Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Labirin Koleksi yang Hilang
Jip tua Hael membelah tirai hujan yang semakin lebat, menuju kompleks pergudangan eksklusif di pinggiran kota yang biasanya sunyi dan dijaga ketat. Dari kejauhan, lampu rotator biru merah milik kepolisian sudah memantul di genangan air, menciptakan pemandangan yang mencekam. Sora mencengkeram sabuk pengamannya, matanya menatap lurus ke arah gerbang baja yang kini terbuka lebar, seolah-olah mulut raksasa yang baru saja memuntahkan isinya.
"Ingat, Sora," suara Hael memecah deru mesin. "Kamu di sini sebagai konsultan teknis atas permintaan keluarga Vance. Jangan biarkan polisi-polisi itu mengintimidasi duniamu. Kamu yang memegang kendali atas frekuensi jam itu, bukan mereka."
Sora mengangguk kecil. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu. Begitu mobil berhenti, Bastian segera membukakan pintu untuk mereka. Mereka melangkah masuk ke dalam gedung beton bertulang yang dingin. Di dalamnya, suasana jauh lebih kacau. Beberapa petugas forensik sedang menaburkan bubuk sidik jari di sekitar lemari kaca yang hancur berkeping-keping.
Sora berjalan mendekati pusat ruangan. Matanya tertuju pada tumpuan beludru hitam yang kini kosong. Di sana, seharusnya The Chronos Heart berdetak dengan megah. Namun yang tersisa hanyalah pecahan kaca kristal dan seutas rantai emas putih yang terputus kasar—seolah-olah dipaksa lepas dari jantungnya.
"Sora Kalani?" seorang detektif pria dengan mantel abu-abu mendekatinya. "Saya Detektif Januar. Kami dengar Anda adalah orang terakhir yang pernah mempelajari skema frekuensi jam ini selain keluarga Vance sendiri."
Sora menatap detektif itu tanpa gentar. "Saya mempelajarinya setahun lalu. Dan saya di sini untuk membantu melacak resonansi terakhirnya, bukan untuk diinterogasi."
Hael berdiri di samping Sora, memberikan kehadiran yang mengancam bagi siapa pun yang mencoba menyudutkan wanita itu. "Biarkan dia bekerja, Detektif. Waktu terus berjalan, dan jika frekuensi The Chronos Heart meredup, Anda tidak akan pernah menemukannya di pasar gelap mana pun."
Sora mengeluarkan sebuah alat genggam kecil dari tas peralatannya—sebuah osiloskop portabel yang biasa ia gunakan untuk menyetel jam-jam rumit di bengkelnya. Ia berlutut di depan tumpuan jam yang kosong. Dengan tangan yang kini stabil, ia mulai memindai area sekitar.
"Aneh," gumam Sora.
"Apa yang aneh?" tanya Hael, ikut membungkuk.
"Jam ini dirancang untuk mengirimkan sinyal ping frekuensi rendah setiap sepuluh detik. Jika pencurinya memutus detaknya secara paksa, seharusnya ada sisa energi elektromagnetik yang tertinggal di area ini. Tapi di sini... bersih sekali. Seperti tidak pernah ada jam di sini sejak awal."
Sora menggeser alatnya ke arah lantai, mengikuti jejak pecahan kaca. Tiba-tiba, alat itu berbunyi bip pendek yang melengking. Sora berhenti di sebuah sudut gelap di dekat pintu keluar darurat. Di sana, di antara celah lantai, ia menemukan sesuatu yang kecil dan berkilat.
Ia mengambilnya dengan pinset. Bukan potongan emas, melainkan sebuah roda gigi kuningan kecil yang sangat familiar. Roda gigi itu memiliki goresan halus berbentuk huruf 'L'.
"Ini roda gigi dari arloji porselen Liora," bisik Sora, suaranya tercekat. "Arloji yang baru saja aku perbaiki minggu lalu. Kenapa ada di sini?"
Dunia seakan berputar di sekitar Sora. Ingatannya kembali pada malam saat Liora datang ke bengkelnya, menunjukkan kerapuhan dan kesedihannya. Apakah Liora terlibat dalam hilangnya mahakarya ini? Atau seseorang sengaja meninggalkan jejak untuk menjebaknya?
"Hael, lihat ini," Sora menunjukkan roda gigi itu.
Hael menatap benda itu dengan tajam, lalu melirik ke arah Bastian yang tampak gelisah di pojok ruangan. "Pencurian di detak terakhir ini bukan dilakukan oleh orang asing, Sora. Ini adalah sabotase dari dalam. Seseorang ingin Ezra merasa kehilangan segalanya—simbol cintanya, kehormatan keluarganya, dan mungkin... kepercayaannya padamu."
Tepat saat itu, ponsel Sora di saku jaketnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang seharusnya sudah ia blokir, namun entah bagaimana pesan itu tetap menembus pertahanannya.
Ezra Vance: Sora, maafkan aku. Aku baru tahu kebenarannya. Liora tidak pernah pingsan. Dia sedang menuju pelabuhan lama dengan seseorang. Kumohon, jangan biarkan dia membawa jam itu pergi. Itu bukan miliknya, itu milik masa depan kita.
Sora menatap layar ponselnya dengan rasa mual yang luar biasa. "Masa depan kita," gumamnya pedih. Ezra masih saja menggunakan kata 'kita' di saat semuanya sudah hancur.
"Hael, kita harus ke pelabuhan lama," ucap Sora, suaranya kini dipenuhi amarah yang dingin. "Bukan untuk menyelamatkan jam itu untuk Ezra. Tapi untuk menghentikan Liora melakukan kesalahan yang akan menghancurkan hidupnya sendiri. Dan aku ingin tahu siapa 'seseorang' yang bersamanya."
Hael mengangguk, ia meraih kunci jipnya. "Labirin ini semakin gelap, Sora. Tapi setidaknya sekarang kita tahu ke mana arah detaknya menuju."
Mereka berlari keluar dari gudang itu, meninggalkan para polisi yang masih sibuk dengan sidik jari yang tak berarti. Di belakang kemudi, Hael menginjak gas sedalam mungkin. Di sampingnya, Sora menggenggam roda gigi bertuliskan 'L' itu erat-erat. Ia menyadari bahwa pencurian ini bukan sekadar soal harta, melainkan babak akhir dari sebuah obsesi yang harus ia selesaikan malam ini juga.