikit basah oleh gerimis, namun wajahnya tetap tenang, sedingin es, namun matanya menatap Aluna dengan intensitas yang berbeda.
Ia berlutut di depan Aluna, mengabaikan celana mahalnya yang kini kotor terkena lumpur.
"Lihat aku, Aluna," perintahnya lembut namun tegas.
Aluna menatap mata elang itu. Di dalam sana, ia tidak menemukan rasa iba yang merendahkan, melainkan sebuah kekuatan yang luar biasa besar. Bram mengulurkan tangannya yang lebar dan hangat.
"Dunia luar mungkin akan mencoba mencabikmu, tapi aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Ayahmu menitipkanmu padaku. Mulai hari ini, aku adalah Daddy-mu. Aku adalah pelindungmu, penyediamu, dan duniamu. Kau tidak perlu takut pada apa pun lagi."
Tanpa pikir panjang, Aluna kecil menghambur ke pelukan Bram. Ia menenggelamkan wajahnya di leher pria itu, menghirup aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang kelak akan menjadi aroma paling ia kenali seumur hidupnya.
Bram mendekapnya erat, telapak tangannya yang besar menutupi seluruh punggung kecil Aluna.
Di balik pelukan itu, Bram menatap nisan sahabatnya dengan senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun.
Sebuah janji telah diucapkan, namun hanya ia yang tahu bahwa janji itu lebih mirip sebuah deklarasi kepemilikan mutlak atas permata berharga yang kini ada di dekapannya.
___________________________________________
10 tahun kemudian
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra setinggi lima meter di kamar utama yang luasnya melebihi ukuran rumah rakyat biasa.
Kamar itu didominasi warna krem dan emas, memancarkan kemewahan yang tenang namun angkuh.
Aluna menggeliat di balik selimut down feather yang luar biasa lembut. Kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan sprei satin berwarna biru gelap.
Ia membuka matanya perlahan, bulu matanya yang lentik bergetar tertimpa cahaya pagi. Hal pertama yang ia cari adalah sisi tempat tidur di sebelahnya. Kosong.
Namun, bekas lekukan di bantal dan sisa aroma maskulin yang tertinggal membuktikan bahwa pria itu baru saja bangun.
Dengan langkah riang yang sedikit kekanak-kanakan, Aluna turun dari tempat tidur.
Ia hanya mengenakan daster sutra tipis bertali spaghetti yang memperlihatkan bahu indahnya yang halus. Ia tidak butuh alas kaki karena seluruh lantai rumah ini dilapisi karpet bulu yang hangat.
Ia berjalan menuju ruang makan, melewati lorong yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal yang dikurasi langsung oleh Bram.
Di ujung lorong, di sebuah meja makan kayu jati panjang yang bisa menampung dua puluh orang, pria itu duduk sendirian di kepala meja.
Bram tampak seperti dewa di singgasananya. Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, menampakkan otot lengan yang padat dan jam tangan seharga satu unit apartemen mewah.
Ia sedang fokus pada tablet di tangannya, sesekali menyesap kopi hitam pekat tanpa gula. Wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi sering kali membuat para direktur di kantornya gemetar ketakutan hanya dengan satu lirikan.
"Daddy!" seru Aluna, suaranya jernih dan penuh kegembiraan.
Wajah Bram yang sekeras batu seketika mencair. Garis-garis tegas di sekitar matanya melembut saat ia menoleh ke arah sumber suara.
Aluna tidak duduk di kursi kosong di sebelah Bram. Sebaliknya, ia langsung menuju arah pria itu dan tanpa permisi mendarat di pangkuan Bram.
Aluna melingkarkan lengannya di leher Bram yang kokoh, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan sangat alami, seolah itu adalah tempat paling sah baginya di dunia ini.
"Selamat pagi, Sayang. Kau bangun terlambat lagi?" suara Bram terdengar rendah dan serak, sebuah nada yang hanya ia gunakan untuk Aluna.
"Daddy yang bangun terlalu pagi," bantah Aluna manja sambil mengerucutkan bibirnya yang penuh. Ia mulai memainkan kancing kemeja atas Bram dengan jarinya yang lentik.
"Kenapa Daddy tidak membangunkanku? Aku kan mau sarapan bersama."
Bram terkekeh pelan. Getaran di dadanya terasa hingga ke pipi Aluna. Tangan besar Bram secara posesif melingkar di pinggang ramping Aluna, menarik tubuh gadis itu agar menempel lebih erat pada tubuhnya yang panas.
"Kau terlihat sangat nyenyak tadi pagi. Aku tidak tega membangunkan putri tidurku."
Bram meletakkan tabletnya sepenuhnya, memberikan perhatian seratus persen kepada gadis di pangkuannya.
Ia membelai rambut hitam Aluna yang panjang dan harum, mengelusnya dari puncak kepala hingga ke pinggang dengan gerakan lambat yang menghanyutkan.
"Daddy, hari ini aku ada kelas siang. Boleh aku pergi ke mall setelah itu dengan teman-teman?" Aluna bertanya dengan nada merayu, matanya yang besar menatap Bram dengan penuh harap.
Sentuhan tangan Bram di rambut Aluna seketika berhenti. Suasana di ruangan itu mendadak terasa sedikit lebih berat.
Bram menarik dagu Aluna agar mereka saling bertatapan. Mata elangnya kini menatap tajam ke dalam manik mata Aluna, mencari celah kebohongan di sana.
"Siapa saja temanmu?" tanya Bram datar.
"Hanya Sarah, dan... mungkin beberapa teman kelas yang lain. Ada cowok juga sih, tapi—"
"Tidak," potong Bram cepat. Suaranya tidak keras, namun sangat mutlak hingga membuat Aluna sedikit terlonjak.
"Tapi Daddy, aku sudah dua puluh tahun! Aku bukan anak kecil lagi!" protes Aluna, mulai merasa terkekang.
Bram tidak melepaskan tatapannya. Ia justru semakin mempererat pelukannya di pinggang Aluna, seolah takut gadis itu akan lari detik itu juga.
"Justru karena kau sudah dua puluh tahun, Aluna. Kau tidak tahu betapa banyak serigala di luar sana yang ingin mengincar kepolosanmu. Kau itu rapuh, Sayang. Hanya di rumah ini, di bawah pengawasanku, kau akan aman."
Aluna menghela napas panjang, kepalanya kembali bersandar di bahu Bram. "Daddy terlalu protektif. Ayolah Daddy"
Bram tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia mencium puncak kepala Aluna dengan durasi yang sangat lama, menghirup aroma gadis itu seolah itu adalah oksigen baginya.
"Tetaplah jadi putri kecilku yang penurut sayang, maka aku akan memberikan dunia di telapak tanganmu."
Aluna terdiam. Di satu sisi, ia merasa sangat dicintai dan dilindungi. Namun di sisi lain, ada perasaan asing yang mulai tumbuh di benaknya—sebuah kecemasan bahwa kasih sayang "Daddy"-nya ini bukan lagi sekadar kasih sayang seorang wali.
Saat Aluna bergerak hendak turun dari pangkuan Bram untuk mengambil rotinya, tangan Bram justru menahannya tetap di sana.
"Makan di sini, Aluna. Biar Daddy yang menyuapimu," perintah Bram.
Aluna hanya bisa menurut. Ia membiarkan Bram menyuapinya potongan buah dan roti seolah ia masih anak berusia sepuluh tahun.
Di bawah meja, jemari Bram yang lain mengusap lutut Aluna yang terekspos karena daster sutranya yang tersingkap, sebuah sentuhan yang terasa lebih dari sekadar kasih sayang orang tua.
Bram menatap bibir Aluna yang mengunyah pelan. Pikirannya melayang pada rencana-rencana yang telah ia susun.
Sepuluh tahun ia menunggu Aluna tumbuh dewasa. Sepuluh tahun ia menahan diri untuk tidak menerkam apa yang telah ia rawat dengan susah payah.
Dan kini, saat Aluna sudah mekar dengan sempurna, Bram tahu bahwa sebentar lagi, ia tidak akan lagi puas hanya dengan disebut "Daddy".
"Kau milikku, Aluna. Selamanya milikku," bisik Bram di dalam hatinya, sambil terus membelai lutut gadis itu dengan posesif yang membara.